kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 19 September 2004 tarukan valas
 

GEBYAR


Puputan Badung

, Peristiwa ke Pentas Drama

Sebuah naskah drama ditulis oleh seorang penulis Australia tentang peristiwa Puputan Badung yang terjadi pada 20 September 1906. Naskah itu berjudul "Bali: Adat", ditulis oleh Graham Sheil dan kemudian dipentaskan di Australia pada 1987. Pada 1991, naskah drama tersebut diterbitkan dalam bentuk buku. Jalan sepanjang Sanur-Denpasar yang kerap dilalui penulisnya saat berada di Bali barangkali menjadi ilham dalam menulis drama ini, karena lintasan peristiwa Puputan Badung antara lain terjadi pada lintasan jalan tersebut. Apa saja yang ditulisnya?

MENURUT pengarangnya, drama ini memang ditulis untuk memperingati peristiwa Puputan Badung. Sejumlah tokoh yang disebutkan di dalamnya memang nyata (historical figures), baik dari pihak Kerajaan Badung maupun pihak Belanda. Drama ini ditulis dengan pusat pengisahan pada Raja Badung dan kerajaannya pada waktu itu.

Drama "Bali: Adat" bertutur tentang pertemuan dua kebudayaan, Belanda dan Bali, yang saling bertentangan. Orang Bali melihat bahwa kehormatan, diplomasi atau hubungan tatakrama antarmasyarakat berbudaya agar tidak menimbulkan permusuhan, serta nilai-nilai material keduniawian, dari sudut pandang yang berbeda dengan orang Belanda kala itu. Dan perundingan yang dilakukan untuk mencairkan perbedaan di antara dua kebudayaan tersebut ternyata berujung pada perseteruan dan pertempuran yang tak terhindarkan.

Perang Puputan Badung menurut Graham Sheil berakhir pada kekalahan dan kemenangan di kedua belah pihak. Artinya, dari sudut pandang Graham Sheil, sesungguhnya tidak ada yang menang maupun kalah dalam perang itu. Dari segi realitas, barangkali Belanda memenangkan perang itu, namun dari segi nilai, kehormatan dan harga diri, apa yang dilakukan oleh Raja Badung, lebih bernilai.

Mungkin karena demikian teguhnya Raja Badung, Cokorda Denpasar, dalam menjaga nilai-nilai budaya serta adat-istiadat yang dianut oleh masyarakat Badung kala itu, menyebabkan Graham Sheil memberi judul dramanya "Bali: Adat". Bila disimak secara teliti dan seksama, memang keteguhan Raja Badung mempertahankan adat itulah yang terungkap dengan jelas dalam drama ini, sebagaimana tampak dalam salah satu dialog drama ini;

Goitois : Kalau invasi harus berlanjut, saudara akan terbunuh dalam serangan itu, atau dijadikan tawanan dan dipenjarakan. Kalau Badung diberikan dengan cara yang sudah saya rencanakan, saudara akan terus menempati istana ini, semua urusan pemerintahan akan melalui saudara, dan saudara akan dibayar dengan sejumlah uang bagi Anda banyak sekali.

Raja: Tuan Goitois, itu adalah menurut pendapat saudara. Pendapat bangsa Eropa. Apakah itu juga pendapat saya? Saya tidak tahu. Terus-menerus saudara mengatakan "Engkau, engkau, engkau" yang berarti saya, saya, saya. Namun saya, bahkan saya sebagai Raja, Yang Mulia Anak Agung Made, Raja Badung, saya tidak berarti apa-apa. Adat adalah segala-galanya.

Satu hal yang pantas dicatat dalam drama ini adalah kekukuhan sikap Raja Badung tersebut agaknya mendapat inspirasi yang sangat kuat dari bibi Buyut Raja yang tidak disebutkan namanya dalam drama ini. Beliau ini sangat berwibawa, kaya raya, disegani oleh seluruh rakyat, dan siap mengorbankan apa saja untuk mempertahankan harkat dan martabat kerajaan dan rakyat seluruhnya.

Graham Sheil memang seorang penulis drama yang hebat. Penguasaannya pada materi "sejarah" Puputan Badung, serta keandalannya dalam aspek retorika dan estetika, telah membuat drama ini menjadi sesuatu yang menarik, baik sebagai bacaan maupun sebagai naskah yang akan dipentaskan.

Latar Belakang
Dua tahun sebelum terjadinya konflik dan perang Puputan Badung, pemerintah kolonial Belanda telah melakukan blokade, dan jauh sebelum itu mereka telah mulai menempatkan administraturnya di wilayah Badung. Penaklukan atas Lombok yang berdarah telah menimbulkan citra yang tidak baik bagi pemerintah kolonial Belanda di mata parlemen Eropa, khususnya di mata Inggris -- musuh bebuyutan Belanda sebagai sesama bangsa kolonial di wilayah Asia Tenggara.

Ketidakberhasilan Belanda menguasai wilayah Badung seperti halnya sejumlah daerah di Bali lainnya, telah menimbulkan gunjingan politik yang tidak enak bagi Belanda. Keadaan inilah yang telah mempermalukan pemerintahan di negeri Belanda yang dikuasai oleh kaum Paderi, yang kemudian memaksa pemerintah Kolonial Belanda di Batavia untuk melakukan apa saja dalam menaklukkan kerajaan Badung. Sementara itu tenaga administrasi yang ditempatkan oleh Belanda (dalam drama ini diwakili oleh tokoh Hoboeken) di wilayah Badung, sudah terlanjur cinta, dan sama sekali tidak menginginkan invasi terhadap Badung.

Namun, karena merasa malu, Belanda terus berusaha melakukan upaya untuk menguasai kerajaan Badung. Cara-cara yang dilakukan untuk menaklukkan daerah lain, ternyata tidak mempan. Residen Hoboeken yang tidak mendukung keinginan Batavia kemudian diganti oleh Goitois, seorang diplomat karier yang belum tahu banyak tahu tentang Bali. Melalui Goitois inilah upaya-upaya negosiasi untuk menguasai kerajaan Badung dilakukan. Residen Goitois secara terus-menerus mendesak Anak Agung Ngurah Made Agung, Raja Badung, untuk mau menandatangani surat perjanjian yang memperlemah posisi Raja atas wilayah dan kekuasaannya.

Dalam banyak kasus, sering Belanda dengan tipu muslihatnya berhasil menguasai suatu kerajaan hanya berdasarkan surat perjanjian yang dibuat di antara kedua belah pihak. Mula-mula hanya berkenaan dengan persoalan-persoalan kebudayaan, misalnya perjanjian menghapus hak tawan karang, penghapusan kebiasaan masatya, pelarangan pelaksanaan hukuman yang dianggap tidak manusiawi, dan sebagainya. Kemudian perlahan-lahan menguasai kehidupan ekonomi dan politik, dan akhirnya penguasaan wilayah, bila perlu dengan kekuatan bersenjata.

Dengan cara-cara itu Belanda menjadikan penguasa-penguasa lokal sebagai "boneka-boneka" mereka, yang digaji dari memeras keringat rakyatnya sendiri. Bukankah cara-cara seperti itu sangat ampuh dilakukan hingga saat ini, oleh negara kolonial manapun?

Cara-cara bujuk rayu seperti itu ternyata tidak berhasil dilakukan Belanda terhadap Badung. Rupanya Raja Badung paham betul akan hal itu. Namun Belanda pun tidak kehilangan akal. Mereka berusaha mengintimidasi rakyat, mempengaruhi opini rakyat. Mereka memfitnah Raja agar rakyat membenci rajanya.

Belanda pun lantas memfitnah raja dengan mengatakan rakyat Sanur telah merampas barang-barang dari kapal Cina, Sri Komala. Raja pun dikatakan telah kehilangan kejantanannya karena dari sekian banyak istrinya ternyata tidak mampu melahirkan keturunan. "Bagaimana mungkin rakyat dipimpin oleh raja yang tidak jantan?" demikian Belanda mencoba memprovokasi rakyat. Selain itu, pelaksanaan hukuman mati yang ditimpakan raja kepada rakyat dianggap terlalu keras, dan pajak yang dibayar kepada raja sangat tinggi. Ketika semua cara itu tidak berhasil, mereka kemudian menggunakan kekerasan dengan kekuatan bersenjata.

Provokasi Belanda kepada rakyat bukannya tidak berhasil. Sejumlah punggawa justru mulai terpengaruh oleh promosi Belanda. Mereka mulai tidak patuh kepada Raja, dan lebih mempercayai omongan Belanda. Di antara mereka bahkan bahkan ada yang berani menasihati Raja agar tidak melawan Belanda. Namun Raja Badung yang ahli dalam sastra dan agama, yang sangat terpelajar itu, tetap teguh pada pendiriannya, dan tetap percaya rakyat mendukung dirinya. Hal itu terbukti dari saat detik-detik terakhir raja memberikan ultimatum kepada rakyat melalui para punggawa, "Barang siapa ingin mengikuti Raja, mereka harus datang malam ini juga ke istana."

Dalam itu, 19 September 1906, seluruh rakyat, punggawa, pembesar kerajaan, pendeta, yang setia kepada raja, berkumpul di Puri Denpasar. Keesokan paginya, Kamis Kliwon wuku Ukir, 20 September 1906, laki dan wanita dengan berpakaian serba putih, keluar dari gerbang istana, melakukan perlawanan terhadap Belanda yang semena-mena. Itulah awal peristiwa Puputan Badung. Sebuah peristiwa heroik yang patut dikenang dan direnungkan.

* windhu sancaya,
Faksas Unud

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com