Final Piala Eropa
Dendam Portugal harus
Terbalas
Lisbon -
Kesempatan terbaik tidak datang untuk kedua kalinya. Semboyan
ini patut dicamkan Portugal selaku tuan rumah menjelang
pertemuan kedua sekaligus terakhir melawan Yunani pada final
Piala Eropa 2004, Senin (5/7) dini hari nanti. Pada pertandingan
pembuka turnamen 12 Juni lalu, Portugal dipermalukan Yunani 1-2.
Kekalahan pertama cukup
menjadi pelajaran berharga bagi Luis Figo dan kawan-kawan.
Menang atau selanjutnya akan menjadi pembicaraan kalangan bola
seantero jagat apabila kalah lagi melawan tim debutan itu.
Kedua tim sama-sama
menikmati final untuk pertama kalinya. Sudah barang tentu kedua
kubu ingin melanjutkan kenikmatan itu dalam suasana sebagai
juara pada Piala Eropa ke-12. Bagi Portugal, dendam harus
terbalas. Buat Yunani, pesta tetap berlanjut.
Kekalahan pada partai
perdana membuat publik bola Portugal tidak dapat tidur semalaman.
Untungnya, Figo dkk. dapat segera bangkit dan melanjutkan
perjalanannya dengan kemenangan. Rusia, Spanyol, Inggris, dan
terakhir Belanda menjadi ajang pelampiasan sakit hati asuhan
Luiz Felipe Scolari ini. Di samping itu, bagi singa-singa tua
seperti Luis Figo, Rui Costa, dan Fernando Couto, tiada
kesempatan lagi untuk memberikan persembahan terbaik bagi negara
di partai puncak nanti.
"Kekalahan pertama
itu sudah kami lupakan. Beranjak dari situasi sulit itu, kami
bangkit dan menjungkalkan tiga unggulan lainnya," ungkap
striker Nuno Gomes dengan emosinya. "Sekarang kami akan
menghadirkan mimpi indah itu bagi publik Portugal. Kami akan
berjuang sampai darah pengabisan," tandasnya.
Yunani di pihak lain
sangat diuntungkan dengan kondisi yang dialami Portugal saat ini.
Mereka sama sekali tidak terbebani dengan asmosfer yang baru
pertama kali mereka alami. Pemain-pemain Yunani yang tidak dapat
disangsikan lagi kedisiplinannya, akan kembali menggiring
barisan sarat dendam Portugal dalam lubang kefrustrasian.
Kesabaran yang
diperlihatkan Zagorakis dkk. selama ini kembali diuji. Asal
jangan besar kepala dengan torehan prestasi yang sudah dicatat,
Yunani potensial untuk kembali menjerumuskan tuan rumah dalam
penderitaan yang lebih dalam.
Kolektivitas
Skema 4-5-1 yang selama ini dikembangkan Portugal, berubah
menjadi 4-3-3 apabila tim ini menyerang. Christiano Ronaldo dan
Luis Figo yang bergerak bergantian dari sektor sayap sangat
diharapkan dapat memanfaatkan ruang yang akan diciptakan oleh
Nuno Gomes. Dalam keadaan yang tidak memungkinkan, Figo dapat
bermain agak ke bawah dan hanya menempatkan Ronaldo dan Gomes di
barisan depan, untuk melakukan penetrasi cepat ke jantung
pertahanan Yunani.
Satu-satunya kendala
Yunani sekarang adalah tidak dapat dimainkanya pemain tengah
lincah Giorgios Karagounis. Pemain ini sering kali membuat
barisan gelandang serang musuh gagal melakukan penyerangan.
Formasi andalan 4-5-1 selama ini sudah terbukti dan teruji mampu
mengantarkan Yunani ke babak puncak. Sinar terang Charisteas dan
Dellas kembali menjadi ancaman Portugal yang datang dengan aroma
dendam menggelora.
Akan tetapi bukan Yunani
namanya yang hanya bergantung pada satu pemain. Selama ini
kolektivitas dan semangat kebersamaan ke-23 pemain di dalammya
mampu menutupi skill individu yang berada di bawah musuh-musuh
mereka selama ini. Bermodal kesederhanaan dan prinsip mengalah
untuk menang, tim Hercules siap menyelesaikan misi terakhirnya.
Hati-hati Portugal, kali ini Hercules tidak akan main-main! (sun/rtr)
|