kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 4 Juli 2004 tarukan valas
 

OPINI


Ringannya Moral, Beratnya Kelicikan

Sekolah moral bagi sebuah anak bangsa itu sejatinya ada di dalam keteladanan para pemimpin bangsa, yang kehidupan pribadinya teratur, sehingga kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsanya teratur. (''Sekolah Moral'', Handrawan Nadesul).

RUBAG tertarik memenggal satu dari banyak kalimat yang tersusun dalam artikel berjudul ''Sekolah Moral'' tulisan seorang dokter, yang juga penulis puisi, Handrawan Nadesul. Itu terdorong dari tawaran Bali Post pada para pembacanya, untuk menulis opini mereka pada rubrik ''Giliran Anda'' tentang larangan memakai gelar palsu. Pelarangan tersebut terkait dengan diusulkannya RUU Perilaku Aparat Negara ke DPR-RI oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN).

Dalam acara uji materi dan sosialisasi RUU tersebut di Jimbaran baru-baru ini, Deputi Bidang Program Pendayagunaan Aparatur Negara, Prof. Dr. Maswardi Rauf memprihatinkan perilaku aparat negara di Indonesia. Tidak jujur, kurang terbuka dan kurang bertanggung jawab, kata Maswardi, merupakan citra buruk aparat pemerintah dan pejabat negara sudah menjadi jamak. Sikap, tindakan dan ucapan yang menjadi bagian dari perilaku aparat negara, kurang serasi dengan nilai-nilai moral dan norma etika masyarakat. Bahkan untuk melengkapi RUU tersebut, dalam salah satu pasal tertulis larangan bagi aparat negara untuk memakai gelar akademik palsu.

Rubag yakin Nadesul belum sempat membaca atau mendengar lewat media keprihatinan Maswardi Rauf. Sebagai seorang petinggi di Kementerian PAN, Maswardi tentu tidak berani gegabah tanpa bukti menelanjangi akhlak para pejabat yang sekaligus juga pemimpin dalam semiloka, yang pasti dikutip para wartawan. Nadesul bukan pula buta dan tuli atas apa yang terjadi negeri ini, namun karena keberaniannya tidak didukung bukti dan saksi, yang bisa menjeratnya ke pasal-pasal fitnah, pencemaran nama baik dan membuat perasaan tidak enak, tentunya dia memilih cara lain untuk melontarkan kritik. Sarannya untuk menjadikan para pemimpin sebagai lembaga hidup untuk pendidikan moral anak bangsa, bisa dianggap sebagai canda atau sindiran. Kalau usulannya dianggap serius, bisa jadi yang akan menghuni kawasan Nusantara ini di masa depan, adalah bangsa penipu, pembohong dan tidak bertanggung jawab. Sebab, seperti yang dilontarkan Maswardi dan juga pernah diplesetkan Roeslan Abdulgani tentang kepemimpinan yang ''ing ngarso mangun angkoro, ing madyo numpuki arto dan tut wuri menadahi''.

Wildan Yatim dalam artikelnya ''Ada Bantahan terhadap Teori Evolusi?'' menulis, sebagai kalifah di bumi, Tuhan menganugerahi manusia, kecerdasan yang jauh lebih tinggi dari hewan-hewan lainnya dan moral untuk mengendalikan kecerdasan itu. Moral dan kecerdasan tersebut tumbuh di otak dan keduanya harus seimbang, sehingga dunia dengan segenap isinya harmonis. Tapi kenyataannya, tulis Wildan, moralitas dewasa ini sudah sangat ringan, sehingga kecerdasan digunakan untuk menghancurkan lingkungan bahkan sesama. Keterpurukan dalam segala sektor kehidupan di Tanah Air disertai tindakan yang tidak manusiawi, menurut Wildan, akibat kadar manusia leih rendah dari hewan, sehingga segala bentuk kejahatan terjadi, termasuk korupsi. Ironisnya, hewan yang kenyang akan jinak dan tidur, tapi manusia tidak pernah merasa kenyang dan terus ribut.

Rubag setuju dengan pendapat Wildan Yatim dan juga sepaham dengan tulisan Nadesul berjudul ''Sekolah Moral'', yang pada bagian akhirnya merupakan parodi kepemimpinan. Nadesul pada awal tulisannya juga mengeluh soal moralitas manusia yang kebanyakan menyerap nilai-nilai dari televisi, akibat kesibukan ayah-ibu dan terpisahnya keluarga inti dengan keluarga besar serta neomaterialisme. Korupsi seakan-akan sudah dianggap hak kebenaran adalah selera masing-masing, moralitas jadi pilihan individu, lanjut Nadesul, berbohong, menipu serta mencuri, asal tidak ketahuan, menjadi budaya baru. Dia juga mengutip pendapat Drost yang mengkritik UAN dengan nilai konversinya, yang dianggap sebagai praksis korupsi dengan kedok standar mutu pendidikan. Neomaterialisme sudah jauh menggerayangi kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan, sehingga anak-anak seperti dibiasakan untuk tidak mengenal baik dan buruk, kebenaran dan kejahatan, sehingga mereka hidup di pinggiran moral.

***

Dari gemuruh kampanye Pilpres, baik di TV maupun koran, para capres dan cawapres juga tim kampanyenya seakan-akan berlomba senyaring-nyaringnya meneriakkan slogan antikorupsi. Sayang hingar-bingar teriakan tersebut mengalahkan suara -- nyaris tak terdengar -- dari para petani tebu yang memprotes impor berton-ton gula ilegal. Suara-suara yang meributkan penjualan tanker Pertamina dan rencana mengongkosi beberapa anggota DPR-RI ke luar negeri pun kalah keras. bahkan berubahnya status saksi menjadi tersangka korupsi, Gubernur Propinsi NAD, Abdullah Puteh terkait dengan pengadaan helikopter MI-2 PLC Rostov, tidak lagi menarik perhatian publik yang terbius nyanyian ''Pelangi di Matamu''. Bahkan mereka lebih senang mendengar kata-kata bersayap yang awalnya dihembus PM RRC, Zhu Rong Ji, lalu ditiru salah seorang capres, ''Sediakan seribu peti mati, 999 untuk para koruptor dan satu untuk saya kalau terbukti korupsi!''

''Jangankan seribu, sejuta peti mati pun disediakan akan kurang, kalau benar-benar semua koruptor ditembak seperti pencuri dan perampok. Apakah mereka tidak pernah membaca laporan Transprarency International, yang sering menempatkan Indonesia di ranking puncak dalam korupsi?'' gumam Rubag yang bimbang dengan ucapan akhir Zhu Rong Ji, yang rela dihukum mati kalau terbukti korupsi, sedangkan di Indonesia, untuk mendapatkan bukti lebih sulit dari menemukan jarum di kali, karena koruptor di sini berkemampuan seperti tuyul.

Berkaitan dengan masalah korupsi sebagai akibat ringannya moral dibanding kecerdasan, Sabam Siagian pernah mengutip pendapat pemikir politik AS, Dr. Reinhold Neibuhr. Di masyarakat yang dilanda korupsi, penyalahgunakan kekuasaan, ketidakadilan dan kebejatan moral, kehadiran seorang pemimpin yang memiliki integritas moral yang handal sangat didambakan. Pemimpin yang dimaksud adalah orang yang mau terjun langsung ke kancah kekotoran, namun tidak untuk terpengaruh berbuat amoral dan bejat, malah serius memperbaiki kerusakan moral itu. Tanpa mau mengotori diri, dia bukanlah pemimpin yang efektif. Lebih parah lagi, kalau dia cenderung terjerat pada mentalitas self righteousness atau merasa diri paling bersih, jujur, bajik dan bijak.

Meskipun Rubag sepaham dengan pendapat Wil dan Yatim bahwa kecerdasan dan moral ada di otak, namun kecerdasan tanpa moral, menurutnya, lebih cocok disebut kelicikan. Di tengah-tengah derasnya pengaruh neomaterialisme yang dipacu neokapitalisme liberal ini, kepintaran dan kelicikan sangat sulit dibedakan. Jabatan setinggi-tingginya dengan kekuasaan seluas-luasnya menjadi dambaan banyak orang, sehingga salah satu cara yang dianggap paspor untuk memasuki dunia itu adalah titel akademik.

Di Era Feodalisme, privelese dicapai dengan kasta, kemudian rasisme merupakan masalah kulit dan rambut, kapitalisme membedakan kaya dan miskin, ironisnya modernisme yang bercirikan positivisme akibat pengaruh pikiran Descartes dan Newton, manusia dikotakkan jadi sarjana dan nonsarjana. Gelar akademik kemudian menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Akibat ringannya moral dibanding kecerdasan, kelicikan lalu dipakai mengumpulkan harta dengan berbagai cara untuk membeli gelar sebanyak-banyaknya. Lucunya, ada orang yang memiliki deretan titel akademik di depan maupun belakang namanya, ketika diajak berdiskusi berkaitan dengan salah satu disiplin ilmunya, berargumentasi seperti karburator mobil mampet. Kata orang, dia menerapkan ilmu padi, semakin berisi kian merunduk, bukan karena sarat digelayuti wereng!

Gelar profesor pun dipasang orang seperti mencantol anting-anting di kuping. Padahal, menurut Kebamoto, sebelum jadi profesor orang harus melewati tahap doktor habil, yang sering melakukan riset-riset ilmiah bersama para profesor senior. Setelah jadi profesor, dia harus aktif melakukan bimbingan, penelitian dan publikasi ilmiah internasional. Kalau bukan lantaran ringannya moral dibanding kelicikan, menurut Kebamoto, seorang profesor harus berkaca sambil bertanya pada dirinya, ''Sudah pantaskah aku menjadi profesor?''

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com