Ringannya
Moral, Beratnya Kelicikan
Sekolah moral bagi sebuah
anak bangsa itu sejatinya ada di dalam keteladanan para pemimpin
bangsa, yang kehidupan pribadinya teratur, sehingga kehidupan
keluarga, masyarakat dan bangsanya teratur. (''Sekolah Moral'',
Handrawan Nadesul).
RUBAG
tertarik memenggal satu dari banyak kalimat yang tersusun dalam
artikel berjudul ''Sekolah Moral'' tulisan seorang dokter, yang
juga penulis puisi, Handrawan Nadesul. Itu terdorong dari
tawaran Bali Post pada para pembacanya, untuk menulis opini
mereka pada rubrik ''Giliran Anda'' tentang larangan memakai
gelar palsu. Pelarangan tersebut terkait dengan diusulkannya RUU
Perilaku Aparat Negara ke DPR-RI oleh Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara (PAN).
Dalam acara uji materi dan
sosialisasi RUU tersebut di Jimbaran baru-baru ini, Deputi
Bidang Program Pendayagunaan Aparatur Negara, Prof. Dr. Maswardi
Rauf memprihatinkan perilaku aparat negara di Indonesia. Tidak
jujur, kurang terbuka dan kurang bertanggung jawab, kata
Maswardi, merupakan citra buruk aparat pemerintah dan pejabat
negara sudah menjadi jamak. Sikap, tindakan dan ucapan yang
menjadi bagian dari perilaku aparat negara, kurang serasi dengan
nilai-nilai moral dan norma etika masyarakat. Bahkan untuk
melengkapi RUU tersebut, dalam salah satu pasal tertulis
larangan bagi aparat negara untuk memakai gelar akademik palsu.
Rubag yakin Nadesul belum
sempat membaca atau mendengar lewat media keprihatinan Maswardi
Rauf. Sebagai seorang petinggi di Kementerian PAN, Maswardi
tentu tidak berani gegabah tanpa bukti menelanjangi akhlak para
pejabat yang sekaligus juga pemimpin dalam semiloka, yang pasti
dikutip para wartawan. Nadesul bukan pula buta dan tuli atas apa
yang terjadi negeri ini, namun karena keberaniannya tidak
didukung bukti dan saksi, yang bisa menjeratnya ke pasal-pasal
fitnah, pencemaran nama baik dan membuat perasaan tidak enak,
tentunya dia memilih cara lain untuk melontarkan kritik.
Sarannya untuk menjadikan para pemimpin sebagai lembaga hidup
untuk pendidikan moral anak bangsa, bisa dianggap sebagai canda
atau sindiran. Kalau usulannya dianggap serius, bisa jadi yang
akan menghuni kawasan Nusantara ini di masa depan, adalah bangsa
penipu, pembohong dan tidak bertanggung jawab. Sebab, seperti
yang dilontarkan Maswardi dan juga pernah diplesetkan Roeslan
Abdulgani tentang kepemimpinan yang ''ing ngarso mangun angkoro,
ing madyo numpuki arto dan tut wuri menadahi''.
Wildan Yatim dalam
artikelnya ''Ada Bantahan terhadap Teori Evolusi?'' menulis,
sebagai kalifah di bumi, Tuhan menganugerahi manusia, kecerdasan
yang jauh lebih tinggi dari hewan-hewan lainnya dan moral untuk
mengendalikan kecerdasan itu. Moral dan kecerdasan tersebut
tumbuh di otak dan keduanya harus seimbang, sehingga dunia
dengan segenap isinya harmonis. Tapi kenyataannya, tulis Wildan,
moralitas dewasa ini sudah sangat ringan, sehingga kecerdasan
digunakan untuk menghancurkan lingkungan bahkan sesama.
Keterpurukan dalam segala sektor kehidupan di Tanah Air disertai
tindakan yang tidak manusiawi, menurut Wildan, akibat kadar
manusia leih rendah dari hewan, sehingga segala bentuk kejahatan
terjadi, termasuk korupsi. Ironisnya, hewan yang kenyang akan
jinak dan tidur, tapi manusia tidak pernah merasa kenyang dan
terus ribut.
Rubag setuju dengan
pendapat Wildan Yatim dan juga sepaham dengan tulisan Nadesul
berjudul ''Sekolah Moral'', yang pada bagian akhirnya merupakan
parodi kepemimpinan. Nadesul pada awal tulisannya juga mengeluh
soal moralitas manusia yang kebanyakan menyerap nilai-nilai dari
televisi, akibat kesibukan ayah-ibu dan terpisahnya keluarga
inti dengan keluarga besar serta neomaterialisme. Korupsi
seakan-akan sudah dianggap hak kebenaran adalah selera
masing-masing, moralitas jadi pilihan individu, lanjut Nadesul,
berbohong, menipu serta mencuri, asal tidak ketahuan, menjadi
budaya baru. Dia juga mengutip pendapat Drost yang mengkritik
UAN dengan nilai konversinya, yang dianggap sebagai praksis
korupsi dengan kedok standar mutu pendidikan. Neomaterialisme
sudah jauh menggerayangi kehidupan masyarakat, termasuk dunia
pendidikan, sehingga anak-anak seperti dibiasakan untuk tidak
mengenal baik dan buruk, kebenaran dan kejahatan, sehingga
mereka hidup di pinggiran moral.
***
Dari gemuruh kampanye
Pilpres, baik di TV maupun koran, para capres dan cawapres juga
tim kampanyenya seakan-akan berlomba senyaring-nyaringnya
meneriakkan slogan antikorupsi. Sayang hingar-bingar teriakan
tersebut mengalahkan suara -- nyaris tak terdengar -- dari para
petani tebu yang memprotes impor berton-ton gula ilegal.
Suara-suara yang meributkan penjualan tanker Pertamina dan
rencana mengongkosi beberapa anggota DPR-RI ke luar negeri pun
kalah keras. bahkan berubahnya status saksi menjadi tersangka
korupsi, Gubernur Propinsi NAD, Abdullah Puteh terkait dengan
pengadaan helikopter MI-2 PLC Rostov, tidak lagi menarik
perhatian publik yang terbius nyanyian ''Pelangi di Matamu''.
Bahkan mereka lebih senang mendengar kata-kata bersayap yang
awalnya dihembus PM RRC, Zhu Rong Ji, lalu ditiru salah seorang
capres, ''Sediakan seribu peti mati, 999 untuk para koruptor dan
satu untuk saya kalau terbukti korupsi!''
''Jangankan seribu, sejuta
peti mati pun disediakan akan kurang, kalau benar-benar semua
koruptor ditembak seperti pencuri dan perampok. Apakah mereka
tidak pernah membaca laporan Transprarency International, yang
sering menempatkan Indonesia di ranking puncak dalam korupsi?''
gumam Rubag yang bimbang dengan ucapan akhir Zhu Rong Ji, yang
rela dihukum mati kalau terbukti korupsi, sedangkan di
Indonesia, untuk mendapatkan bukti lebih sulit dari menemukan
jarum di kali, karena koruptor di sini berkemampuan seperti
tuyul.
Berkaitan dengan masalah
korupsi sebagai akibat ringannya moral dibanding kecerdasan,
Sabam Siagian pernah mengutip pendapat pemikir politik AS, Dr.
Reinhold Neibuhr. Di masyarakat yang dilanda korupsi,
penyalahgunakan kekuasaan, ketidakadilan dan kebejatan moral,
kehadiran seorang pemimpin yang memiliki integritas moral yang
handal sangat didambakan. Pemimpin yang dimaksud adalah orang
yang mau terjun langsung ke kancah kekotoran, namun tidak untuk
terpengaruh berbuat amoral dan bejat, malah serius memperbaiki
kerusakan moral itu. Tanpa mau mengotori diri, dia bukanlah
pemimpin yang efektif. Lebih parah lagi, kalau dia cenderung
terjerat pada mentalitas self righteousness atau merasa diri
paling bersih, jujur, bajik dan bijak.
Meskipun Rubag sepaham
dengan pendapat Wil dan Yatim bahwa kecerdasan dan moral ada di
otak, namun kecerdasan tanpa moral, menurutnya, lebih cocok
disebut kelicikan. Di tengah-tengah derasnya pengaruh
neomaterialisme yang dipacu neokapitalisme liberal ini,
kepintaran dan kelicikan sangat sulit dibedakan. Jabatan
setinggi-tingginya dengan kekuasaan seluas-luasnya menjadi
dambaan banyak orang, sehingga salah satu cara yang dianggap
paspor untuk memasuki dunia itu adalah titel akademik.
Di Era Feodalisme,
privelese dicapai dengan kasta, kemudian rasisme merupakan
masalah kulit dan rambut, kapitalisme membedakan kaya dan miskin,
ironisnya modernisme yang bercirikan positivisme akibat pengaruh
pikiran Descartes dan Newton, manusia dikotakkan jadi sarjana
dan nonsarjana. Gelar akademik kemudian menjadi komoditas yang
diperjualbelikan. Akibat ringannya moral dibanding kecerdasan,
kelicikan lalu dipakai mengumpulkan harta dengan berbagai cara
untuk membeli gelar sebanyak-banyaknya. Lucunya, ada orang yang
memiliki deretan titel akademik di depan maupun belakang namanya,
ketika diajak berdiskusi berkaitan dengan salah satu disiplin
ilmunya, berargumentasi seperti karburator mobil mampet. Kata
orang, dia menerapkan ilmu padi, semakin berisi kian merunduk,
bukan karena sarat digelayuti wereng!
Gelar profesor pun
dipasang orang seperti mencantol anting-anting di kuping.
Padahal, menurut Kebamoto, sebelum jadi profesor orang harus
melewati tahap doktor habil, yang sering melakukan riset-riset
ilmiah bersama para profesor senior. Setelah jadi profesor, dia
harus aktif melakukan bimbingan, penelitian dan publikasi ilmiah
internasional. Kalau bukan lantaran ringannya moral dibanding
kelicikan, menurut Kebamoto, seorang profesor harus berkaca
sambil bertanya pada dirinya, ''Sudah pantaskah aku menjadi
profesor?''
* aridus
|