kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 4 Juli 2004 tarukan valas
 

KELUARGA


Untuk Apa Saya Dilahirkan?

Kebanyakan orangtua ingin anak-anaknya menikmati hidup dan mengenyam pendidikan yang lebih baik. Tak ada orangtua yang menginginkan anaknya tak menjadi ''orang'' kelak. Namun dalam perjalanan membesarkan anaknya, tanpa sadar orangtua melakukan apa yang pernah dialaminya waktu kecil dan meneruskan apa yang pernah ditakuti, tidak disukai, dan dibenci. Seakan-akan Tuhan menguji hatinya untuk meninjau ulang dendamnya. Penyadaran di dalam hati yang paling dalam dan memaafkannya, akan menghentikan karmaphala itu berulang dan berlanut kepada keturunan berikutnya.

SEORANG anak perempuan bernama Deby berumur 12 tahun datang ke tempat praktik kami atas permintaan mamanya. Ia berani naik pesawat sendirian tanpa ditemani keluarganya datang ke Bali. Papanya sudah datang di Bali lebih dulu untuk mendapatkan pengobatan. Menurut mamanya melalui telepon, dikatakan bahwa Deby sampai mengalami kejang setelah dimarahi oleh ayahnya. Setelah itu, Deby tak mau bicara dan tampak benci dengan papanya.

Deby tampak dalam keadaan sedih, marah dan benci. Waktu dilakukan wawancara ia menjawab dengan terputus-putus dan akhirnya menangis tersedu-sedu waktu diminta menceritakan kembali apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya. Ia benci dengan papanya yang menganggap dirinya tidak ada artinya karena apapun yang dilakukannya selalu salah di mata papanya. Ia sudah berusaha berbuat yang terbaik agar papanya tidak marah. Namun apapun yang dilakukannya tetap salah. Tanpa pernah ditanya kenapa ia melakukan itu, langsung ia dipukul sampai melukai badannya, melukai hatinya. Terakhir, puncak dari kebencian dengan papanya adalah waktu ia pulang bersama teman-temannya naik taksi. Papanya marah luar biasa. Memang papanya tak suka Deby naik bemo atau taksi. Ia harus menunggu jemputan dari papanya. Sesungguhnya papanya harus mengerti kalau Deby perlu punya teman, sesekali beramai-ramai pergi dengan teman. Namun Deby terus dipukul. Ia benar-benar merasa sakit hati, tidak terima dipukul. ''Bukankah saya perlu merasakan bermain dengan teman-teman? Untuk apa saya dilahirkan, buat apa saya hidup hanya untuk dipukul papa. Buat apa saya dilahirkan! Bukankah Tuhan menciptakan saya untuk disayang?'' Ia tidak mengerti tentang papanya. Ia menjerit dan menangis, menyesali nasibnya dan ia putus asa, ia ingin mati, biar papanya puas.

Ketidakmengertiannya dengan papanya dikatakan, waktu di sekolah ia berkumpul dengan teman-teman untuk berencana bekerja mengumpulkan dana membantu orang miskin. Papa marah dan mengatakan untuk apa kerja, apa mau menjadi pembantu sekolah? Deby merasa wajar membantu sekolah untuk membantu orang tidak punya dan juga untuk merasakan bagaimana orang lain menderita. Namun, ia harus di rumah saja dan tidak boleh bermain dengan pembantu. Papa akan marah kalau ia dilihatnya bermain atau bercerita dengan pembantu. Papanya hanya ingin Deby di kamar saja menonton TV atau belajar. Ia tak boleh membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau ia lakukan, papa akan marah. Papa menyuruh hidup bersih, tetapi kalau ia mengerjakannya dilarang dan dibentak. Bukankah ia perlu melakukan ini untuk bisa merasakan bagaimana membuat kamar bersih?

Papanya memukul dengan selang atau kayu. Pernah suatu saat ia melihat kakaknya sedang membersihkan mobil dipukul oleh papanya dengan selang. Ia mencoba mencegahnya, namun papanya menendangnya sampai ia terjatuh da terluka. Ia tidak diberikan sekolah. Papa mau membakar semua buku-buku sekolahnya. Ia melihat badan kakaknya luka parah akibat pukulan selang. Batinnya sakit. Setiap pulang dari toko, papanya tidak pernah rileks, selalu marah-marah. Deby merasakan papanya seperti orang jahat. Mama berusaha menenangkan dan menahan emosi papa, tetapi mama pun dipukul. Di rumah ia hanya melihat pemandangan papa memukul dan memukul serta marah yang tidak ada henti-hentinya. Untuk apa kaya kalau ia tidak merasakan kekayaan itu kecuali pukulan?

Deby bisa mengikuti pelajaran sekolah. Nilainya pas untuk lulus. Kalau ia mau belajar, nilainya pasti bagus. Namun belakangan ini ia tidak bergairah belajar karena dipaksa harus belajar. Ia tidak ingin dipaksa belajar. Ia ingin belajar karena memang datang dari keinginannya sendiri. Akhirnya ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV. Karena dalam keadaan sedih, putus asa dan benci yang bercampur, maka Deby dibawa merasakan peristiwa itu kembali. Ia merasakan bahwa papanya memukulnya waktu datang dari sekolah. Tanpa basa-basi langsung memukul dan menendang. Ia merasa sakit sekali, tidak saja badannya sakit, juga hatinya. Ia terus menangis, minta ampun pada papanya, ''Sakit papa, sakit, ampun papa, sakit papa!'', namun papanya terus memukulnya. Ia marah jengkel dan benci pada papanya. Ia tidak bisa ngomong. Akhirnya ia kejang dan pingsan. Ia tidak mampu melakukan apa-apa. Ia sudah putus asa, ingin mati saat itu. Setelah semua tangis dikeluarkannya, sesudah semua sakit hati dilepaskan, maka saat disuruh melihat papanya, merasakan mata papanya melalui hati nurani, ia menangis, menangis karena papanya menderita, penuh beban. Ia menangis karena merasakan sebenarnya papanya sayang dengan dirinya. Merasakan papanya ingin menjadikannya anak pandai dengan mengenyam pendidikan.

Setelah diselusuri kehidupannya, kenapa Deby menjadi dendam dengan papanya, ternyata ada masalah lain yang selalu membekas pada dirinya, yakni waktu ia berumur 3 tahun dan kakaknya 5 tahun. Ia dipanggil-panggil oleh papanya tidak ditemukan ada di rumah. Ia ditemukan papanya bersama kakaknya ada di rumah tetangga menonton TV. Mereka sedang senang menonton TV, tetapi tiba-tiba papanya langsung menyeretnya, dan memukulnya. Ia menangis kesakitan, ia sudah minta ampun, tetapi papanya seperti kesetanan memukulnya. Badannya penuh luka akibat pukulan itu. Ia ingat bagaimana setelah itu ia diobati oleh papanya.

Waktu disuruh merasakan mata papa, ia benar-benar melihat papanya menyesal dengan perbuatannya itu. Ia merasakan sorot mata papanya waktu memukulnya seperti mata setan sedangkan sorot mata waktu mengobati lukanya sebagai papa yang penuh kasih. Ia permulaannya merasa takut dekat dengan papanya, namun sewaktu merasakan mata apa yang mengasihinya, ia ikhlas memaafkan papanya. Ia menerima kalau papanya dalam keadaan tertekan. Pada saat itu papanya tidak mampu mengontrol emosinya.

''Karmaphala'' Berulang
Sewaktu dilakukan wawancara, papa Deby -- sebut namanya Johan -- tampak dalam keadaan tegang. Sulit diajak berkomunikasi karena dirinya seperti tidak menyatu dengan badannya. Ia mengatakan bahwa hidupnya harus selalu bekerja. Ia tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bersantai. Ia tak ingin menjadi miskin sewaktu kanak-kanak. Setelah menikah ia tetap merasa tak punya apa-apa walaupun kaya. Ia tak ingin libur sedikit pun. Ia terus bekerja demi mengumpulkan kekayaan. Ia tak ingin anaknya tidak tahu apa-apa. Ia ingin anaknya belajar dan belajar. Ia benar-benar di luar kontrol dirinya sewaktu melihat anaknya pulang naik bemo. Ia marah dan memukul anaknya. Ia melakukan itu dengan tidak sadar, walaupun saat itu ia ingat apa yang terjadi. Ia merasa hidupnya tak tenang. Ia merasa selalu dalam keadaan marah. Ia merasa anak-anak dan istrinya tidak memahami dirinya.

Johan dibesarkan dari keluarga miskin, bersaudara lima orang dan harus bekerja keras. Di sekolah ia tidak termasuk anak pintar. Ia pemalu, jarang bergaul, selalu tegang dalam hidupnya. Waktu Johan kecil, orangtuanya sering bertengkar dan kemudian memukul mamanya di depan matanya. Ia sangat takut saat itu, namun karena terlalu sering, ia merasakannya sebagai pemandangan biasa. Ia juga sering dipukul. Ia dibesarkan dari keluarga yang keras dan kejam. Ia bingung, namun semua saudaranya bisa bertahan. Ia menjadi orang yang mudah marah. Setelah besar ia melawan orangtuanya dan kemudian setelah menikah ia pisah karena benci dengan tekanan orangtuanya yang menganggap dirinya anak kecil. Ia ingin berusaha sendiri untuk menunjukkan ia mampu mandiri.

Pada saat ia dihipnosis, untuk kedua kalinya, ia dibawa ke masa kecil. Tiba-tiba ia tidak bisa bernafas, seluruh tubuhnya keram dan kejang. Ia kemudian menangis, menangis kesakitan, sambil terus minta ampun. Badannya terus bergerak-gerak menghindari pukulan papanya dan menahan sakit. Ia dipukul dan merasa terkejut dan ketakutan ketika tiba-tiba papanya mengambil parang dan menebas tangan kirinya. Tangannya berdarah dan pingsan. Sewaktu sadar, ia merasa diobati oleh teman-temannya. Ia benci dengan papanya yang kejam. Setelah itu ia terus menerima pukulan yang menambah kebenciannya pada papanya. Dalam keadaan dihipnosis ia baru menyadari bahwa apa yang dilakukan papanya. Ia merasakan dari sorot mata papanya bahwa ia menderita, ia tidak membenci dirinya, ia tak sadar melakukan pukulan itu seperti pelepasan penderitaan yang dialaminya.

Johan bisa memahami papanya, ia memaafkan tindakan papanya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia mengerti kenapa papanya berbuat seperti itu karena ingin anaknya menjadi baik, karena ingin anaknya sukses dan pengalamannya waktu ia kecil menyebabkan ia melakukan hal itu pada dirinya tanpa memikirkan bahwa semua ini berbekas dalam diri anaknya. Tanpa memikirkan bahwa ini merupakan penyiksaan dalam hidup selanjutnya yang juga ia turunkan kepada anaknya. Ia baru menyadari bahwa kesuksesan yang ia peroleh sekarang ini justru karena tempaan yang diberikan oleh orangtuanya. Tanpa pengalaman itu mungkin ia tidak bisa seperti sekarang ini. Ia menangis ketika disuruh membandingkan dengan teman-temannya yang santai waktu kecil, sekarang mereka tidak punya apa-apa.

Setelah bisa membebaskan bebannya, Johan benar-benar merasa plong. Ia merasa seperti baru lahir kembali. Ia merasa berdosa selama ini memukul anak dan istrinya. Ia merasa berdosa menekan anak-anaknya harus di rumah. Sedangkan Deby anak yang sedang tumbuh, mampu mandiri dan menerima kasih sayang papanya. Pukulan yang diterimanya bukan karena papanya membencinya.
* luh ketut suryani

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com