Untuk Apa
Saya Dilahirkan?
Kebanyakan orangtua ingin
anak-anaknya menikmati hidup dan mengenyam pendidikan yang lebih
baik. Tak ada orangtua yang menginginkan anaknya tak menjadi ''orang''
kelak. Namun dalam perjalanan membesarkan anaknya, tanpa sadar
orangtua melakukan apa yang pernah dialaminya waktu kecil dan
meneruskan apa yang pernah ditakuti, tidak disukai, dan dibenci.
Seakan-akan Tuhan menguji hatinya untuk meninjau ulang dendamnya.
Penyadaran di dalam hati yang paling dalam dan memaafkannya,
akan menghentikan karmaphala itu berulang dan berlanut kepada
keturunan berikutnya.
SEORANG
anak perempuan bernama Deby berumur 12 tahun datang ke tempat
praktik kami atas permintaan mamanya. Ia berani naik pesawat
sendirian tanpa ditemani keluarganya datang ke Bali. Papanya
sudah datang di Bali lebih dulu untuk mendapatkan pengobatan.
Menurut mamanya melalui telepon, dikatakan bahwa Deby sampai
mengalami kejang setelah dimarahi oleh ayahnya. Setelah itu,
Deby tak mau bicara dan tampak benci dengan papanya.
Deby tampak dalam keadaan
sedih, marah dan benci. Waktu dilakukan wawancara ia menjawab
dengan terputus-putus dan akhirnya menangis tersedu-sedu waktu
diminta menceritakan kembali apa yang sebenarnya terjadi dalam
dirinya. Ia benci dengan papanya yang menganggap dirinya tidak
ada artinya karena apapun yang dilakukannya selalu salah di mata
papanya. Ia sudah berusaha berbuat yang terbaik agar papanya
tidak marah. Namun apapun yang dilakukannya tetap salah. Tanpa
pernah ditanya kenapa ia melakukan itu, langsung ia dipukul
sampai melukai badannya, melukai hatinya. Terakhir, puncak dari
kebencian dengan papanya adalah waktu ia pulang bersama
teman-temannya naik taksi. Papanya marah luar biasa. Memang
papanya tak suka Deby naik bemo atau taksi. Ia harus menunggu
jemputan dari papanya. Sesungguhnya papanya harus mengerti kalau
Deby perlu punya teman, sesekali beramai-ramai pergi dengan
teman. Namun Deby terus dipukul. Ia benar-benar merasa sakit
hati, tidak terima dipukul. ''Bukankah saya perlu merasakan
bermain dengan teman-teman? Untuk apa saya dilahirkan, buat apa
saya hidup hanya untuk dipukul papa. Buat apa saya dilahirkan!
Bukankah Tuhan menciptakan saya untuk disayang?'' Ia tidak
mengerti tentang papanya. Ia menjerit dan menangis, menyesali
nasibnya dan ia putus asa, ia ingin mati, biar papanya puas.
Ketidakmengertiannya
dengan papanya dikatakan, waktu di sekolah ia berkumpul dengan
teman-teman untuk berencana bekerja mengumpulkan dana membantu
orang miskin. Papa marah dan mengatakan untuk apa kerja, apa mau
menjadi pembantu sekolah? Deby merasa wajar membantu sekolah
untuk membantu orang tidak punya dan juga untuk merasakan
bagaimana orang lain menderita. Namun, ia harus di rumah saja
dan tidak boleh bermain dengan pembantu. Papa akan marah kalau
ia dilihatnya bermain atau bercerita dengan pembantu. Papanya
hanya ingin Deby di kamar saja menonton TV atau belajar. Ia tak
boleh membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau ia lakukan,
papa akan marah. Papa menyuruh hidup bersih, tetapi kalau ia
mengerjakannya dilarang dan dibentak. Bukankah ia perlu
melakukan ini untuk bisa merasakan bagaimana membuat kamar
bersih?
Papanya memukul dengan
selang atau kayu. Pernah suatu saat ia melihat kakaknya sedang
membersihkan mobil dipukul oleh papanya dengan selang. Ia
mencoba mencegahnya, namun papanya menendangnya sampai ia
terjatuh da terluka. Ia tidak diberikan sekolah. Papa mau
membakar semua buku-buku sekolahnya. Ia melihat badan kakaknya
luka parah akibat pukulan selang. Batinnya sakit. Setiap pulang
dari toko, papanya tidak pernah rileks, selalu marah-marah. Deby
merasakan papanya seperti orang jahat. Mama berusaha menenangkan
dan menahan emosi papa, tetapi mama pun dipukul. Di rumah ia
hanya melihat pemandangan papa memukul dan memukul serta marah
yang tidak ada henti-hentinya. Untuk apa kaya kalau ia tidak
merasakan kekayaan itu kecuali pukulan?
Deby bisa mengikuti
pelajaran sekolah. Nilainya pas untuk lulus. Kalau ia mau
belajar, nilainya pasti bagus. Namun belakangan ini ia tidak
bergairah belajar karena dipaksa harus belajar. Ia tidak ingin
dipaksa belajar. Ia ingin belajar karena memang datang dari
keinginannya sendiri. Akhirnya ia lebih banyak menghabiskan
waktunya untuk menonton TV. Karena dalam keadaan sedih, putus
asa dan benci yang bercampur, maka Deby dibawa merasakan
peristiwa itu kembali. Ia merasakan bahwa papanya memukulnya
waktu datang dari sekolah. Tanpa basa-basi langsung memukul dan
menendang. Ia merasa sakit sekali, tidak saja badannya sakit,
juga hatinya. Ia terus menangis, minta ampun pada papanya, ''Sakit
papa, sakit, ampun papa, sakit papa!'', namun papanya terus
memukulnya. Ia marah jengkel dan benci pada papanya. Ia tidak
bisa ngomong. Akhirnya ia kejang dan pingsan. Ia tidak mampu
melakukan apa-apa. Ia sudah putus asa, ingin mati saat itu.
Setelah semua tangis dikeluarkannya, sesudah semua sakit hati
dilepaskan, maka saat disuruh melihat papanya, merasakan mata
papanya melalui hati nurani, ia menangis, menangis karena
papanya menderita, penuh beban. Ia menangis karena merasakan
sebenarnya papanya sayang dengan dirinya. Merasakan papanya
ingin menjadikannya anak pandai dengan mengenyam pendidikan.
Setelah diselusuri
kehidupannya, kenapa Deby menjadi dendam dengan papanya,
ternyata ada masalah lain yang selalu membekas pada dirinya,
yakni waktu ia berumur 3 tahun dan kakaknya 5 tahun. Ia
dipanggil-panggil oleh papanya tidak ditemukan ada di rumah. Ia
ditemukan papanya bersama kakaknya ada di rumah tetangga
menonton TV. Mereka sedang senang menonton TV, tetapi tiba-tiba
papanya langsung menyeretnya, dan memukulnya. Ia menangis
kesakitan, ia sudah minta ampun, tetapi papanya seperti
kesetanan memukulnya. Badannya penuh luka akibat pukulan itu. Ia
ingat bagaimana setelah itu ia diobati oleh papanya.
Waktu disuruh merasakan
mata papa, ia benar-benar melihat papanya menyesal dengan
perbuatannya itu. Ia merasakan sorot mata papanya waktu
memukulnya seperti mata setan sedangkan sorot mata waktu
mengobati lukanya sebagai papa yang penuh kasih. Ia permulaannya
merasa takut dekat dengan papanya, namun sewaktu merasakan mata
apa yang mengasihinya, ia ikhlas memaafkan papanya. Ia menerima
kalau papanya dalam keadaan tertekan. Pada saat itu papanya
tidak mampu mengontrol emosinya.
''Karmaphala''
Berulang
Sewaktu dilakukan wawancara, papa Deby -- sebut namanya Johan --
tampak dalam keadaan tegang. Sulit diajak berkomunikasi karena
dirinya seperti tidak menyatu dengan badannya. Ia mengatakan
bahwa hidupnya harus selalu bekerja. Ia tak ingin menyia-nyiakan
hidupnya untuk bersantai. Ia tak ingin menjadi miskin sewaktu
kanak-kanak. Setelah menikah ia tetap merasa tak punya apa-apa
walaupun kaya. Ia tak ingin libur sedikit pun. Ia terus bekerja
demi mengumpulkan kekayaan. Ia tak ingin anaknya tidak tahu
apa-apa. Ia ingin anaknya belajar dan belajar. Ia benar-benar di
luar kontrol dirinya sewaktu melihat anaknya pulang naik bemo.
Ia marah dan memukul anaknya. Ia melakukan itu dengan tidak
sadar, walaupun saat itu ia ingat apa yang terjadi. Ia merasa
hidupnya tak tenang. Ia merasa selalu dalam keadaan marah. Ia
merasa anak-anak dan istrinya tidak memahami dirinya.
Johan dibesarkan dari
keluarga miskin, bersaudara lima orang dan harus bekerja keras.
Di sekolah ia tidak termasuk anak pintar. Ia pemalu, jarang
bergaul, selalu tegang dalam hidupnya. Waktu Johan kecil,
orangtuanya sering bertengkar dan kemudian memukul mamanya di
depan matanya. Ia sangat takut saat itu, namun karena terlalu
sering, ia merasakannya sebagai pemandangan biasa. Ia juga
sering dipukul. Ia dibesarkan dari keluarga yang keras dan kejam.
Ia bingung, namun semua saudaranya bisa bertahan. Ia menjadi
orang yang mudah marah. Setelah besar ia melawan orangtuanya dan
kemudian setelah menikah ia pisah karena benci dengan tekanan
orangtuanya yang menganggap dirinya anak kecil. Ia ingin
berusaha sendiri untuk menunjukkan ia mampu mandiri.
Pada saat ia dihipnosis,
untuk kedua kalinya, ia dibawa ke masa kecil. Tiba-tiba ia tidak
bisa bernafas, seluruh tubuhnya keram dan kejang. Ia kemudian
menangis, menangis kesakitan, sambil terus minta ampun. Badannya
terus bergerak-gerak menghindari pukulan papanya dan menahan
sakit. Ia dipukul dan merasa terkejut dan ketakutan ketika
tiba-tiba papanya mengambil parang dan menebas tangan kirinya.
Tangannya berdarah dan pingsan. Sewaktu sadar, ia merasa diobati
oleh teman-temannya. Ia benci dengan papanya yang kejam. Setelah
itu ia terus menerima pukulan yang menambah kebenciannya pada
papanya. Dalam keadaan dihipnosis ia baru menyadari bahwa apa
yang dilakukan papanya. Ia merasakan dari sorot mata papanya
bahwa ia menderita, ia tidak membenci dirinya, ia tak sadar
melakukan pukulan itu seperti pelepasan penderitaan yang
dialaminya.
Johan bisa memahami
papanya, ia memaafkan tindakan papanya dari lubuk hatinya yang
paling dalam. Ia mengerti kenapa papanya berbuat seperti itu
karena ingin anaknya menjadi baik, karena ingin anaknya sukses
dan pengalamannya waktu ia kecil menyebabkan ia melakukan hal
itu pada dirinya tanpa memikirkan bahwa semua ini berbekas dalam
diri anaknya. Tanpa memikirkan bahwa ini merupakan penyiksaan
dalam hidup selanjutnya yang juga ia turunkan kepada anaknya. Ia
baru menyadari bahwa kesuksesan yang ia peroleh sekarang ini
justru karena tempaan yang diberikan oleh orangtuanya. Tanpa
pengalaman itu mungkin ia tidak bisa seperti sekarang ini. Ia
menangis ketika disuruh membandingkan dengan teman-temannya yang
santai waktu kecil, sekarang mereka tidak punya apa-apa.
Setelah bisa membebaskan
bebannya, Johan benar-benar merasa plong. Ia merasa seperti baru
lahir kembali. Ia merasa berdosa selama ini memukul anak dan
istrinya. Ia merasa berdosa menekan anak-anaknya harus di rumah.
Sedangkan Deby anak yang sedang tumbuh, mampu mandiri dan
menerima kasih sayang papanya. Pukulan yang diterimanya bukan
karena papanya membencinya.
* luh ketut suryani
|