kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 4 Juli 2004 tarukan valas
 

GEBYAR


Ritus Legong, Bicara Budaya Padi

MENJADI suatu kebiasaan. Sehabis pulang dari sawah, para petani berkumpul di bale banjar. Mereka bersenda gurau, membicarakan tentang air, benih padi dan hama.

Terkadang waktu senggang diisi dengan hiburan. Malam itu magenjekan sambil minum tuak dipilih untuk sekadar mengisi waktu sebelum berangkat tidur. Suasana gembira tercipta. Tiba-tiba, padi para petani diserang hama tikus dan babi hutan. Tanaman padi yang baru berumur beberapa bulan diserang tikus. Betapa sedihnya para petani. Mereka tak kuasa menerima godaan seperti ini.

Maka, ritual menghadap ibu pertiwi dilakukan. Dewi Sri pun muncul dalam bentuk legong. Hama tikus kemudian mendekat, Dewi Sri mengusirnya. Hama tikus dan babi hutan akhirnya tak lagi mengganggu tanaman petanu. Demikianlah inti garapan ''Ritus Legong'' yang ditampilkan Arti Foudation di depan Gedung Pameran Taman Budaya, serangkaian PKB ke-26, Sabtu (3/7) kemarin. Garapan yang disutradarai Kadek Suardana, koreografernya Made Sura dan Wayan Sudirta serta penata tabuh Ketut Lanus dan Made Mandra itu berbicara tentang budaya padi.

Garapan yang tampil pertama kali di PKB itu didukung sekitar 45 orang personel -- penari dan penabuh. Wiwik Hartati dan Ayu Ketut Putri Rahayuning, dua orang pendukung garapan yang menarikan legong.

''Ritus Legong itu merupakan dramatari yang mengekspresikan kepercayaan masyarakat agraris di Bali. Kepercayaan dan rasa hormat masyarakat agraris kepada ibu pertiwi merupakan sumber dari keberhasilan maupun kegagalan panen. Ketika panen diserang hama, menghadap ibu pertiwi merupakan satu solusi,'' kata Kadek Suardana.

Pimpinan Arti Foundation itu mengatakan inspirasi garapan ini diambil dari upacara Sanghyang. Koreografi dua legong sebagai simbol Dewi Sri bersumber dari tari legong. Komposisi musiknya menggunakan gamelan slonding. Kata Kadek, Ritus Legong ini sebelumnya sempat diikutkan dalam Singapura Festival dan IPAM. Tanggal 14 Juli ini Ritus Legong akan tampil dalam Indonesian Dance Festival di Jakarta. (lun)


Malam Ini Drama Gong
''Swasta Setahun di Bedahulu''

PANGGUNG Ardha Candra diperkirakan akan padat penonton. Para pemain drama gong se-Bali akan tampil bareng membawakan garapan berjudul ''Swasta Setahun di Bedahulu'', Minggu (4/7) malam ini. Sekitar 100 seniman -- pemain senior dan anak-anak sebagai figuran -- mendukung garapan yang diangkat dari karya pujangga Bali, Panji Tisna.

Ketua Pesukadukan Drama Gong se-Bali Wayan Lodera dan pemain drama gong Gede Yudana mengatakan, karya kolosal ini diharapkan dapat memberi makna bagi bagi penonton PKB. Karya ini akan dikolaborasikan dengan seni-seni lain seperti pencak silat, baris gede dan rejang yang dibawakan anak-anak. Karya ini bercerita tentang sosok I Swasta yang diangkat menjadi punggawa di Bedahulu, karena berhasil membunuh Jro Gede Selem (makhluk jadi-jadian).

Setelah diangkat jadi punggawa, pemuda tampan yang tangguh asal Menasa itu mendapat gelar nama Smarawima. Tapi lacur, ia terlibat masalah pacar dengan punggawa lain bernama Lastia. Nagati nama gadis manis itu. Namun, diam-diam Swasta juga tertarik sama Nagati. ''Bagaimana alur ceritanya, nanti malam akan ditampilkan di Gedung Ardha Candra,'' kata Lodera. (lun)


JADWAL ACARA MINGGU, 4 JULI 2004

Pukul 10.00-12.00

Kegiatan : Lomba Busana Anak-anak
Tempat : Ksirarnawa

Pukul 10.00-12.00
Kegiatan : Swa Gita Pertiwi Jakarta Japan Club
Tempat : Wantilan

Pukul 16.00-19.00
Kegiatan : Lomba Busana Remaja
Tempat : Ksirarnawa

Pukul 20.00-22.00
Kegiatan : Drama Gong Gabungan se-Bali
Tempat : Ardha Candra

Pukul 20.00-22.00 Kegiatan : Parade Baris Gede dan Legong Klasik (Gianyar-Karangasem dan Tabanan) Tempat : Depan Gedung Pameran

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com