Ritus Legong,
Bicara Budaya Padi
MENJADI
suatu kebiasaan. Sehabis pulang dari sawah, para petani
berkumpul di bale banjar. Mereka bersenda gurau, membicarakan
tentang air, benih padi dan hama.
Terkadang waktu senggang
diisi dengan hiburan. Malam itu magenjekan sambil minum tuak
dipilih untuk sekadar mengisi waktu sebelum berangkat tidur.
Suasana gembira tercipta. Tiba-tiba, padi para petani diserang
hama tikus dan babi hutan. Tanaman padi yang baru berumur
beberapa bulan diserang tikus. Betapa sedihnya para petani.
Mereka tak kuasa menerima godaan seperti ini.
Maka, ritual menghadap ibu
pertiwi dilakukan. Dewi Sri pun muncul dalam bentuk legong. Hama
tikus kemudian mendekat, Dewi Sri mengusirnya. Hama tikus dan
babi hutan akhirnya tak lagi mengganggu tanaman petanu.
Demikianlah inti garapan ''Ritus Legong'' yang ditampilkan Arti
Foudation di depan Gedung Pameran Taman Budaya, serangkaian PKB
ke-26, Sabtu (3/7) kemarin. Garapan yang disutradarai Kadek
Suardana, koreografernya Made Sura dan Wayan Sudirta serta
penata tabuh Ketut Lanus dan Made Mandra itu berbicara tentang
budaya padi.
Garapan yang tampil
pertama kali di PKB itu didukung sekitar 45 orang personel --
penari dan penabuh. Wiwik Hartati dan Ayu Ketut Putri Rahayuning,
dua orang pendukung garapan yang menarikan legong.
''Ritus Legong itu
merupakan dramatari yang mengekspresikan kepercayaan masyarakat
agraris di Bali. Kepercayaan dan rasa hormat masyarakat agraris
kepada ibu pertiwi merupakan sumber dari keberhasilan maupun
kegagalan panen. Ketika panen diserang hama, menghadap ibu
pertiwi merupakan satu solusi,'' kata Kadek Suardana.
Pimpinan Arti Foundation
itu mengatakan inspirasi garapan ini diambil dari upacara
Sanghyang. Koreografi dua legong sebagai simbol Dewi Sri
bersumber dari tari legong. Komposisi musiknya menggunakan
gamelan slonding. Kata Kadek, Ritus Legong ini sebelumnya sempat
diikutkan dalam Singapura Festival dan IPAM. Tanggal 14 Juli ini
Ritus Legong akan tampil dalam Indonesian Dance Festival di
Jakarta. (lun)
Malam Ini Drama Gong
''Swasta
Setahun di Bedahulu''
PANGGUNG
Ardha Candra diperkirakan akan padat penonton. Para pemain drama
gong se-Bali akan tampil bareng membawakan garapan berjudul ''Swasta
Setahun di Bedahulu'', Minggu (4/7) malam ini. Sekitar 100
seniman -- pemain senior dan anak-anak sebagai figuran --
mendukung garapan yang diangkat dari karya pujangga Bali, Panji
Tisna.
Ketua Pesukadukan Drama
Gong se-Bali Wayan Lodera dan pemain drama gong Gede Yudana
mengatakan, karya kolosal ini diharapkan dapat memberi makna
bagi bagi penonton PKB. Karya ini akan dikolaborasikan dengan
seni-seni lain seperti pencak silat, baris gede dan rejang yang
dibawakan anak-anak. Karya ini bercerita tentang sosok I Swasta
yang diangkat menjadi punggawa di Bedahulu, karena berhasil
membunuh Jro Gede Selem (makhluk jadi-jadian).
Setelah diangkat jadi
punggawa, pemuda tampan yang tangguh asal Menasa itu mendapat
gelar nama Smarawima. Tapi lacur, ia terlibat masalah pacar
dengan punggawa lain bernama Lastia. Nagati nama gadis manis itu.
Namun, diam-diam Swasta juga tertarik sama Nagati. ''Bagaimana
alur ceritanya, nanti malam akan ditampilkan di Gedung Ardha
Candra,'' kata Lodera. (lun)
JADWAL ACARA MINGGU, 4 JULI 2004
Pukul 10.00-12.00
Kegiatan : Lomba Busana Anak-anak
Tempat : Ksirarnawa
Pukul 10.00-12.00
Kegiatan : Swa Gita Pertiwi Jakarta Japan Club
Tempat : Wantilan
Pukul 16.00-19.00
Kegiatan : Lomba Busana Remaja
Tempat : Ksirarnawa
Pukul 20.00-22.00
Kegiatan : Drama Gong Gabungan se-Bali
Tempat : Ardha Candra
Pukul 20.00-22.00 Kegiatan
: Parade Baris Gede dan Legong Klasik (Gianyar-Karangasem dan
Tabanan) Tempat : Depan Gedung Pameran
|