Merangsang
Kemampuan Berbicara sejak Bayi
SAYA Ibu
rumah tangga dengan seorang anak perempuan, berusia 7 bulan.
Anaknya montok dan lincah Bu. Sekarang dia sudah bisa duduk
sendiri dan sedikit-sedikit sedang belajar menggeserkan
pantatnya untuk berpindah tempat atau bila ingin mengambil
sesuatu. Dia sudah bisa berbicara ta-ta-ta, da-da-da dan
menyembur-nyemburkan air ludahnya, terutama di pagi hari, dialah
jam weker yang membangunkan kami sekeluarga. Kalau melihat saya,
dia memanggil ma-ma-ma dan ayahnya pa-pa-pa.
Sebenarnya saya agak
terpengaruh juga dengan tetangga saya yang sampai 3 tahun belum
bisa berbicara. Menurut orangtuanya sekarang anak itu sudah
diterapi dan kata dokternya agak telat karena 3 tahun baru
diperiksakan. Saya menjadi cemas kalau itu terjadi pada anak
kami.
a. Benarkah kemampuan
berbicara tergantung perangsang sejak bayi? Bagaimana melihat
perkembangan bahasa anak?
b. Kelambatan berbicara apakah bisa dilihat sejak bayi?
c. Bisakah kelambatan ini dicegah, bagaimana caranya?
Dani, Sukawati
Kelambatan berbicara
memang merupakan masalah yang cukup besar dan banyak terjadi
akhir-akhir ini. TV dan PlayStation sering dijadikan kambing
hitam dan dituding sebagai penyebabnya. Memang banyak pola
pengasuhan sekarang, baik yang diterapkan para pengasuh maupun
orangtua sendiri, yang tujuannya agar tidak merepotkan dan
mengganggu kesibukan pekerjaan rumah tangganya, maka TV-lah
dijadikan pengganti pengasuh.
Kelambatan bicara (delayed
speech) memang secara umum bisa dideteksi sejak bayi, dengan
melihat dan mengamati perkembangan berbahasa dan berbicara yang
ditunjukkan anak. Tonggak perkembangan berbahasa yang biasanya
ditegakkan para ahli adalah pada usia 2 tahun. Jadi anak pada
usia 2 tahun diharapkan bisa berkomunikasi dua arah, artinya
memahami perintah yang diberikan dan mengungkapkan keinginan
dengan bahasa bukan isyarat yang dimengerti lingkungannya.
Apabila hal ini belum dicapai anak, dia sudah bisa digolongkan
mengalami kelambatan berbicara.
Perhatikan perkembangan
bahasanya sejak bayi Bu. Menginjak minggu keenam, anak tidak
lagi hanya pandai menangis, tetapi sudah mampu mengeluarkan
suara mirip erangan atau lenguhan untuk menyatakan kepuasan atau
kesenangan dan menjerit untuk menunjukkan keinginannya.
Suara-suara tersebut berasal dari alat-alat suara dan sangat
tergantung pada bentuk rongga mulut yang mengubah aliran udara
dari paru-paru ke pita suara. Proses ini tidak dipelajari dan
berlaku universal, jadi terjadi hampir pada semua bayi bahkan
untuk bayi yang tuli maupun buta sekalipun.
Makin lama makin banyak
suara-suara yang bisa diproduksi bayi. Awalnya bayi senang
mengkombinasikan satu huruf vokal dengan konsonan, seperti 'da',
'ma', 'uh', atau 'ah'. Dan melalui latihan yang tidak disengaja
karena respons yang kita tunjukkan, bayi akhirnya dapat
mengontrol vokalnya untuk mengulang suara-suara tersebut menjadi
suatu rangkaian, misalnya, ma-ma-ma-ma atau da-da-da-da. Inilah
yang disebut tahapan mengoceh atau babbling yang sangat
menentukan proses perkembangan bicara anak nantinya.
Sebagian bayi mulai
mengoceh pada awal bulan kedua, setelah itu terjadi peningkatan
yang tajam dan mencapai puncaknya di antara bulan ke-6 dan ke-8.
Kemudian mengoceh sedikit demi sedikit digantikan dengan
kata-kata pada bayi yang tidak mengalami hambatan pada
kematangan alat bicaranya. Sementara pada bayi dengan
kecenderungan kelambatan bicara bukan mengganti ocehan dengan
kata-kata, tetapi justru bahasa isyarat seperti menunjuk atau
menarik tangan orang dewasa untuk mencapai tujuannya.
Periode mengoceh
sebenarnya juga merupakan saat paling menyenangkan bagi orangtua
karena anak tampak begitu komunikatif. Tetapi kadang-kadang
merepotkan ya Bu, anak mengoceh dan minta ditanggapi pada waktu
kita masih sangat mengantuk atau kondisi kita sedang capek. Ada
kiat agar anak merasa tetap direspons ketika sedang mengoceh,
padahal kita sedang ngantuk berat. Hidupkan radio atau tape
recorder yang berisi rekaman suara kita. Tetapi ini berlaku
untuk situasi tertentu saja lo Bu, pada saat kita mengantuk
berat atau sedang capai sekali. Memang idealnya respons
langsunglah yang paling baik.
Pada periode ini anak
mulai peka terhadap stimulasi bahasa. Mereka mulai tahu kalau
bunyi tertentu memiliki arti tertentu pula, apakah itu berkaitan
dengan benda, situasi atau tindakan tertentu. Misalnya, bunyi
ma-ma dengan sosok ibu, pa-pa dengan sosok yang dsb. Walaupun
komunikasi di antara anak dengan orangtua mulai lancar, tetapi
mengoceh belumlah disebut berbicara. Jadi ketika anak usia 8
bulan bilang ma-ma-ma ketika melihat ibunya, mereka bukanlah
berbicara dan memanggil tetapi pengoceh dan belajar
menghubungkan kata-kata dasar yang sudah dikuasainya dengan
benda yang dikenalnya. Dengan makin seringnya kita merespons
ocehannya, pemahaman bahwa ketika melihat ibu dia akan
mengeluarkan kata ma-ma akan makin lancar. Dan pada usia 1 tahun
ketika dia memanggil ma-ma, dia sudah memasuki tahap berbicara
dan memanggil.
Yang menonjol dari periode
ini adalah perkembangan komunikasi/ bahasa pasif, yaitu bayi
mulai mengerti apa yang kita komunikasikan tetapi belum mampu
merespons dengan kata-kata, jadi suatu tahapan pengertian.
Sementara komunikasi atau bahasa aktif adalah kemampuan anak
untuk mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya melalui kata-kata
yang dapat dimengerti orang lain. Pada anak yang mengalami
kelambatan bicara biasanya komunikasi pasifnya tidak bermasalah,
jadi mampu menangkap apa yang kita kemukakan, memahami perintah
yang kita berikan, misalnya ''Ambilkan koran ya'', ''Buang ke
tempat sampah dong'', akan mampu mengerjakan perintah kita,
tetapi tidak mampu meresponsnya dalam kemampuan bicara secara
aktif dengan kata-kata.
Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa pada tiap periode usia, perbendaharaan kata
pasif dalam arti pemahaman terhadap kata atau bahasa lebih
banyak daripada perbendaharaan kata aktif atau yang dapat
diucapkan anak. Bayi misalnya, dapat memahami arti pembicaraan
jauh sebelum dia dapat berbicara. Hal ini bukan karena ia
mengerti kata demi kata, melainkan karena ia menangkap intonasi
suara, gerakan tubuh atau ekspresi wajah si pembicara.
Usia 18 bulan dianggap
sebagai teachable moment suatu saat yang tepat untuk mengajar
anak berbicara karena sudah terbentuknya kesiapan mental dan
matangnya otot-otot bicara. Namun, periode sebelumnya pun
sebaiknya sudah mulai dilatih, tetapi ketika memberikan
stimulasi bicara harus menguatkan isi pembicaraan dengan gerakan
tubuh, ekspresi wajah atau intonasi suara. Misalnya melarang si
kecil menarik taplak meja, selain berkata 'tidak boleh, sayang'
dengan suara yang khas, Anda dapat mengangkat jari telunjuk atau
menggelengkan kepala. Usia 6 bulan anak biasanya sudah mampu
meneguk air langsung dari gelas, latih ya Bu. Ini salah satu
bentuk latihan yang secara tidak langsung akan membantu
kematangan alat bciaranya kelak.
Jadi, terus respons ocehan
si kecil dan berikan stimulasi sebanyak mungkin agar
perkembangan bahasa dan bicaranya tidak terhambat ya, Bu.
Didengar atau tidak diikuti atau tidak apapun kegiatan yang
dilakukannya atau kita lakukan dengannya harus kita terjemahkan
dalam bahasa. Misalnya sambil mandi, terus anak-anak bicara
seperti ''Embernya warna apa hayo? Warna merah sama dengan sikat
giginya, wah bebeknya ikut berenang lo, yuk kita sabuni biar
badannya bersih dan wangi.''
Keterlambatan bicara
biasanya dapat diamati bila mulai usia 18 bulan, anak hanya
mampu berbahasa secara pasif, yaitu memahami perintah dan
pembicaraan orang lain tetapi tidak mampu meresponsnya dengan
bahasa aktif yang dapat dimengerti lingkungannya. Misalnya
disuruh menunjukkan mana hidungnya, dia bisa menunjukkannya
tetapi tidak bisa mengucapkannya ketika diminta menjawab; ''Ini
apa namanya? Ketika menginginkan sesuatu hanya 'ah-uh-ah-uh'
yang dapat diucapkannya, atau dengan memakai bahasa isyarat
menunjuk-nunjuk atau menarik tangan kita untuk mendapatkan apa
yang diinginkannya. Kurang dari 20 kata yang dapat diucapkannya.
Bila ketiga ciri-ciri tersebut sudah ditunjukkan si kecil lebih
baik segera konsultasi ke ahlinya untuk mendapatkan penanganan
lebih lanjut. Jangan pernah percaya kalau ada yang mengatakan,
''Dia akan bisa berbicara dengan sendirinya atau ah belum
waktunya bisa bicara kok'', nanti bisa ketinggalan kereta.
|