kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 4 Juli 2004 tarukan valas
 

APRESIASI


Dua Ratus Tahun di Taman
Dari Pentas Drama Teater La-Jose

TEATER La-Jose SMUK Santo Yoseph Denpasar, Selasa (29/6) lalu menggelar pentas drama berjudul "Lampu-lampu di Taman" karya Mas Ruscitadewi, di Aula Kantor Balai Bahasa Denpasar. Drama yang disutradarai Dadi Reza Pujiadi ini digelar serangkaian peluncuran dan bedah buku kumpulan drama "Rumah Bunga" karya Mas Ruscitadewi, juga untuk memeriahkan HUT ke-57 Balai Bahasa Denpasar.

Naskah drama "Lampu-lampu di Taman" (LdT) memang merupakan salah satu dari lima naskah drama yang terkumpul dalam buku "Rumah Bunga" (RB). Pementasan drama dari siswa-siswi yang tergabung dalam Teater La-Jose ini juga dimaksudkan sebagai contoh konkret pengejawantahan salah satu karya naskah drama dari buku RB.

Drama LdT berkisah tentang kehidupan di sebuah taman yang indah di mana ada sepasang Kakek dan Nenek (patung?) yang telah tinggal selama 200 tahun, juga anak-cucu dan keturunannya yang melangsungkan aktivitas kehidupan di tanah itu. Kakek dan Nenek yang sangat saling mencintai dan hidup harmonis, menikmati dan menjaga kehidupan di taman yang indah, dengan mimpi-mimpi dan harapan akan kehidupan anak cucunya yang berhasil meniti kehidupan dengan karir dan aktivitasnya masing-masing. Kakek dan Nenek itu berharap anak cucunya bisa menjaga kehidupan sebagaimana dirinya sejak masih muda hingga kini.

Namun mimpi dan harapan Kakek dan Nenek itu sepertinya tak semuanya bisa tewujud. Anak cucunya ada yang jadi pejabat, konglomerat, seniman, tetapi juga ada yang jadi gelandangan, pedagang asongan, tukang sapu yang penghasilannya tak cukup untuk hidup sehingga harus menunda-nunda rencana perkawinannya dengan kekasihnya. Ironisnya, ada yang jadi koruptor, ada yang kehidupan materinya sukses tapi perkawinannya tidak harmonis. Kehidupan orang-orang di taman itu jadi bagai laron-laron yang mengerumuni lampu di waktu malam, di sebuah tempat yang indah. Drama ini didukung para pemain Rina WP (Nenek), Arie Budiman (Kakek), Noveta (istri), Kevin (suami), Satya Cipta Wardani (kekasih wanita), Nicolas (kekasih lelaki), Mayang (asongan), Linda (seniman), dan Ryan (gembel). Secara umum, pentas ini memang cukup menarik dan menghibur. Dari kualitas permainan, mereka juga setidaknya telah bisa mengangkat naskah LdT menjadi hidup dalam kapasitasnya sebagai teater sekolah (remaja). Dinamikanya cukup terjaga dan kemampuan dasar bermain dramanya juga sebagian telah mereka miliki.

Bagi kelompok Teater La-Jose, naskah drama LdT ini memang bukan hal yang asing lagi. Teater ini sudah pernah memainkannya pada Lomba Drama Modern (LDM) pekan Seni Remaja (PSR) ke-19 tahun 2003. Bahkan saat itu mereka berhasil meraih prestasi sebagai Pementas Terbaik II dan Pemeran Wanita Terbaik I, Pemeran Pria Terbaik II, serta Sutradara Terbaik II.

Untuk garapan kali ini memang sedikit ada perubahan format pemain. Polanya lebih dibuat sederhana dan agak minim. Kalau dalam LDM PSR 2003 permainan dibuka dan ditutup dengan kelompok paduan suara yang terdiri dari semua pemain, juga diberi tokoh pembuka mirip dalang Lenong yang memberi narasi. Pada garapan kali ini, dua hal yang membuat pertunjukan menjadi manis itu ditiadakan.

Dramawan senior Abu Bakar, misalnya, memberi kesan dan mempertanyakan alasan sutradara membuat adegan permainan yang terlalu banyak dengan sering keluar-masuknya para remaja dari panggung dengan tanpa alasan yang jelas. "Saya membayangkan kalau pemain keluar lalu masuk lagi itu mestinya membawa persoalan baru, tetapi ternyata tidak. Masalahnya tetap sama. Jadi buat apa dibuat terlalu banyak keluar-masuk, yang membuat dinamika permainan jadi terganggu dan tidak utuh, padahal mestinya bisa diatur dengan bloking di atas panggung yang lebih rapi?" komentar Abu Bakar.

Sementara dramawan dan sutradara Teater Agustus, Gus Martin, juga sempat memberi kesan, kalau dirinya lebih senang dengan garapan drama Teater La-Jose saat PSR 2003. "Terus terang saya lebih tertarik dengan permainan La-Jose saat PSR 2003 lalu. Waktu itu permainannya lebih dinamis dan variatif. Pengadegannya lebih sederhana, tapi hidup," ungkap Gus Martin yang juga jadi juri pada LDM PSR 2003.

Mas Ruscitadewi, penulis naskah LdT juga memberi kesaksian, bahwa sebenarnya para tokoh dalam drama tersebut semuanya berada di panggung tanpa ada yang keluar-masuk. Pengaturannya, yang sedang main melakukan aktivitas atau berakting dan bicara, sementara yang tidak, diam mematung. Namun, naskah drama (teks) memang bisa saja berbeda dengan permainan drama. Sutradara berhak membuat permainan atau menggarapnya menjadi lain dari yang tertera dalam naskah.

Menurut Dadi Reza Pujiadi, sutradara, LdT merupakan naskah yang lentur dan memungkinkan untuk diekspresikan lebih banyak. Karenanya, dirinya menggarap seperti yang pernah ditunjukkan pada LDM PSR 2003. Namun untuk garapan kali ini, dia tidak bisa mengulang seperti itu lagi dan dibuat sedikit perubahan. Hal itu terpaksa dilakukan karena kondisi panggung yang sempit. "Sebenarnya kami malah hanya akan memainkan cuplikannya saja, bahkan hampir saja tidak jadi main, karena pemain utama kami Hana Tamara yang jadi Nenek berhalangan. Tetapi karena kami sudah terlanjur diagendakan, akhirnya kami mainkan juga," terang Dadi. Tapi Dadi mengaku sangat berterima kasih telah diberi kesempatan untuk main dan diberi masukan banyak dari para sesepuh teater di Bali.

Terkait dengan peluncuran buku RB, buku itu juga "dibedah" oleh Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, Guru Besar Faksas Unud. Acara yang juga dimeriahkan pentas musikalisasi puisi dari Uma Music Fusion Bali ini dihadiri para tokoh teater dan sastrawan terkemuka Bali seperti Kaseno, Frans Nadjira, Ngurah Parsua, Djelantik Santha, dan Kadek Suardana. Menurut Kepala Balai Bahasa Denpasar, Drs. IB Darmasuta, acara ini sebagai rangkaian HUT ke-57 Balai Bahasa Denpasar. Pihaknya juga telah menggelar acara lokakarya. Acara malam sastra, termasuk peluncuran buku dan pementasan drama malam itu, dimaksudkan untuk mendukung dan ikut menghidupkan sastra di Bali. "Pementasan drama dan peluncuran buku drama ini merupakan kesempatan yang baik, karena bisa menjadi lebih lengkap, yakni pertemuan antara teori (teks) dengan contoh konkret pementasan drama dari teks atau naskah tersebut," terang Darmasuta.

* nuryana asmaudi

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com