Dua Ratus
Tahun di Taman
Dari Pentas
Drama Teater La-Jose
TEATER
La-Jose SMUK Santo Yoseph Denpasar, Selasa (29/6) lalu menggelar
pentas drama berjudul "Lampu-lampu di Taman" karya Mas
Ruscitadewi, di Aula Kantor Balai Bahasa Denpasar. Drama yang
disutradarai Dadi Reza Pujiadi ini digelar serangkaian
peluncuran dan bedah buku kumpulan drama "Rumah Bunga"
karya Mas Ruscitadewi, juga untuk memeriahkan HUT ke-57 Balai
Bahasa Denpasar.
Naskah drama "Lampu-lampu
di Taman" (LdT) memang merupakan salah satu dari lima
naskah drama yang terkumpul dalam buku "Rumah Bunga" (RB).
Pementasan drama dari siswa-siswi yang tergabung dalam Teater
La-Jose ini juga dimaksudkan sebagai contoh konkret
pengejawantahan salah satu karya naskah drama dari buku RB.
Drama LdT berkisah tentang
kehidupan di sebuah taman yang indah di mana ada sepasang Kakek
dan Nenek (patung?) yang telah tinggal selama 200 tahun, juga
anak-cucu dan keturunannya yang melangsungkan aktivitas
kehidupan di tanah itu. Kakek dan Nenek yang sangat saling
mencintai dan hidup harmonis, menikmati dan menjaga kehidupan di
taman yang indah, dengan mimpi-mimpi dan harapan akan kehidupan
anak cucunya yang berhasil meniti kehidupan dengan karir dan
aktivitasnya masing-masing. Kakek dan Nenek itu berharap anak
cucunya bisa menjaga kehidupan sebagaimana dirinya sejak masih
muda hingga kini.
Namun mimpi dan harapan
Kakek dan Nenek itu sepertinya tak semuanya bisa tewujud. Anak
cucunya ada yang jadi pejabat, konglomerat, seniman, tetapi juga
ada yang jadi gelandangan, pedagang asongan, tukang sapu yang
penghasilannya tak cukup untuk hidup sehingga harus
menunda-nunda rencana perkawinannya dengan kekasihnya. Ironisnya,
ada yang jadi koruptor, ada yang kehidupan materinya sukses tapi
perkawinannya tidak harmonis. Kehidupan orang-orang di taman itu
jadi bagai laron-laron yang mengerumuni lampu di waktu malam, di
sebuah tempat yang indah. Drama ini didukung para pemain Rina WP
(Nenek), Arie Budiman (Kakek), Noveta (istri), Kevin (suami),
Satya Cipta Wardani (kekasih wanita), Nicolas (kekasih lelaki),
Mayang (asongan), Linda (seniman), dan Ryan (gembel). Secara
umum, pentas ini memang cukup menarik dan menghibur. Dari
kualitas permainan, mereka juga setidaknya telah bisa mengangkat
naskah LdT menjadi hidup dalam kapasitasnya sebagai teater
sekolah (remaja). Dinamikanya cukup terjaga dan kemampuan dasar
bermain dramanya juga sebagian telah mereka miliki.
Bagi kelompok Teater
La-Jose, naskah drama LdT ini memang bukan hal yang asing lagi.
Teater ini sudah pernah memainkannya pada Lomba Drama Modern (LDM)
pekan Seni Remaja (PSR) ke-19 tahun 2003. Bahkan saat itu mereka
berhasil meraih prestasi sebagai Pementas Terbaik II dan Pemeran
Wanita Terbaik I, Pemeran Pria Terbaik II, serta Sutradara
Terbaik II.
Untuk garapan kali ini
memang sedikit ada perubahan format pemain. Polanya lebih dibuat
sederhana dan agak minim. Kalau dalam LDM PSR 2003 permainan
dibuka dan ditutup dengan kelompok paduan suara yang terdiri
dari semua pemain, juga diberi tokoh pembuka mirip dalang Lenong
yang memberi narasi. Pada garapan kali ini, dua hal yang membuat
pertunjukan menjadi manis itu ditiadakan.
Dramawan senior Abu Bakar,
misalnya, memberi kesan dan mempertanyakan alasan sutradara
membuat adegan permainan yang terlalu banyak dengan sering
keluar-masuknya para remaja dari panggung dengan tanpa alasan
yang jelas. "Saya membayangkan kalau pemain keluar lalu
masuk lagi itu mestinya membawa persoalan baru, tetapi ternyata
tidak. Masalahnya tetap sama. Jadi buat apa dibuat terlalu
banyak keluar-masuk, yang membuat dinamika permainan jadi
terganggu dan tidak utuh, padahal mestinya bisa diatur dengan
bloking di atas panggung yang lebih rapi?" komentar Abu
Bakar.
Sementara dramawan dan
sutradara Teater Agustus, Gus Martin, juga sempat memberi kesan,
kalau dirinya lebih senang dengan garapan drama Teater La-Jose
saat PSR 2003. "Terus terang saya lebih tertarik dengan
permainan La-Jose saat PSR 2003 lalu. Waktu itu permainannya
lebih dinamis dan variatif. Pengadegannya lebih sederhana, tapi
hidup," ungkap Gus Martin yang juga jadi juri pada LDM PSR
2003.
Mas Ruscitadewi, penulis
naskah LdT juga memberi kesaksian, bahwa sebenarnya para tokoh
dalam drama tersebut semuanya berada di panggung tanpa ada yang
keluar-masuk. Pengaturannya, yang sedang main melakukan
aktivitas atau berakting dan bicara, sementara yang tidak, diam
mematung. Namun, naskah drama (teks) memang bisa saja berbeda
dengan permainan drama. Sutradara berhak membuat permainan atau
menggarapnya menjadi lain dari yang tertera dalam naskah.
Menurut Dadi Reza Pujiadi,
sutradara, LdT merupakan naskah yang lentur dan memungkinkan
untuk diekspresikan lebih banyak. Karenanya, dirinya menggarap
seperti yang pernah ditunjukkan pada LDM PSR 2003. Namun untuk
garapan kali ini, dia tidak bisa mengulang seperti itu lagi dan
dibuat sedikit perubahan. Hal itu terpaksa dilakukan karena
kondisi panggung yang sempit. "Sebenarnya kami malah hanya
akan memainkan cuplikannya saja, bahkan hampir saja tidak jadi
main, karena pemain utama kami Hana Tamara yang jadi Nenek
berhalangan. Tetapi karena kami sudah terlanjur diagendakan,
akhirnya kami mainkan juga," terang Dadi. Tapi Dadi mengaku
sangat berterima kasih telah diberi kesempatan untuk main dan
diberi masukan banyak dari para sesepuh teater di Bali.
Terkait dengan peluncuran
buku RB, buku itu juga "dibedah" oleh Prof. Dr. Nyoman
Kutha Ratna, Guru Besar Faksas Unud. Acara yang juga dimeriahkan
pentas musikalisasi puisi dari Uma Music Fusion Bali ini
dihadiri para tokoh teater dan sastrawan terkemuka Bali seperti
Kaseno, Frans Nadjira, Ngurah Parsua, Djelantik Santha, dan
Kadek Suardana. Menurut Kepala Balai Bahasa Denpasar, Drs. IB
Darmasuta, acara ini sebagai rangkaian HUT ke-57 Balai Bahasa
Denpasar. Pihaknya juga telah menggelar acara lokakarya. Acara
malam sastra, termasuk peluncuran buku dan pementasan drama
malam itu, dimaksudkan untuk mendukung dan ikut menghidupkan
sastra di Bali. "Pementasan drama dan peluncuran buku drama
ini merupakan kesempatan yang baik, karena bisa menjadi lebih
lengkap, yakni pertemuan antara teori (teks) dengan contoh
konkret pementasan drama dari teks atau naskah tersebut,"
terang Darmasuta.
* nuryana asmaudi
|