kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 4 April 2004 tarukan valas
 

APRESIASI


Komik Indonesia, Mati karena Kutukan

Komik buatan komikus Indonesia pernah berjaya dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Itu terjadi pada rentang tahun 1970-an. Pada masa itu, hampir setiap hari selalu saja ada komik baru yang terbit dan beredar. Taman bacaan yang menyediakan komik untuk disewakan tumbuh subur. Pengunjungnya kebanyakan anak sekolahan. Mereka seperti keranjingan membaca komik sehingga banyak yang melupakan buku pelajarannya. Bisa jadi, karena itulah kemudian banyak para orang tua yang sangat memusuhi dan menyatakan perang pada komik. Namun, bagaimana "sejarah" komik Indonesia kemudian?

KETIKA masa jayanya komik Indonesia, Pusat komik pada waktu itu adalah Jakarta dan Bandung. Dari dua kota besar itulah komik lalu menyebar ke seluruh kota di Indonesia. Namun demikian, ada beberapa kota lainnya lagi yang juga ikut meramaikan perkomikan di Indonesia, di antaranya Surabaya, dan Semarang. Pada era 1960-an, pusat perkomikan Indonesia justru berada di Medan. Saat itu Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn menjadi komikus yang amat disukai.

Lantas, yang merajai pasar perkomikan Indonesia pada era 1970-an adalah Yan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganes TH, Hans Jaladara, Jeffry, SIM, Zaldy, RA Kosasih, Sopoiku, Usyah, Mansur Daman, Leo, Djair, Wid.NS, Ardisoma, Oerip, Hasmi, Tati, Hengky, dan sejumlah nama lainnya. Mereka hadir dengan cirinya masing-masing seperti silat, roman, wayang, dan humor.

Puncak kejayaan komik Indonesia agaknya telah membuat "mabuk" para pelaku pasar perkomikan Indonesia. Kontrol terhadap kualitas komik yang dipasarkan menjadi sangat longgar, sehingga banyak kemudian bermunculan komik-komik dengan kualitas secara keseluruhan yang sangat jelek. Ini terutama ada pada komik-komik cerita HC Andersen yang dibuat oleh para komikus dadakan. Di samping gambarnya tidak bagus, tipografinya pun tidak memadai. Ini tidak berlaku untuk komik serupa buatan Gerdi WK.

Perlahan tapi pasti, pencinta komik Indonesia mulai berpaling. Taman bacaan yang menyewakan komik mulai sepi pengunjung, dan malahan ada yang langsung menutup usahanya itu. Para penerbit menghentikan kegiatannya karena pasar komik terlihat sudah jenuh. Para komikus tentu saja menjadi orang yang sangat terpukul oleh situasi ini. Tetapi syukurlah pada masa itu koran dan majalah masih mau menyediakan halamannya untuk diisi komik. Yan Mintaraga, Teguh Santosa, Wid.NS, Hasmi, Mansur Daman, Ganes Th, dan sejumlah komikus berkualitas lainnya, karya-karyanya masih bisa dinikmati di koran Sinar Harapan (Suara Pembaruan), dan majalah remaja HAI. Sementara di Bali, khususnya di koran Bali Post edisi Minggu, sempat menyediakan halaman tertentu untuk pemuatan komik dari komikus lokal.

Komik Indonesia semakin terpuruk saja ketika koran dan majalah mulai menggeser ruangan dari komik. Komik lantas "tidak punya rumah" dan "tidak mampu mengontrak rumah". Pelan namun pasti, komik Indonesia kemudian masuk ke liang kubur. Apalagi setelah masuknya banyak manga (komik) Jepang yang memenuhi rak-rak toko buku dan kamar anak-anak Indonesia. Malahan yang lebih memprihatinkan lagi, ada komik Jepang yang caranya membacanya masih tetap dari belakang, padahal bahasanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Anehnya lagi, para orang tua sekarang, tidak ada yang memusuhi komik.

Dewasa ini komik Indonesia boleh dikatakan sudah mati, seiring dengan berpulangnya para komikus kondang seperti Yan Mintaraga, Ganes TH, SIM, Teguh Santosa, Wid.NS, dan Taguan Hardjo. Boleh jadi, mereka itu adalah para "pahlawan" komik Indonesia yang pernah begitu perkasa di bumi Nusantara. Sepertinya tak ada yang merasa kehilangan, apalagi merasa berduka.

Relief Candi
Apakah komik itu? Komik adalah sebuah buku yang berisi gambar dan tulisan (cerita). Oleh karenanya, buku yang satu ini juga dikenal dengan sebutan cerita bergambar (cergam) -- sebuah cerita dirangkai pada panil-panil yang berisi gambar, tokoh-tokohnya berpikir dan berbicara melalui gelembung-gelembung yang berisi kata-kata. Namun, pada awal kehadirannya, tepatnya ketika Medan menjadi pusat perkomikan di Indonesia, tampilan komik tak seperti sekarang. Pada masa itu, para komikus tidak memakai gelembung kata, tetapi langsung menulis kata-kata yang diucapkan oleh para tokoh, menyatu dengan kalimat lainnya.

Dilihat dari bentuknya, agaknya beberapa peninggalan sejarah masa lalu bisa dianggap sebagai cikal bakal dari komik Indonesia. Tengoklah relief yang ada pada dinding-dinding candi yang ada di Jawa. Di sana terlihat gambar-gambar ukiran dalam panil-panil yang menceritrakan sesuatu. Demikian pula halnya dengan relief dan gambar yang ada di banyak pura di Bali, juga terlihat adanya kesamaan dengan komik yang dikenal dewasa ini. Cuma dalam relief dan gambar tersebut tidak ada tulisan yang menyertai sebagai keterangan gambar.

Lukisan wayang Kamasan pun agaknya bisa dikatakan sebagai cikal bakal perkembangan komik di Indonesia. Pada lukisan wayang kamasan, di samping gambar, juga ada tulisan yang berfungsi untuk menjelaskan gambar. Bidang kanvas pun sering dibagi menjadi 4-5 bidang kecil, masing-masing bidang diisi gambar dan tulisan. Gambar pada masing-masing bidang berhubungan dan menjalin sebuah cerita. Gambar pada langit-langit bangunan Kerta Gosa di Klungkung bisa jadi merupakan komik berwarna terbesar yang pernah dibuat di Bali. Pun dengan lontar-lontar yang ada di Bali, kalau dilihat dari tampilannya, bisa juga dianggap sebagai periode komik sebelum dikenal adanya kertas di Bali, dan sebelum komik dibuat menyerupai buku yang dijilid.

Tonggak Awal
Periode Medan bisa dijadikan sebagai tonggak awal kesuksesan komik Indonesia di negerinya sendiri. Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn adalah dua komikus yang pantas disebut pembaru. Karya keduanya yang bertemakan cerita daerah Sumatera, terlihat sangat ilustratif dan inovatif. Komik karya mereka menawarkan nilai estetis yang sebelumnya terabaikan. Pada masa itu, terutama Taguan Hardjo, gaya komiknya sangat khas, terlihat dalam banyak komiknya ia sudah menggambar dengan memperhitungkan angel yang bervariasi. Bukan itu saja, bakat besar yang dimilikinya kemudian menghasilkan gambar-gambar yang sangat indah dan atraktif. Namun sayang, mereka tidak memiliki penerus, sehingga pada tahun 1971, penerbitan komik di Medan pun kolaps.

Kesuksesan komikus Medan lalu berlanjut ke kota-kota besar di Jawa seperti Bandung dan Jakarta, Solo, dan Surabaya. Pada masa inilah muncul nama-nama komikus Yan Mintaraga, Ganes TH, Teguh Santosa, Hans Jaladara, Djair Warni Ponakanda, Raf.ZS, Hasmi, Wid.NS, Rim, Sim, Zaldy, Jeffry, Usyah, Henky, Mansur Daman, Yudah Noor, dll. Ketika itu, dua komikus wanita yang cukup produktif adalah Tati dan Wied Senja. Mereka umumnya menggarap tema roman dan silat untuk cerita komiknya. Sementara untuk tema pewayangan yang kemunculannya lebih awal guna meredam dominasi komik Barat, banyak digarap oleh komikus Ardisoma dan RA Kosasih. Tema kocak atau dagelan banyak dikomikkan oleh Oerip, Inris, dan Sopoiku.

Boom komik menyebabkan banyak kemudian bermunculan komikus-komikus baru. Ada yang berkualitas, namun lebih banyak yang tidak, terutama dari segi gambarnya. Pasar kemudian dijejali komik-komik dari ceritra HC Andersen dan Grim. Ceritanya memang bagus, namun gambarnya keteteran. Pada waktu itu setiap hari selalu saja ada komik baru yang beredar di pasaran. Mungkin karena peluang pasar yang sangat menjanjikan, para penerbit dan komikus lupa untuk mempertahankan mutu komik yang akan diterbitkan. Pada akhirnya pembaca komik menjadi bosan dengan cerita yang dikarang seadanya, ditambah lagi dengan gambar yang jauh dari nilai artistik.

Kini, di saat buku komik terjemahan semacam Doraemon, Lets And Go, Detektif Conan, hingga Monika banyak beredar di pasaran, komik Indonesia justru menghilang. Kalau pun ada, komik tersebut, umumnya dipajang di tempat yang luput dari perhatian orang. Seandainya pun ditempatkan di tempat yang bagus, jarang sekali ada orang yang mau memperhatikan. Agaknya komik Indonesia sudah termakan kutukan masa lalu yaitu kutukan dari para orang tua yang antikomik. Tetapi anehnya, kematian komik Indonesia justru mengawali kebangkitan komik asing di negeri ini. Walaupun komik asing belum tentu lebih bagus dan lebih bermoral dari komik buatan komikus lokal, dewasa ini jarang sekali ada orang tua yang mengutuk dan mengharamkan komik untuk dibaca oleh anak-anaknya. Ah, komik Indonesia, nasibmu kini...

* gungman

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com