kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 29 Februari 2004 tarukan valas
 

GEBYAR


Cinta, Politik, dan Identitas Lagu Pop Bali

Perjalanan hidup lagu pop Bali senantiasa berkaitan dengan kehidupan sosial politik. Kelahiran lagu pop Bali pertengahan 1960-an, misalnya, tidak dapat dipisahkan dari konfrontasi politik antara LKN dan Lekra, masing-masing perpanjangan tangan PNI dan PKI. Saat itu, lagu pop Bali tampil mengusung tema kerakyatan, tema politik, dan nasionalisme, seperti lagu "Juru Pencar" dan "Buah Buni" dan "Merah Putih". Lagu pop Bali kerap menjadi bagian propaganda parpol saat itu. Bagaimana saat ini?

ERA tahun 1970-an, ketika pertama kali lagu pop Bali hadir sebagai bagian dari pop culture (budaya pop) karena sentuhan industri rekaman, selera lagu pop Bali bergeser dari politik ke cinta. Ini pun berkaitan dengan politik pemerintah saat itu. Pada zaman Orde Baru, intervensi politik ke dunia kesenian, seperti seni sastra, pertunjukan, dan juga musik diharamkan habis-habisan. Pemerintah menjauhkan seni dari politik untuk memuluskan kebijakan Orde Baru yang ekonomis dan militeristik.

Dalam suasana demikian, lagu pop Bali tampil dengan tema-tema cinta, bercanda, atau pesan-pesan yang menggurui. Lagu "Kusir Dokar" adalah contoh lagu yang jenaka, sedangkan lagu "Bunga Sandat" yang terekam dalam album Band Putra Dewata AA Made Cakra mengandung nasihat yang secara normatif baik sekali. Kritik sosial yang nyerempet politik atau yang simbolik susah dicari dari lagu di era ini.

Lelucon dan humor seks menjadi penyaluran populer ekspresi yang tersumbat. Cinta yang nyerempet porno mulai mewarnai tema lagu pop Bali tahun 1980-an. Hal ini antara lain bisa dilihat dari lagu Ketut Bimbo dalam album "Main Bilyard" khususnya lagu "Korting 3 Bulan" yang dinyanyikan duet bersama Alit Adiari. Yang melambungkan nama Yong Sagita juga antara lain lagu kocak yang dominan muatan cinta dan "jaruh"-nya. Tentu saja salah memvonis bahwa semua lagu dari era ini "jaruh-jaruh", karena banyak juga yang baik dengan nasehat mulia.

Menjelang Pemilu
Lagu pop Bali bertema politik mulai mencuat setelah jatuhnya Presiden Soeharto. Album pertama yang muncul dengan tema politik kental adalah "Reformasi" karya bersama Yong Sagita & Gusdel. Album dengan embel-embel ungkapan "Hidup Mega" ini dirilis tahun 1998, setelah Soeharto lengser. Kehadiran lagu ini pas menjelang Pemilu 1999.

Popularitas Yong Sagita yang sempat menurun waktu itu karena jenuhnya orang dengan lagu cinta, terangkat lagi oleh lagu "Reformasi" ini. Suasana zaman memang menuntut atau memungkinkan lagu yang memuji Megawati dan mengecam Orde Baru seperti itu muncul. Lagu "Kala Kali Zaman Orba" dengan ungkapan metaforis mengritik wajah Orba yang korup dan banyaknya mantan militer jadi pejabat. Lagu "Reklamasi Padanggalak" juga mengkritik proyek reklamasi Pantai Padanggalak (tahun 1996/1997) yang dijadikan ajang pejabat korupsi cari komisi.

Mode munculnya lagu pop Bali bertema politik tampak lagi menjelang Pemilu 2004 ini. Beberapa lagu dalam album pop Bali alternatif -- berirama rock, rap, dll. -- dari Lolot Band dan Triple X (XXX) tampil dengan tema politik. Lagu "Bangsat" yang dinyanyikan Lolot melantunkan kritik kepada para politisi yang saling sikut mengorbankan rakyat demi merebut kedudukan. Tema pejabat korupsi juga termuat dalam lagu "Gumine Mangkin"-nya Triple X.

Tema politik yang sangat eksplisit, blak-blakan muncul dalam lagu "Nusuk" yang dinyanyikan kelompok Band Bintang. Bintang meluncurkan album "Bajingan Eling" pertengahan Februari lalu. Video klipnya sudah muncul di Bali TV. Lagu "Nusuk" , yang juga berirama pop-rock, sehingga mungkin dikategorikan sebagai pop Bali alternatif, jelas-jelas mengejek kualitas calon legislatif. Lagu "Nusuk" berisi ungkapan tidak akan memilih dalam pemilu karena tidak ada calon/pejabat/pemimpin yang jujur, semuanya "lipi" alias ular. Pesan "golput" dalam lagu ini kental sekali. Lagu ini terasa lebih keras dibandingkan lagu-lagu Yong dan Gusdel dalam mengritik ketidakberesan hawa dan kiprah tokoh politik belakangan ini.

Selain album dan lagu-lagu tersebut, ada satu lagi album pop Bali yang benar-benar dibuat untuk propaganda parpol. Itulah album "Bendera... udah aku kibarkan, Jayalah Partaiku. PDI Perjuangan". Album ini diproduksi dalam bentuk kaset dan CD sebanyak 1000 dengan vokalis Yong Sagita dan kawan-kawan. Dalam album ini, Yong juga memasukkan beberapa lagunya yang ada di album "Reformasi". Dalam album ini, bukan tema politik lagi yang tampak, tetapi lagu pop Bali benar-benar dijadikan alat propaganda, mungkin lebih "terang-terangan" daripada propaganda politik tahun 1960-an ketika pop Bali baru-baru lahir.

Apakah tema politik seperti ini akan terus muncul? Ungkapan Yong Sagita menarik disimak yang kurang lebih berbunyi seperti ini: "Jika ketidakberesan dan korupsi jalan terus, kritik juga jalan terus lewat lagu pop Bali." Jawaban ini menunjukkan bahwa lagu pop Bali dan aspek kehidupan lainnya sangat tergantung dari kondisi sosial politik. Kalau keadaan tenang, irama lagu mungkin tenang, menjauhi tema politik.

Berbicara tema politik dalam lagu pop kaitannya dengan pemilu, tak lengkap rasanya kalau tidak berbicara keterlibatan penyanyi dalam kampanye. Menjelang pemilu, banyak partai mendekati penyanyi untuk memeriahkan acara kampanye mereka. Para penyanyi merespons permintaan itu dalam tiga jenis.

Pertama, penyanyi yang dengan tegas menolak untuk mengisi acara partai dalam kampanye. Lolot, misalnya, sudah menyatakan tidak mau tampil dalam kampanye parpol. Kedua, penyanyi yang mau menyanyi sebatas mengisi acara. Asal tidak disuruh menjadi jurkam, mereka tidak khawatir. Agung Wirasuta, penyanyi pop Bali pria terbaik dalam ajang "Gita Denpost Award 2004" (GDA 2004), mengatakan sudah sepakat untuk mengisi acara hiburan sebuah partai selama masa kampanye. Hal ini sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Ketiga, penyanyi yang benar-benar bekerja untuk parpol secara total, seperti halnya Yong Sagita, seperti terlihat dari albumnya yang dulu dan yang baru keluar "Jayalah Partaiku". Tapi, Yong mengatakan tidak mau menjadi caleg karena kalau terpilih tidak akan bisa bebas lagi mengkritik.

Cinta Jalan Terus
Walaupun tema politik semarak belakangan ini, cinta tetap menjadi tema lagu pop Bali, dan lagu-lagu demikian tetap laku. Cinta seperti berlian, bersegi banyak dan setiap seginya memancarkan sinar tersendiri. Tema cinta lagu pop Bali bisa dibedakan menjadi dua besar. Pertama, cinta yang roman, yang terjadi antara orang berlawan jenis. Lagu-lagu Bayu Kasta Warsa (KW) misalnya "Sarinem Neha-Nehi" adalah salah satu contohnya. Lagu ini bercerita tentang lelaki Bali yang wakuncar ke Banyuwangi, tetapi pulang sakit hati karena Sarinem sudah menjadi milik orang lain.

Dua lagu yang belakangan ini sedang menjadi hit di radio juga termasuk lagu yang bertema cinta roman. Lagu tersebut adalah "Tresna Garang Kuluk"-nya Agung Wirasuta dan lagu "Desir Angin"-nya Yan Srikandi dari album "Ngelud-ngeludin". Walau agak ceneng temanya, kata-katanya tidaklah vulgar, tidak nyerempet porno. Dalam lagu "Desir Angin", cinta terlukiskan sangat indah dengan segala suka dan dukanya.

Lagu-lagu Widi Widiana juga bertema cinta, cinta melankolis, seperti lagu "Jayaprana-Layonsari". Banyak penyanyi atau pencipta lagu yang mengangkat legenda percintaan Jayaprana-Layonsari sebagai tema lagu pop Bali, seperti halnya AA Made Cakra dan juga dalam album "Globalism"-nya Balawan yang liriknya berbahasa Indonesia. Di sinilah peran lagu pop dalam ikut menghidupkan legenda. Kalau dulu kisah seperti ini dinikmati lewat drama gong, kini lewat lagu-lagu. Grup Rare Angon juga menyanyikan legenda (mitos) si Rare Angon. Temanya cinta, tapi cinta jauh dari cengeng, jauh dari roman.

Kedua, tema cinta tanah air dan budaya. Lagu "Ngastititang Bali" yang sering ditayangkan Bali TV berisi ajakan untuk mencintai Bali, budaya dan masyarakatnya. Lagu-lagu seperti ini juga ada di album Bintang dan Komang Layang. Perkembangan lain yang pantas dicatat dalam perkembangan lagu pop Bali adalah munculnya pop Bali alternatif, seperti halnya Lolot, Triple X, Purusa, Komang Layang, dan lain-lain. Yang mendapat sambutan luar biasa adalah Lolot dan Triple X. Lagu Lolot "Artha Utama" dan "Tresna Memaksa" sempat populer di masyarakat. Lagu ini membawa Lolot sebagai penyanyi pop Bali alternatif terbaik dan penyanyi terpopuler 2004 versi GDA 2004. Lagu "Sami Bagia" dan "Druwenang Sareng" dari Triple X juga menyedot perhatian penggemar pop Bali. Kasetnya laku keras.

Beberapa hal bisa dicatat dari hadirnya lagu pop alternatif. Pertama, tampilnya lagu pop Bali berirama rap, rock, punk sejak pertengahan 2003 menambah warna baru wajah lagu pop Bali. Lagu Bali jadi memiliki identitas baru. Kedua, lagu-lagu ini diterima umum, buktinya kasetnya laris dan oder pentas cukup banyak. Penampilan pop Bali alternatif tidak saja menambah warna baru corak pop Bali tetapi juga menyelamatkan perjalanan lagu pop Bali dari ancaman kelesuan dan monoton-istik.

Ketiga, lagu Bali alternatif juga membuktikan bahwa bahasa Bali juag bisa disajikan dalam irama rap, seperti halnya yang terjadi dalam musik Barat di Amerika sana. Keempat, lagu pop Bali alternatif ini telah mengubah identitas lagu pop Bali yang lokal dan regional dengan pengaruh Sunda, Banyuwangian dan Mandarin menjadi ber-aroma global dan kontemporer. Kelima, kehadiran mereka menambah penggemar baru lagu pop Bali, seperti kalangan anak muda SMA dan mahasiswa yang dulu tidak menoleh atau mungkin menganggap pop Bali kampungan. Kalau dulu ada yang berpendapat bahwa lagu pop Bali tidak digemari anak muda, maka fenomena belakangan ini membuat pendapat itu tumbang.

Mencari Identitas?
Lalu, di tengah hingar-bingar dan campur baurnya belakangan ini, sudahkah ada identitas jelas lagu pop Bali? Jawabannya mungkin negatif alias "tidak". Mencari identitas atau roh lagu pop Bali sangat sulit, sama sulitnya mencari roh atau identitas lagu pop Indonesia yang memperoleh pengaruh dari berbagai sumber. Kalau selama ini pop Bali didominasi irama mandarin tentu bukan itu roh pop Bali. Lagu-lagu seperti itu adalah disenangi publik sementara ini. Lain kali mungkin ditinggalkan. Pop rock ala Lolot cs pun tidak mungkin dirumuskan sebagai roh pop Bali karena bisa jadi gaya itu akan tenggelam atau berbelok ke gaya lain.

Untuk menjelaskan masalah identitas, ada baiknya meminjam teori identitas dari Madan Sarup dalam bukunya "Identity, Culture and the Postmodern World" (1996). Menurut Sarup, identitas itu tidak pernah tetap, tidak utuh, tidak satu tetapi "fabricated" dan "constructed", terus digodok dalam proses. Artinya, bahwa identitas itu akan terus berubah, terus dikonstruksi dalam proses. Dia juga mengatakan bahwa identitas itu bersifat fragmentaris dan kontradiktif. Dengan teori ini, mungkin kita tidak perlu pesimis mendengar jawaban bahwa lagu pop Bali tidak memiliki identitas karena identitasnya bergulir terus dalam proses: proses itu sangat terasa dalam musiknya yang digarap dengan elemen musik Bali (suling, angklung, gender), elemen musik Barat, Mandarin, Banyuwangian, dan seterusnya. Di tengah kuatnya pengaruh global dan intensitasnya kontak dengan berbagai budaya di dunia, yang namanya identitas "asli" mungkin tidak pernah ada kecuali kesepakatan-kesepakatan sementara. Yang jelas, lagu pop Bali pastilah lagu yang berbahasa Bali. Identitas lain seperti musik dan iramanya tentulah berubah dan berproses sesuai selera dan rekayasa media massa serta pemilik modal.

Jadi, penting ditegaskan bahwa identitas baru lagu pop Bali yang ditampakkan lewat tema politik, sebetulnya arketipe dari ketika lagu pop Bali berada dalam embrionya tahun 1960-an. Dalam proses ulang alik masa lalu dan masa kini, antara musik lokal dan musik luar itulah identitas pop Bali terus mawujud tanpa henti sepanjang hidupnya!

* darma putra

(Tulisan ini merupakan versi ringkas dari makalah yang disampaikan dalam Seminar Seri Sastra Sosial Budaya di Faksas Unud, Jumat, 27 Februari 2004).

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com