kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 15 Februari 2004 tarukan valas
 

GEBYAR


I Wayan Badra dan Pesona ''Kebyar Duduk''

Menyongsong Festival dan Simoposium Karya Seni I Nyoman Kaler (27-28 Februari 2004)

Sejak 1931 kesenian Bali sudah dipromosikan ke luar negeri dengan memperkenalkan tari Legong dan dramatari Calonarang dalam festival teater di Paris. Pementasan kedua jenis seni pertunjukan itu sempat menggemparkan masyarakat Eropa, khususnya menarik perhatian ahli-ahli teater drama, tari dan musik. Seorang art director dan dramawan terkemuka Paris yakni A. Artaud, telah mendapat ilham dari nilai magis dan spiritual pertunjukan Calonarang, sehingga terangsang menciptakan bentuk teater baru yang dinamakan Occidental Theater.

BEGITU hebat bias kesenian Bali di negeri-negeri yang sudah maju. Maka, sejak masa-masa itulah para turis mulai berdatangan ke Bali untuk menyaksikan indahnya tari-tarian Bali. Mereka terdiri dari para ilmuwan dan seniman. Tercatat nama-nama seperti Walter Spies dan Beryl de Zoete yang dalam penelitiannya di Bali telah menerbitkan buku "Dance and Drama in Bali" pada 1938 -- buku yang menguraikan secara lengkap tentang tari Bali dan masih relevan sampai kini. Di samping itu, seorang komponis dan ahli musik bangsa-bangsa, Colin Mc. Phee menulis buku "Music in Bali". Mc. Phee mengetahui gamelan Bali secara lengkap serta mampu mengungkapkan berbagai kaitan antara tari dan gamelan Bali. Kreasi baru yang dinamakan Kebyar mendapat sorotan yang cukup tajam dalam tulisan tersebut.

Di antara banyak seniman pada zaman kolonial itu yang acap ditonton turis adalah I Wayan Badra, seniman tari Kebyar Duduk (lazim disebut pangeleban gong) yang kesohor di Badung tetapi luput dari publikasi. Badra adalah salah seorang murid I Nyoman Kaler asal Banjar Delod Pempatan, Desa Lukluk. Pada awalnya penulis ragu mengantarkan Madra Aryasa (dari Listibya Bali) untuk bertemu dengan Badra serangkaian penulisan gending iringan tari ciptaan I Nyoman Kaler. Namun keraguan itu sirna karena ternyata Badra yang uzur itu masih sehat. Ia masih mampu dengan bersemangat mengutarakan pengalamannya sebagai murid dua "empu" seniman Bali -- I Ketut Maria (Mario) dan I Nyoman Kaler, pencita tari Mergapati dan Kebyar lainnya.

Badra dilahirkan tahun 1924 di Banjar Delod Pempatan, Desa Lukluk, Badung dari seorang ayah yang berdarah seni tabuh dan ukir. Badra kecil tak sempat mengenal ibu karena telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu Badra diasuh oleh pamannya. Sejak berumur 10 tahun, Badra ditawari oleh Pak Ledang, seniman tabuh, untuk belajar menari. Begitu tawaran diterima, Badra diantar ke rumah Mario di Banjar Lebah, Tabanan, untuk mempelajari tari Kebyar Duduk/Terompong. Setelah menguasai tarian tersebut, Badra kembali ke Lukluk, namun sekaa gong Banjar Delod Pempatan belum mengenal gending iringan Kebyar Duduk sehingga didatangkan pelatih tabuh Pak Jeger dari Banjar Mal Kangin, Tabanan.

Tari Kebyar Duduk/Terompong yang ditekuni Badra sudah sering dipentaskan di beberapa tempat di Bali, termasuk untuk tamu asing. Lawatannya menari paling jauh adalah ke Situbondo (Jawa Timur). Pada masa itu sudah ada gong mepadu atau mebarung dan rival beratnya adalah penari Kebyar Duduk I Gusti Made Dibia (alm). Pengalaman yang paling berkesan ketika pernah menari di hadapan Presiden RI, Bung Karno, di alun-alun Denpasar. Selain Kebyar Duduk, beberapa tarian lain yang dikuasai Badra adalah tari Baris, Mergapati, Wiranata, dan Kupu-kupu Tarum yang dipelajarinya dari I Nyoman Kaler.

Luar Biasa
Ternyata Badra memiliki ketrampilan menari Kebyar Duduk luar biasa, persis seperti sang guru -- I Mario. Kekhasan gerakan tarinya masih nampak ketika dia mendemonstrasikan kepiawaiannya, seperti sikap memainkan panggul terompong dan seledet ke atas, yang tidak nampak lagi pada penari-penari muda masa kini. Salah seorang muridnya, Ni Nyoman Ranten, dari Sibanggede, menuturkan bahwa pada masa mudanya Badra sering menunjukkan kemampuannya dari sikap jongkok dengan gerakan kecog goak yang seolah-olah terbang, tiba-tiba melompat ke atas kursi dengan sikap menari tetap stabil.

Pjs. Rektor ISI Denpasar, setelah mendapat laporan dari penulis, segera meluncur ke Lukluk untuk melihat dari dekat bagaimana keadaan Badra yang sudah berkesenian setengah abad lebih -- berputra enam orang dengan 20 cucu dan 11 cicit -- itu. Maka, Sabtu (7/2) lalu di panggung Natya Mandala STSI/ISI Denpasar, ketrampilan style gerak Badra direkam dengan iringan gamelan untuk dokumentasi. Begitu terdengar iringan tari kegemarannya, maka tergelitiklah emosi Badra bangkit dengan penuh semangat membawakan tariannya dari papeson, nerompong, hingga ngebyar.

Pada zaman jayanya, berkat penghayatannya atas tarian yang dipelajari, Badra mengajar tari Baris, Kebyar Duduk dan tarian ciptaan Kaler hampir ke seluruh Bali, yaitu Dauh Waru (Jembrana), Kerambitan, Tuak Ilang (Tabanan), Seririt (Buleleng), yaitu Dauh Waru (Jembrana), Kerambitan, Tuak Ilang (Tabanan), Seririt (Buleleng), Payangan (Gianyar), serta Mengwi, Sibanggede, Munggu, Lukluk (Badung) dan lain-lain. Berkat pengalamannya itu, Badra dipercayakan mengajar tari dan tatabuhan (gong dan angklung) oleh Pemerintah Badung, antara lain di Buleleng, Badung, Jembrana dan yang lainnya. Kegiatan mengajar hingga tahun 1973.

Demikian pula seniman muda dan koreografer andal dari Denpasar, Nyoman Suarsa (Yangpung) disebut telah mengintip ketrampilan Badra. Pementasan tarian Badra terakhir dilakukan pada waktu pamelaspasan Bale Banjar Delod Pempatan, Lukluk, pada 17 Agustus 2003. Pengalaman Badra yang menarik adalah -- setelah jarang mengajar -- sempat menjadi dukun.

Kiprah berkesenian dan pengabdianya terhadap seni tari termasuk menonjol, namun perhatian Pemerintah belumlah sebanding dengan dedikasinya. Badra yang telah sedemikian lama bergulat dalam seni tari dan tabuh hanya pernah menerima Piagam Penghargaan Kerti Budaya dari Bupati Badung, Simbol Kabupaten Badung seberat 10 gram emas dan uang sebesar Rp 1 juta pada 2003.

Melihat ketrampilan Badra sebagai narasumber gerak tari Kebyar Duduk/Terompong yang khas dan mulai langka, seyogyanya Pemda Bali ikut memberi penghargaan seni (Dharma Kusuma) kepada seniman renta yang telah berumur 80 tahun ini. Bali amat terkenal di dunia antara lain karena getaran jari jemari para penari, baik yang telah tiada, maupun yang masih menghabiskan sisa-sisa masa senjanya. Mungkin masih ada "Badra-Badra" lain yang perlu perhatian untuk dipublikasikan pada generasi kini.

* kusuma arini

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com