kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 5 Desember 2004 tarukan valas
 

APRESIASI


Mengapa Buddha dan Hindu Beda?

Judul       : Sinkretisasi Siwa-Buddha di Bali
Penyusun : Diartha Nida
Tebal      : xii + 92 halaman
Penerbit  : Pustaka Bali Post

DALAM sebuah seminar, pernah ada orang bertanya, "Mengapa Dirjen Bimas Hindu dan Buddha dijabat oleh satu orang? Seandainya Dirjen itu dijabat orang Hindu, apakah dia berhak mengatur umat Buddha? Atau sebaliknya, orang Buddha bisa mengurus umat Hindu?"

Pertanyaan itu tak dijawab secara gamblang. Namun anehnya, si penanya, juga tak terlalu kecewa. Ia tampaknya sudah cukup puas dapat menumpahkan pertanyaan yang sudah lama bercokol di benaknya. Syukur pula ketika itu tak ada orang bertanya, apa beda Pedanda Buddha dengan Pedanda Siwa. Apakah Pedanda Buddha itu milik agama Buddha? Terlepas dari semua itu, yang jelas dari sudut kepercayaan, Hindu dan Buddha "seakan-akan" tak ada bedanya. Dengan mengacu pada "Kakawin Sutasoma" karya Empu Tantular, seniman I Ketut Kodi dalam sebuah rekaman Arja mengatakan, hanya orang awam yang membedakan Hindu dan Buddha. Ibarat daun sirih, dua bidang bentuknya boleh berbeda, namun rasanya sama. Karena itu, Kodi yang memerankan tokoh Wijil berpesan, "Jangan mata dipakai merasakan. Perasaanlah yang digunakan untuk merasakan."

Dalam buku ini, Diartha Nida menyuguhkan kemuliaan karya Sutasoma itu. Sejumlah sarjana mengangkat "Kakawin Sutasoma" untuk dijadikan objek penelitian. Misalnya dr. Soewito Santoso mengangkat "Sutasoma" untuk dijadikan bahan tesis di Universitas Nasional Canberra Australia.

Diartha Nida mengutip salah satu bait "Kakawin Sutasoma" yakni, "Hyang Buddha tampahi Siwa rajadewa, Rwanekadhatu winuwus, warabudha wiswa, Bhineka rakwa ring apan keno parwenosen mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal, bhineka tunggalika tan hana dharma mangrwa." Terjemahannya, "Hyang Buddha tidak berbeda dari Siwa, Mahadewa di antara Hyaning-hyang keduanya dikatakan mengandung banyak unsur, Buddha yang mulia adalah kesemestaan, bagaimana beliau yang boleh dikatakan tak terpisahkan dapat begitu saja dipisahkan menjadi dua?" Sebagaimana diketahui, baris terakhir dari kakawin itu dipatri dalam pita yang digenggam Burung Garuda, lambang negara Indonesia. Slogan itulah yang sering dikumandangkan oleh para tokoh saat memberikan dharma wacana atau kotbah agar penduduk Indonesia yang beranekaragam ini bersatu padu.

Diartha Nida mengutip tulisan Ir.Rai Putra Sidanta, yang juga menerjemahkan kakawin tadi, bahwa Jiwa Jina dan Jiwa Siwa adalah satu. Mereka memiliki ciri-ciri berlainan, tetapi mereka adalah satu, dalam dharma tidak ada dualisme. Dalam tulisan berikutnya, Diartha Nida menulis bahwa Sinkretisasi Siwa-Buddha di Bali karena kedua agama itu mempunyai konsepsi filosofi ketuhanan yang pararel, sehingga tidak menimbulkan konflik budaya. Sinkretisasi Siwa-Buddha di Bali prosesnya terjadi dengan harmanoni tanpa mengurangi satu dengan lainnya. Dalam beberapa aspek, kedua aliran itu luluh menjadi satu, namun tanpa mengurangi karakteristik masing-masing-masing sesuai dengan eksistensinya masing-masing (hal.38).

Jika di Indonesia, Siwa (Hindu) dan Buddha dinilai mengalami sinkretisasi, sejumlah sarjana India justru mengatakan bahwa Hindu dan Buddha itu satu. Ini bisa dilihat dari buku "Agama Hindu Kebenaran Universal" yang disusun Dr. Bhupendra Kumar Modi. Dalam buku itu, Buddha disebut bergelar Bhagavan. Buddha dipandang sebagai awatara ke-9 atau yang paling akhir sebelum hadirnya Kalki.

Dalam kata pengantarnya, Bhupendra menulis, "Perlu ditekankan bahwa Bhagavan Buddha adalah bagian tradisi keagamaan Hindu dan tidak terlepas dari agama Hindu. Bhagavan Buddha lahir sebagai orang Hindu dan sampai meninggal beliau tetap seorang Hindu yang menafsirkan agama Hindu dari sebuah sudut pandang yang baru." Dalam buku itu sendiri, Bhupendra mengutip pernyataan P.T. Raju, "Buddha sendiri adalah salah satu penjelmaan Vishnu..." Jika demikian halnya, mengapa Hindu dan Buddha dalam perkembangannya menjadi dua agama yang berbeda? Apa beda Hindu dan Buddha, kalau Buddha itu disebut penganut Hindu? Jika Diartha Nida melengkapi buku ini dengan hasil investigation report di lapangan, maka buku ini menjadi lebih tebal dan tentu lebih menarik. Apalagi ditulis dengan gaya jurnalistik, disajikan dengan bahasa yang populer dan dilengkapi dengan foto-foto.

Sesungguhnya, kehidupan beragama di Bali, kalau ditelusuri sangat menarik. Umat Buddha di Bali sering memanfaatkan budaya Bali yang Hindu. Hal itu bisa dilihat dari tempat ibadahnya atau sarana upacaranya. Tidak sedikit umat Buddha memakai canang sari ketika sembahyang. Bahkan ketika meresmikan tempat ibadah, ada vihara yang "ngupah" rejang dewa. Selain Buddha, kita bisa lihat pula umat Kristen di sini. Banyak gereja memasang gaya budaya Bali, seperti candi. Bahkan, di beberapa tempat, umat Kristen memakai busana adat Bali, membawa canang gebogan dan melantunkan kidung. Seorang seniman topeng malah mengaku beberapa kali pentas di gereja. Jika demikian, apakah Hindu dan Kristen akan (atau mungkin) sudah mengalami sinkretisasi?

Betapapun kekurangannya, buku ini sangat bermanfaat sebagai bahan acuan untuk menulis sinkretisasi agama-agama (jika ada) di masa mendatang. Siapa tahu, semua agama mengalami sinkretisasi atau bahkan menyatu padu menjadi satu agama baru yang disebut agama "Kasih Sayang", sehingga tak ada lagi gontok-gontokan hanya gara-gara perbedaan menyebut nama Tuhan yang satu.

* wayan supartha

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com