Jadi Rubag
saja Sulit...
Bahasa citra sudah
menyebar luas, menggusur bahasa pemikiran. Bahasa citra terlahir
dari peristiwa-peristiwa semu atau pseudo events. Peristiwa semu
tidak spontan, melainkan direncanakan atau direkayasa dan tidak
memiliki hubungan yang jelas dengan peristiwa sesungguhnya.
Biasanya, peristiwa semua diadakan untuk mendukung suatu
pendapat. Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa semu
tersebut, tapi selalu dianggap benar.
(The Image, Daniel Boorstin).
RUBAG
paham kalau yang disebut citra atau image tidak senantiasa
bersifat positif. Sebab, sering suatu perbuatan yang dilakukan
seseorang, oleh sementara pihak dianggap positif, namun bagi
yang lain dicap negatif. Namun ada kalanya, tindak-tanduk
seseorang diperhatikan pihak tertentu dengan penilaian yang
sudah ''terkunci''. Artinya, baik atau buruk perbuatan seseorang
tidak akan menggoyahkan hasil penilaian para penilai. Seperti
sebuah hipotesis yang secara absolut harus jadi tesis, sehinga
hasil pengolahan data yang minus atau plus di atas satu digit,
lewat rekayasa dipaksa jadi hipotesis nol. Penilaian seperti ini
menyebabkan orang-orang yang dinilai tiba-tiba bisa jadi orang
bercitra baik atau pahlawan, sebaliknya bisa juga ber-image
bajingan atau pengkhianat.
Menyenangkan semua orang
di zaman yang sudah sangat sulit diberi judul ini, apakah era
reformasi atau era perubahan, bukan perkara gampang. Malaikat
yang dipercaya selalu berbuat baik dalam kepercayaan agama, bila
diundang ke bumi juga akan berlimpah menerima kritik. Bahkan
Tuhan yang disebut Maha Adil, tidak jarang dicap tidak adil oleh
orang-orang yang selama hidupnya sering sial dan tidak beruntung.
Rubag tidak bisa membayangkan, nasib para elite dan pemimpin
yang lolos sebagai pengelola negara lewat Pemilu tahun 2004 yang
lalu. Sebab, mereka terpilih lewat hujan citra yang tercurah
deras setiap hari lewat media, cetak maupun elektronik, selama
masa kampanye.
Ironisnya, terangkatnya
mereka ke posisi puncak justru ketika para pemilih yang kelak
akan jadi penilai, sedang santer-santernya menghujat para
penguasa yang dituduh status quo, korup, dan di antaranya ada
yang turun dari kursi jabatan. Tapi, benarkah pengganti loyang
itu emas atau perunggu yang disepuh sehingga berkilauan
sementara? Jangankan perunggu sepuhan, andaikata emas 24 karat
pun, mereka harus siap-siap menerima bahasa citra dan peristiwa
semu, sesuai pendapat Boorstin, sepanjang lima tahun ke depan.
''Sekarang Rubag mulai
meninggalkan kebiasaan ngobrol di Bale Banjar dan nongkrong di
warung kopi Men Godogan. Rubag sudah berubah 179 derajat (1
derajat belum), malah sekarang sering terlihat di kafe-kafe
sambil berkata 'oke'. Padahal waktu di banjar, sering terlihat
metembang di radio maupun TV. Semua ini dilakukan setelah
ayahnya meninggal dan almarhum adalah pejuang rakyat yang
benar-benar merakyat dan sampai kini dikenang masyarakat luas.
Bahkan Rubag sudah menjual tanah warisan yang satu-satunya dia
miliki,'' bunyi paragraf pertama surat elektronik atau E-mail
yang dialamatkan ke balipost@indo.net.id, dikirim seseorang yang
mengaku bernama I Made Suwartika, berdomisili di Lot 363,
Jl.Raja Tapah, Perak, Malaysia.
Rubag, yang menerima surat
tersebut tersenyum geli. Dia yang getol, mempertanyakan istilah
''perubahan'' yang sering terlontar selama kampanye Pemilu 2004
berlangsung justru dicap berubah 179 derajat. Memang benar,
kalau dia tidak bisa menilai dirinya sendiri, tapi orang lainlah
yang bertindak seperti cermin. Namun berkaitan dengan bunyi
surat elektronik itu, agaknya yang memantulkan citra adalah
cermin retak yang nyaris pecah seribu. Satu hal yang membuatnya
terperangah, tuduhan menjual tanah warisan dari almarhum ayahnya.
Sebuah imajinasi yang dipaksa ditarik ke bumi untuk mencoreng
wajah Rubag. Padahal selama dua dasawarsa lebih mengobrol di
bale banjar, justru dia sering mengkritisi orang-orang yang suka
menjual tanah, sehingga dia pernah dituduh iri hati, karena
tidak punya tanah untuk dijual.
***
Boorstin benar! Ketika
seseorang memiliki suatu tujuan, dia akan berupaya menyusun
argumentasi dengan mengumpulkan berbagai data, meskipun
terkadang tidak rasional dan jauh dari logika. Seperti tuduhan
yang ditimpakan pada Rubag, nyaris semuanya berasal dari
khayalan dan fantasi. Cerita itu akan menarik bila
ditranskripsikan menjadi skenario sebuah sinetron atau film,
yang tentunya harus dikemas secara fiksi ilmiah. Seperti
imajinasi fantastik Wachowski bersaudara yang memproduksi film
''The Matrix'' seri 1 sampai 3, yang meskipun penuh cerita dan
adegan tidak masuk akal, namun enak ditonton karena didukung
teknologi tinggi dan dialog ilmiah. Para penonton diberi tahu
bahwa kisah film box office tersebut diilhami filsafat
''Meditation'' dari Rene Descartes. Bualannya bisa diterima
dengan kening berkerut, meskipun itu kisah mimpi dalam mimpi.
Rupanya, Suwartika pun mengalami mimpi dalam mimpi. Sayang itu
tidak dikemas dalam cerita menarik, bahkan khayalannya terlalu
telanjang seperti ulasan Boorstin tentang peristiwa semunya.
''Yang paling mengherankan,
Rubag saat ini malah ikut-ikutan ngomong politik yang bahasanya
aneh-aneh dan tak terbiasa didengar oleh masyarakat banjar.
Obrolannya sekarang sudah tinggi-tinggi, tak tahu di mana Rubag
belajar tentang Sigmund Freund, Herbert Marcuse, The Turning
Point Science, Society and the Rising culture, etc...,'' tulis
Suwartika dalam paragraf kedua, membuat Rubag tidak tahan
menghambat gelaknya.
Mengikuti hukum Archimides
tentang tekanan dan desakan air dalam tabung, Rubag terpaksa
menilai karena lebih dulu ternilai. Rupanya, karena tinggal di
luar negeri, Suwartika menganggap diri lebih maju dan lebih tahu
segala hal dibanding orang-orang seperti Rubag yang selama
hidupnya menetap di Bali. Dia kira Produk Domestik Bruto (PDB)
dan pendapatan per kapita, bisa dipakai ukuran mutlak untuk
mengukur kemampuan otak rakyat antara bangsa. Dia lupa kalau
dunia sekarang seperti lembaran kertas yang dilipat berkali-kali
hingga menjadi buntelan terkecil, sehingga arus informasi
mengalir bagai air bah. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi sekat.
Sekolah dan perguruan tinggi, bukan lagi menjadi satu-satunya
tempat untuk belajar.
Di samping jumlah harian
yang dipenuhi berbagai artikel seperti jamur di musim hujan,
nyaris setengah dari tombol pesawat TV bisa difungsikan. Malah
ada yang beroperasi hingga 24 jam. Akibat kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi ini pula, jangankan Sigmund Freud,
Herbert Marcuse dan Fritjop Capra, orang-orang yang bagian
tubuhnya telah memfosil seperti Socrates, Cicero dan Isaac
Newton pun bisa diserap pikirannya oleh generasi sekarang dan
mendatang. Jadi, mengapa terkejut kalau Rubag tahu soal Sigmund
Freud, dan lain-lain?
***
Alergi politik sudah
dialami banyak orang. Fenomena antipolitik ini bisa jadi akibat
depolitisasi selama tiga dasawarsa selama era Orba. Atau bisa
pula akibat upaya yang dilakukan kekuatan global untuk
menjadikan dunia di bawah satu atap, sehingga kesadaran politik
seluruh bangsa dibekukan. Sebab ,tanpa parpol, khususnya parpol
yang menjadikan nasionalisme sebagai ideologi utamanya, dunia
akan lebih mudah dikuasai karena sekat-sekat antara bangsa
dihapuskan. Juga tidak mengherankan kalau bahasa politik
dianggap tinggi-tinggi dan aneh-aneh, karena tidak semua istilah
politik bisa di-Indonesiasisasi atau di-Balinisasi.
Tapi, haruskah seorang
penumpang menyalahkan bus yang berangkat pada jadwal yang tepat,
sementara dia sendiri terlambat bangun? Lagi pula, Alif Danya
Munsyi alias Remmy Sylado bilang, ''Sembilan dari sepuluh kata
bahasa Indonesia adalah asing!''. Mudah-mudahan orang tidak
mengkritik Remy Sylado atau bahasa Indonesia atau bahasa asing
yang memperkaya bahasa nasional Indonesia.
''Setiap orang akan
menganggap sesuatu baik, bila menyenangkan dan menggembirakan
baginya, sedangkan yang lain dianggap buruk karena tidak
menyenangkan dan menggembirakannya. Makanya, seorang pelacur
yang paling berpengalaman pun, tidak bisa memuaskan seluruh
pelanggannya. Di hutan belantara kritik yang kian lebat ini,
jangankan jadi pemimpin, jadi Rubag saja sulit...'' Rubag
mengombinasikan aforisme Thomas Hobbes dengan pendapatnya
sendiri.
* aridus
|