kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Pon, 3 Oktober 2004 tarukan valas
 

OPINI


Jadi Rubag saja Sulit...

Bahasa citra sudah menyebar luas, menggusur bahasa pemikiran. Bahasa citra terlahir dari peristiwa-peristiwa semu atau pseudo events. Peristiwa semu tidak spontan, melainkan direncanakan atau direkayasa dan tidak memiliki hubungan yang jelas dengan peristiwa sesungguhnya. Biasanya, peristiwa semua diadakan untuk mendukung suatu pendapat. Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa semu tersebut, tapi selalu dianggap benar.
(The Image, Daniel Boorstin).

RUBAG paham kalau yang disebut citra atau image tidak senantiasa bersifat positif. Sebab, sering suatu perbuatan yang dilakukan seseorang, oleh sementara pihak dianggap positif, namun bagi yang lain dicap negatif. Namun ada kalanya, tindak-tanduk seseorang diperhatikan pihak tertentu dengan penilaian yang sudah ''terkunci''. Artinya, baik atau buruk perbuatan seseorang tidak akan menggoyahkan hasil penilaian para penilai. Seperti sebuah hipotesis yang secara absolut harus jadi tesis, sehinga hasil pengolahan data yang minus atau plus di atas satu digit, lewat rekayasa dipaksa jadi hipotesis nol. Penilaian seperti ini menyebabkan orang-orang yang dinilai tiba-tiba bisa jadi orang bercitra baik atau pahlawan, sebaliknya bisa juga ber-image bajingan atau pengkhianat.

Menyenangkan semua orang di zaman yang sudah sangat sulit diberi judul ini, apakah era reformasi atau era perubahan, bukan perkara gampang. Malaikat yang dipercaya selalu berbuat baik dalam kepercayaan agama, bila diundang ke bumi juga akan berlimpah menerima kritik. Bahkan Tuhan yang disebut Maha Adil, tidak jarang dicap tidak adil oleh orang-orang yang selama hidupnya sering sial dan tidak beruntung. Rubag tidak bisa membayangkan, nasib para elite dan pemimpin yang lolos sebagai pengelola negara lewat Pemilu tahun 2004 yang lalu. Sebab, mereka terpilih lewat hujan citra yang tercurah deras setiap hari lewat media, cetak maupun elektronik, selama masa kampanye.

Ironisnya, terangkatnya mereka ke posisi puncak justru ketika para pemilih yang kelak akan jadi penilai, sedang santer-santernya menghujat para penguasa yang dituduh status quo, korup, dan di antaranya ada yang turun dari kursi jabatan. Tapi, benarkah pengganti loyang itu emas atau perunggu yang disepuh sehingga berkilauan sementara? Jangankan perunggu sepuhan, andaikata emas 24 karat pun, mereka harus siap-siap menerima bahasa citra dan peristiwa semu, sesuai pendapat Boorstin, sepanjang lima tahun ke depan.

''Sekarang Rubag mulai meninggalkan kebiasaan ngobrol di Bale Banjar dan nongkrong di warung kopi Men Godogan. Rubag sudah berubah 179 derajat (1 derajat belum), malah sekarang sering terlihat di kafe-kafe sambil berkata 'oke'. Padahal waktu di banjar, sering terlihat metembang di radio maupun TV. Semua ini dilakukan setelah ayahnya meninggal dan almarhum adalah pejuang rakyat yang benar-benar merakyat dan sampai kini dikenang masyarakat luas. Bahkan Rubag sudah menjual tanah warisan yang satu-satunya dia miliki,'' bunyi paragraf pertama surat elektronik atau E-mail yang dialamatkan ke balipost@indo.net.id, dikirim seseorang yang mengaku bernama I Made Suwartika, berdomisili di Lot 363, Jl.Raja Tapah, Perak, Malaysia.

Rubag, yang menerima surat tersebut tersenyum geli. Dia yang getol, mempertanyakan istilah ''perubahan'' yang sering terlontar selama kampanye Pemilu 2004 berlangsung justru dicap berubah 179 derajat. Memang benar, kalau dia tidak bisa menilai dirinya sendiri, tapi orang lainlah yang bertindak seperti cermin. Namun berkaitan dengan bunyi surat elektronik itu, agaknya yang memantulkan citra adalah cermin retak yang nyaris pecah seribu. Satu hal yang membuatnya terperangah, tuduhan menjual tanah warisan dari almarhum ayahnya. Sebuah imajinasi yang dipaksa ditarik ke bumi untuk mencoreng wajah Rubag. Padahal selama dua dasawarsa lebih mengobrol di bale banjar, justru dia sering mengkritisi orang-orang yang suka menjual tanah, sehingga dia pernah dituduh iri hati, karena tidak punya tanah untuk dijual.

***

Boorstin benar! Ketika seseorang memiliki suatu tujuan, dia akan berupaya menyusun argumentasi dengan mengumpulkan berbagai data, meskipun terkadang tidak rasional dan jauh dari logika. Seperti tuduhan yang ditimpakan pada Rubag, nyaris semuanya berasal dari khayalan dan fantasi. Cerita itu akan menarik bila ditranskripsikan menjadi skenario sebuah sinetron atau film, yang tentunya harus dikemas secara fiksi ilmiah. Seperti imajinasi fantastik Wachowski bersaudara yang memproduksi film ''The Matrix'' seri 1 sampai 3, yang meskipun penuh cerita dan adegan tidak masuk akal, namun enak ditonton karena didukung teknologi tinggi dan dialog ilmiah. Para penonton diberi tahu bahwa kisah film box office tersebut diilhami filsafat ''Meditation'' dari Rene Descartes. Bualannya bisa diterima dengan kening berkerut, meskipun itu kisah mimpi dalam mimpi. Rupanya, Suwartika pun mengalami mimpi dalam mimpi. Sayang itu tidak dikemas dalam cerita menarik, bahkan khayalannya terlalu telanjang seperti ulasan Boorstin tentang peristiwa semunya.

''Yang paling mengherankan, Rubag saat ini malah ikut-ikutan ngomong politik yang bahasanya aneh-aneh dan tak terbiasa didengar oleh masyarakat banjar. Obrolannya sekarang sudah tinggi-tinggi, tak tahu di mana Rubag belajar tentang Sigmund Freund, Herbert Marcuse, The Turning Point Science, Society and the Rising culture, etc...,'' tulis Suwartika dalam paragraf kedua, membuat Rubag tidak tahan menghambat gelaknya.

Mengikuti hukum Archimides tentang tekanan dan desakan air dalam tabung, Rubag terpaksa menilai karena lebih dulu ternilai. Rupanya, karena tinggal di luar negeri, Suwartika menganggap diri lebih maju dan lebih tahu segala hal dibanding orang-orang seperti Rubag yang selama hidupnya menetap di Bali. Dia kira Produk Domestik Bruto (PDB) dan pendapatan per kapita, bisa dipakai ukuran mutlak untuk mengukur kemampuan otak rakyat antara bangsa. Dia lupa kalau dunia sekarang seperti lembaran kertas yang dilipat berkali-kali hingga menjadi buntelan terkecil, sehingga arus informasi mengalir bagai air bah. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi sekat. Sekolah dan perguruan tinggi, bukan lagi menjadi satu-satunya tempat untuk belajar.

Di samping jumlah harian yang dipenuhi berbagai artikel seperti jamur di musim hujan, nyaris setengah dari tombol pesawat TV bisa difungsikan. Malah ada yang beroperasi hingga 24 jam. Akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini pula, jangankan Sigmund Freud, Herbert Marcuse dan Fritjop Capra, orang-orang yang bagian tubuhnya telah memfosil seperti Socrates, Cicero dan Isaac Newton pun bisa diserap pikirannya oleh generasi sekarang dan mendatang. Jadi, mengapa terkejut kalau Rubag tahu soal Sigmund Freud, dan lain-lain?

***

Alergi politik sudah dialami banyak orang. Fenomena antipolitik ini bisa jadi akibat depolitisasi selama tiga dasawarsa selama era Orba. Atau bisa pula akibat upaya yang dilakukan kekuatan global untuk menjadikan dunia di bawah satu atap, sehingga kesadaran politik seluruh bangsa dibekukan. Sebab ,tanpa parpol, khususnya parpol yang menjadikan nasionalisme sebagai ideologi utamanya, dunia akan lebih mudah dikuasai karena sekat-sekat antara bangsa dihapuskan. Juga tidak mengherankan kalau bahasa politik dianggap tinggi-tinggi dan aneh-aneh, karena tidak semua istilah politik bisa di-Indonesiasisasi atau di-Balinisasi.

Tapi, haruskah seorang penumpang menyalahkan bus yang berangkat pada jadwal yang tepat, sementara dia sendiri terlambat bangun? Lagi pula, Alif Danya Munsyi alias Remmy Sylado bilang, ''Sembilan dari sepuluh kata bahasa Indonesia adalah asing!''. Mudah-mudahan orang tidak mengkritik Remy Sylado atau bahasa Indonesia atau bahasa asing yang memperkaya bahasa nasional Indonesia.

''Setiap orang akan menganggap sesuatu baik, bila menyenangkan dan menggembirakan baginya, sedangkan yang lain dianggap buruk karena tidak menyenangkan dan menggembirakannya. Makanya, seorang pelacur yang paling berpengalaman pun, tidak bisa memuaskan seluruh pelanggannya. Di hutan belantara kritik yang kian lebat ini, jangankan jadi pemimpin, jadi Rubag saja sulit...'' Rubag mengombinasikan aforisme Thomas Hobbes dengan pendapatnya sendiri.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com