kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 3 Juli 2003

 Pariwisata


Pariwisata Berkelanjutan

I Ketut Ardana, merupakan salah satu pelaku pariwisata yang menyambut baik nota kesepakatan bersama untuk menghapus praktik JBK. Kebetulan, perusahaan yang dipimpinya, Bali Sunshine Tours and Travel, juga meng-handle wisatawan Taiwan. "Kondisinya sudah sangat kacau. 'Jual-beli kepala' jelas meresahkan pengusaha lokal Bali, seperti saya," ungkap pria kelahiran Karangasem, 46 tahun silam ini.

Namun, ia mengelak ketika ditanya apakah posisinya sebagai Wakil Ketua III Asita Bali "dimanfaatkan" untuk memerangi lawan bisnis dalam memperebutkan wisatawan Taiwan, yang kini mulai membanjiri Bali. Bagi Ketut Ardana, bisnis tentu saja untuk meraih keuntungan, tetapi tetap saja ada aturan main yang berlandaskan etika. Tanpa etika, segala cara akan dihalalkan yang pada akhirnya mengacaukan bisnis itu sendiri.

Mengawali karier sebagai guide tahun 1974, Managing Director PT Bali Sinar Mentari ini boleh jadi telah cukup merasakan asam garamnya dunia kepariwisataan. Karena itu, ia pantas gusar ketika ada oknum-oknum yang ingin merusak kepariwisataan Bali dengan melakukan bisnis yang tidak normal. Tanpa bermaksud menjelekkan pihak lain, Ardana menilai, banyak pelaku bisnis pariwisata yang sekadar terjun mencari untung.

"Mereka tidak peduli terhadap keberlanjutan pariwisata Bali. Hal itu sangat mengusik kami karena pariwisata adalah periuk nasi kami, masa depan anak cucu kami. Kepariwisataan Bali telanjur menghidupkan sebagian besar warga di daerah ini. Bukannya anti pada pengusaha pendatang, namun mereka juga harus menghargai masyarakat Bali, termasuk pengusahanya. Saya kira tuntutan semacam ini wajar saja," tandas pria yang pernah dinobatkan menjadi pramuwisata terbaik daerah Bali 1988 ini lirih.

Bersama seniornya di Asita Bali seperti Agung Prana, Ardana terlibat aktif dalam proses lahirnya nota kesepakatan bersama menghapus JBK. Dukungan dari sejumlah pihak sangat berpengaruh untuk mendorong Asita melangkah maju, khususnya dalam menindak pelaku JBK. "Kami akan tindak tegas. Pak Pitana (Kadiparda Bali-red) sudah menegaskan, tidak akan pandang bulu," ujar dosen pada sejumlah Sekolah Tinggi Pariwisata ini.

Kalau sekarang Ardana mempunyai usaha sendiri, tak lepas dari kerja kerasnya. Kemahirannya dalam berbahasa asing telah memberi banyak inspirasi baginya untuk menapak karier di dunia pariwisata. Bermula dari PT Bali Paradise, dalam usia 18 tahun Ardana telah berkiprah menjadi guide. Selama dua dasawarsa, ia menekuni profesi yang sangat menuntut kemampuan bercerita ini.

Setelah itu, seiring dengan kematangannya baik dari segi keterampilan, pengetahuan dan tentu saja ekonomi, pria berbintang Virgo ini mendirikan usaha BPW. Kemapanan secara ekonomis tak membuatnya terlena. Mengacu pada ungkapan long life education, Ketut Ardana menyempatkan diri kuliah di salah satu perguruan tinggi di Denpasar, sampai akhirnya meraih sarjana hukum (internasional) pada tahun 1990. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)