Pariwisata
Berkelanjutan
I Ketut Ardana,
merupakan salah satu pelaku pariwisata yang menyambut baik
nota kesepakatan bersama untuk menghapus praktik JBK.
Kebetulan, perusahaan yang dipimpinya, Bali Sunshine Tours
and Travel, juga meng-handle wisatawan Taiwan. "Kondisinya
sudah sangat kacau. 'Jual-beli kepala' jelas meresahkan
pengusaha lokal Bali, seperti saya," ungkap pria
kelahiran Karangasem, 46 tahun silam ini.
Namun, ia mengelak
ketika ditanya apakah posisinya sebagai Wakil Ketua III
Asita Bali "dimanfaatkan" untuk memerangi lawan
bisnis dalam memperebutkan wisatawan Taiwan, yang kini
mulai membanjiri Bali. Bagi Ketut Ardana, bisnis tentu
saja untuk meraih keuntungan, tetapi tetap saja ada aturan
main yang berlandaskan etika. Tanpa etika, segala cara
akan dihalalkan yang pada akhirnya mengacaukan bisnis itu
sendiri.
Mengawali karier
sebagai guide tahun 1974, Managing Director PT Bali Sinar
Mentari ini boleh jadi telah cukup merasakan asam garamnya
dunia kepariwisataan. Karena itu, ia pantas gusar ketika
ada oknum-oknum yang ingin merusak kepariwisataan Bali
dengan melakukan bisnis yang tidak normal. Tanpa bermaksud
menjelekkan pihak lain, Ardana menilai, banyak pelaku
bisnis pariwisata yang sekadar terjun mencari untung.
"Mereka tidak
peduli terhadap keberlanjutan pariwisata Bali. Hal itu
sangat mengusik kami karena pariwisata adalah periuk nasi
kami, masa depan anak cucu kami. Kepariwisataan Bali
telanjur menghidupkan sebagian besar warga di daerah ini.
Bukannya anti pada pengusaha pendatang, namun mereka juga
harus menghargai masyarakat Bali, termasuk pengusahanya.
Saya kira tuntutan semacam ini wajar saja," tandas
pria yang pernah dinobatkan menjadi pramuwisata terbaik
daerah Bali 1988 ini lirih.
Bersama seniornya di
Asita Bali seperti Agung Prana, Ardana terlibat aktif
dalam proses lahirnya nota kesepakatan bersama menghapus
JBK. Dukungan dari sejumlah pihak sangat berpengaruh untuk
mendorong Asita melangkah maju, khususnya dalam menindak
pelaku JBK. "Kami akan tindak tegas. Pak Pitana (Kadiparda
Bali-red) sudah menegaskan, tidak akan pandang bulu,"
ujar dosen pada sejumlah Sekolah Tinggi Pariwisata ini.
Kalau sekarang
Ardana mempunyai usaha sendiri, tak lepas dari kerja
kerasnya. Kemahirannya dalam berbahasa asing telah memberi
banyak inspirasi baginya untuk menapak karier di dunia
pariwisata. Bermula dari PT Bali Paradise, dalam usia 18
tahun Ardana telah berkiprah menjadi guide. Selama dua
dasawarsa, ia menekuni profesi yang sangat menuntut
kemampuan bercerita ini.
Setelah itu, seiring
dengan kematangannya baik dari segi keterampilan,
pengetahuan dan tentu saja ekonomi, pria berbintang Virgo
ini mendirikan usaha BPW. Kemapanan secara ekonomis tak
membuatnya terlena. Mengacu pada ungkapan long life
education, Ketut Ardana menyempatkan diri kuliah di salah
satu perguruan tinggi di Denpasar, sampai akhirnya meraih
sarjana hukum (internasional) pada tahun 1990. (gre)
|