kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 3 Juli 2003

 Pariwisata


Semoga bukan Basa-basi

SEROMBONGAN turis asal Taiwan dengan wajah yang sangat ceria memasuki sebuah toko cenderamata. Jika dilihat dari roman muka mereka, tampaknya mereka sangat menikmati liburan mereka di Bali. Namun siapa menyangka, raut wajah gembira itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Sebab, selang beberapa saat kemudian, wajah-wajah yang tadinya sumringah itu berubah menjadi gelisah. Beberapa di antara mereka yang telah berbelanja mencoba untuk keluar toko. Namun sayang, pintunya terkunci. Setelah tanya sana-sini, toh pintu tak bisa dibuka. Pun ketika masalah ini ditanyakan kepada guide-nya, jawaban yang keluar tidak memuaskan. Malahan mereka disuruh belanja lebih banyak lagi agar pintu itu bisa dibuka.

Cerita lain, masih soal turis dari Pulau Formosa ini. Ketika mereka ingin menikmati objek-objek wisata budaya di Bali yang sesungguhnya mendasari kepergian mereka berlibur ke daerah ini, sayangnya keinginan tersebut tidak tercapai seratus persen. Jadwal yang mereka pegang dengan sangat mudah dibelokkan. Oleh oknum pramuwisata yang ''menemani'' selama berada di Bali, mereka lebih banyak digiring ke pusat-pusat perbelanjaan, karaoke, sauna, diskotek dan bahkan ke tempat-tempat pelacuran! Mereka komplin, protes. Namun apa daya, protes tinggal protes yang segera dianggap angin lalu oleh oknum pramuwisata yang ''melayani'' mereka.

Dua penggalan cerita tersebut, memang merupakan ''cerita basi'' yang begitu sering terjadi. Praktik ''jual-beli kepala'' di lingkungan turis Taiwan sudah sangat parah. Hal ini tidak hanya diakui oleh pengelola biro perjalanan wisata (BPW) yang bergerak di pasar Taiwan, juga kalangan pramuwisata serta pelaku-pelaku pariwisata lainnya yang erat kaitannya dengan turis Taiwan.

Secara garis besarnya, modus operandinya sangatlah sederhana. Pihak BPW mendatangkan turis dari Taiwan, katakanlah jumlahnya 10 orang. Setelah tiba di Bali, 10 orang ini kemudian ''dijual'' dengan harga per kepala katakanlah 10 dolar AS. Nah, secara hitung-hitungan ekonomi yang sangat sederhana, si pembeli kepala ini kan sudah mengeluarkan duit 100 dolar AS. Sesuai prinsip ekonomi, dia pun tak mau buntung, harus untung. Maka, segala cara pun dilakukan. Etika bisnis pun dilabrak. Jadi, dua cerita di atas bukanlah isapan jempol, meskipun sudah amat ''basi''.

Nah, terkait hal ini, khususnya untuk mencegah praktik ''jual- beli kepala'' ini, seperti diberitakan beberapa hari lalu, beberpa komponen pariwisata Bali yang tergabung di dalam Bali Tourism Board (BTB) seperti Asita Bali, PHRI, Pawiba dan HPI di satu sisi dengan Diparda Bali di sisi lain, mendeklarasikan suatu tekad ''basi'' untuk mengikis habis praktik tersebut.

Caranya, sebagai langkah awal, BPW serta oknum guide yang ditengarai melakukan praktik tersebut akan diminta meneken surat kesepakatan untuk tidak berbuat itu lagi. Bila kesepakatan ini dilanggar, akan dikenakan sanksi. BPW-nya diganjar denda Rp 100 juta plus izinnya dicabut. Sedangkan oknum pramuwisatanya didenda Rp 50 juta plus lisensi guiding-nya juga diberangus.

Apa yang dilakukan ini, sebenarnya juga bukan langkah baru. Rencana ini sudah pernah dibicarakan beberapa waktu lalu, termasuk dengan pembentukan Bali Hopeng, sebuah institusi di bawah Asita yang secara khusus membidangi turis Taiwan. Namun toh niat baik ini belum menampakkan hasil. ''Jual-beli kepala'' masih tetap merajalela.

Yang terlihat baru mungkin sanksinya. Mungkin sudah disadari bahwa dengan hanya berbekal kesepakatan tersebut, tidak cukup kuat untuk membuat mereka takluk atau jera. Harus dibuatkan perangkat hukum yang lebih kuat dan legitimate untuk menghentikan praktik yang merusak citra pariwisata ini. Kalau hal ini ditindaklanjuti secara serius, kemungkinan besar upaya penanggulangan ini tidak hanya menjadi sebatas wacana. Sebab, bagaimana pun di tengah iklim dunia usaha pariwisata yang belum pulih ini, kita memerlukan aksi, bukan basa-basi sebuah aksi yang nyata-nyata telah basi. Mudah-mudahan saja serius.

* Palgunadi

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)