kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 3 Juli 2003

 Bali


JADWAL PKB XXV
Kamis, 3 Juli 2003

Waktu : 10.00 wita
Kegiatan : Sanggar Tari Kartini
Tempat : Ksirarnawa

Waktu : 10.00 wita
Kegiatan : Saron-Gong Luang dari Br. Kedaton Kesiman Denpasar
Tempat : Kalangan Angsoka

Waktu : 12.30 wita
Kegiatan : Palegongan Klasik dari Darmasaba Badung
Tempat : Wantilan

Waktu : 20.00 wita
Kegiatan : Lomba Gong Kebyar Anak-anak (Karangasem-Denpasar)
Tempat : Ardha Candra

Jamintoro, Menari dalam Posisi Duduk

PADA umumnya sebuah pergelaran drama tari dimainkan bergerak di atas panggung. Tetapi para pemeran tokoh dalam kesenian Jamintoro -- sebuah kesenian khas Jembrana -- justru tidak perlu beranjak dari lantai. Para pemain yang memerankan tokoh, cukup matembang, berdialog dan ngebatan lima (menari) dengan posisi duduk mengikuti gamelan geguntangan. Geguntangan ala Jembrana itu dilengkapi dengan pereret, alat tiup tradisional khas Jembrana.

Jamintoro, kata koordinator lomba dan pentas seni geguntangan Nyoman Sudarmadi, Rabu (2/7) kemarin, sesungguhnya hanyalah nama sebuah desa yang ada di Jawa Timur. Sementara koordinator sekaligus salah seorang juru basa (tukang arti) pada kesenian tersebut, Ketut Singgih mengatakan, karya sastra yang dimainkan dalam garapan kesenian itu berbentuk pupuh atau macepat (Ginada) yang disajikan dalam bentuk tembang. (ani/lun) Debu Beterbangan

PADA musim kemarau seperti sekarang, memang tidak sulit menemukan debu yang beterbangan. Demikian juga di arena PKB ke-25. Pada penampilan Sanggar Seni Indrakila, Banjar Kawan, Manggis, Karangasem di Kalangan Ayodya, Rabu (2/7) kemarin, penonton dan para seniman sempat diganggu oleh debu. Mereka yang tidak membawa saputangan, tampak mengibas-ibaskan tangannya untuk mengusir debu agar tidak masuk ke hidung. Hal itu terlihat ketika penonton menyerbu panggung, dan beranjak meninggalkan kalangan di ujung timur laut Taman Budaya itu. (lun/ani)

Kecak-Janger ''Mejaran-jaranan''

DITUNTUT tampil beda dalam ajang PKB, para seniman memang tampaknya tak kurang akal. Untuk menjadikan garapan janger lebih punya gereget, berbagai kreasi ditampilkan. Tentu saja kesenian ini menjadi lebih menarik.

Hal itu terlihat saat penampilan kesenian janger dag yang dibawakan Sanggar Seni Indrakila, Banjar Kawan, Manggis, Karangasem, di Kalangan Ayodya, Rabu (2/7) kemarin.

Garapan tersebut tampaknya sudah mampu melakukan lompatan kreasi, sehingga lebih menarik. Misalnya, sebagai daerah yang terkenal dengan kesenian cakepungnya, garapan duta Karangasem ini memadukan unsur genjek. Demikian juga untuk menggambarkan ''adegan kemesraan'', kecak dan janger sama-sama mejaran-jaranan (naik kuda-kudaan) seperti yang sering diperagakan dalam kesenian joged bumbung.

Dalam penampilan kemarin, sanggar yang melibatkan 24 penari (kecak dan janger) serta 15 penabuh itu membawakan gending-gending janger dan pantun yang diambil dari lontar Monyeh.

Ketut Wintaran yang memerankan dag, tampak sangat ''sibuk'' di tengah kalangan. Selaku ''orang yang dituakan'', dag itu selalu memberi wejangan atau sesuluh hidup agar generasi muda (kecak dan janger) tidak salah arah. (lun/ani)

Rindik Suar Dwi Stri

BEBERAPA hari lalu, Sanggar Suar Dwi Stri tampil membawakan garapan kerawitan rindik dan tarian-tarian lepas di PKB ke-25. Sanggar di bawah Yayasan Suar Agung pimpinan Ketut Suwentra itu cukup memukau penonton. Menariknya, para penabuh tersebut adalah ibu-ibu dari Jepang. Yoshida, salah seorang anggota Suar Dwi Stri kepada Bali Post, Rabu (2/7) kemarin menyatakan klarifikasinya, karena yang ditulis hanya Dwi Stri. ''Yang benar adalah Suar Dwi Stri. Nama itu cukup bermakna bagi kami,'' katanya. (lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)