|
''Menyembelih''
Kemalasan-Keserakahan
HARI
ini, sehari sebelum hari raya Galungan umat Hindu di Bali
umumnya menyiapkan perayaan Galungan dengan memotong hewan
seperti ayam dan babi untuk pesta perayaan Galungan.
Pengertian itu sesungguhnya suatu pemahaman yang sangat
awam, namun hal itulah yang jauh lebih mentradisi daripada
arti sesungguhnya Penampahan Galungan itu.
Penampahan
Galungan dalam wujud ritual dirayakan dengan upacara Natab
Sesayut Penampahan atau disebut dengan Sesayut Pamyak Kala
Laramelaradan. Makna dari prosesi ritual ini adalah untuk
mengingatkan umat agar membangun kekuatan Wiweka Jnyana
atau membangun kekuatan diri untuk mampu membeda-bedakan
mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan
mana yang buru. Mana yang patut dan mana yang tidak patut.
Dengan
demikian secara tegas dapat kita menghindar dari
kesalahan-kesalahan yang dapat membawa kita pada kehidupan
yang adharma. Jadi penyembelihan ayam dan babi itu
sesungguhnya sebagai simbol untuk menyembelih sifat-sifat
serakah suka bertengkar seperti sifat buruk dari ayam dan
sifat-sifat malas pengotor seperti babi. Karena binatang
itu juga memiliki sifat-sifat baik secara instingtif.
Tentunya akan menjadi mubazir kalau perayaan hari
Penampahan ini kita rayakan hanya dengan pesta-pesta.
Hendaknyalah disertai renungan untuk dengan
sungguh-sungguh kita berusaha untuk menyembelih
sifat-sifat malas dan serakah yang mungkin masih melekat
dalam diri kita. Dengan demikian saat Galungan berikutnya
kita sudah menjadi lebih baik dari Galungan sebelumnya.
Salah
satu sumber penderitaan umat manusia di dunia ini adalah
karena sering dibelit oleh sifat malas namun serakah.
Ingin hidup enak dan senang tetapi malas berusaha. Inilah
musuh manusia yang sering menyelinap dalam dirinya. Dalam
merayakan hari raya Galungan sebagai hari untuk
mengingatkan umat manusia agar senantiasa menyadari
dirinya sering kalah melawan kemalasan dan keserakahan.
Sebagai akibatnya manusia pun menderita karena sering
kalah melawan sifat malas dan serakah itu. Karena itu,
dalam perayaan Galungan secara terus-menerus diingatkan
agar selalu waspada pada dua sifat yang dapat
menjerumuskan manusia pada kehidupan yang menderita.
Kemalasan
dan keserakahan berasal dari Guna Tamas dan Guna Rajah.
Sesungguhnya Guna Tamas dan Rajah itu akan menjadi positif
apabila dapat dikendalikan oleh Guna Sattwam. Guna Tamas
dan Guna Rajas itu akan menunjukkan aspek positifnya kalau
ia berada di bawah kendali Guna Sattwam.
Karena
itulah salah satu yang diingatkan dalam perayaan Galungan
adalah melakukan Ngerebu saat upacara Sugian. Upacara
Ngerebu menggunakan bebek sebagai lambang Guna Sattwam.
Saat Sugian itulah umat diingatkan untuk memperkuat Guna
Sattwam-nya. Selanjutnya saat Embang Sugian melakukan
anyekuing jnyana nirmalakna. Ini artinya menyatukan
kekuatan dan kesadaran diri sendiri. Dari semuanya itulah
kita dapat mengalahkan kemalasan dan keserakahan.
Selanjutnya
marilah buktikan dalam perayaan Galungan ini kita menang.
Bagaimana membuktikannya, cobalah mulai kita menangkan
produk lokal untuk digunakan sebagai sarana upacara dalam
merayakan Galungan. Meskipun kualitas dan kuantitasnya
masih kalah dengan produk import. Penggunaan produk lokal
itu akan mendorong kita untuk mengupayakan agar produk
lokal hasil karya sendiri itu lebih diupayakan peningkatan
mutu dan kuantitasnya. Gunakanlah sarana hasil daerah kita
untuk merayakan Galungan seperti buah-buahan,
bunga-bungaan, demikian juga sarana-sarana lainnya.
Buktikanlah
selama perayaan Galungan makin kecil jumlah umat yang
mabuk karena merayakan Galungan. Tidak ada yang
kebut-kebutan di jalan raya saat Galungan. Bahkan kita
mampu menunjukkan selama perayaan Galungan pelanggaran
lalu lintas menurun drastis. Merayakan Galungan dengan
lebih menonjolkan pengumbaran hawa nafsu, jelas suatu
kekalahan.
Kalau
masih merayakan hari raya keagamaan lebih menonjolkan
pengumbaran hawa nafsu jelas angka-angka negatif akan
lebih menonjol dari angka-angka positif. Misalnya setiap
perayaan Galungan justru statistik pelanggaran lalu lintas
meningkat. Jumlah orang berkelahi karena mabuk justru
meningkat saat-saat merayakan Galungan. Jumlah pengotoran
lingkungan semakin banyak. Usai hari raya Galungan justru
lingkungan lebih kotor dari sebelumnya. Demikian juga
orang masuk rumah sakit lebih meningkat saat Galungan
karena pesta-pesta yang salah kaprah.
Merayakan
Galungan untuk memenangkan Dharma justru harus diupayakan
dengan sadar untuk membalik angka-angka negatif menjadi
angka-angka positif. Demikian juga perayaan Galungan
dijadikan momentum melakukan gerakan untuk mengatasi
problem sosial. Misalnya gerakan untuk tidak menjadikan
tempat suci sebagai arena judi, minum-minuman keras dan
pesta-pesta pora yang berlebihan.
|