Memaknai Tumpek Bubuh ----
Bersyukur dan
Menghargai Ciptaan Tuhan
Sabtu Kliwon (24/5)
mendatang, umat Hindu kembali memperingati Tumpek Wariga.
Tumpek yang memiliki nama cukup banyak -- Tumpek Uduh,
Tumpek Bubuh dan Tumpek Pengatag -- itu sangat erat
kaitannya dengan dunia pertanian. Secara ritual, pada hari
itu umat melaksanakan upacara persembahyangan ke hadapan
Batara Sangkara -- manifestasi Tuhan dalam menciptakan
kesuburan tumbuh-tumbuhan. Dalam konteks kekinian,
perayaan hari keagamaan seperti itu tentu tidak hanya
berhenti pada kegitan ritual semata. Lebih dari itu, umat
dituntut untuk mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang
terkandung dalam Tumpek Bubuh dalam kehidupan sehari-hari.
==================================================
Sesungguhnya,
perayaan Tumpek Bubuh salah satu komponen penting dalam
mengajegkan konsep Tri Hita Karana. Salah satu unsur
penting dalam konsep itu adalah hubungan harmonis antara
manusia dengan lingkungannya -- dalam kaitan ini hubungan
manusia dengan tumbuh-tumbuhan. ''Ajaran yang terkandung
dalam Tumpek Bubuh ini sangat luhur. Umat bukan hanya
mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus
melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan
kehidupannya,'' kata tokoh agama Prof. Dr. I Wayan Jendra,
S.U.
Alasannya, jika
lingkungan khususnya tumbuh-tumbuhan secara kuantitas dan
kualitas tidak sesuai dengan kebutuhan maka manusia akan
menjadi sangat menderita. Karena itu, sangat wajar umat
memberikan dukungan sepenuhnya kepada petani.
Tumbuh-tumbuhan,
kata Jendra, telah memberikan banyak manfaat bagi umat
manusia. Tumbuh-tumbuhan memberikan prana berupa oksigen,
keteduhan, perlindungan dan sumber makanan bagi manusia.
Bahkan, dalam Canakya Nitisastra dan sumber-sumber lainnya
disebutkan, sesungguhnya hidup manusia dengan lingkungan
saling mengisi atau saling melengkapi yang dikenal dengan
istilah simbiosis mutualisme.
Jika lingkungan
mengalami disharmoni, tentu akan sangat berpengaruh
terhadap kehidupan manusia. Misalnya, jika hutan yang
tersedia mengalami kegundulan akibat adanya penebangan
liar, maka uap air sebagai cikal bakal hujan tidak akan
bisa menghendap. Demikian juga bila terjadi hujan lebat,
akan terjadi banjir besar karena tidak ada pohon yang
menahan air.
Dikatakan, ditinjau
dari nuansa religius spiritual, tumbuh-tumbuhan adalah
evolusi lebih awal dari kehidupan manusia. Hal itu diakui
oleh Darwin dan Maharsi Patanjali. Ditinjau dari kebutuhan
manusia akan makanan, tumbuh-tumbuhan telah memberi
penghidupan.
Karena itu, Tumpek
Wariga ini mesti dijadikan tonggak untuk memelihara
kelestarian lingkungan, khususnya tumbuh-tumbuhan. Apalagi,
di Bali saat ini hutan-hutan mulai gundul, bahkah kini
telah ditebang untuk pemukiman. Ini tentu akan sangat
mengganggu ekosistem yang ada.
Pada Tumpek Bubuh
itu manusia memberi penghargaan dan kasih sayang terhadap
tumbuh-tumbuhan agar berbuah banyak, berbunga lebat dan
berumbi untuk kepentingan yadnya --persembahan kepada
Tuhan pada hari raya Galungan, 25 hari setelah Tumpek
Bubuh.
Dikatakan, banyak
yang beranggapan bahwa Tumpek Bubuh hanya ''milik'' para
petani di pedesaan, sehingga para pegawai tidak perlu
merayakannya. Anggapan semacam ini sangat keliru karena
pengertian Tumpek Bubuh tidak sesempit itu. Umat manusia,
termasuk para pegawai, mesti sadar bahwa mereka juga hidup
karena tumbuh-tumbuhan -- kendati untuk membeli buah,
sayur dan beras, mereka cukup menyediakan uang dari hasil
kerjanya. ''Pernahkah kita mendoakan agar petani bisa
hidup berbahagia,'' tanya Jendra.
Sesungguhnya pula,
kata Guru Besar Fakultas Sastra Unud ini, aplikasi
nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh bukan hanya
untuk kepentingan umat Hindu, tetapi juga umat lain. Tanpa
tumbuh-tumbuhan, umat manusia tidak akan bisa hidup. ''Jadi
nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh sangat universal.
Karena itu, melalui perayaan Tumpek Bubuh, umat manusia
mengucap syukur kepada Tuhan karena telah diberi kehidupan,''
ujarnya.
Ketika nilai-nilai
Tumpek Bubuh dihubungkan dengan wacana kembali ke dunia
pertanian -- pascaledakan bom Kuta -- sesungguhnya sesuatu
yang memang harus mengacu ke sana. Lagi pula, kata Jendra,
pariwisata dan pertanian sangat erat hubungannya.
Pariwisata sangat ditunjang oleh pertanian. Hasil
pertanian sangat menunjang sektor pariwisata. Oleh karena
itu, pertanian memang harus tetap dibinakembangkan secara
intensif dengan menggunakan teknologi modern. Dengan
demikian, dunia pertanian betul-betul memberikan
kesejahteraan bagi umat manusia, khususnya para petani.
Metode
Sementara itu,
Kakanwil Agama Propinsi Bali Drs. I Gusti Made Ngurah
mengatakan, peringatan Tumpek Bubuh merupakan semacam
metode untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena telah
diciptakan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan telah
memberikan kehidupan bagi umat manusia. Karena itu, umat
wajib mengaturkan rasa angayubagia kepada Tuhan, melalui
ritual Tumpek Bubuh.
Melalui peringatan
itu, umat diingatkan dan disadarkan kembali bahwa dunia
pertanian memang penting. ''Jadi, peringatan Tumpek Bubuh
bisa dikatakan semacam metode untuk menyadari manusia akan
pentingnya tumbuh-tumbuhan,'' katanya.
Melalui perayaan itu
umat mengaturkan rasa bakti kepada Tuhan karena telah
diciptakan beragam tumbuh-timbuhan yang telah banyak
membantu kehidupan manusia.
Dalam konteks wacana
mesti kembali ke pertanian, kata mantan Direktur APGAH --
sekarang STAH itu -- seolah-olah umat sudah melupakan
kawitan, ajaran asal yang adilihung. Padahal, dunia
pertanian mesti tetap terpelihara. Dunia yang telah
memberi kehidupan ini hendaknya tetap dibina dan
dilestarikan. Kita hidup dan berkembang seperti sekarang
karena tumbuh-tumbuhan. (lun)
|