|
Menajamkan
Pikiran
Rerahinan
Tumpek Landep telah kita lalui, dengan simbol-simbol
banten yang indah dan penuh arti. Semua sesaji itu sebagai
pengejawantahan dari tattwa Tumpek Landep seperti yang
dinyatakan dalam Lontar Sunarigama yaitu pinaka
landepaning idep. Artinya sebagai media untuk menajamkan
pikiran. Ini artinya Tumpek Landep sebagai suatu media
sakral untuk mengingatkan umat manusia agar terus
menajamkan pikirannya.
Dengan
pikiran yang tajam itu umat manusia selalu berbuat
berdasarkan kesadaran pikiran. Berbuat berdasarkan
kesadaran pikiran artinya manusia akan terhindar dari
perbuatan yang tidak didahului oleh berbagai pertimbangan
akal sehat atau Wiweka Jnyana. Sebagaimana disebutkan
dalam Lontar Sunarigama tersebut Tumpek Landep sebagai
hari pemujaan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai
Batara Pasupati. Mengapa Tuhan dipuja sebagai Pasupati?
Salah satu tujuan hidup kita di dunia ini adalah
meningkatkan kemampuan diri untuk menguatkan kecenderungan
''kedewaan'' atau Dewi Sampad dalam diri. Dengan kuatnya
pengaruh kecenderungan kedewaan menguasai diri, maka
kecenderungan keraksasaan atau kebinatangan akan dapat
dikuasai. Karena itulah Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang
Pasupati.
Kata
''pasu'' dalam bahasa Sansekerta artinya binatang dan
''pati'' artinya raja atau menguasai. Jadi tujuan memuja
Tuhan sebagai Sang Hyang Pasupati adalah untuk mendapatkan
kekuatan guna menguasai sifat-sifat kebinatangan atau
keraksasaan yang sering menguasai diri manusia.
Dalam
mitologi Hindu Dewa Siwa-lah yang memiliki senjata panah
bernama Pasupati yang dianugerahkan kepada Arjuna.
Ditambah dengan tuntunan Sri Kresna, Arjuna pun selalu
melangkah dengan kesadaran pikiran yang tajam. Panah
Pasupati itulah salah satu yang dimiliki oleh Arjuna hasil
memuja Dewa Siwa. Panah Pasupati itu pula menyebabkan
Arjuna memperoleh kemenangan dalam hidupnya.
Panah
itu simbol pikiran. Kalau pikiran ditujukan untuk memuja
Tuhan maka pikiran akan kuat atau tajam menguasai indria.
Dalam Manawa Dharmasastra dinyatakan bahwa pikiran adalah
rajanya Indria. Sesayut pasupati itu lambang untuk
mengingatkan manusia agar mengupayakan pikiran menjadi
senjata Pasupati yaitu kekuatan untuk menguasai gejolak
indria. Kalau pikiran itu tajam maka indria pun akan
tumpul dan patuh pada arahan pikiran. Pikiran yang menjadi
rajanya indria inilah yang harus terus diperjuangkan dalam
hidup ini.
Mengapa
saat Tumpek Landep umat Hindu mengupacarai alat-alat
perlengkapan hidup, seperti keris, pisau dan alat-alat
dapur lainnya, alat-alat pertanian, pertukangan, mobil,
televisi dan alat-alat hidup lainnya? Semuanya itu
bermakna sebagai peringatan agar jangan sampai pengadaan
atau pemilikan alat-alat itu tidak didasarkan pada
pertimbangan pikiran yang tajam. Karena banyak pihak yang
mengadakan dan memiliki alat-alat itu hanya berdasarkan
ego untuk pamer dengan mengesampingkan nilai maknanya.
Mobil, rumah, alat-alat elektronik dan fasilitas hidup
lainnya bukan digunakan untuk menunjang kelancaran
tugas-tugas hidup mewujudkan dharma. Fasilitas itu
diadakan dan dimiliki hanya untuk pamer memenuhi nafsu
egonya mendapatkan status sosial yang lebih di
lingkungannya.
Pengadan
dan pemikiran fasilitas hidup ini hendaknya didasarkan
pada pertimbangan pikiran yang tajam, sehingga dapat
menunjang hidup manusia menyukseskan cita-cita mulianya.
Hal inilah yang dilambangkan dengan Sesayut Jayeng Perang.
Jayeng Perang bukan dalam arti perang fisik tetapi perang
dalam artian perjuangan hidup menyukseskan cita-cita
mulia.
Hari
Raya sejenis Tumpek Landep bagi umat Hindu di India juga
dirayakan dengan nama hari raya Ayudha Puja. Perayaan ini
dilakukan juga di India dua kali setahun dengan
menggunakan perhitungan tahun Surya. Sedangkan di Bali
umat Hindu merayakan hari raya keagamaannya menggunakan
tahun Chandra dan tahun Wuku. Untuk Tumpek Landep ini
digunakan perhitungan tahun Wuku. Perayaan Ayudha Puja
mengingatkan umat manusia agar selalu menyegarkan daya
perjuangan hidupnya memenangkan cita-cita mulianya
menegakkan dharma.
Menajamkan
pikiran sesungguhnya menyegarkan daya pikiran untuk
menumpulkan gejolak indria yang sering mengalihkan
perjuangan hidup ke arah yang bertentangan dengan dharma.
Karena itu pada hari raya keagamaan itu umat diingatkan
untuk berbuat berdasarkan kesadaran pikiran. Perilaku yang
emosional tanpa pertimbangan akal sehat makin dapat
dihindari.
|