kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 22 April 2003

 Ekonomi


Pemerintah jangan Konyol lagi

PEMERINTAH harus sering kali diingatkan agar tidak bertambah konyol lagi dalam menjual aset negara. Keinginan untuk menjual (divestasi) 51 persen saham pemerintah di Bank Danamon harus ditolak. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie, Senin (21/4) kemarin mengingatkan agar tidak mengulangi kesalahan ketika menjual BCA. ''Selama pemerintah masih memiliki obligasi, bank rekap pantang untuk dijual. Pemerintah akan rugi besar jika penjualan itu dipaksakan,'' ujarnya.

Kerugian yang dialami pemerintah terhadap BCA, ia berharap tidak terulang pada Danamon. Sebab, ketika penjulan BCA, negara mengalami kerugian berlipat. Sebab, dari hasil penjualan yang hanya Rp 5 trilyun, tetapi pemilik baru mendapat 51 persen saham. Selain itu mereka juga mempunyai hak tagih Rp 30 trilyun pada pemerintah. Dalam satu tahun saja, sambung Kwik, bunga yang harus diterima pemilik baru BCA lebih dari Rp 5 trilyun.

Saat pemaparan kinerja Bank Danamon triwulan I-2003, Dirut Bank Danamon Arwin Rasyid justru mengatakan, divestasi Danamon kali ini merupakan single transaksi terbesar selama tahun 2003. Setidaknya, dari transaksi ini BPPN bisa mengantongi dana lebih dari Rp 2,5 trilyun. Perhitungannya, dengan harga buku saat ini -- untuk 100 persen saham nilainya mencapai Rp 4,9 trilyun.

Meski demikian, menurutnya, nilai buku tersebut pasti akan lebih tinggi dari satu, karena bidder akan menilai kinerja dan bisnis Bank Danamon. BPPN sendiri sebelumnya mematok harga Bank Danamon minimal 1,1 dari nilai bukunya. Mengenai batalnya divestasi 20 persen saham Bank Danamon lewat bursa, Arwin mengatakan, hal itu tidak mempengaruhi kondisi Bank Danamon. Pasalnya, saat ini manajemen akan berkonsentrasi pada peningkatan kinerja perusahaan. Setidaknya, dari perolehan laba sebelum pajak mengalami peningkatan 54 persen dari Rp 192 milyar pada tahun 2002 menjadi Rp 296 milyar di tahun 2003. Dengan rasio kecukupan modal 25,1 persen per Maret 2003. Dilihat dari komposisi pendapatan bunganya, kontribusi pendapatan bunga dari obligasi pemerintah mengalami penurunan dari 60 persen pada triwulan I 2002 menjadi 32 persen di tahun 2003. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)