kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 22 April 2003

 Bali


Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post

Proyek ''Recovery'' Pariwisata belum Tunjukkan Hasil

JIKA sadar bahwa pariwisata Bali andalannya atau daya pikatnya adalah budaya, mau tak mau budaya Bali mesti dilestarikan. Bukan justru membuat diskotek, bar dan sejenisnya. Dengan demikian kepariwisataan di Bali tidak tambah terpuruk. Hal itu terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan langsung Radio Global FM 99,15 Kini Jani dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan Singaraja FM, Senin (21/4) kemarin. Di sisi lain, pengunjung warung yang lain berpendapat, ke depan pembangunan kepariwisataan di Bali perlu lebih terkontrol. Berikut rangkuman selengkapnya.

==================

Armayani mengatakan, pariwisata Bali sudah menuju ke arah kehancuran. Alam Bali yang menjadi daya tarik pariwisata sudah banyak yang rusak. Misalnya, pada tebing Kintamani yang indah dan menjadi daya tarik pariwisata Bali sudah banyak berdiri hotel dan restoran. Demikian juga jalan menuju Singaraja saat musim hujan rentan terjadi tanah longsor sehingga berlumpur. Rentannya banjir dan tanah longsor itu karena kurangnya penghijauan.

Karena itu pemerintah mesti memiliki komitmen untuk mempertahankan keaslian alam Bali. Munculnya berbagai terobosan untuk memulihkan (recovery) pariwisata Bali, kata Armayani, belum menunjukkan hasil yang maksimal. Jabatan-jabatan dalam rangka pemulihan pariwisata dinilai hanya untuk memperkaya diri.

Kak Batu justru tidak setuju pihak-pihak yang lain hanya menyalahkan pemerintah terkait mundurnya kepariwisataan di Bali. Berkurangnya kunjungan wisatawan ke Bali dipengaruhi oleh berbagai faktor. Adanya krisis ekonomi di negaranya sendiri membuat tamu tidak bisa datang ke Bali. Dalam situasi seperti itu tentu bukan perkara mudah mendapatkan pekerjaan di negaranya. Itu makanya mereka tidak mampu berkunjung ke Bali, karena biayanya mahal terutama tiket pesawat dan biaya hidup selama di Bali.

Perlu diketahui, tegas Kak Batu, ada beberapa klasifikasi tamu datang ke Bali. Ada yang hanya datang untuk menikmati flora dan fauna, surfing dan menikmati budaya. Mereka yang datang utuk tujuan surfing tentu tunarungu terhadap kelestarian budaya dan lingkungan alam.

Maria mengatakan ada semacam kontradiksi dalam pengembangan pariwisata di Bali. Ada sekelompok orang yang ingin melakukan modernisasi pariwisata dengan membangun diskotek, bar dilengkapi tarian telanjang dan ide pembangunan kasino. Sementara pariwisata budaya yang dikembangkan di Bali rohnya atau daya tariknya justru budayanya yang unik. ''Jika sadar bahwa pariwisata Bali andalannya atau daya jualnya adalah budaya, mau tak mau budaya Bali mesti dilestarikan. Bukan justru membuat diskotek, bar dan sejenisnya,'' kata Maria ketus.

Untuk melestarikan budaya Bali, pemerintah Bali sudah berupaya lewat Pesta Kesenian Bali (PKB), tetapi itu dinilai masih minin. Mestinya pemerintah lewat PAD-nya berupaya mengalokasikan dana lebih banyak untuk pelestarian budaya. Di samping itu pemerintah mestinya berupaya lebih memberdayakan kesenian-kesenian di daerah, sehingga taraf hidup para seniman lebih meningkat. Mereka mesti juga kecipratan PAD dari hasil pariwisata.

Ujung Tombak

Sementara Mayadi mengatakan, pariwisata justru menjadi ujung tombak ekonomi di Bali. Mundurnya parwisata Bali juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di negara lain. Di samping itu mundurnya pariwisata juga dipengaruhi oleh kemampuan SDM para awak pariwisata. Karena itu perekrutan karyawan mesti lebih selektif.

Kadek Mako mengatakan tanda-tanda akan mundurnya pariwisata Bali sebetulnya sudah terdengar sejak lama. Lagi pula kontribusi kepariwisataan di Bali untuk masyarakat Bali justru masih dipertanyakan. Dapat dihitung jumlah dana yang disubsidi oleh kalangan pengusaha pariwisata terhadap masyarakat Bali.

Ia mengtakan, mari dihitung seberapa banyak pengusaha Bali yang betul-betul mampu berkompetisi dengan pengusaha luar. Justru di Bali pengusaha luar lebih banyak ketimbang pengusaha lokal. Pengusaha Bali--terutama di Ubud, kata Kadek Mako, sangat peduli dengan daerahnya. Lalu bagaimana dengan pengusaha luar? Apa kontribusinya terhadap keajegan Bali?

Ardana mengatakan terjadi kemunduran kualitas terhadap pariwisata Bali. Dalam kepariwisataan Bali yang dijual justru budaya dan keindahan alamnya. Daya tarik pariwisata Bali justru budaya yang unik dan khas. Tetapi sekarang alam Bali tempat tumbuh dan berkembangnya budaya Bali sudah banyak ditumbuhi ruko dan beton-beton bertingkat.

Sementara Made Karya mengatakan, ke depan pembangunan kepariwisataan di Bali sudah saatnya terkontrol. Diawasi dengan tidak mengurangi kebebasan dalam mengembangkan pariwisata Bali. Jangan ambisius. Jika ambisius justru akan menghancurkan Bali.

Jhon di Kuta mengatakan, perlu ada inovasi dan kreativitas baru dalam memulihkan pariwisata Bali. Mundurnya pariwisata Bali akibat tragedi bom, perang Irak dan terakhir virus SARS. Ketiga faktor ini adalah masalah dunia. Karena Bali mengandalkan wisatawan, maka terkena juga dampaknya oleh ketiga faktor tersebut.

Sementara Wakada mengatakan, mundurnya pariwisata Bali karena budaya Bali tidak dipertahankan. Ke depan, adat dan budaya Bali perlu mendapat perhatian. Jika tidak, maka lambat laun budaya Bali akan tinggal kenangan saja. Dan, budaya Bali hanya bisa kita baca di buku-buku sejarah. (lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)