Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post
Proyek
''Recovery'' Pariwisata belum Tunjukkan Hasil
JIKA
sadar bahwa pariwisata Bali andalannya atau daya pikatnya
adalah budaya, mau tak mau budaya Bali mesti dilestarikan.
Bukan justru membuat diskotek, bar dan sejenisnya. Dengan
demikian kepariwisataan di Bali tidak tambah terpuruk. Hal
itu terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan
langsung Radio Global FM 99,15 Kini Jani dipancarluaskan
Radio Genta Swara Sakti Bali dan Singaraja FM, Senin
(21/4) kemarin. Di sisi lain, pengunjung warung yang lain
berpendapat, ke depan pembangunan kepariwisataan di Bali
perlu lebih terkontrol. Berikut rangkuman selengkapnya.
==================
Armayani mengatakan,
pariwisata Bali sudah menuju ke arah kehancuran. Alam Bali
yang menjadi daya tarik pariwisata sudah banyak yang
rusak. Misalnya, pada tebing Kintamani yang indah dan
menjadi daya tarik pariwisata Bali sudah banyak berdiri
hotel dan restoran. Demikian juga jalan menuju Singaraja
saat musim hujan rentan terjadi tanah longsor sehingga
berlumpur. Rentannya banjir dan tanah longsor itu karena
kurangnya penghijauan.
Karena itu
pemerintah mesti memiliki komitmen untuk mempertahankan
keaslian alam Bali. Munculnya berbagai terobosan untuk
memulihkan (recovery) pariwisata Bali, kata Armayani,
belum menunjukkan hasil yang maksimal. Jabatan-jabatan
dalam rangka pemulihan pariwisata dinilai hanya untuk
memperkaya diri.
Kak Batu justru
tidak setuju pihak-pihak yang lain hanya menyalahkan
pemerintah terkait mundurnya kepariwisataan di Bali.
Berkurangnya kunjungan wisatawan ke Bali dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Adanya krisis ekonomi di negaranya
sendiri membuat tamu tidak bisa datang ke Bali. Dalam
situasi seperti itu tentu bukan perkara mudah mendapatkan
pekerjaan di negaranya. Itu makanya mereka tidak mampu
berkunjung ke Bali, karena biayanya mahal terutama tiket
pesawat dan biaya hidup selama di Bali.
Perlu diketahui,
tegas Kak Batu, ada beberapa klasifikasi tamu datang ke
Bali. Ada yang hanya datang untuk menikmati flora dan
fauna, surfing dan menikmati budaya. Mereka yang datang
utuk tujuan surfing tentu tunarungu terhadap kelestarian
budaya dan lingkungan alam.
Maria mengatakan ada
semacam kontradiksi dalam pengembangan pariwisata di Bali.
Ada sekelompok orang yang ingin melakukan modernisasi
pariwisata dengan membangun diskotek, bar dilengkapi
tarian telanjang dan ide pembangunan kasino. Sementara
pariwisata budaya yang dikembangkan di Bali rohnya atau
daya tariknya justru budayanya yang unik. ''Jika sadar
bahwa pariwisata Bali andalannya atau daya jualnya adalah
budaya, mau tak mau budaya Bali mesti dilestarikan. Bukan
justru membuat diskotek, bar dan sejenisnya,'' kata Maria
ketus.
Untuk melestarikan
budaya Bali, pemerintah Bali sudah berupaya lewat Pesta
Kesenian Bali (PKB), tetapi itu dinilai masih minin.
Mestinya pemerintah lewat PAD-nya berupaya mengalokasikan
dana lebih banyak untuk pelestarian budaya. Di samping itu
pemerintah mestinya berupaya lebih memberdayakan
kesenian-kesenian di daerah, sehingga taraf hidup para
seniman lebih meningkat. Mereka mesti juga kecipratan PAD
dari hasil pariwisata.
Ujung Tombak
Sementara Mayadi
mengatakan, pariwisata justru menjadi ujung tombak ekonomi
di Bali. Mundurnya parwisata Bali juga dipengaruhi oleh
situasi dan kondisi di negara lain. Di samping itu
mundurnya pariwisata juga dipengaruhi oleh kemampuan SDM
para awak pariwisata. Karena itu perekrutan karyawan mesti
lebih selektif.
Kadek Mako
mengatakan tanda-tanda akan mundurnya pariwisata Bali
sebetulnya sudah terdengar sejak lama. Lagi pula
kontribusi kepariwisataan di Bali untuk masyarakat Bali
justru masih dipertanyakan. Dapat dihitung jumlah dana
yang disubsidi oleh kalangan pengusaha pariwisata terhadap
masyarakat Bali.
Ia mengtakan, mari
dihitung seberapa banyak pengusaha Bali yang betul-betul
mampu berkompetisi dengan pengusaha luar. Justru di Bali
pengusaha luar lebih banyak ketimbang pengusaha lokal.
Pengusaha Bali--terutama di Ubud, kata Kadek Mako, sangat
peduli dengan daerahnya. Lalu bagaimana dengan pengusaha
luar? Apa kontribusinya terhadap keajegan Bali?
Ardana mengatakan
terjadi kemunduran kualitas terhadap pariwisata Bali.
Dalam kepariwisataan Bali yang dijual justru budaya dan
keindahan alamnya. Daya tarik pariwisata Bali justru
budaya yang unik dan khas. Tetapi sekarang alam Bali
tempat tumbuh dan berkembangnya budaya Bali sudah banyak
ditumbuhi ruko dan beton-beton bertingkat.
Sementara Made Karya
mengatakan, ke depan pembangunan kepariwisataan di Bali
sudah saatnya terkontrol. Diawasi dengan tidak mengurangi
kebebasan dalam mengembangkan pariwisata Bali. Jangan
ambisius. Jika ambisius justru akan menghancurkan Bali.
Jhon di Kuta
mengatakan, perlu ada inovasi dan kreativitas baru dalam
memulihkan pariwisata Bali. Mundurnya pariwisata Bali
akibat tragedi bom, perang Irak dan terakhir virus SARS.
Ketiga faktor ini adalah masalah dunia. Karena Bali
mengandalkan wisatawan, maka terkena juga dampaknya oleh
ketiga faktor tersebut.
Sementara Wakada
mengatakan, mundurnya pariwisata Bali karena budaya Bali
tidak dipertahankan. Ke depan, adat dan budaya Bali perlu
mendapat perhatian. Jika tidak, maka lambat laun budaya
Bali akan tinggal kenangan saja. Dan, budaya Bali hanya
bisa kita baca di buku-buku sejarah. (lun)
|