Cara Efektif
Gunakan ''Hairdryer''
ANDA
sudah mulai ikutan menikmati sinetron asal Taiwan yang makin
menjamur di stasiun-stasiun televisi lokal belakangan ini? Apa
yang bikin Anda betah menontonnya, cakepnya wajah si pemain atau
potongan rambutnya yang rasanya kepingin juga Anda tiru?
Penampilan mereka memang tak dapat dipungkiri menjadi semacam
inspirasi dalam munculnya trend rambut belakangan ini tulis
hw.com.
Bila Anda juga ingin
ikutan, tidak ada salahnya kok! Asalkan sebelum Anda mulai
menghidupkan hairdryer untuk menata rambut Anda, ikuti dulu tips
berikut, agar rambut tidak menjadi rusak karenanya.
Untuk mendapatkan rambut
yang terlihat lebih bervolume, sehabis keramas usapkan mousse
atau gel ke rambut Anda yang sudah setengah kering, kemudian
blow-dry dengan sisir bulat yang besar. Jika rambut Anda
cenderung berminyak, sebaiknya gunakan mousse atau gel. Hindari
pemakaian styling cream atau hair wax karena akan membuat rambut
makin 'lepek'.
Keramaslah 2 hari sekali,
karena kulit kepala pada rambut lurus cenderung lebih berminyak
daripada jenis rambut yang lain.
Seminggu sekali usapkanlah
air perasan jeruk nipis pada kulit kepala, untuk mengurangi
kadar minyak yang menumpuk pada akar rambut.
Rambut keriting biasanya
cenderung kusam karena lapisan kutikula yang melapisi rambut
seperti 'pecah'. Pilihlah produk styling yang mengandung silikon
agar rambut tampak lebih bercahaya, walaupun hanya untuk
sementara.
Seminggu sekali berikanlah
conditioner yang mengandung protein ke seluruh rambut Anda. Agar
lebih merata, gunakanlah sisir biasa (bukan sisir sikat) yang
bergigi jarang untuk mengaplikasikannya.
Sebelum di blow-dry,
lindungilah rambut dengan heat protectant (produk perawatan yang
melindungi rambut dari panasnya hairdryer). Terakhir, gunakan
styling cream agar tatanan rambut tampak lebih alami. Gunakanlah
selalu conditioner setelah keramas, karena pemilik rambut ikal
biasanya cenderung meluruskan rambutnya, sehingga membuat rambut
menjadi sangat kering. (*)
Hati-hati dengan
Deodoran
Akhir-akhir ini banyak kontroversi yang merebak seputar deodoran
anti-perspirant yang katanya dapat menyebabkan timbulnya kanker
payudara. Benarkah berita itu? Menanggapi isu tersebut, banyak
pendapat yang pro dan tidak sedikit pula yang kontra. Sulitnya,
belum ada studi yang benar-benar dapat membuktikan kasus ini.
Sehingga sebagai konsumen kita tetap harus 'bergelut' dengan
dilema yang satu ini. Agar kita para pamakai deodoran tidak
dihinggapi perasaan resah, simak dulu fakta-fakta berikut, yang
berasal dari pendapat pro dan kontra. Dan Anda dapat menilainya
sendiri!
Isu yang beredar
mengatakan bahwa deodoran anti-perspirant mencegah terjadinya
pembuangan racun dari dalam tubuh yang dibuang melalui keringat.
Racun tersebut kemudian menumpuk pada kelenjar getah bening dan
menyebabkan kanker. Fakta tersebut ada benarnya, karena
anti-perspirant = anti keringat, tulis hw.com. Cara kerja
deodoran anti-perspirant memang mencegah keluarnya keringat yang
berlebihan dari dalam tubuh. Namun pada kenyataannya racun yang
dikeluarkan lewat keringat tidak hanya disalurkan melalui
ketiak, melainkan juga melalui pori-pori di seluruh permukaan
kulit. Dan saat kita buang air pun tubuh juga mengeluarkan
racun-racun!
Nah, bahwa kini Anda sudah
bisa menelaah cara kerja deodoran dan cara kerja tubuh itu
sendiri, tentu Anda bisa menarik kesimpulan sendiri mengenai hal
ini. Tapi bila Anda masih juga belum merasa cukup 'aman', Anda
bisa mencoba cara yang lebih alami. Tumbuklah tawas (bisa
didapat di toko bangunan), kemudian larutkan dalam sedikit air.
Oleskan pada ketiak Anda tiap habis mandi! (*)
|