''Saat Nyepi,
Dunia tidak Tidur''
TANGGAL 2
April mendatang adalah Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka
1925. Dalam tradisi Hindu, menyambut tahun baru dilakukan dengan
perenungan diri. "Dari sana kita akan mempelajari jurnal
sampai neraca hidup kita yang lalu, apa ada plus atau minus.
Sehingga kita bisa mempersiapkan diri untuk menapak lebih
menguntungkan dari segi keimanan, pelestarian alam
semesta," begitu ungkap Ketua Dharma Adiyaksa PHDI Pusat,
Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa.
Pedanda yang akrab dengan
sebutan Pedanda Sebali Tianyar ini menyatakan bahwa kita harus
membedakan antara ritual dan filsafat dalam menjalani Hari Raya
Nyepi. Artinya, menurut dia, ilmu pengetahuan merupakan inti
filsafat yang jelas menyatakan bahwa dunia ini tidak tidur saat
nyepi. Hal itu termasuk dalam menangkap informasi. "Satu
detik saja atau satu saat saja kita terlambat untuk mendapatkan
informasi akan membahayakan kita bersama," tandas Pedanda
yang di-diksa pada 13 April 1985 ini.
Itulah
sebabnya, ungkapnya, harus dipilah, mana untuk kepentingan
ritual dan mana untuk kepentingan filsafat. Untuk itu,
semestinya diatur begitu rupa, jangan sampai mengabaikan
informasi di dalam kondisi "nyepi diri". Lintas
informasi dunia pasti terjadi. Jadi, walaupun merenung atau
berdiam diri, apa pun informasi harus diresapi baik melalui
pendengaran maupun penglihatan. "Jangan sampai salah
kaprah. Maaf, mentang-mentang nyepi, meditasi, berdiam diri
umpamanya. Kalau ada musuh datang, apakah kita tetap berdiam
diri?" ungkap Pedanda Sebali Tianyar seraya menambahkan,
bagaimana pun kita pasti melakukan reaksi yang bisa dilakukan di
waktu lain. "Lebih baik berbicara dalam pikiran daripada
berbicara asal bicara," imbuh Pedanda yang masih aktif
mengajar Bahasa Inggris di SLUB Saraswati, Amplapura, ini.
Dunia saat ini tengah
menghadapi krisis multidimensi ini, lantas bagimana sikap kita
selaku umat beragama? Menurut Peranda yang lahir di Geria Teges
Subagan, Karangasem, 3 Desember 1943 ini, kita harus mulat
sarira atau "cek dan ricek" pada diri sendiri.
"Namanya rezeki, itu tidak pernah pasang terus, ada
surutnya. Demikian pula dalam kehidupan, ada suka dan duka. Ada
ramai dan sepi. Jangan sampai dalam suasana sepi saat ini hidup
kita jadi nelangsa atau loyo. Ada kenikmatan lain yang bisa kita
nikmati di luar materi, dalam perenungan spiritual kita akan
banyak mendapatkan kekayaan yang tiada tara. Tidak ternilai
dengan uang. Misalnya, kita berada di tempat suci baik di
masjid, gereja atau pura atau alam yang suci, ada sesuatu
anugerah Tuhan yang tidak ada batasnya. Karenanya, kita ucapkan
terima kasih pada Tuhan," jelasnya.
Menurutnya lagi, hidup
bersih merupakan langkah yang harus direvitalisasi dalam
perayaan Nyepi. "Ada sesana di dua dasa dharma, salah
satunya adalah derthi atau hidup bersih. Ini jelas akan
membahagiakan diri dan lingkungan," ungkap Pedanda yang
bersahaja ini. Caranya, mulailah dari diri sendiri untuk
menjalankan hidup bersih. Berpikiran yang jernih, tidak
menyakiti orang, tidak ada keinginan untuk berpikiran yang
bukan-bukan, dan tidak ada rasa iri hati. "Zaman kali
adalah zaman provokasi, maka usahakan untuk tidak berbuat
seperti itu,'' katanya seraya mengingatkan agar orang rajin
membantu orang lain dan jagra atau waspada setiap saat serta
menjalani hidup sederhana. (mus)
|