kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Maret 2003 tarukan valas
 

POTRET


''Saat Nyepi, Dunia tidak Tidur''

TANGGAL 2 April mendatang adalah Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1925. Dalam tradisi Hindu, menyambut tahun baru dilakukan dengan perenungan diri. "Dari sana kita akan mempelajari jurnal sampai neraca hidup kita yang lalu, apa ada plus atau minus. Sehingga kita bisa mempersiapkan diri untuk menapak lebih menguntungkan dari segi keimanan, pelestarian alam semesta," begitu ungkap Ketua Dharma Adiyaksa PHDI Pusat, Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa.

Pedanda yang akrab dengan sebutan Pedanda Sebali Tianyar ini menyatakan bahwa kita harus membedakan antara ritual dan filsafat dalam menjalani Hari Raya Nyepi. Artinya, menurut dia, ilmu pengetahuan merupakan inti filsafat yang jelas menyatakan bahwa dunia ini tidak tidur saat nyepi. Hal itu termasuk dalam menangkap informasi. "Satu detik saja atau satu saat saja kita terlambat untuk mendapatkan informasi akan membahayakan kita bersama," tandas Pedanda yang di-diksa pada 13 April 1985 ini.

Itulah sebabnya, ungkapnya, harus dipilah, mana untuk kepentingan ritual dan mana untuk kepentingan filsafat. Untuk itu, semestinya diatur begitu rupa, jangan sampai mengabaikan informasi di dalam kondisi "nyepi diri". Lintas informasi dunia pasti terjadi. Jadi, walaupun merenung atau berdiam diri, apa pun informasi harus diresapi baik melalui pendengaran maupun penglihatan. "Jangan sampai salah kaprah. Maaf, mentang-mentang nyepi, meditasi, berdiam diri umpamanya. Kalau ada musuh datang, apakah kita tetap berdiam diri?" ungkap Pedanda Sebali Tianyar seraya menambahkan, bagaimana pun kita pasti melakukan reaksi yang bisa dilakukan di waktu lain. "Lebih baik berbicara dalam pikiran daripada berbicara asal bicara," imbuh Pedanda yang masih aktif mengajar Bahasa Inggris di SLUB Saraswati, Amplapura, ini.

Dunia saat ini tengah menghadapi krisis multidimensi ini, lantas bagimana sikap kita selaku umat beragama? Menurut Peranda yang lahir di Geria Teges Subagan, Karangasem, 3 Desember 1943 ini, kita harus mulat sarira atau "cek dan ricek" pada diri sendiri. "Namanya rezeki, itu tidak pernah pasang terus, ada surutnya. Demikian pula dalam kehidupan, ada suka dan duka. Ada ramai dan sepi. Jangan sampai dalam suasana sepi saat ini hidup kita jadi nelangsa atau loyo. Ada kenikmatan lain yang bisa kita nikmati di luar materi, dalam perenungan spiritual kita akan banyak mendapatkan kekayaan yang tiada tara. Tidak ternilai dengan uang. Misalnya, kita berada di tempat suci baik di masjid, gereja atau pura atau alam yang suci, ada sesuatu anugerah Tuhan yang tidak ada batasnya. Karenanya, kita ucapkan terima kasih pada Tuhan," jelasnya.

Menurutnya lagi, hidup bersih merupakan langkah yang harus direvitalisasi dalam perayaan Nyepi. "Ada sesana di dua dasa dharma, salah satunya adalah derthi atau hidup bersih. Ini jelas akan membahagiakan diri dan lingkungan," ungkap Pedanda yang bersahaja ini. Caranya, mulailah dari diri sendiri untuk menjalankan hidup bersih. Berpikiran yang jernih, tidak menyakiti orang, tidak ada keinginan untuk berpikiran yang bukan-bukan, dan tidak ada rasa iri hati. "Zaman kali adalah zaman provokasi, maka usahakan untuk tidak berbuat seperti itu,'' katanya seraya mengingatkan agar orang rajin membantu orang lain dan jagra atau waspada setiap saat serta menjalani hidup sederhana. (mus)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com