kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Maret 2003 tarukan valas
 

OPINI


Kisah Lampu Wasiat Aladin

Kemanusiaan telah terbunuh! Kini sebagian besar manusia tahu, dunia macam apa sebenarnya yang mereka huni ini? Setelah kehidupan mereka terjamin oleh atmosfir dan kekayaan alam planet biru ini, namun kelangsungan nafasnya terancam, justru oleh manusia sendiri. Peradaban yang diharapkan menjamin kelestarian mahluk hidup di bumi, ternyata lebih banyak memuat kadar kebiadaban. Sekarang, ribuan bahkan jutaan manusia terancam jiwanya akibat kemajuan sains dan teknologi yang di antaranya menghasilkan mesin-mesin perang serta alat kebiadaban, kemudian dimanfaatkan segelintir manusia yang haus kekuasaan.

RUBAG setuju pendapat mantan Wakil Menlu AS, Prof. Joseph S.Nyer, Jr, yang mengatakan bahwa kekuasaan mirip seperti cinta. Dia hanya bisa dirasakan dan dialami, namun sulit didifinisikan dan diukur. Sedangkan kekuasaan, menurut guru besar Ford Foundation untuk International Security di Harvard University tersebut, adalah kemampuan dan alat untuk mencapai suatu maksud atau tujuan.

Memang benar, kekuasaan dalam politik bersifat seperti cuaca, penuh dengan perubahan, sehingga banyak orang hanya bisa membicarakannya, namun sedikit yang memahami hal ikhwalnya. Peralihan kekuasaan, sering menimbulkan korban, karena orang-orang hanya bisa meramalkan seperti meteorolog meramal topan, namun gagal memprediksi kekuatannya. Celakanya, korban-korban politik seperti halnya korban topan kebanyakan orang yang awam mengenai meteorologi dan politik serta perebutan kekuasaan.

Tragedi akibat perang yang meletus sejak Kamis 20 Maret lalu di Irak, justru makan korban orang-orang yang tidak mengerti, mengapa pertumpahan darah tersebut terjadi di negeri mereka? Padahal yang hendak disingkirkan AS beserta sekutunya Inggris, adalah Saddam Hussein dan anak-anak serta beberapa pembantunya. Tragisnya, wanita dan anak-anak tidak berdosa yang melayang jiwanya dan yang luka mengalami cacat serta trauma seumur hidup. Ironis, di tengah-tengah kebanggaan atas kemajuan sains dan teknologi serta upaya meningkatkan kesejahteraan umat manusia, justru humanisme dibanyai atas perintah egoisme serta ambisi segelintir orang yang ingin jadi penguasa dunia.

Setiap hari mata para pemirsa televisi disuguhkan panorama berdarah. Anak-anak tidak bisa membedakan, apakah tayangan yang dilihatnya fakta atau fiksi? Sebab dalam film serial televisi pun mereka melihat kebrutalan serupa, sehingga ketika menyaksikan tank-tank Irak dihantam peluru pesawat Inggris atau AS, mereka bersikap sama. Mereka tidak tahu, bahwa dalam tayangan berita yang memuat kejadian sesungguhnya, ada orang-orang yang mati atau luka serius. Lewat kekerasan dan pembantaian berdarah inilah peradaban manusia.

Millenium III dibentuk guna mewujudkan tatanan dunia baru, seperti yang digembar-gemborkan para elite politik dunia, guna menunjang logika perang yang mereka kobarkan. Kemajuan teknologi informasi menyebarkannya ke seluruh dunia. Mereka lupa atau sengaja mengabaikan, bahwa ekses dan pengaruh Perang Irak maupun perang-perang sebelumnya di kawasan Balkan, Afrika dan Asia menorehkan catatan dendam pada generasi yang tumbuh di abad ke-21 ini. Boleh jadi, tragedi WTC New York, 11 September 2001 merupakan akibat dari sebab masa sebelumnya, yang dimotivasi dendam berbunyi, ''Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa!''

Rubag pernah optimis bahwa perdamaian dunia yang abadi akan terwujud dengan rebahnya Tembok Berlin tahun 1989 dan bubarnya Uni Soviet (US) tahun 1991 lewat Perestroika dan Glasnostnya Gorbachev. Perang Dingin yang sempat mendebarkan dada masyarakat dunia akibat saling ancamnya dua adidaya dunia AS dan US beserta masing-masing sekutunya dalam NATO dan Pakta Warsawa, telah berakhir dengan traktat nonproliferasi nuklir. Komunisme babak belur meski AS dan sekutunya tidak perlu melontarkan rudal berhulu ledak nuklir ke Moskow.

Kapitalisme liberal yang pernah dicanangkan mantan Presiden AS, Ronald Reagan dan PM Inggris Margareth Thatcher sebagai kekuatan untuk mengatasi Blok Timur, ternyata berhasil merontokkan basis-basis Stalin Leninisme di Eropa Timur sekaligus Pakta Warsawanya. Cita-cita Amerika Serikat dan sekutunya Inggris untuk menghegemoni dunia merupakan ambisi imperium yang mudah diteorikan tapi sulit dipraktikkan. Sebab, sejarah mencatat imperium seperti Pax Romana ribuan tahun silam, kemudian Pax Britanica abad ke-19 ternyata tidak berusia panjang alias gagal. Untuk menguasai negara-negara lain yang meskipun lebih kecil dan lemah ke dalam satu sistem, bukanlah perkara gampang. Lalu bagaimana Pax Americana, yang dicita-citakan AS untuk menaruh semua negara di dunia di bawah satu payung kepemimpinannya?

''Sebuah mission yang benar-benar impossible! Dunia yang sudah sangat tua dengan pandangan hidup masyarakatnya yang berbeda politik dan ideologi tidak sama, serta keyakinan agama, adat dan budaya yang sulit diseragamkan apa mungkin bisa dipaksa bernaung di bawah satu payung? Bukankah ini penyebab terjadinya benturan peradaban yang menjurus ke Perang Salib kedua?'' renung Rubag.

Hegemoni yang sesungguhnya, selain memerlukan kemampuan ekonomi yang mencukupi buat mengendalikan dan memenuhi kebutuhan negara-negara yang dikuasai, juga harus didukung kekuatan politik dan militer guna menekan setiap perlawanan. Terlebih-lebih dengan mewabahnya demam demokrasi dan bangkitnya pemahaman HAM di kalangan bangsa-bangsa bekas jajahan imperium yang merdeka seusai Perang Dunia II, maka setiap tindakan represif yang digunakan untuk membungkam perlawanan akan dianggap bertentangan dengan demokrasi dan HAM. Jangankan kekerasan yang dilakukan oleh sebuah negara asing terhadap negara dan bangsa yang lebih lemah, pelanggaran HAM dan otoriterisme yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya sendiri pun sekarang menuai protes keras. Bahkan RUU berbau militeristik dan cenderung bertentangan dengan civil society mengundang debat berkepanjangan, baik di masyarakat maupun di legislatif.

Rubag tidak habis pikir, alasan apa yang digunakan sebuah negara adidaya yang konon paling menjunjung HAM dan pionir demokrasi seperti Amerika Serikat menyerang Irak, negara kecil dan lemah akibat diembargo selama beberapa tahun? Padahal tuduhan menyembunyikan dan mengembangkan senjata kimia atau kuman tidak bisa dibuktikan, meski tim khusus PBB di bawah pimpinan Hans Blix telah melakukan penyelidikan berbuan-bulan. Bahkan setelah seminggu lebih daratan Mesopotamia dihujani ratusan rudal oleh AS dan Inggris, baik lewat udara maupun laut, tidak ada balasan hulu ledak kimia yang dibawa Scud mendarat di Kuwait atau yang menghancurkan tank-tank pasukan koalisi.

Tajuk ''Iraq under attack'' atau ''Irak Diserang'' yang dicantumkan sebuah stasiun televisi di Tanah Air setiap memberikan suasana perang di Irak, merupakan sindiran halus yang bermakna agresi. Meskipun penyerangan tersebut dibalut dengan istilah preemtive defense atau bela diri dengan menyerang. Bahkan di media cetak ada yang menganalogikan perang yang tidak seimbang tersebut sebagai ''David dikeroyok banyak Goliath''.

''Celeng Galungan, celeng Kuningan! Sekarang Irak, tinggal menunggu, mungkin giliran berikutnya negara lemah lainnya. Bisa jadi kalau tidak mampu bayar utang luar negeri yang menumpuk, negara kita pun bisa diserang. PBB tidak bisa berbuat apa seperti sekarang,'' gumam Rubag yang tenggelam dalam khayalan.

Tiba-tiba dalam fantasi Rubag muncul Aladin dan Abunawas. Karena, saat duduk di SMP, Rubag suka membaca komik ''Kisah 1001 Malam'' yang berasal dari cerita rakyat Timur Tengah. Abunawas lari terbirit dikejar seorang cowboy yang di dadanya tertulis Sheriff. Berkali-kali ditembak, namun Abunawas luput dari timah panas dan menghilang di balik badai pasir. Karena marah, si Sheriff menghampiri Aladin dan membidikkan magnum-nya. Secepatnya Aladin menggosok lampu wasiatnya dan jin besar muncul. Giliran Sheriff yang ngacir, karena si jin tetap tegar dan tidak terluka meski berkali-kali ditembak. Mungkin Saddam Hussein selamat karena memiliki lampu wasiat Aladin, meskipun istananya hancur lebur terkena puluhan rudal.
* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com