Kisah Lampu
Wasiat Aladin
Kemanusiaan telah
terbunuh! Kini sebagian besar manusia tahu, dunia macam apa
sebenarnya yang mereka huni ini? Setelah kehidupan mereka
terjamin oleh atmosfir dan kekayaan alam planet biru ini, namun
kelangsungan nafasnya terancam, justru oleh manusia sendiri.
Peradaban yang diharapkan menjamin kelestarian mahluk hidup di
bumi, ternyata lebih banyak memuat kadar kebiadaban. Sekarang,
ribuan bahkan jutaan manusia terancam jiwanya akibat kemajuan
sains dan teknologi yang di antaranya menghasilkan mesin-mesin
perang serta alat kebiadaban, kemudian dimanfaatkan segelintir
manusia yang haus kekuasaan.
RUBAG
setuju pendapat mantan Wakil Menlu AS, Prof. Joseph S.Nyer, Jr,
yang mengatakan bahwa kekuasaan mirip seperti cinta. Dia
hanya bisa dirasakan dan dialami, namun sulit didifinisikan dan
diukur. Sedangkan kekuasaan, menurut guru besar Ford Foundation
untuk International Security di Harvard University tersebut,
adalah kemampuan dan alat untuk mencapai suatu maksud atau
tujuan.
Memang benar, kekuasaan
dalam politik bersifat seperti cuaca, penuh dengan perubahan,
sehingga banyak orang hanya bisa membicarakannya, namun sedikit
yang memahami hal ikhwalnya. Peralihan kekuasaan, sering
menimbulkan korban, karena orang-orang hanya bisa meramalkan
seperti meteorolog meramal topan, namun gagal memprediksi
kekuatannya. Celakanya, korban-korban politik seperti halnya
korban topan kebanyakan orang yang awam mengenai meteorologi dan
politik serta perebutan kekuasaan.
Tragedi akibat perang yang
meletus sejak Kamis 20 Maret lalu di Irak, justru makan korban
orang-orang yang tidak mengerti, mengapa pertumpahan darah
tersebut terjadi di negeri mereka? Padahal yang hendak
disingkirkan AS beserta sekutunya Inggris, adalah Saddam Hussein
dan anak-anak serta beberapa pembantunya. Tragisnya, wanita dan
anak-anak tidak berdosa yang melayang jiwanya dan yang luka
mengalami cacat serta trauma seumur hidup. Ironis, di
tengah-tengah kebanggaan atas kemajuan sains dan teknologi serta
upaya meningkatkan kesejahteraan umat manusia, justru humanisme
dibanyai atas perintah egoisme serta ambisi segelintir orang
yang ingin jadi penguasa dunia.
Setiap hari mata para
pemirsa televisi disuguhkan panorama berdarah. Anak-anak tidak
bisa membedakan, apakah tayangan yang dilihatnya fakta atau
fiksi? Sebab dalam film serial televisi pun mereka melihat
kebrutalan serupa, sehingga ketika menyaksikan tank-tank Irak
dihantam peluru pesawat Inggris atau AS, mereka bersikap sama.
Mereka tidak tahu, bahwa dalam tayangan berita yang memuat
kejadian sesungguhnya, ada orang-orang yang mati atau luka
serius. Lewat kekerasan dan pembantaian berdarah inilah
peradaban manusia.
Millenium III dibentuk
guna mewujudkan tatanan dunia baru, seperti yang
digembar-gemborkan para elite politik dunia, guna menunjang
logika perang yang mereka kobarkan. Kemajuan teknologi informasi
menyebarkannya ke seluruh dunia. Mereka lupa atau sengaja
mengabaikan, bahwa ekses dan pengaruh Perang Irak maupun
perang-perang sebelumnya di kawasan Balkan, Afrika dan Asia
menorehkan catatan dendam pada generasi yang tumbuh di abad
ke-21 ini. Boleh jadi, tragedi WTC New York, 11 September 2001
merupakan akibat dari sebab masa sebelumnya, yang dimotivasi
dendam berbunyi, ''Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa!''
Rubag pernah optimis bahwa
perdamaian dunia yang abadi akan terwujud dengan rebahnya Tembok
Berlin tahun 1989 dan bubarnya Uni Soviet (US) tahun 1991 lewat
Perestroika dan Glasnostnya Gorbachev. Perang Dingin yang sempat
mendebarkan dada masyarakat dunia akibat saling ancamnya dua
adidaya dunia AS dan US beserta masing-masing sekutunya dalam
NATO dan Pakta Warsawa, telah berakhir dengan traktat
nonproliferasi nuklir. Komunisme babak belur meski AS dan
sekutunya tidak perlu melontarkan rudal berhulu ledak nuklir ke
Moskow.
Kapitalisme liberal yang
pernah dicanangkan mantan Presiden AS, Ronald Reagan dan PM
Inggris Margareth Thatcher sebagai kekuatan untuk mengatasi Blok
Timur, ternyata berhasil merontokkan basis-basis Stalin
Leninisme di Eropa Timur sekaligus Pakta Warsawanya. Cita-cita
Amerika Serikat dan sekutunya Inggris untuk menghegemoni dunia
merupakan ambisi imperium yang mudah diteorikan tapi sulit
dipraktikkan. Sebab, sejarah mencatat imperium seperti Pax
Romana ribuan tahun silam, kemudian Pax Britanica abad ke-19
ternyata tidak berusia panjang alias gagal. Untuk menguasai
negara-negara lain yang meskipun lebih kecil dan lemah ke dalam
satu sistem, bukanlah perkara gampang. Lalu bagaimana Pax
Americana, yang dicita-citakan AS untuk menaruh semua negara di
dunia di bawah satu payung kepemimpinannya?
''Sebuah mission yang
benar-benar impossible! Dunia yang sudah sangat tua dengan
pandangan hidup masyarakatnya yang berbeda politik dan ideologi
tidak sama, serta keyakinan agama, adat dan budaya yang sulit
diseragamkan apa mungkin bisa dipaksa bernaung di bawah satu
payung? Bukankah ini penyebab terjadinya benturan peradaban yang
menjurus ke Perang Salib kedua?'' renung Rubag.
Hegemoni yang
sesungguhnya, selain memerlukan kemampuan ekonomi yang mencukupi
buat mengendalikan dan memenuhi kebutuhan negara-negara yang
dikuasai, juga harus didukung kekuatan politik dan militer guna
menekan setiap perlawanan. Terlebih-lebih dengan mewabahnya
demam demokrasi dan bangkitnya pemahaman HAM di kalangan
bangsa-bangsa bekas jajahan imperium yang merdeka seusai Perang
Dunia II, maka setiap tindakan represif yang digunakan untuk
membungkam perlawanan akan dianggap bertentangan dengan
demokrasi dan HAM. Jangankan kekerasan yang dilakukan oleh
sebuah negara asing terhadap negara dan bangsa yang lebih lemah,
pelanggaran HAM dan otoriterisme yang dilakukan penguasa
terhadap rakyatnya sendiri pun sekarang menuai protes keras.
Bahkan RUU berbau militeristik dan cenderung bertentangan dengan
civil society mengundang debat berkepanjangan, baik di
masyarakat maupun di legislatif.
Rubag tidak habis pikir,
alasan apa yang digunakan sebuah negara adidaya yang konon
paling menjunjung HAM dan pionir demokrasi seperti Amerika
Serikat menyerang Irak, negara kecil dan lemah akibat diembargo
selama beberapa tahun? Padahal tuduhan menyembunyikan dan
mengembangkan senjata kimia atau kuman tidak bisa dibuktikan,
meski tim khusus PBB di bawah pimpinan Hans Blix telah melakukan
penyelidikan berbuan-bulan. Bahkan setelah seminggu lebih
daratan Mesopotamia dihujani ratusan rudal oleh AS dan Inggris,
baik lewat udara maupun laut, tidak ada balasan hulu ledak kimia
yang dibawa Scud mendarat di Kuwait atau yang menghancurkan
tank-tank pasukan koalisi.
Tajuk ''Iraq under
attack'' atau ''Irak Diserang'' yang dicantumkan sebuah stasiun
televisi di Tanah Air setiap memberikan suasana perang di Irak,
merupakan sindiran halus yang bermakna agresi. Meskipun
penyerangan tersebut dibalut dengan istilah preemtive defense
atau bela diri dengan menyerang. Bahkan di media cetak ada yang
menganalogikan perang yang tidak seimbang tersebut sebagai
''David dikeroyok banyak Goliath''.
''Celeng Galungan, celeng
Kuningan! Sekarang Irak, tinggal menunggu, mungkin giliran
berikutnya negara lemah lainnya. Bisa jadi kalau tidak mampu
bayar utang luar negeri yang menumpuk, negara kita pun bisa
diserang. PBB tidak bisa berbuat apa seperti sekarang,'' gumam
Rubag yang tenggelam dalam khayalan.
Tiba-tiba dalam fantasi
Rubag muncul Aladin dan Abunawas. Karena, saat duduk di SMP,
Rubag suka membaca komik ''Kisah 1001 Malam'' yang berasal dari
cerita rakyat Timur Tengah. Abunawas lari terbirit dikejar
seorang cowboy yang di dadanya tertulis Sheriff. Berkali-kali
ditembak, namun Abunawas luput dari timah panas dan menghilang
di balik badai pasir. Karena marah, si Sheriff menghampiri
Aladin dan membidikkan magnum-nya. Secepatnya Aladin menggosok
lampu wasiatnya dan jin besar muncul. Giliran Sheriff yang
ngacir, karena si jin tetap tegar dan tidak terluka meski
berkali-kali ditembak. Mungkin Saddam Hussein selamat karena
memiliki lampu wasiat Aladin, meskipun istananya hancur lebur
terkena puluhan rudal.
* Aridus
|