Renungan buat
Pemimpin Buleleng
* Drama
"Ki Barak Panji Sakti" Digelar
Lebih dari 100 seniman
Buleleng, Minggu (30/3) malam ini, bakal tumpah ruah di Gedung
Sasana Budaya, Jl. Veteran Singaraja. Para seniman ini mengusung
pergelaran drama kolosal "Ki Barak Panji Sakti" untuk
memperingati usia ke-399 Kota Singaraja. Selain dihadiri
tokoh-tokoh besar Buleleng serta masyarakat Buleleng, rencananya
drama ini juga disaksikan Bupati Bagiada dan Wakil Bupati
Wardana pasangan pemimpin Buleleng yang menjadi penggagas dari
pergelaran drama besar itu.
PERGELARAN
"Ki Barak Panji Sakti" ini naskahnya ditulis sekaligus
disutradarai Putu Satria Kusuma. Drama dengan durasi dua
setengah jam ini diharapkan bias menjadi tontonan sekaligus
renungan dan arena refeleksi, bukan hanya bagi rakyat, tetapi
yang lebih penting menjadi bahan renungan bagi pemimpin-pemimpin
Buleleng. Bahwa dengan bermodal sejarah kebesaran masa lalu, mau
dibawa ke mana Buleleng di masa depan.
Seperti dikatakan Putu
Satria Kusuma, pemanggungan kisah pendiri Kota Singaraja ini
bukan semata-mata sebuah upaya untuk merekronstruksi sejarah.
Namun sebuah pembabakan kisah yang diimajinasikan dari Babad
Buleleng gubahan sastrawan IW Simpen AB. Yang dikedepankan bukan
semata-semata peristiwa besar, tetapi nilai-nilai besar,
terutama tentang kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti serta
kebijakan lokalnya yang humanistik. Dengan kepemimpinan semacam
itu, masyarakat Denbukit (nama Buleleng saat itu) kemudian
mempertunjukkan kehidupan rukun dalam persaudaraan dan
kebersamaan. Saat itu semangat me-nyama braya mengakar subur.
Drama ini diawali dengan
permainan bayangan heroik serta koor lagu yang mengedepankan
puja-puji bagi Ki Barak Panji. Kemudian bergulir mengisahkan
perjalanan Ki Barak Panji mulai lahir hingga melakukan
perjalanan dari Gelgel, Klungkung, ke wilayah Denbukit, tempat
asal ibunya Luh Pasek. Dalam perjalanan ke utara itu, Barak
mengalami peristiwa naas, tenggorokannnya tersedak yang nyaris
merenggut nyawanya. Berkat pertolongan Dewata, Barak yang masih
kecil tertolong setelah tumbak pusaka Gelgel ditancapkan ke
tanah bukit. Tanah itu memancurkan air yang kemudian diminum
oleh Ki Barak. Tempat tertancapnya keris itu diabadikan dengan
nama Yeh Ketipat.
Peristiwa lain yang
menghiasi perjalanan Ki Barak adalah pertemuannya dengan makhluk
halus yang bernama Panji Landung. Makhluk yang digambarkan dalam
Babad Buleleng bertubuh tinggi melampui bukit hingga mencapai
awan itu, konon mengangkat Ki Barak ke bahunya. Dari bahu
makhluk itu Ki Barak leluasa melihat panorama sekelilingnya dari
timur hingga ke barat. Makhluk itu lantas meramalkan bahwa Ki
Barak akan menguasai dunia seluas pandangannya saat itu. Kelak,
ramalan itu terbukti, Ki Barak mengawali kekuasaannya di
Denbukit dengan menaklukkan beberapa penguasa lokal sehingga ia
lantas diakui sebagai Raja Denbukit.
Setelah mendirikan Puri
Sukasada, Ki Barak bersama pasukan Taruna Goak melakukan
perluasan kekuasaannya hingga ke Blambangan, Jawa Timur. Dalam
peristiwa ini, salah satu putra Ki Barak Panji yakni Gusti
Danudresta gugur. Tetapi duka itu terbayarkan dengan takluknya
Blambangan sehingga Raja Solo memberi hadiah gajah dan tiga
pawangnya. Sepulang dari Blambangan, didirikanlah sebuah puri di
sebelah utara Puri Sukasada yang kemudian diberi nama Singaraja
dan wilayah yang mengitarinya diberi nama Buleleng. Nama
Buleleng diambil karena di wilayah itu dulunya tumbuh tanaman
jagung gembal atau juga dikenal dengan nama tanaman Buleleng.
Kemudian Gajah yang dihadiahkan oleh Raja Solo serta tiga
pawangnya juga turut memberi kontribusi nama-nama desa seperti
Petak, Peguyangan, Lingga dan Banjar Jawa.
Kemudian ketika kaum
pendatang makin banyak, Ki Barak yang kemudian menjadi Raja
Buleleng dengan nama I Gusti Anglurah Panji Sakti memberi kaum
pendatang itu suatu wilayah pemukiman di bukit yang kini bernama
Desa Pegayaman.
Renungan Besar
Kisah Panji Sakti adalah bahan renungan besar yang tak bakal
habis-habisnya. Pasalnya, kata Putu Satria, dari kisah itu bias
dipelajari falsafah pemimpin, misalnya tentang kerelaan untuk
berkorban, kepahlawanan, dan yang paling penting menumbuhkan
rasa persatuan dengan menunjukkan sikap adil. Dan sejarah, kata
Satria, tak bakal pernah menipu jika direnungi dengan dalam.
Drama ini juga menunjukkan
satu sikap pesatuan antarseniman di Buleleng. Terbukti
pergelaran ini mendapat dukungan besar dari seniman berbagai
generasi dan aliran di Bali Utara, seperti Sanggar Kampung Seni
Banyuning, Sanggar Werdhi Komala, Yayasan Den Bukit, Sanggar Dwi
Mekar dan Kelompok Seniman Hadrah Kampung Bugis. Sejumlah
seniman drama modern dan tradisional yang cukup dikenal di
Buleleng pun seperti Mardika, Nengah Wijana, Ayuk Suastini, Sri
Mahayani, Budhi, Sutapa, Mang Ajik, Dek Artha, Kasmiade, Jung,
Arya, Pasek, Erma, Karsini, Hendra, Tri, Dedi, Nanda, Jedur,
hingga Mang Lem, terlibat dalam drama ini.
Penggarapan drama ini juga
dilakukan secara gotong royong. Penataan tari digarap Sri Wathi,
Dek Tegeh dan Sevi, penata lagu melibatkan seniman Jedur dan Gde
Darna. Sementara penata musik dipegang Ranten dan Suarja yang
dibantu pemusik kondang dari Denpasar, Kadek Suardana. Atistisk
ditata Nengah Widjana. (ole)
|