kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Maret 2003 tarukan valas
 

BERITA


Renungan buat Pemimpin Buleleng
* Drama "Ki Barak Panji Sakti" Digelar

Lebih dari 100 seniman Buleleng, Minggu (30/3) malam ini, bakal tumpah ruah di Gedung Sasana Budaya, Jl. Veteran Singaraja. Para seniman ini mengusung pergelaran drama kolosal "Ki Barak Panji Sakti" untuk memperingati usia ke-399 Kota Singaraja. Selain dihadiri tokoh-tokoh besar Buleleng serta masyarakat Buleleng, rencananya drama ini juga disaksikan Bupati Bagiada dan Wakil Bupati Wardana pasangan pemimpin Buleleng yang menjadi penggagas dari pergelaran drama besar itu.

PERGELARAN "Ki Barak Panji Sakti" ini naskahnya ditulis sekaligus disutradarai Putu Satria Kusuma. Drama dengan durasi dua setengah jam ini diharapkan bias menjadi tontonan sekaligus renungan dan arena refeleksi, bukan hanya bagi rakyat, tetapi yang lebih penting menjadi bahan renungan bagi pemimpin-pemimpin Buleleng. Bahwa dengan bermodal sejarah kebesaran masa lalu, mau dibawa ke mana Buleleng di masa depan.

Seperti dikatakan Putu Satria Kusuma, pemanggungan kisah pendiri Kota Singaraja ini bukan semata-mata sebuah upaya untuk merekronstruksi sejarah. Namun sebuah pembabakan kisah yang diimajinasikan dari Babad Buleleng gubahan sastrawan IW Simpen AB. Yang dikedepankan bukan semata-semata peristiwa besar, tetapi nilai-nilai besar, terutama tentang kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti serta kebijakan lokalnya yang humanistik. Dengan kepemimpinan semacam itu, masyarakat Denbukit (nama Buleleng saat itu) kemudian mempertunjukkan kehidupan rukun dalam persaudaraan dan kebersamaan. Saat itu semangat me-nyama braya mengakar subur.

Drama ini diawali dengan permainan bayangan heroik serta koor lagu yang mengedepankan puja-puji bagi Ki Barak Panji. Kemudian bergulir mengisahkan perjalanan Ki Barak Panji mulai lahir hingga melakukan perjalanan dari Gelgel, Klungkung, ke wilayah Denbukit, tempat asal ibunya Luh Pasek. Dalam perjalanan ke utara itu, Barak mengalami peristiwa naas, tenggorokannnya tersedak yang nyaris merenggut nyawanya. Berkat pertolongan Dewata, Barak yang masih kecil tertolong setelah tumbak pusaka Gelgel ditancapkan ke tanah bukit. Tanah itu memancurkan air yang kemudian diminum oleh Ki Barak. Tempat tertancapnya keris itu diabadikan dengan nama Yeh Ketipat.

Peristiwa lain yang menghiasi perjalanan Ki Barak adalah pertemuannya dengan makhluk halus yang bernama Panji Landung. Makhluk yang digambarkan dalam Babad Buleleng bertubuh tinggi melampui bukit hingga mencapai awan itu, konon mengangkat Ki Barak ke bahunya. Dari bahu makhluk itu Ki Barak leluasa melihat panorama sekelilingnya dari timur hingga ke barat. Makhluk itu lantas meramalkan bahwa Ki Barak akan menguasai dunia seluas pandangannya saat itu. Kelak, ramalan itu terbukti, Ki Barak mengawali kekuasaannya di Denbukit dengan menaklukkan beberapa penguasa lokal sehingga ia lantas diakui sebagai Raja Denbukit.

Setelah mendirikan Puri Sukasada, Ki Barak bersama pasukan Taruna Goak melakukan perluasan kekuasaannya hingga ke Blambangan, Jawa Timur. Dalam peristiwa ini, salah satu putra Ki Barak Panji yakni Gusti Danudresta gugur. Tetapi duka itu terbayarkan dengan takluknya Blambangan sehingga Raja Solo memberi hadiah gajah dan tiga pawangnya. Sepulang dari Blambangan, didirikanlah sebuah puri di sebelah utara Puri Sukasada yang kemudian diberi nama Singaraja dan wilayah yang mengitarinya diberi nama Buleleng. Nama Buleleng diambil karena di wilayah itu dulunya tumbuh tanaman jagung gembal atau juga dikenal dengan nama tanaman Buleleng. Kemudian Gajah yang dihadiahkan oleh Raja Solo serta tiga pawangnya juga turut memberi kontribusi nama-nama desa seperti Petak, Peguyangan, Lingga dan Banjar Jawa.

Kemudian ketika kaum pendatang makin banyak, Ki Barak yang kemudian menjadi Raja Buleleng dengan nama I Gusti Anglurah Panji Sakti memberi kaum pendatang itu suatu wilayah pemukiman di bukit yang kini bernama Desa Pegayaman.

Renungan Besar
Kisah Panji Sakti adalah bahan renungan besar yang tak bakal habis-habisnya. Pasalnya, kata Putu Satria, dari kisah itu bias dipelajari falsafah pemimpin, misalnya tentang kerelaan untuk berkorban, kepahlawanan, dan yang paling penting menumbuhkan rasa persatuan dengan menunjukkan sikap adil. Dan sejarah, kata Satria, tak bakal pernah menipu jika direnungi dengan dalam.

Drama ini juga menunjukkan satu sikap pesatuan antarseniman di Buleleng. Terbukti pergelaran ini mendapat dukungan besar dari seniman berbagai generasi dan aliran di Bali Utara, seperti Sanggar Kampung Seni Banyuning, Sanggar Werdhi Komala, Yayasan Den Bukit, Sanggar Dwi Mekar dan Kelompok Seniman Hadrah Kampung Bugis. Sejumlah seniman drama modern dan tradisional yang cukup dikenal di Buleleng pun seperti Mardika, Nengah Wijana, Ayuk Suastini, Sri Mahayani, Budhi, Sutapa, Mang Ajik, Dek Artha, Kasmiade, Jung, Arya, Pasek, Erma, Karsini, Hendra, Tri, Dedi, Nanda, Jedur, hingga Mang Lem, terlibat dalam drama ini.

Penggarapan drama ini juga dilakukan secara gotong royong. Penataan tari digarap Sri Wathi, Dek Tegeh dan Sevi, penata lagu melibatkan seniman Jedur dan Gde Darna. Sementara penata musik dipegang Ranten dan Suarja yang dibantu pemusik kondang dari Denpasar, Kadek Suardana. Atistisk ditata Nengah Widjana. (ole)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com