kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Maret 2003 tarukan valas
 

CERMIN


Histeris Melihat Barisan Semut

Biasakan anak untuk menanggapi ketakutannya dengan ketenangan, ajarkan lingkungan untuk menanggapinya dengan wajar, jangan disulut kemarahannya atau dijadikan bahan olok-olokan atau alat untuk mengancam.

SEBENARNYA sudah lama saya ingin bersurat pada Ibu mengenai perilaku aneh dan ketakutan yang berlebihan terhadap suatu objek yang justru orang lain menganggapnya biasa-biasa saja dan jauh dari unsur menakutkan.

Anak saya perempuan sekarang berusia 6 tahun, sejak usia 3 tahun selalu histeris kalau melihat barisan semut yang berjalan di tembok atau dimana pun. Dia akan berteriak-teriak sambil menangis serta menunjuk-nunjuk agar segera dimatikan semutnya atau disemprot dengan obat anti serangga. Kita sekeluarga bahkan adiknya sampai suka menertawakannya. Semut sering kita pakai untuk menakut-nakuti dia.

Kalau saya ingat-ingat kejadian ini sebenarnya berawal pada saat dia berusia 2,5 tahun ketika mendapati donut yang ditinggalkan di meja dikerubungi semut dan dia menyadarinya ketika sudah menggigit donut itu dan ada semut yang masuk ke mulutnya. Dia cukup histeris waktu itu, melempar donutnya dan memuntahkan donut di mulutnya bahkan sampai memuntahkan seluruh isi perutnya. Sejak itu tiap makanan yang akan dimakannya diperiksanya dengan seksama. Kalau sudah dilihat ada semutnya, ia akan menolaknya mentah-mentah.

Namun sekitar 3 bulan terakhir ini kondisinya kok makin menjadi-jadi, ketakutan dan histeris yang ditunjukkan kelihatan serius. Maka kami berusaha agar rumah bersih tanpa semut, tetapi itu tidak memungkinkan. Saya takut kondisi ketakutan ini akan berubah menjadi kecemasan yang berlebihan dan berkembang menjadi perilaku aneh. Mohon bantuan dan jawaban dari pandangan psikologi anak.

PTMK, Denpasar

''Lha wong semut saja kok ditakuti'', demikian pendapat banyak orang maupun anak-anak yang tidak memiliki pengalaman menakutkan dan menjijikkan dengan semut. Tetapi berdasarkan pengalaman masa lalunya hal ini tidak bisa kita remehkan. Perasaan takut yang bersifat tidak rasional dan berlebihan terhadap suatu objek, yang sebenarnya tidak berbahaya atau menyeramkan ini sering disebut dengan istilah Phobia. Jadi sebenarnya tidak ada sumber bahaya yang mengancam secara nyata namun perilaku yang ditunjukkan sangat 'heboh' dan berlebihan.

Phobia merupakan suatu gangguan yang bersifat psikologis yang perlu segera diatasi, terutama bila intensitasnya begitu kuat sehingga mengganggu kelancaran hidup sehari-hari. Phobia terdiri dari aspek emosi dan perilaku. Jadi penderita phobia biasanya merasakan takut yang amat sangat terhadap suatu objek kemudian menampilkan tingkah laku yang tidak terkontrol seperti menjerit histeris, lari tunggang langgang, mengunci diri dalam kamar maupun menampilkan tingkah laku lainnya dan menunjukkan ketakutan yang amat sangat. Di sini si penderita benar-benar tidak dapat dan tidak mampu menahan dan mengendalikan dirinya agar tidak melakukan tingkah laku-tingkah laku tersebut. Penderita sebenarnya sadar kalau rasa takutnya tidak beralasan, tetapi dia tidak berdaya untuk mengatasinya.

Ketakutan-ketakutan yang ditunjukkan anak yang direspon secara berlebihan atau justru kemudian sering diciptakan untuk dapat mengontrol perilaku anak, justru sering berkembang pada perilaku yang mengarah pada gejala phobia tersebut. Misalnya, orangtua yang tahu anaknya takut kalau ke kamar mandi sendiri, sering memberikan suatu ancaman kalau tidak menurut perintah orangtua akan dihukum dengan mengunci anak di kamar mandi. Atau ini yang sering tidak sadar dilakukan lingkungan, sudah tahu anak takut dengan semut, maka semut dipakai sebagai alat untuk mengancam atau menakut-nakuti agar perilakunya berubah sesuai dengan yang kita inginkan. Misalnya adiknya minta tolong diambilkan mainan tetapi kakaknya tidak mau, maka semut dipakai senjata bagi adik agar kakak mau menuruti permintaannya.

Ada lima jenis phobia yang sering ditemukan pada anak-anak yaitu: Agoraphobia (ketakutan berlebihan terhadap ruangan terbuka seperti kondisi keramaian atau tanah lapang). Claustrophobia (terhadap ruangan tertutup, biasanya kamar mandi dan kamar tidur. Acrophobia (terhadap tempat tinggi atau ketinggian seperti gedung bertingkat, naik pesawat), Mysophobia (terhadap tempat yang kotor). Dan Phobophobia (terhadap benda-benda tertentu seperti karet gelang, bulu ayam, serangga atau binatang tertentu misalnya cicak, semut atau kecoa).

Agar perilaku dan ketakutan ini tidak mengarah pada kondisi yang akan mengganggu pertumbuhannya, langkah-langkah berikut bisa mulai kita terapkan agar perilakunya tidak terkondisi menjadi gangguan phobia.

Pahami Ketakutannya
Ajarkan pada anak dan lingkungan untuk memahami bahwa ketakutan anak adalah hal yang wajar dalam proses perkembangannya. Jangan meremehkan objek ketakutannya apalagi sampai membanding-bandingkan dengan adiknya yang lebih berani misalnya. Juga jangan membesar-besarkan dengan tindakan yang akan menjurus pada kondisi overprotektif nantinya. Rumah mungkin bisa bersih tanpa barisan semut tetapi di luar rumah seperti di sekolah, di tempat bermain dan sebagainya rasanya tidak mungkin. Biasakan anak untuk menanggapi ketakutannya dengan ketenangan, ajarkan lingkungan untuk menanggapinya dengan wajar, jangan disulut kemarahannya atau dijadikan bahan olok-olokan atau alat untuk mengancam.

Mengenali Sumber Ketakutan secara Bertahap
Ajaklah anak mengenali sumber ketakutan dari sudut pandangnya bukan dari sudut pandang kita, orang dewasa. Pengalaman tidak mengenakkan di masa lalu, pengaruh pola asuh lingkungan, cara pandang orangtua maupun perkembangan imajinasi anak yang sedang optimal adalah campuran yang bisa membuat suatu ketakutan berubah bentuk menjadi gejala phobia. Mulailah dengan gambar-gambar yang lucu tentang semut, cerita-cerita tentang semut dan kelompoknya yang suka bekerja sama dan bekerja keras mengumpulkan makanan di musim kemarau serta buku-buku cerita yang berhubungan dengan segala hal yang berkaitan dengan semut. Boneka semut juga bisa dipakai untuk latihan memegang semut. Maupun gambar - gambar kartun tentang semut yang ditempel di tembok untuk membiasakan anak mengenali bentuk dan keberadaan semut dalam lingkungannya.

Dengan mengenali secara lebih dekat objek ketakutannya diharapkan anak mengembangkan pemahaman dan sudut pandangnya bahwa objek yang ditakutinya tidaklah mengancamnya atau berbahaya. Justru merupakan makhluk hidup yang lucu yang sama dengan manusia bahkan kita harus meniru prinsip kerja sama dan kerja kerasnya. Yang penting kesabaran, pemahaman dan empati kita terhadap kondisi dan perasaan yang sedang dirasakannya. Ketenangan dalam menanggapi reaksi histerisnya merupakan kunci utama, jangan lagi mengolok-olok dan memakai objek ketakutannya sebagai senjata untuk mengancamnya ketika perilakunya sedang menjengkelkan. Salam manis.


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com