Histeris
Melihat Barisan Semut
Biasakan anak untuk
menanggapi ketakutannya dengan ketenangan, ajarkan lingkungan
untuk menanggapinya dengan wajar, jangan disulut kemarahannya
atau dijadikan bahan olok-olokan atau alat untuk mengancam.
SEBENARNYA
sudah lama saya ingin bersurat pada Ibu mengenai perilaku aneh
dan ketakutan yang berlebihan terhadap suatu objek yang justru
orang lain menganggapnya biasa-biasa saja dan jauh dari unsur
menakutkan.
Anak saya perempuan
sekarang berusia 6 tahun, sejak usia 3 tahun selalu histeris
kalau melihat barisan semut yang berjalan di tembok atau dimana
pun. Dia akan berteriak-teriak sambil menangis serta
menunjuk-nunjuk agar segera dimatikan semutnya atau disemprot
dengan obat anti serangga. Kita sekeluarga bahkan adiknya sampai
suka menertawakannya. Semut sering kita pakai untuk
menakut-nakuti dia.
Kalau saya ingat-ingat
kejadian ini sebenarnya berawal pada saat dia berusia 2,5 tahun
ketika mendapati donut yang ditinggalkan di meja dikerubungi
semut dan dia menyadarinya ketika sudah menggigit donut itu dan
ada semut yang masuk ke mulutnya. Dia cukup histeris waktu itu,
melempar donutnya dan memuntahkan donut di mulutnya bahkan
sampai memuntahkan seluruh isi perutnya. Sejak itu tiap makanan
yang akan dimakannya diperiksanya dengan seksama. Kalau sudah
dilihat ada semutnya, ia akan menolaknya mentah-mentah.
Namun sekitar 3 bulan
terakhir ini kondisinya kok makin menjadi-jadi, ketakutan dan
histeris yang ditunjukkan kelihatan serius. Maka kami berusaha
agar rumah bersih tanpa semut, tetapi itu tidak memungkinkan.
Saya takut kondisi ketakutan ini akan berubah menjadi kecemasan
yang berlebihan dan berkembang menjadi perilaku aneh. Mohon
bantuan dan jawaban dari pandangan psikologi anak.
PTMK, Denpasar
''Lha wong semut saja kok
ditakuti'', demikian pendapat banyak orang maupun anak-anak yang
tidak memiliki pengalaman menakutkan dan menjijikkan dengan
semut. Tetapi berdasarkan pengalaman masa lalunya hal ini tidak
bisa kita remehkan. Perasaan takut yang bersifat tidak rasional
dan berlebihan terhadap suatu objek, yang sebenarnya tidak
berbahaya atau menyeramkan ini sering disebut dengan istilah
Phobia. Jadi sebenarnya tidak ada sumber bahaya yang mengancam
secara nyata namun perilaku yang ditunjukkan sangat 'heboh' dan
berlebihan.
Phobia merupakan suatu
gangguan yang bersifat psikologis yang perlu segera diatasi,
terutama bila intensitasnya begitu kuat sehingga mengganggu
kelancaran hidup sehari-hari. Phobia terdiri dari aspek emosi
dan perilaku. Jadi penderita phobia biasanya merasakan takut
yang amat sangat terhadap suatu objek kemudian menampilkan
tingkah laku yang tidak terkontrol seperti menjerit histeris,
lari tunggang langgang, mengunci diri dalam kamar maupun
menampilkan tingkah laku lainnya dan menunjukkan ketakutan yang
amat sangat. Di sini si penderita benar-benar tidak dapat dan
tidak mampu menahan dan mengendalikan dirinya agar tidak
melakukan tingkah laku-tingkah laku tersebut. Penderita
sebenarnya sadar kalau rasa takutnya tidak beralasan, tetapi dia
tidak berdaya untuk mengatasinya.
Ketakutan-ketakutan yang
ditunjukkan anak yang direspon secara berlebihan atau justru
kemudian sering diciptakan untuk dapat mengontrol perilaku anak,
justru sering berkembang pada perilaku yang mengarah pada gejala
phobia tersebut. Misalnya, orangtua yang tahu anaknya takut
kalau ke kamar mandi sendiri, sering memberikan suatu ancaman
kalau tidak menurut perintah orangtua akan dihukum dengan
mengunci anak di kamar mandi. Atau ini yang sering tidak sadar
dilakukan lingkungan, sudah tahu anak takut dengan semut, maka
semut dipakai sebagai alat untuk mengancam atau menakut-nakuti
agar perilakunya berubah sesuai dengan yang kita inginkan.
Misalnya adiknya minta tolong diambilkan mainan tetapi kakaknya
tidak mau, maka semut dipakai senjata bagi adik agar kakak mau
menuruti permintaannya.
Ada lima jenis phobia yang
sering ditemukan pada anak-anak yaitu: Agoraphobia (ketakutan
berlebihan terhadap ruangan terbuka seperti kondisi keramaian
atau tanah lapang). Claustrophobia (terhadap ruangan tertutup,
biasanya kamar mandi dan kamar tidur. Acrophobia (terhadap
tempat tinggi atau ketinggian seperti gedung bertingkat, naik
pesawat), Mysophobia (terhadap tempat yang kotor). Dan
Phobophobia (terhadap benda-benda tertentu seperti karet gelang,
bulu ayam, serangga atau binatang tertentu misalnya cicak, semut
atau kecoa).
Agar perilaku dan
ketakutan ini tidak mengarah pada kondisi yang akan mengganggu
pertumbuhannya, langkah-langkah berikut bisa mulai kita terapkan
agar perilakunya tidak terkondisi menjadi gangguan phobia.
Pahami
Ketakutannya
Ajarkan pada anak dan lingkungan untuk memahami bahwa ketakutan
anak adalah hal yang wajar dalam proses perkembangannya. Jangan
meremehkan objek ketakutannya apalagi sampai
membanding-bandingkan dengan adiknya yang lebih berani misalnya.
Juga jangan membesar-besarkan dengan tindakan yang akan menjurus
pada kondisi overprotektif nantinya. Rumah mungkin bisa bersih
tanpa barisan semut tetapi di luar rumah seperti di sekolah, di
tempat bermain dan sebagainya rasanya tidak mungkin. Biasakan
anak untuk menanggapi ketakutannya dengan ketenangan, ajarkan
lingkungan untuk menanggapinya dengan wajar, jangan disulut
kemarahannya atau dijadikan bahan olok-olokan atau alat untuk
mengancam.
Mengenali Sumber
Ketakutan secara Bertahap
Ajaklah anak mengenali sumber ketakutan dari sudut pandangnya
bukan dari sudut pandang kita, orang dewasa. Pengalaman tidak
mengenakkan di masa lalu, pengaruh pola asuh lingkungan, cara
pandang orangtua maupun perkembangan imajinasi anak yang sedang
optimal adalah campuran yang bisa membuat suatu ketakutan
berubah bentuk menjadi gejala phobia. Mulailah dengan
gambar-gambar yang lucu tentang semut, cerita-cerita tentang
semut dan kelompoknya yang suka bekerja sama dan bekerja keras
mengumpulkan makanan di musim kemarau serta buku-buku cerita
yang berhubungan dengan segala hal yang berkaitan dengan semut.
Boneka semut juga bisa dipakai untuk latihan memegang semut.
Maupun gambar - gambar kartun tentang semut yang ditempel di
tembok untuk membiasakan anak mengenali bentuk dan keberadaan
semut dalam lingkungannya.
Dengan mengenali secara
lebih dekat objek ketakutannya diharapkan anak mengembangkan
pemahaman dan sudut pandangnya bahwa objek yang ditakutinya
tidaklah mengancamnya atau berbahaya. Justru merupakan makhluk
hidup yang lucu yang sama dengan manusia bahkan kita harus
meniru prinsip kerja sama dan kerja kerasnya. Yang penting
kesabaran, pemahaman dan empati kita terhadap kondisi dan
perasaan yang sedang dirasakannya. Ketenangan dalam menanggapi
reaksi histerisnya merupakan kunci utama, jangan lagi
mengolok-olok dan memakai objek ketakutannya sebagai senjata
untuk mengancamnya ketika perilakunya sedang menjengkelkan.
Salam manis.
|