Melewati
Rupa, Menuju Keheningan
* Makna Dalam Arsitektur India
Beberapa waktu lalu
merebak wacana tentang usulan membangun pura di India. Publikasi
itu menimbulkan suara pro dan kontra di kalangan masyarakat Bali
khususnya. Terlepas dari pendapat yang pro dan kontra tersebut,
ada baiknya untuk mengenal sekilas tentang arsitektur India. Di
dalamnya tersirat dan tersurat hakikat pandangan manusia India
yang memberi hikmah pemaknaan pada arsitektur di India maupun
tempat lain di Asia, termasuk Indonesia.
PADA
dasarnya mungkin manusia India memiliki pandangan yang serupa
dengan manusia Bali, yakni bahwa segala apa yang dilihat dan di
alami di dunia ini, beragam bentuk, rupa dan warna benda
duniawi, adalah hanya "semu" (maya) belaka serta
bersifat sementara. Yang sejati hanyalah yang Esa atau yang
Tunggal. Dalam ke-Esa-an itulah akan ditemui adanya kedamaian
dan keheningan yang mutlak (nirvana).
Dalam perjalanan
kehidupan, manusia dibelenggu oleh ragam pernik-pernik
keduniawian. Namun manusia India memiliki kesadaran akan
keberadaan benda-benda maya tersebut. Kesadaran itu juga
meliputi akan keberadaan sang diri sebagai atman yang merupakan
percikan yang identik dengan Brahman -- sang Maha Pencipta.
Manusia India juga
menerima dan menghargai kehadiran benda-benda itu, namun
bukanlah sebagai tujuan. Oleh karenanya, cuplikan cerita-cerita
suci seperti Ramayana hingga Mahabrarata, banyak tergurat dalam
bentuk relief-relief dan ragam hias, melambangkan penyadaran
akan kefanaan dunia ini.
Penghayatan demikian
diejawantahkan ke dalam perwujudan arsitekturnya, baik yang
terdapat dalam arsitektur pagoda, kuil, mandir, maupun pada
rumah tinggal yang ada di India. Bahkan filsafat dari India yang
berhubungan dengan rancangan arsitektur itu merambah sampai ke
negara-negara Asia lainnya, seperti pengaruhnya terhadap
kuil-kuil yang ada di Thailand, Birma, atau beberapa stupa yang
ada di Tibet, dll. Termasuk sampai ke Indonesia, seperti
arsitektur candi Borobudur, Prambanan dan candi-candi lainnya.
Pun tak ketinggalan akulturasinya terhadap arsitektur Bali
(tradisional).
Arsitektur India bertitik
tolak dari prinsip-prinsip mitos dan kepercayaan yang melekat
pada diri manusianya. Di dalamnya termasuk penghayatan terhadap
imanensi dan transendensi kehidupan, dimensi keduniawian dan
kerohanian, juga perihal kodrati dan adikodrati. Pemahaman
terhadap ihwal itulah mewujudkan menjadi pelapisan makna ruang
maupun konsepsi perancangan arsitekturnya. Seperti konsep
perancangan bangunan suci di India yang disebut dengan Vasthu
Purusha Mandala Suci yang bertitik tolak dari transformasi
bentuk geometris lingkaran dan segi empat bujur sangkar.
Tiga Lapisan
Pada awal perjalanan kehidupan, manusia India menyadari, bahwa
dalam dirinya memiliki kehendak, hasrat, nafsu atau keinginan
yang masih baur, belum kongkret, sehingga disebut sebagai kama.
Nah, dalam segmen kondisi seperti inilah terjadi lapisan pertama
dari semesta atau dunia (datu) yang diwujudkan dalam tatanan
arsitekturnya, sehingga disebut dengan kamadatu atau dunia
keinginan.
Kemudian manusia melihat
dan mengalami benda-benda material dan beragam bentuk rupa yang
berada di tengah-tengah lingkungannya. Godaan dan pengaruh
duniawi -- yang bersifat maya -- ini membelenggu manusianya.
Dalam proses upaya melepaskan diri dari kungkungan yang
materialis dan penyadaran terhadap manusia akan kefanaan itu,
manusia berada pada lapisan ruang rupadatu atau dunia berbentuk.
Maka, setelah mengarungi
perjalanan ini, harapan manusianya menyentuh pada lapisan
keheningan yang telah lepas dari geliat "keramaian"
rupa yang serba maya, menuju pada "kekosongan" yang
utuh -- kekosongan yang berenergi, keheningan yang mutlak, dan
tak terjabarkan. Pada saat inilah manusia dikatakan telah
mencapai paras keheningan nirvana -- keheningan yang sejati.
Inilah yang disebut lapisan arupadatu (dunia tak berbentuk),
yang terbebas dari keporak-porandaan, kebisingan dan kegelapan
hati.
Pelapisan makna ini
umumnya terkondisikan, baik pada arsitektur Budhis maupun Hindu
di India, yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan
arsitektur peribadatan yang ada di Asia, termasuk Indonesia.
Salah satunya, seperti yang terlihat jelas pada arsitektur candi
Borobudur yang ada di Indonesia, yang memiliki jenjang ruang
kamadatu-rupadatu-arupadatu pada gubahan arsitektur candinya.
Pada puncak candi berakhir pada bentuk stupa yang meruncing,
bermakna pelepasan menuju keheningan, pada kekosongan yang
menghilang di "maha" ruang langit.
Unsur pokok lainnya,
adalah stupa bermakna sebagai poros, melambangkan perputaran.
Sebagai alur waktu yang berjalan, simbolisasi sebuah roda,
sebagai cakra atau lingkaran. Di India bentuk lingkungan
memiliki makna "kefanaan", keadaan tanpa awal dan
tanpa akhir. Di Bali, keadaaan ini diistilahkan dengan nemu
gelang -- bentuk lingkaran dipadukan dengan bentuk segi empat
bujur sangkar, sebagai mandala atau kiblat mata angin.
Lingga - Yoni
Hakikat penghayatan arsitektural Hindu di India adalah berupa
penghayatan terhadap kosmik manusia mengenai misteri perpaduan
semesta, yang dianggap sebagai prinsip mendasar sumber
kehidupan. Prinsip itu yakni pertemuan unsur alat vital lelaki
yang disimbolkan sebagai bentuk lingga dan liang rahim perempuan
berbentuk yoni.
Ungkapan arsitekturnya
dapat dilihat pada arsitektur bangsal gua di Karli, India. Pada
gua ini dibentuk semacam lubang rahim (gua-garbha). Di ujung
dalam gua didirikan bangunan berbentuk lingga melambangkan unsur
lelaki. Secara utuh melukiskan kemanunggalan lingga dan yoni.
Ekspresi fisik tersebut selain terdapat pada arsitektur
peribadatan di India, juga terdapat pada candi Sukuh di Jawa.
Bahkan penghayatan lingga-yoni ini merasuki unsur-unsur
arsitektur peribadatan pada awal mulanya di Bali.
Selain di India, bentuk
pelambangan tersebut ada dijumpai pula di Indonesia (di Jawa
Tengah) sekitar tahun 732 Masehi. Bersamaan dengan ditemukannya
prasasti di Gunung Wukir di Desa Canggal, ditemukan bekas lingga
dan sebuah yoni besar di tengah sisa-sisa candi induk dengan
tiga candi perwara-nya, yang konon didirikan oleh raja Sanjaya.
Sebuah lingga itu sebenarnya juga bermakna bahwa di tempat
tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan.
Lingga di India juga
dilambangkan sebagai Dewa Siwa, yang dipuja sejak ribuan tahun
silam sebagai Dewa tertinggi. Dalam sejumlah mitos dan legenda,
keberadaan Dewa Siwa banyak diungkap. Selain disebut sebagai
Dewa Gunung, kerapkali pula disebut sebagai Rudra atau Agni --
nama-nama yang memiliki makna magis-spiritual.
Sebagaimana arsitektur
India tradisional yang memiliki relief-relief cerita suci dan
arca-arca Dewa, hal ini ditemukan pula di Candi Siwa-Prambanan
berupa arca Siwa Mahadewa, Siwa Mahaguru, Ganesa dan Durga.
Khusus mengenai Arca Siwa Mahaguru banyak ditemui dan dipuja di
beberapa tempat di India, misalnya di Narayanawaram
(Agasteyaswaraswami) di daerah Arcot Utara, dan di ujung pantai
Barat Daya India.
Arsitektur Pagoda
Ada salah satu unit bangunan dari arsitektur pagoda yang
terdapat di halaman istana Hanuman Dhoka di Kathmandu, India.
Atap bangunan tersebut bertumpang lima, makin ke atas dimensinya
makin mengecil, menyerupai atap meru pada arsitektur pura di
Bali. Hanya bedanya, atap tumpang pada pagoda ini berbentuk
lingkaran. Adakah atap bentuk meru pada pura-pura yang ada di
Bali merupakan adaptasi dari bentuk atap pada arsitektur pagoda
di India tersebut?
Selain unsur-unsur yang
disebutkan tadi, ada pula beberapa unsur visual arsitektur yang
terkait dengan rancangan arsitekturnya. Seperti unsur simetri,
perulangan (irama), skala, sirkulasi dan sistem pencapaiannya.
Garis sumbu simetri umumnya dibuat mulai dari halaman terbuka di
depan bangunan, sampai pada bagian belakang atau puncak bangunan
yang tertinggi. Perihal ini dapat dilihat pada hampir semua
arsitektur peribadatan India. Misalnya dapat dijumpai pada
beberapa kompleks kuil Hindu di India, gua buatan Buddhis di
Karli, sampai mandir di Kota Jaipur, India.
Unsur rancangan seperti
irama dan perulangan ditunjukkan oleh adanya kolom-kolom yang
disertai beberapa ornamen yang bertujuan menghilangkan kesan
monoton. Ornamen-ornamen yang menghiasi seperti perulangan
bentuk stupa membentuk karakter bangunannya. Pengulangan kolom
pada setiap tampilan yang simetris memberi arah, mendukung kesan
monumental dan agung pada arsitektur peribadatan ini.
Warna-warna dan tekstur alam dipakai guna menciptakan suasana
yang alami dan mendukung fungsi bangunannya.
Keberadaan arsitektur
setempat biasanya akan menempatkan posisinya secara arif
mewadahi aktivitas dengan segala bentuk tatacara, sikap hidup,
adat istiadat, perilaku manusia/masyarakat setempat, serta bahan
lokal penunjang di sekelilingnya. Dengan kata lain, tumbuh dan
terbangun dari local genius setempat. Namun tetap memberikan
keleluasaan dan peluang untuk mewadahi manusia yang datang dari
luar lingkungannya. Apalagi memiliki intisari pandangan yang
sepaham terhadap eksistensi kehidupan, disertai keyakinan dan
bakti yang tulus ikhlas ke hadapan sang Maha Pencipta.
* I Nyoman Gde
Suardana
|