kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 30 Maret 2003 tarukan valas
 

ARSITEKTUR


Melewati Rupa, Menuju Keheningan
* Makna Dalam Arsitektur India

Beberapa waktu lalu merebak wacana tentang usulan membangun pura di India. Publikasi itu menimbulkan suara pro dan kontra di kalangan masyarakat Bali khususnya. Terlepas dari pendapat yang pro dan kontra tersebut, ada baiknya untuk mengenal sekilas tentang arsitektur India. Di dalamnya tersirat dan tersurat hakikat pandangan manusia India yang memberi hikmah pemaknaan pada arsitektur di India maupun tempat lain di Asia, termasuk Indonesia.

PADA dasarnya mungkin manusia India memiliki pandangan yang serupa dengan manusia Bali, yakni bahwa segala apa yang dilihat dan di alami di dunia ini, beragam bentuk, rupa dan warna benda duniawi, adalah hanya "semu" (maya) belaka serta bersifat sementara. Yang sejati hanyalah yang Esa atau yang Tunggal. Dalam ke-Esa-an itulah akan ditemui adanya kedamaian dan keheningan yang mutlak (nirvana).

Dalam perjalanan kehidupan, manusia dibelenggu oleh ragam pernik-pernik keduniawian. Namun manusia India memiliki kesadaran akan keberadaan benda-benda maya tersebut. Kesadaran itu juga meliputi akan keberadaan sang diri sebagai atman yang merupakan percikan yang identik dengan Brahman -- sang Maha Pencipta.

Manusia India juga menerima dan menghargai kehadiran benda-benda itu, namun bukanlah sebagai tujuan. Oleh karenanya, cuplikan cerita-cerita suci seperti Ramayana hingga Mahabrarata, banyak tergurat dalam bentuk relief-relief dan ragam hias, melambangkan penyadaran akan kefanaan dunia ini.

Penghayatan demikian diejawantahkan ke dalam perwujudan arsitekturnya, baik yang terdapat dalam arsitektur pagoda, kuil, mandir, maupun pada rumah tinggal yang ada di India. Bahkan filsafat dari India yang berhubungan dengan rancangan arsitektur itu merambah sampai ke negara-negara Asia lainnya, seperti pengaruhnya terhadap kuil-kuil yang ada di Thailand, Birma, atau beberapa stupa yang ada di Tibet, dll. Termasuk sampai ke Indonesia, seperti arsitektur candi Borobudur, Prambanan dan candi-candi lainnya. Pun tak ketinggalan akulturasinya terhadap arsitektur Bali (tradisional).

Arsitektur India bertitik tolak dari prinsip-prinsip mitos dan kepercayaan yang melekat pada diri manusianya. Di dalamnya termasuk penghayatan terhadap imanensi dan transendensi kehidupan, dimensi keduniawian dan kerohanian, juga perihal kodrati dan adikodrati. Pemahaman terhadap ihwal itulah mewujudkan menjadi pelapisan makna ruang maupun konsepsi perancangan arsitekturnya. Seperti konsep perancangan bangunan suci di India yang disebut dengan Vasthu Purusha Mandala Suci yang bertitik tolak dari transformasi bentuk geometris lingkaran dan segi empat bujur sangkar.

Tiga Lapisan
Pada awal perjalanan kehidupan, manusia India menyadari, bahwa dalam dirinya memiliki kehendak, hasrat, nafsu atau keinginan yang masih baur, belum kongkret, sehingga disebut sebagai kama. Nah, dalam segmen kondisi seperti inilah terjadi lapisan pertama dari semesta atau dunia (datu) yang diwujudkan dalam tatanan arsitekturnya, sehingga disebut dengan kamadatu atau dunia keinginan.

Kemudian manusia melihat dan mengalami benda-benda material dan beragam bentuk rupa yang berada di tengah-tengah lingkungannya. Godaan dan pengaruh duniawi -- yang bersifat maya -- ini membelenggu manusianya. Dalam proses upaya melepaskan diri dari kungkungan yang materialis dan penyadaran terhadap manusia akan kefanaan itu, manusia berada pada lapisan ruang rupadatu atau dunia berbentuk.

Maka, setelah mengarungi perjalanan ini, harapan manusianya menyentuh pada lapisan keheningan yang telah lepas dari geliat "keramaian" rupa yang serba maya, menuju pada "kekosongan" yang utuh -- kekosongan yang berenergi, keheningan yang mutlak, dan tak terjabarkan. Pada saat inilah manusia dikatakan telah mencapai paras keheningan nirvana -- keheningan yang sejati. Inilah yang disebut lapisan arupadatu (dunia tak berbentuk), yang terbebas dari keporak-porandaan, kebisingan dan kegelapan hati.

Pelapisan makna ini umumnya terkondisikan, baik pada arsitektur Budhis maupun Hindu di India, yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan arsitektur peribadatan yang ada di Asia, termasuk Indonesia. Salah satunya, seperti yang terlihat jelas pada arsitektur candi Borobudur yang ada di Indonesia, yang memiliki jenjang ruang kamadatu-rupadatu-arupadatu pada gubahan arsitektur candinya. Pada puncak candi berakhir pada bentuk stupa yang meruncing, bermakna pelepasan menuju keheningan, pada kekosongan yang menghilang di "maha" ruang langit.

Unsur pokok lainnya, adalah stupa bermakna sebagai poros, melambangkan perputaran. Sebagai alur waktu yang berjalan, simbolisasi sebuah roda, sebagai cakra atau lingkaran. Di India bentuk lingkungan memiliki makna "kefanaan", keadaan tanpa awal dan tanpa akhir. Di Bali, keadaaan ini diistilahkan dengan nemu gelang -- bentuk lingkaran dipadukan dengan bentuk segi empat bujur sangkar, sebagai mandala atau kiblat mata angin.

Lingga - Yoni
Hakikat penghayatan arsitektural Hindu di India adalah berupa penghayatan terhadap kosmik manusia mengenai misteri perpaduan semesta, yang dianggap sebagai prinsip mendasar sumber kehidupan. Prinsip itu yakni pertemuan unsur alat vital lelaki yang disimbolkan sebagai bentuk lingga dan liang rahim perempuan berbentuk yoni.

Ungkapan arsitekturnya dapat dilihat pada arsitektur bangsal gua di Karli, India. Pada gua ini dibentuk semacam lubang rahim (gua-garbha). Di ujung dalam gua didirikan bangunan berbentuk lingga melambangkan unsur lelaki. Secara utuh melukiskan kemanunggalan lingga dan yoni. Ekspresi fisik tersebut selain terdapat pada arsitektur peribadatan di India, juga terdapat pada candi Sukuh di Jawa. Bahkan penghayatan lingga-yoni ini merasuki unsur-unsur arsitektur peribadatan pada awal mulanya di Bali.

Selain di India, bentuk pelambangan tersebut ada dijumpai pula di Indonesia (di Jawa Tengah) sekitar tahun 732 Masehi. Bersamaan dengan ditemukannya prasasti di Gunung Wukir di Desa Canggal, ditemukan bekas lingga dan sebuah yoni besar di tengah sisa-sisa candi induk dengan tiga candi perwara-nya, yang konon didirikan oleh raja Sanjaya. Sebuah lingga itu sebenarnya juga bermakna bahwa di tempat tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan.

Lingga di India juga dilambangkan sebagai Dewa Siwa, yang dipuja sejak ribuan tahun silam sebagai Dewa tertinggi. Dalam sejumlah mitos dan legenda, keberadaan Dewa Siwa banyak diungkap. Selain disebut sebagai Dewa Gunung, kerapkali pula disebut sebagai Rudra atau Agni -- nama-nama yang memiliki makna magis-spiritual.

Sebagaimana arsitektur India tradisional yang memiliki relief-relief cerita suci dan arca-arca Dewa, hal ini ditemukan pula di Candi Siwa-Prambanan berupa arca Siwa Mahadewa, Siwa Mahaguru, Ganesa dan Durga. Khusus mengenai Arca Siwa Mahaguru banyak ditemui dan dipuja di beberapa tempat di India, misalnya di Narayanawaram (Agasteyaswaraswami) di daerah Arcot Utara, dan di ujung pantai Barat Daya India.

Arsitektur Pagoda
Ada salah satu unit bangunan dari arsitektur pagoda yang terdapat di halaman istana Hanuman Dhoka di Kathmandu, India. Atap bangunan tersebut bertumpang lima, makin ke atas dimensinya makin mengecil, menyerupai atap meru pada arsitektur pura di Bali. Hanya bedanya, atap tumpang pada pagoda ini berbentuk lingkaran. Adakah atap bentuk meru pada pura-pura yang ada di Bali merupakan adaptasi dari bentuk atap pada arsitektur pagoda di India tersebut?

Selain unsur-unsur yang disebutkan tadi, ada pula beberapa unsur visual arsitektur yang terkait dengan rancangan arsitekturnya. Seperti unsur simetri, perulangan (irama), skala, sirkulasi dan sistem pencapaiannya. Garis sumbu simetri umumnya dibuat mulai dari halaman terbuka di depan bangunan, sampai pada bagian belakang atau puncak bangunan yang tertinggi. Perihal ini dapat dilihat pada hampir semua arsitektur peribadatan India. Misalnya dapat dijumpai pada beberapa kompleks kuil Hindu di India, gua buatan Buddhis di Karli, sampai mandir di Kota Jaipur, India.

Unsur rancangan seperti irama dan perulangan ditunjukkan oleh adanya kolom-kolom yang disertai beberapa ornamen yang bertujuan menghilangkan kesan monoton. Ornamen-ornamen yang menghiasi seperti perulangan bentuk stupa membentuk karakter bangunannya. Pengulangan kolom pada setiap tampilan yang simetris memberi arah, mendukung kesan monumental dan agung pada arsitektur peribadatan ini. Warna-warna dan tekstur alam dipakai guna menciptakan suasana yang alami dan mendukung fungsi bangunannya.

Keberadaan arsitektur setempat biasanya akan menempatkan posisinya secara arif mewadahi aktivitas dengan segala bentuk tatacara, sikap hidup, adat istiadat, perilaku manusia/masyarakat setempat, serta bahan lokal penunjang di sekelilingnya. Dengan kata lain, tumbuh dan terbangun dari local genius setempat. Namun tetap memberikan keleluasaan dan peluang untuk mewadahi manusia yang datang dari luar lingkungannya. Apalagi memiliki intisari pandangan yang sepaham terhadap eksistensi kehidupan, disertai keyakinan dan bakti yang tulus ikhlas ke hadapan sang Maha Pencipta.

* I Nyoman Gde Suardana


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com