kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 16 Maret 2003 tarukan valas
 

KESEHATAN


Pil KB pada Tubuh, Apa Pengaruhnya?

Keluarga Berencana (KB) merupakan kebutuhan bagi sebagian besar masyarakat, bahkan di Indonesia program KB telah dicanangkan secara nasional oleh pemerintah. Ada beberapa badan suasta dan pemerintah yang mengelola KB ini, seperti PKBI (Perkumpulan KB Indonesia) dan BKKBN (Badan Koordinasi KB Nasional). Pil KB merupakan salah satu metode KB yang disukai oleh para wanita. Tapi, apa saja pengaruh pil itu pada tubuh?

ADA beberapa cara KB yang ditawarkan, dari cara mekanik seperti kondom, AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim-IUD), pemakaian hormon seperti pil KB, suntik KB, susuk KB, sampai operasi atau kontrasepsi mantap, seperti tubektomi dan vasektomi.

Pil KB merupakan salah satu metode KB yang disukai oleh para wanita. Ada beberapa indikasi pemakaian pil KB, yaitu mencegah kehamilan pada wanita yang tidak diperkenankan hamil atas indikasi medis dan nonmedis, pengobatan pada perdarahan disfungsional, dan regulasi siklus haid. Di beberapa negara maju seperti AS bahkan pil KB ini telah diberikan kepada remaja putri yang mulai haid, mungkin oleh karena perubahan pandangan hidup yang menghalalkan hidup bersama sebelum menikah, atau mencegah kehamilan karena perkosaan.

Selain itu, pil KB juga digunakan untuk maksud nonkontrasektif seperti proteksi terhadap anemia defisiensi besi, pencegahan terhadap hamil ektopik, atau pengobatan terhadap penyakit endometriosis. Selain dari efek yang menguntungkan itu, ternyata pil KB juga dapat merugikan pemakainya, antara lain meningkatnya penyakit metabolik, penyakit kardiovaskuler (pembuluh darah jantung), dan penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak).

Ada tiga macam sediaan pil KB yaitu pil kombinasi estrogen dan progesteron, pil tunggal estrogen, dan pil tunggal progestron (minipill).

Pil kombinasi, biasanya terdiri dari 21 pil aktif yang diberikan tiap hari berturut-turut, dan kemudian tujuh hari istirahat (biasanya tanpa pil atau diberi tambahan preparat besi), sehingga total pemakaian pil KB dalam satu siklus sebanyak 28 hari. Yang umum dipakai adalah bentuk sediaan pil kombinasi estrogen dan progresteron yang jumlahnya tetap. Minipill diberikan setiap hari terus menerus, sedangkan pil tunggal estrogen diberikan 6-8 jam setelah berhubungan seks.

Tempat kerja utama pil KB di hipofisis (bagian otak manusia) dan ovarium. Di hipofisis, estrogen akan menghambat sekresi FSH (fllicle stimulating hormone), sedangkan progesteron akan menghambat sekresi LH (lutenizing hormone). Kedua efek ini secara bersamaan atau masing-masing akan menghambat pertumbuhan folikel di ovarium, sehingga tidak terjadi ovulasi (keluar atau matangnya sel telur). Selain itu, estrogen juga mampu menghambat secara langsung pertumbuhan folikel di ovarium.

Pengaruh
Berikut beberapa pengaruh pil KB pada sistem tubuh.
* Pada metabolisme karbohidrat. Pemakaian pil KB antara lain dapat menyebabkan gangguan toleransi flukosa, dan resistensi insulin. Efek ini biasanya untuk sementara, dan hanya 3-11% pemakai yang mengalami peningkatan gula darah menetap. Pemakai pil KB yang mengalami gangguan metabolisme karbohidrat ini umumnya mempunyai keluarga yang menderita penyakit kencing manis (DM) khususnya orangtua dan saudara kandung, pernah mengalami DM waktu hamil, dan obesitas. Yang berpengaruh secara nyata terhadap metabolisme karbohidrat ini adalah progesteron, sedangkan estrogen tidak menyebabkan pengaruh secara berarti. Pengaruh progesteron terhadap metabolisme karbohidrat antara lain menurunkan jumlah dan afinitas reseptor insulin terhadap glukosa dan meningkatkan jumlah kortisol bebas, sehingga hasil akhirnya adalah meningkatnya kadar gula darah.

* Pada metabolisme lemak. Perubahan metabolisme lemak pada pemakai pil KB disebabkan oleh estrogen dan progesteron, yang masing-masing mempunyai efek berbeda. Estrogen bersifat kardioprotektif (melindungi jantung) dan anti-aterogenik (anti pembentukan lemak), sedangkan progestron bersifat anti-estrogen. Pemakaian estogen tunggal antara lain akan menurunkan aktivitas enzim liporotein lipase, meningkatkan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik), dan menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Efek progesteron justru berbanding terbalik dengan efek estrogen tersebut, dan efek ini tergantung pada potensi androgen-nya. Makin kuat potensi androgen-nya, makin besar efek buruknya pada metabolisme lemak. Usaha untuk mengurangi efek ini antara lain dengan memakai pil KB kombinasi estrogen dengan kadar progesteron yang bervariasi (pil kombinasi sekuensial).

* Pada metabolisme elektrolit. Estrogen akan meningkatkan aktivitas vitamin-D dan membantu masuknya kalsium ke dalam tulang. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian estrogen akan meningkatkan densitas tulang dan mencegah keroposnya tulang (osteoporosis) pascamenopause.

* Pada sistem pembekuan darah. Estrogen antara lain akan meningkatkan aktivitas pembekuan darah, sehingga akan memudahkan trombosis (pembekuan) di pembuluh darah, dengan akibat lanjut menyebabkan sumbatan dan gangguan pada aliran darah. Makin besar dosis estrogen yang diberikan, makin besar pula efeknya. Efek ini akan makin diperbesar dengan pengaruh anti-estrogen dan progesteron.

* Pada sistem hati dan kandung empedu. Estrogen akan menyebabkan perubahan pada hasil tes faal hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian estrogen akan meningkatkan insiden radang kandung empedu dan pembentukan batu empedu. Efek ini diduga diakibatkan oleh lambatnya pengosongan kandung empedu, meningkatnya kadar kolesterol, dan menurunnya kadar asam empedu di dalam cairan empedu. Pemakaian obat-obatan yang melewati siklus hati, seperti antibiotik dan antikejang, akan menurunkan efektivitas pil KB.

* Pada sistem kardiovaskuler dan serebrovaskuler. Penelitian menunjukkan bahwa pemakaian pil KB meningkatkan kejadian tromboemboli dan gangguan pembuluh darah otak. Tromboemboli terjadi akibat perubahan sistem pembekuan darah akibat estrogen, disamping efek aterosklerosis oleh pengaruh progesteron. Risiko akan meningkat pada perokok dan berkurang bila dosis estrogen dikurangi. Risiko tromboemboli ini tidak dipengaruhi oleh lamanya pemakaian pil KB. Tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat terjadi pada 5% pemakai pil KB. Hal ini dipengaruhi usia, jenis kelamin, suku dan riwayat keluarga. Tekanan darah akan meningkat secara bertahap dan bersifat tak menetap. Jika hipertensi menetap setelah pil KB dihentikan, berarti telah terjadi perubahan permanen pada pembuluh darah akibat aterosklerosis.

Penggunaan pil KB akan meningkatkan angka kejadian penyakit jantung koroner. Risiko ini dihubungkan dengan lama pemakaian pil KB, dan adanya risiko penyakit jantung koroner yang lain seperti usia lanjut, merokok, kegemukan dan hipertensi. Penggunaan sediaan dengan estrogen dan progesteron dosis rendah akan mengurangi risiko tersebut tetapi tidak menghilangkannya. Kejadian gangguan pada peredaran darah otak pada pengguna pil KB lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak memakai. Gangguan ini terutama pada pemakai pil KB kombinasi yang berusia di atas 35 tahun perokok, dengan kadar lemak darah tinggi, dan menderita hipertensi.

Oleh karena pengaruhnya pada metabolisme tubuh, maka beberapa hal perlu diperhatikan antara lain pemakai pil KB sebaiknya tidak menderita kelainan hati. Pemilihan jenis pil KB, misalnya pada wanita DM dan perokok yang tidak memungkinkan memakai alat KB lain selain dari pil KB, sebaiknya diberi pil KB dengan estrogen dan progesteron serendah mungkin. Pemakaian pil KB sebaiknya atas anjuran dokter atau bidan yang berwenang, karenanya perlu dilakukan pemeriksaan pendahuluan sebelum memakai pil KB, meliputi evaluasi klinis, mencari faktor risiko, dan pemeriksaan laboratorium.

dr. Harbanu H. Mariyono,
Kediri - Tabanan

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com