|
Pariwisata
Bali Kembali Teruji
Mencermati
berita tentang wisatawan asal Taiwan yang terserang
disentri setelah berlibur di Bali, memang sungguh
memprihatinkan. Ingin bersenang-senang, kok pulangnya
terkena penyakit.
Bagi
Bali kejadian serupa sudah pernah kita alami. Mungkin kita
masih ingat paristiwa Bali Bally (1992) dari wisatawan
Australia, isu kolera (1995) dari wisatawan Jepang dan
kini isu disentri dari wisatawan Taiwan. Ada sesuatu yang
menarik dari rentetan peristiwa tersebut, di mana terjadi
kasus pada saat Bali sedang kebanjiran wisatawan yang
berasal dari negara bersangkutan. Mengapa dan bagaimana
ini terjadi?
Memang
disadari atau tidak, dan sudah menjadi konsekuensi logis
dalam pengembangan kepariwisataan sangat rentan terhadap
berbagai isu. Baik isu politik, keamanan maupun isu sosial
kemasyarakatan, termasuk di dalamnya kasus penyakit.
Adanya kasus Bali Bally menyebabkan penurunan jumlah
wisatawan asal Australia ke Bali mencapai 10-20% dan isu
kolera bagi wisatawan Jepang menyebabkan penurunan
mencapai 20-45%.
Menurut
hemat saya, terlepas dari benar tidaknya kasus disentri
ini, bagi pelaku pariwisata khususnya rumah makan dan
restoran, hendaknya kejadian ini dijadikan momentum untuk
berbenah dan melakukan introspeksi, seberapa jauh kita
telah menyiapkan makanan yang aman bagi wisatawan.
Kuncinya terletak pada seberapa besar aspek sanitasi dan
hygiene makanan sudah kita terapkan. Perlu disadari bahwa
kontaminasi (cemaran makanan) dapat terjadi selama proses
pengolahan makanan. Makin panjang rantai proses pengolahan
makanan kemungkinan derajat kontaminasi akan bertambah
besar. Oleh karena itu tempat, cara, tenaga, bahan serta
peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan makanan
harus memenuhi standar sesuai Permenkes 304 tahun 1989.
Permenkes ini sudah jelas-jelas mengatur hal tersebut.
Untuk menjamin kualitas makanan yang tersaji perlu
dilakukan uji laboratorium dari sampel makanan maupun
kesehatan tenaga pengolah (food handler). Bila komitmen
ini dapat terlaksana dengan baik dan berkesinambungan,
niscaya kasus-kasus seperti di atas tidak akan terulang
lagi.
Terkait
dengan permasalahan di atas saya yakin Pemprop Bali
beserta otoritas pariwisatanya sudah memiliki jurus-jurus
jitu untuk menanggulanginya. Harapan saya sebagai warga
masyarakat Bali, walaupun pengembangan pariwisata sedang
dilanda berbagai krisis dan di tengah kegamangan Pemda
antara pariwisata dan pertanian, semoga Bali tetap sebagai
obyek wisata impian, baik wisman (wisatawan mancanegara)
maupun wisdom (wisatawan domestik).
I Wayan
Sudiadnyana
Jl. Sriwijaya No. 8 Tabanan
Kel. Dajan Peken, Tabanan
|