kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Surat Pembaca


Pariwisata Bali Kembali Teruji

Mencermati berita tentang wisatawan asal Taiwan yang terserang disentri setelah berlibur di Bali, memang sungguh memprihatinkan. Ingin bersenang-senang, kok pulangnya terkena penyakit.

Bagi Bali kejadian serupa sudah pernah kita alami. Mungkin kita masih ingat paristiwa Bali Bally (1992) dari wisatawan Australia, isu kolera (1995) dari wisatawan Jepang dan kini isu disentri dari wisatawan Taiwan. Ada sesuatu yang menarik dari rentetan peristiwa tersebut, di mana terjadi kasus pada saat Bali sedang kebanjiran wisatawan yang berasal dari negara bersangkutan. Mengapa dan bagaimana ini terjadi?

Memang disadari atau tidak, dan sudah menjadi konsekuensi logis dalam pengembangan kepariwisataan sangat rentan terhadap berbagai isu. Baik isu politik, keamanan maupun isu sosial kemasyarakatan, termasuk di dalamnya kasus penyakit. Adanya kasus Bali Bally menyebabkan penurunan jumlah wisatawan asal Australia ke Bali mencapai 10-20% dan isu kolera bagi wisatawan Jepang menyebabkan penurunan mencapai 20-45%.

Menurut hemat saya, terlepas dari benar tidaknya kasus disentri ini, bagi pelaku pariwisata khususnya rumah makan dan restoran, hendaknya kejadian ini dijadikan momentum untuk berbenah dan melakukan introspeksi, seberapa jauh kita telah menyiapkan makanan yang aman bagi wisatawan. Kuncinya terletak pada seberapa besar aspek sanitasi dan hygiene makanan sudah kita terapkan. Perlu disadari bahwa kontaminasi (cemaran makanan) dapat terjadi selama proses pengolahan makanan. Makin panjang rantai proses pengolahan makanan kemungkinan derajat kontaminasi akan bertambah besar. Oleh karena itu tempat, cara, tenaga, bahan serta peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan makanan harus memenuhi standar sesuai Permenkes 304 tahun 1989. Permenkes ini sudah jelas-jelas mengatur hal tersebut. Untuk menjamin kualitas makanan yang tersaji perlu dilakukan uji laboratorium dari sampel makanan maupun kesehatan tenaga pengolah (food handler). Bila komitmen ini dapat terlaksana dengan baik dan berkesinambungan, niscaya kasus-kasus seperti di atas tidak akan terulang lagi.

Terkait dengan permasalahan di atas saya yakin Pemprop Bali beserta otoritas pariwisatanya sudah memiliki jurus-jurus jitu untuk menanggulanginya. Harapan saya sebagai warga masyarakat Bali, walaupun pengembangan pariwisata sedang dilanda berbagai krisis dan di tengah kegamangan Pemda antara pariwisata dan pertanian, semoga Bali tetap sebagai obyek wisata impian, baik wisman (wisatawan mancanegara) maupun wisdom (wisatawan domestik).

I Wayan Sudiadnyana
Jl. Sriwijaya No. 8 Tabanan
Kel. Dajan Peken, Tabanan

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)