|
Solidaritas
Asia-Pasifik
BERBAGAI
krisis yang tidak henti menimpa kepariwisataan di Asia-Pasifik,
hendaknya dijadikan momentum untuk mempereat solidaritas
negara-negara di kawasan ini. Dengan demikian, kemungkinan
menemukan jalan keluar bagi pemulihan krisis menjadi lebih
lapang dan dampaknya pun akan dirasakan bersama. Demikian
harapan Meneg Budpar Gde Ardika yang disampaikannya
melalui Deputi Peningkatan Kapasitas Kerja Sama Luar
Negeri Budpar Thamrin B. Backri terkait pertemuan ke-23
APEC Tourism Working Group di Bali Continental Resort,
Jimbaran, akhir pekan lalu.
Salah
satu pemicu krisis adalah isu terorisme yang saat ini
menjadi ancaman nyata keamanan global, termasuk di kawasan
Asia-Pasifik. Sebagaimana yang terjadi setelah bom Bali,
tingkat kunjungan wisatawan langsung melorot dan
membutuhkan cukup waktu untuk memulihkannya kembali.
Karena itu, Ardika berharap pelaksanaan APEC Tourism
Working Group Meeting di Bali bergerak dalam perspektif
pemulihan dimaksud.
"Citra
pariwisata Indonesia, khususnya Bali, itu sangat penting
artinya bagi masyarakat di kawasan Asia Pasifik, dengan
harapan nantinya mereka dapat berlibur ke Bali," kata
Meneg Budpar Ardika.
Ada
keinginan dari sejumlah menteri pariwisata negara-negara
APEC yang telah mengadakan pertemuan di Bangkok pada
Oktober 2003. Mereka ingin memperjuangkan barrier
perjalanan turis yang akan mengadakan penjalanan
intranegara anggota APEC. Dalam pertemuan di Bali kali ini,
Indonesia menyampaikan laporan dari APEC TOSS Project
Stage II. Proyek APEC Tourism Occupational Skill Standard
itu atas inisiatif Indonesia, sedangkan biayanya berasal
dari kocek APEC Central Fund. Maksud proyek itu, untuk
menyusun suatu Standar Kompetensi SDM Pariwisata Bersama (Cammon
Competency Standard SDM) yang belaku di kawasan Asia-Pasifik,
khususnya meng-cover 21 negara anggota. Kata Ardika,
mengingat Indonesia selaku penggagas dan pengawas proyek
ini, maka dasar yang dipakai untuk menyusun standar
kompetensi pariwisata ini adalah Standar Kompetensi
Nasional Indonesia (SKNI). Standar kompetensi bersama ini
akan memberi jalan bagi SDM pariwisata Indonesia untuk
bekerja di luar negeri, khususnya anggota Asia-Pacific
Economic Coorperation (APEC).
Dari 21
negara anggota APEC, hanya utusan dari 15 negara termasuk
Indonesia yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung
29-30 November 2003 itu. Empat belas negara itu
masing-masing utusan dari Australia, Kanada, Fiji,
Hongkong, Jepang, Korea, Malaysia, Meksiko, Papua New
Guinea, Filipina, Singapura dan Taiwan. Pertemuan itu
diharapkan mampu melahirkan berbagai terobosan dalam
menghadapi berbagai permasalahan ekonomi, sosial dan
budaya di kawasan Asia-Pasifik. (gre)
|