kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Pariwisata


Solidaritas Asia-Pasifik

BERBAGAI krisis yang tidak henti menimpa kepariwisataan di Asia-Pasifik, hendaknya dijadikan momentum untuk mempereat solidaritas negara-negara di kawasan ini. Dengan demikian, kemungkinan menemukan jalan keluar bagi pemulihan krisis menjadi lebih lapang dan dampaknya pun akan dirasakan bersama. Demikian harapan Meneg Budpar Gde Ardika yang disampaikannya melalui Deputi Peningkatan Kapasitas Kerja Sama Luar Negeri Budpar Thamrin B. Backri terkait pertemuan ke-23 APEC Tourism Working Group di Bali Continental Resort, Jimbaran, akhir pekan lalu.

Salah satu pemicu krisis adalah isu terorisme yang saat ini menjadi ancaman nyata keamanan global, termasuk di kawasan Asia-Pasifik. Sebagaimana yang terjadi setelah bom Bali, tingkat kunjungan wisatawan langsung melorot dan membutuhkan cukup waktu untuk memulihkannya kembali. Karena itu, Ardika berharap pelaksanaan APEC Tourism Working Group Meeting di Bali bergerak dalam perspektif pemulihan dimaksud.

"Citra pariwisata Indonesia, khususnya Bali, itu sangat penting artinya bagi masyarakat di kawasan Asia Pasifik, dengan harapan nantinya mereka dapat berlibur ke Bali," kata Meneg Budpar Ardika.

Ada keinginan dari sejumlah menteri pariwisata negara-negara APEC yang telah mengadakan pertemuan di Bangkok pada Oktober 2003. Mereka ingin memperjuangkan barrier perjalanan turis yang akan mengadakan penjalanan intranegara anggota APEC. Dalam pertemuan di Bali kali ini, Indonesia menyampaikan laporan dari APEC TOSS Project Stage II. Proyek APEC Tourism Occupational Skill Standard itu atas inisiatif Indonesia, sedangkan biayanya berasal dari kocek APEC Central Fund. Maksud proyek itu, untuk menyusun suatu Standar Kompetensi SDM Pariwisata Bersama (Cammon Competency Standard SDM) yang belaku di kawasan Asia-Pasifik, khususnya meng-cover 21 negara anggota. Kata Ardika, mengingat Indonesia selaku penggagas dan pengawas proyek ini, maka dasar yang dipakai untuk menyusun standar kompetensi pariwisata ini adalah Standar Kompetensi Nasional Indonesia (SKNI). Standar kompetensi bersama ini akan memberi jalan bagi SDM pariwisata Indonesia untuk bekerja di luar negeri, khususnya anggota Asia-Pacific Economic Coorperation (APEC).

Dari 21 negara anggota APEC, hanya utusan dari 15 negara termasuk Indonesia yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung 29-30 November 2003 itu. Empat belas negara itu masing-masing utusan dari Australia, Kanada, Fiji, Hongkong, Jepang, Korea, Malaysia, Meksiko, Papua New Guinea, Filipina, Singapura dan Taiwan. Pertemuan itu diharapkan mampu melahirkan berbagai terobosan dalam menghadapi berbagai permasalahan ekonomi, sosial dan budaya di kawasan Asia-Pasifik. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)