kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Pariwisata


Di Balik Kasus Disentri...

Potensi, Peluang, dan Tantangan Pasar Taiwan

Pariwisata Bali tak putus dirundung malang. Yang terbaru, wisatawan Taiwan terserang disentri sekembali dari Bali. Berita heboh ini di-blow-up sedemikian rupa di negeri kuning itu, sehingga banyak grup membatalkan kunjungannya ke Pulau Dewata. Sejak berita ini merebak, arus kunjungan wisatawan Taiwan ke Bali mengalami sedikit penurunan. Dampaknya mulai terasa oleh mata rantai tata niaga Taiwan.

Penerbangan yang sebelumnya 23 kali seminggu (17 kali ke Taipei dan 6 kali ke Kaosiung), kini berkurang hampir separonya. Lebih dari 12 travel agent (dari 34 yang tercatat) menjerit, ratusan guide gigit jari dan 19 restoran dan puluhan jasa spa kosong-melompong. Nasib pemilik dokar, penjual suvenir, pemelintir rambut dan pementasan barong setali tiga uang. Apa yang harus dilakukan?

Kecemasan ini mungkin belum tampak ke permukaan karena sebagian besar dari kita belum banyak tahu tentang hal ihwal pasar Taiwan. Profil, peluang berikut tantangannya. Namun, kalau sempat melongok lebih jauh, bayangan kecemasan di wajah mereka jelas tergambar. Bali Post sempat merekam wajah kuyu di sejumlah lokasi wisata. Tidak hanya yang besar-besar, tetapi juga para pedagang kecil.

Ternyata, tidak sedikit orang yang menggantungkan hidupnya pada arus kunjungan wisatawan Taiwan, sebagaimana wisatawan dari negeri lainnya. Dalam lima tahun terakhir, tiap tahun sekitar 254 ribu wisatawan Taiwan berkunjung ke Bali. Tahun ini -- sebelum merebaknya kasus disentri -- mengalami peningkatan. Terbukti, beberapa kali posisi Taiwan di urutan pertama dalam lima besar kedatangan wisatawan per negara, menyisihkan Jepang dan Australia.

Unik

Pengelolaan wisatawan Taiwan agak unik. Di negarnya oleh hole seller (agen besar), para wisatawan yang mau berwisata ke negara mana pun diwajibkan memberi tips (persenan). Padahal, kalau pada wisatawan dari negara lain, uang tips bersifat sukarela. Tiping inilah yang agak unik sekaligus menimbulkan keruwetan tersendiri dalam penanganan pasar Taiwan. Jumlah yang ditetapkan cukup bervariasi. Sekadar contoh, tips untuk guide ditetapkan 100 dolar NT per wisatawan per hari. Belum lagi untuk sopir bus pengantar saat tur, petugas kebersihan kamar hotel, semuanya kebagian tips. "Semua itu seperti sudah wajib, padahal sejatinya tips itu sukarela," ujar Franky dari Penjors Tours.

Kucuran uang tips ini tak bisa dianggap enteng, karena jumlah wisatawan ribuan per hari. Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya duit yang keluar dari kocek mereka. Dengan demikian, anggapan bahwa spending power (pengeluaran) wisatawan Taiwan rendah, tidak sepenuhnya benar. Mereka memang tidak banyak mengeluarkan uang di hotel, karena mereka sudah membayar satu paket untuk hunian, makan pagi atau makan malam. Mereka lebih banyak berbelanja di luar, misalnya membeli suvernir yang dijajakan pedagang kecil di objek wisata.

Ciri negatifnya memang bukan tidak ada, sebagaimana stereotip wisatawan dari negara lain yang mempunyai kekhasan. Atau kalau bukan kekhasan, kita anggap kelemahan. Padahal, ciri semacam itu mungkin terbangun dari latar sosial budaya yang memang berbeda antara daerah satu dengan daerah lain, antara negara satu dengan dengan lain. Sebagai sebuah destinasi, Bali mestinya bisa menyesuaikan diri dengan kekhasan semacam itu.

Oleh karena wisatawan Taiwan kebanyakan datang selalu bergrup, ada juga kelemahannya. Ketika mereka memasuki sebuah restoran, biasanya ramai seperti halnya orang kita. Demikian pula selera mereka, untuk wisatawan kelas low mereka juga ingin menikmati makanan khas lokal yang dalam bahasa kita di sini, ''di pinggir jalan''. Sebutlah, misalnya, bakso atau makanan di warung kecil. Inilah yang kemudian membuat wisatawan Taiwan cukup potensial kena penyakit, maklum makanan yang disajikan di sana tidak dijamin higienitasnya. Namun, tidak semua wisatawan Taiwan seperti itu. Hasil penelusuran Bali Post di sejumlah objek wisata, wisatawan Taiwan juga tampak royal membelanjakan duitnya. Di Tanah Lot dan Kintamani, misalnya, wisatawan Taiwan banyak berkunjung ke sana. Tidak hanya melihat objek yang menakjubkan, mereka juga membeli suvenir yang dijajakan pedagang kecil setempat. Dalam tiap paket tur, selalu dicantumkan kedua tempat itu. Menonton barong juga kegemaran mereka, walau apresiasinya tidak terlalu besar. "Sekadar tahu saja," ujar Lou Jin, seorang wisatawan.

Para pelancong dari negeri kuning itu juga paling banyak menggunakan jasa dokar. Bagi mereka naik dokar merupakan hiburan tersendiri, karena negeri itu dikenal serba mekanis, seperti mobil, sepeda motor dan kendaraan bermesin lainnya. Naik dokar yang dihela kuda di mata mereka, mengasyikkan. "Singkatnya, mereka ingin menikmati sebanyak mungkin keunikan yang ada di Bali," ujar Operator Manajer Tjendana Mandra Sakti (TMS), Kadek Wirtawan.

Di kalangan perhotelan, Taiwan pernah dijadikan wisatawan kelas dua. Namun, seiring dengan keterpurukan pariwisata, sejumlah hotel berbintang yang sebelumnya "tidak menerima" wisatawan Taiwan, kini ikut menampung mereka. Persoalan inilah yang menjadi salah satu mata rantai kekisruhan pada pasar Taiwan, termasuk jual-beli kepala (JBK). Sampai-sampai ada yang mau banting harga. Mestinya, kalau memang mau fair, harga kamarnya tidak boleh diobral. Ada semacam streotip bahwa wisatawan dari Taiwan kurang elitis, sehingga pelayanan kepada mereka juga tidak maksimal. "Ke depan stereotip semacam ini harus dihilangkan. Sebaliknya kita harus mengubah cara padang terhadap mereka yang serba minor. Untuk menciptakan ini, perlu ada kejujuran dari setiap pelaku yang terjun di pasar Taiwan," imbau Kadek Wirtawan.

Untuk mengatasi kekalutan saat ini, tampaknya tidak bisa lain, pemerintah dan industri pariwisata Bali (khususnya yang menangani pasar Taiwan) segera melakukan konsolidasi. Antara lain melakukan raod show ke Taiwan. Di sana kita harus menunjukkan keseriusan bahwa tidak ada disentri di Bali. Pihak Taiwan juga harus diyakinkan bahwa pemerintah telah melakukan pengawasan terhadap restoran-restoran yang menjadi tempat mangkalnya turis dari negeri mereka.

Restoran-restoran yang direkomendasikan tersebut terjamin kebersihan dan sanitasinya, sehingga makanannya layak dikonsumsi. Perlu juga ditegaskan, bahwa jika mengkonsumsi di luar itu tidak menjadi tanggung jawab kita. Keseriusan ini pasti direspons positif oleh Taiwan, yang penting ada apresiasi dari kita bahwa mereka sama pentingnya dengan wisatawan Eropa, Jepang dan negeri lainnya. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)