Di Balik Kasus Disentri...
Potensi, Peluang,
dan Tantangan Pasar Taiwan
Pariwisata Bali tak
putus dirundung malang. Yang terbaru, wisatawan Taiwan
terserang disentri sekembali dari Bali. Berita heboh ini
di-blow-up sedemikian rupa di negeri kuning itu, sehingga
banyak grup membatalkan kunjungannya ke Pulau Dewata.
Sejak berita ini merebak, arus kunjungan wisatawan Taiwan
ke Bali mengalami sedikit penurunan. Dampaknya mulai
terasa oleh mata rantai tata niaga Taiwan.
Penerbangan yang
sebelumnya 23 kali seminggu (17 kali ke Taipei dan 6 kali
ke Kaosiung), kini berkurang hampir separonya. Lebih dari
12 travel agent (dari 34 yang tercatat) menjerit, ratusan
guide gigit jari dan 19 restoran dan puluhan jasa spa
kosong-melompong. Nasib pemilik dokar, penjual suvenir,
pemelintir rambut dan pementasan barong setali tiga uang.
Apa yang harus dilakukan?
Kecemasan ini
mungkin belum tampak ke permukaan karena sebagian besar
dari kita belum banyak tahu tentang hal ihwal pasar
Taiwan. Profil, peluang berikut tantangannya. Namun, kalau
sempat melongok lebih jauh, bayangan kecemasan di wajah
mereka jelas tergambar. Bali Post sempat merekam wajah
kuyu di sejumlah lokasi wisata. Tidak hanya yang
besar-besar, tetapi juga para pedagang kecil.
Ternyata, tidak
sedikit orang yang menggantungkan hidupnya pada arus
kunjungan wisatawan Taiwan, sebagaimana wisatawan dari
negeri lainnya. Dalam lima tahun terakhir, tiap tahun
sekitar 254 ribu wisatawan Taiwan berkunjung ke Bali.
Tahun ini -- sebelum merebaknya kasus disentri --
mengalami peningkatan. Terbukti, beberapa kali posisi
Taiwan di urutan pertama dalam lima besar kedatangan
wisatawan per negara, menyisihkan Jepang dan Australia.
Unik
Pengelolaan
wisatawan Taiwan agak unik. Di negarnya oleh hole seller (agen
besar), para wisatawan yang mau berwisata ke negara mana
pun diwajibkan memberi tips (persenan). Padahal, kalau
pada wisatawan dari negara lain, uang tips bersifat
sukarela. Tiping inilah yang agak unik sekaligus
menimbulkan keruwetan tersendiri dalam penanganan pasar
Taiwan. Jumlah yang ditetapkan cukup bervariasi. Sekadar
contoh, tips untuk guide ditetapkan 100 dolar NT per
wisatawan per hari. Belum lagi untuk sopir bus pengantar
saat tur, petugas kebersihan kamar hotel, semuanya
kebagian tips. "Semua itu seperti sudah wajib,
padahal sejatinya tips itu sukarela," ujar Franky
dari Penjors Tours.
Kucuran uang tips
ini tak bisa dianggap enteng, karena jumlah wisatawan
ribuan per hari. Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya duit
yang keluar dari kocek mereka. Dengan demikian, anggapan
bahwa spending power (pengeluaran) wisatawan Taiwan rendah,
tidak sepenuhnya benar. Mereka memang tidak banyak
mengeluarkan uang di hotel, karena mereka sudah membayar
satu paket untuk hunian, makan pagi atau makan malam.
Mereka lebih banyak berbelanja di luar, misalnya membeli
suvernir yang dijajakan pedagang kecil di objek wisata.
Ciri negatifnya
memang bukan tidak ada, sebagaimana stereotip wisatawan
dari negara lain yang mempunyai kekhasan. Atau kalau bukan
kekhasan, kita anggap kelemahan. Padahal, ciri semacam itu
mungkin terbangun dari latar sosial budaya yang memang
berbeda antara daerah satu dengan daerah lain, antara
negara satu dengan dengan lain. Sebagai sebuah destinasi,
Bali mestinya bisa menyesuaikan diri dengan kekhasan
semacam itu.
Oleh karena
wisatawan Taiwan kebanyakan datang selalu bergrup, ada
juga kelemahannya. Ketika mereka memasuki sebuah restoran,
biasanya ramai seperti halnya orang kita. Demikian pula
selera mereka, untuk wisatawan kelas low mereka juga ingin
menikmati makanan khas lokal yang dalam bahasa kita di
sini, ''di pinggir jalan''. Sebutlah, misalnya, bakso atau
makanan di warung kecil. Inilah yang kemudian membuat
wisatawan Taiwan cukup potensial kena penyakit, maklum
makanan yang disajikan di sana tidak dijamin higienitasnya.
Namun, tidak semua wisatawan Taiwan seperti itu. Hasil
penelusuran Bali Post di sejumlah objek wisata, wisatawan
Taiwan juga tampak royal membelanjakan duitnya. Di Tanah
Lot dan Kintamani, misalnya, wisatawan Taiwan banyak
berkunjung ke sana. Tidak hanya melihat objek yang
menakjubkan, mereka juga membeli suvenir yang dijajakan
pedagang kecil setempat. Dalam tiap paket tur, selalu
dicantumkan kedua tempat itu. Menonton barong juga
kegemaran mereka, walau apresiasinya tidak terlalu besar.
"Sekadar tahu saja," ujar Lou Jin, seorang
wisatawan.
Para pelancong dari
negeri kuning itu juga paling banyak menggunakan jasa
dokar. Bagi mereka naik dokar merupakan hiburan tersendiri,
karena negeri itu dikenal serba mekanis, seperti mobil,
sepeda motor dan kendaraan bermesin lainnya. Naik dokar
yang dihela kuda di mata mereka, mengasyikkan. "Singkatnya,
mereka ingin menikmati sebanyak mungkin keunikan yang ada
di Bali," ujar Operator Manajer Tjendana Mandra Sakti
(TMS), Kadek Wirtawan.
Di kalangan
perhotelan, Taiwan pernah dijadikan wisatawan kelas dua.
Namun, seiring dengan keterpurukan pariwisata, sejumlah
hotel berbintang yang sebelumnya "tidak menerima"
wisatawan Taiwan, kini ikut menampung mereka. Persoalan
inilah yang menjadi salah satu mata rantai kekisruhan pada
pasar Taiwan, termasuk jual-beli kepala (JBK).
Sampai-sampai ada yang mau banting harga. Mestinya, kalau
memang mau fair, harga kamarnya tidak boleh diobral. Ada
semacam streotip bahwa wisatawan dari Taiwan kurang elitis,
sehingga pelayanan kepada mereka juga tidak maksimal.
"Ke depan stereotip semacam ini harus dihilangkan.
Sebaliknya kita harus mengubah cara padang terhadap mereka
yang serba minor. Untuk menciptakan ini, perlu ada
kejujuran dari setiap pelaku yang terjun di pasar
Taiwan," imbau Kadek Wirtawan.
Untuk mengatasi
kekalutan saat ini, tampaknya tidak bisa lain, pemerintah
dan industri pariwisata Bali (khususnya yang menangani
pasar Taiwan) segera melakukan konsolidasi. Antara lain
melakukan raod show ke Taiwan. Di sana kita harus
menunjukkan keseriusan bahwa tidak ada disentri di Bali.
Pihak Taiwan juga harus diyakinkan bahwa pemerintah telah
melakukan pengawasan terhadap restoran-restoran yang
menjadi tempat mangkalnya turis dari negeri mereka.
Restoran-restoran
yang direkomendasikan tersebut terjamin kebersihan dan
sanitasinya, sehingga makanannya layak dikonsumsi. Perlu
juga ditegaskan, bahwa jika mengkonsumsi di luar itu tidak
menjadi tanggung jawab kita. Keseriusan ini pasti
direspons positif oleh Taiwan, yang penting ada apresiasi
dari kita bahwa mereka sama pentingnya dengan wisatawan
Eropa, Jepang dan negeri lainnya. (gre)
|