kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Pariwisata


Jangan Sepelekan Taiwan

AKIBAT adanya praktik jual-beli kepala (JBK), wisatawan Taiwan kerap dipandang sebelah mata. Padahal sejatinya, pengelolaan dan ketidaksiapan kita di sinilah yang menjadi penyebabnya. Seperti pepatah Minang, awak tak pandai menari, lantai yang disalahkan. Kasus disentri yang dialami wisatawan Taiwan baru-baru ini, tampaknya bisa dijadikan momentum untuk berbenah, khususunya kualitas.

Sekali lagi, jangan sepelekan wisatawan Taiwan. Wisatawan Taiwan tampaknya belum tergarap maksimal. Sebagaimana pernah ditulis beberapa kali di koran ini, ekonomi Taiwan sangat mengagumkan. Walau pada tahun 2001 sempat anjlok karena bencana alam dan tragedi WTC, perekonomian Taiwan secara umum cukup luar biasa. Rata-rata pertumbuhan ekonominya 4% per tahun.

Pada tahun 2000, pendapatan per kapita masyarakat Taiwan telah mencapai 14.188 dolar AS (sekitar Rp 112 juta). Pendapatan per kapita tahun 2001 sedikit menurun sebagai akibat resesi dan depresi NT dolar (mata uang Taiwan) terhadap dolar AS, sehingga pendapatan per kapitanya menjadi 12.876 dolar AS (sekitar Rp 105 juta). Dalam tahun ini pendapatan per paita yang tinggi juga merupakan indikasi tingkat kemakmuran yang tinggi. Bagi masyarakat makmur, kebutuhan rekreasi relatif lebih mudah dipenuhi.

Jumlah penduduk Taiwan dalam tahun 2001 mencapai 22,34 juta orang. Dari jumlah tersebut, 76,72 persennya telah mendapatkan pendidikan menengah dan tinggi, sedangkan sisanya 23,28 persen mendapatkan pendidikan rendah dan lainnya. Sebesar 70,4 persen penduduk Taiwan merupakan usia produktif, yakni berumur antara 15 sampai 64 tahun dan sisanya 29,6 persen terdiri atas anak-anak dan usia lanjut.

Dari aspek pariwisata, kelompok paling potensial yang dapat dijadikan target pasar adalah kelompok usia produktif. Dari 15,73 juta penduduk usia produktif, sejumlah 9,83 juta termasuk kategori usia kerja, di mana 2,6 persennya masuk dalam kelompok menganggur. Tingkat pengangguran di Taiwan relatif rendah berkisar lebih kurang 3 persen per tahun.

Penduduk yang bekerja di sektor primer cenderung menurun setiap tahunnya, sedangkan yang bekerja di industri sekunder dan tersier cenderung meningkat terus. Hal ini mengisyaratkan bahwa penduduk dengan penghasilan tinggi condong makin bertambah, karena pendapatan di sektor industri sekunder dan tersier lebih tinggi. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,68 juta warga Taiwan bekerja di sektor industri sekunder dan tersier.

Sebagai gambaran, pendapatan buruh terendah adalah 57.746 NT dolar (sekitar Rp 11,5 juta) per bulan untuk yang bekerja di perusahaan konstruksi. Pendapatan tertinggi diperoleh buruh yang bekerja di perusahaan yang mengelola listrik, gas dan air, yakni 94.689 NT dolar (setara Rp 18,9 juta) per bulan. Informasi tersebut menunjukkan indikasi bahwa kelompok potensial yang dapat dijadikan target pasar pariwisata di Taiwan cukup besar.

Minat warga negeri kuning itu untuk bepergian ke luar negeri sebagai wisatawan sangat tinggi. Tahun 2002 sebanyak 7,5 juta orang telah pergi ke beberapa negara tujuan wisata. Dari angka realisasi kunjungan wisatawan setiap bulannya, nampak warga Taiwan tidak terlalu terpengaruh oleh musim. Dari jumlah penduduk Taiwan yang mencapai 23 juta jiwa, maka realisasi tersebut sangat tinggi untuk rasio sekitar 33 persen.

Bagi masyarakat di sana, distinasi utama wisata tetap wilayah Asia dengan proporsi 81 persen, selebihnya berkunjung ke Amerika, Eropa, Oceania dan Afrika. Di wilayah Asia, kunjungan wisatawan Taiwan yang terbanyak adalah ke Hongkong, disusul Makao, Jepang, Thailand dan Indonesia. Dalam tahun 2002 tercatat 254.180 wisatawan Taiwan mengunjungi Indonesia dengan peningkatan 16,63 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan kunjungan ke Asia dalam periode yang sama mencapai 8,05 persen, jauh melampaui peningkatan ke wilayah lain. Peningkatan kunjungan ke Indonesia juga cukup signifikan dan hanya dilampaui peningkatan kunjungan ke Filipina (31,81 %) dan ke Vietnam (16,89 %).

Uraian tersebut di atas menunjukkan bahwa potensi, minat, fasilitas dan realisasi kegiatan wisata masyarakat Taiwan cukup besar. Aspek lain yang sangat mendukung adalah apresiasi masyarakat Taiwan terhadap kegiatan wisata yang bukan semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan rekreasi, melainkan juga untuk tujuan pendidikan dan kesehatan. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa cakupan pasarnya akan menjadi lebih luas yang meliputi anak-anak hingga kelompok usia lanjut.

Aspek psikologis yang ikut mendorong pertumbuhan kunjungan wisata ke luar negeri adalah kenyataan bahwa fasilitas perumahan di Taiwan relatif sempit, di samping objek wisata domestik yang tersedia sangat terbatas. Rutinitas kerja dengan jadwal yang ketat memerlukan rekreasi. Oleh sebab itu, keinginan untuk menikmati keleluasaan dan hal-hal baru telah ikut mendorong masyarakat Taiwan pergi menikmati dunia luar. Mengapa peluang ini tak ditangkap?

* gregorius

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)