Jangan
Sepelekan Taiwan
AKIBAT
adanya praktik jual-beli kepala (JBK), wisatawan Taiwan
kerap dipandang sebelah mata. Padahal sejatinya,
pengelolaan dan ketidaksiapan kita di sinilah yang menjadi
penyebabnya. Seperti pepatah Minang, awak tak pandai
menari, lantai yang disalahkan. Kasus disentri yang
dialami wisatawan Taiwan baru-baru ini, tampaknya bisa
dijadikan momentum untuk berbenah, khususunya kualitas.
Sekali lagi, jangan
sepelekan wisatawan Taiwan. Wisatawan Taiwan tampaknya
belum tergarap maksimal. Sebagaimana pernah ditulis
beberapa kali di koran ini, ekonomi Taiwan sangat
mengagumkan. Walau pada tahun 2001 sempat anjlok karena
bencana alam dan tragedi WTC, perekonomian Taiwan secara
umum cukup luar biasa. Rata-rata pertumbuhan ekonominya 4%
per tahun.
Pada tahun 2000,
pendapatan per kapita masyarakat Taiwan telah mencapai
14.188 dolar AS (sekitar Rp 112 juta). Pendapatan per
kapita tahun 2001 sedikit menurun sebagai akibat resesi
dan depresi NT dolar (mata uang Taiwan) terhadap dolar AS,
sehingga pendapatan per kapitanya menjadi 12.876 dolar AS
(sekitar Rp 105 juta). Dalam tahun ini pendapatan per
paita yang tinggi juga merupakan indikasi tingkat
kemakmuran yang tinggi. Bagi masyarakat makmur, kebutuhan
rekreasi relatif lebih mudah dipenuhi.
Jumlah penduduk
Taiwan dalam tahun 2001 mencapai 22,34 juta orang. Dari
jumlah tersebut, 76,72 persennya telah mendapatkan
pendidikan menengah dan tinggi, sedangkan sisanya 23,28
persen mendapatkan pendidikan rendah dan lainnya. Sebesar
70,4 persen penduduk Taiwan merupakan usia produktif,
yakni berumur antara 15 sampai 64 tahun dan sisanya 29,6
persen terdiri atas anak-anak dan usia lanjut.
Dari aspek
pariwisata, kelompok paling potensial yang dapat dijadikan
target pasar adalah kelompok usia produktif. Dari 15,73
juta penduduk usia produktif, sejumlah 9,83 juta termasuk
kategori usia kerja, di mana 2,6 persennya masuk dalam
kelompok menganggur. Tingkat pengangguran di Taiwan
relatif rendah berkisar lebih kurang 3 persen per tahun.
Penduduk yang
bekerja di sektor primer cenderung menurun setiap tahunnya,
sedangkan yang bekerja di industri sekunder dan tersier
cenderung meningkat terus. Hal ini mengisyaratkan bahwa
penduduk dengan penghasilan tinggi condong makin bertambah,
karena pendapatan di sektor industri sekunder dan tersier
lebih tinggi. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,68 juta
warga Taiwan bekerja di sektor industri sekunder dan
tersier.
Sebagai gambaran,
pendapatan buruh terendah adalah 57.746 NT dolar (sekitar
Rp 11,5 juta) per bulan untuk yang bekerja di perusahaan
konstruksi. Pendapatan tertinggi diperoleh buruh yang
bekerja di perusahaan yang mengelola listrik, gas dan air,
yakni 94.689 NT dolar (setara Rp 18,9 juta) per bulan.
Informasi tersebut menunjukkan indikasi bahwa kelompok
potensial yang dapat dijadikan target pasar pariwisata di
Taiwan cukup besar.
Minat warga negeri
kuning itu untuk bepergian ke luar negeri sebagai
wisatawan sangat tinggi. Tahun 2002 sebanyak 7,5 juta
orang telah pergi ke beberapa negara tujuan wisata. Dari
angka realisasi kunjungan wisatawan setiap bulannya,
nampak warga Taiwan tidak terlalu terpengaruh oleh musim.
Dari jumlah penduduk Taiwan yang mencapai 23 juta jiwa,
maka realisasi tersebut sangat tinggi untuk rasio sekitar
33 persen.
Bagi masyarakat di
sana, distinasi utama wisata tetap wilayah Asia dengan
proporsi 81 persen, selebihnya berkunjung ke Amerika,
Eropa, Oceania dan Afrika. Di wilayah Asia, kunjungan
wisatawan Taiwan yang terbanyak adalah ke Hongkong,
disusul Makao, Jepang, Thailand dan Indonesia. Dalam tahun
2002 tercatat 254.180 wisatawan Taiwan mengunjungi
Indonesia dengan peningkatan 16,63 persen dibandingkan
tahun sebelumnya. Peningkatan kunjungan ke Asia dalam
periode yang sama mencapai 8,05 persen, jauh melampaui
peningkatan ke wilayah lain. Peningkatan kunjungan ke
Indonesia juga cukup signifikan dan hanya dilampaui
peningkatan kunjungan ke Filipina (31,81 %) dan ke Vietnam
(16,89 %).
Uraian tersebut di
atas menunjukkan bahwa potensi, minat, fasilitas dan
realisasi kegiatan wisata masyarakat Taiwan cukup besar.
Aspek lain yang sangat mendukung adalah apresiasi
masyarakat Taiwan terhadap kegiatan wisata yang bukan
semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan rekreasi,
melainkan juga untuk tujuan pendidikan dan kesehatan. Dari
hal ini dapat disimpulkan bahwa cakupan pasarnya akan
menjadi lebih luas yang meliputi anak-anak hingga kelompok
usia lanjut.
Aspek psikologis
yang ikut mendorong pertumbuhan kunjungan wisata ke luar
negeri adalah kenyataan bahwa fasilitas perumahan di
Taiwan relatif sempit, di samping objek wisata domestik
yang tersedia sangat terbatas. Rutinitas kerja dengan
jadwal yang ketat memerlukan rekreasi. Oleh sebab itu,
keinginan untuk menikmati keleluasaan dan hal-hal baru
telah ikut mendorong masyarakat Taiwan pergi menikmati
dunia luar. Mengapa peluang ini tak ditangkap?
* gregorius
|