kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Olahraga


Indonesia ke SEA Games XXII/2003--
Kali Ini sekadar Rutinitas?

PERSIAPAN kontingen Indonesia terkesan seadanya pada SEA Games XXII yang akan berlangung 5-13 Desember di Vietnam. Keikutsertaan tim Merah Putih tidak lebih dari hanya sekadar rutinitas. Alasannya, ketika Indonesia untuk ketiga kalinya kehilangan gelar juara umum pada SEA Games XX/1999 di Brunei Darussalam, prestasi olah raga kita secara umum menurun drastis dengan puncaknya hanya menempati posisi ketiga di bawah Thailand dan tuan rumah Malaysia di SEA Games berikutnya 2001 di Kuala Lumpur.

Bercermin dari kegagalan itulah, para pembina olah raga Indonesia terutama KONI Pusat yang kini tampil dengan pucuk pimpinan dan pengurus baru, lebih suka mengambil sikap defensif dalam arti tidak mau terjebak dalam masalah target muluk-muluk. Dengan dalih konsolidasi, KONI Pusat kemudian tidak keberatan terhadap cabang olah raga yang menurunkan hampir 70 persen atlet mudanya di SEA Games XXII.

Sejak mengambil alih tampuk pimpinan KONI Pusat dari Wismoyo Arismunandar lewat musornas pada Februari lalu, tak ada langkah istimewa yang dilakukan Agum Gumelar. Setelah melihat kondisi olah raga kita yang mengalami keterpurukan yang sangat dalam, Agum tidak menjadikan SEA Games XXII sebagai sesuatu yang diistimewakan. KONI Pusat kemudian tidak mematok target minimum sekali pun, beda dengan kepengurusan KONI di bawah era Wismoyo yang dalam kondisi apa pun target juara umum adalah wajib bagi Indonesia. Walaupun kenyataannya target itu gagal dicapai, suasana persiapan selama di pelatnas terlihat ada greget.

Sejak Indonesia ikut SEA Games IX/1977 di Kuala Lumpur, gelar juara umum seakan akrab dengan kontingen Merah Putih. Pada SEA Games XIII 1985 di Bangkok, gelar juara umum diambil alih oleh tuan rumah, namun kegagalan itu belum terlalu mengagetkan kita karena waktu itu ada dugaan tuan rumah menghalalkan segala cara demi menggeser dominasi Indonesia.

Kenyataannya memang demikian. Pasca-Bangkok (1985), kontingen Indonesia kembali berjaya sampai pada sepuluh tahun kemudian (1995) di Chiang Mai, gelar juara umum kembali lepas dari genggaman kita dan diambil alih tuan rumah. Lepasnya gelar kali ini juga ditengarai karena kecurangan pihak tuan rumah.

Pada SEA Games XIX/1997 di Jakarta, Indonesia kembali menjadi juara umum, bahkan perolehan medali emas dengan Thailand selisihnya sangat jauh. Akan tetapi itu menjadi pesta kejayaan terakhir kontingen Indonesia. Setelah tragedi memilukan di SEA Games XX/1999 di Brunei, tak ada alasan lagi yang kita jadikan sebagai kambing hitam.

Diakui atau tidak, kegagalan di Brunei sudah semestinya terjadi karena kita tahu pembinaan olah raga kita memang mengalami penurunan akibat krisis moneter yang berkepanjangan. Hampir semua cabang dihadapkan dengan kesulitan dana sehingga tak mungkin mereka menggelar kompetisi atau turnamen secara periodik.

Hasil pahit di Brunei kemudian menjadi lebih buruk pada SEA Games dua tahun berikutnya di Kuala Lumpur. Kita bukan hanya di bawah Thailand tetapi sudah disalip Malaysia. Menempati posisi ketiga merupakan isyarat bahwa olah raga Indonesia sesungguhnya bagaikan kapal yang sudah karam dan untuk mengangkatnya butuh dana besar dan waktu yang panjang.

Tidak mengherankan kenapa KONI Pusat sekarang tidak mematok target muluk-muluk di Vietnam. Tidak dilewati tuan rumah Vietnam saja (posisi keempat-red) sudah merupakan prestasi bagus bagi kontingen yang akan dipimpin Djoko Pramono. Kalau toh kemudian dalam acara pelepasan kontingen Indonesia di Istana Negara, 18 November lalu, Presiden Megawati Soekarnoputri meminta kepada kontingen Merah Putih agar merebut kembali gelar juara umum, bukan berarti KONI Pusat harus mengamankan permintaan tersebut.

Seperti sudah diuraikan di atas tadi, kondisi olah raga kita kini sudah terpuruk sangat dalam sehingga membutuhkan waktu lama untuk membenahi. Apa yang diminta Megawati tentu tidak lebih dari sentilan atau pelecut motivasi khususnya bagi atlet yang bertanding di Hanoi. Atau dalam bahasa MF Siregar, sesepuh sekaligus teknokrat olah raga Indonesia, pernyataan Presiden Megawati itu hanya merupakan stimulan agar keberadaan kontingen kita jangan sampai memalukan. Artinya, kita boleh gagal menjadi juara umum, tetapi penampilan atlet harus optimal. Jangan sampai kalah sebelum bertanding.

Paling tidak, kata Siregar, kontingen Indonesia bisa menghindari kesan seolah-olah keberadaannya di Hanoi hanya sekadar memenuhi kewajiban sesama anggota peserta. Dengan sikap seperti itu, Siregar yakin Thailand, Malaysia dan tuan rumah Vietnam tak akan mudah mengalahkan atlet-atlet Indonesia. Semangat ini perlu ditanamkan kepada atlet kita apalagi yang berlaga sebagian besar berusia muda yang masih memiliki prospek ke depan.

Indonesia hanya mengikuti 28 dari 34 cabang olah raga yang dipertandingkan. Semula memang ada 29 cabang yang kita ikuti namun karena persoalan internal di tubuh PB PABBSI, binaraga akhirnya urung dikirim. Dari kalkulasi Komandan Pelatnas Djoko Pramono, peluang Indonesia untuk minimal bertahan di posisi ketiga masih terbuka asalkan bisa mengamankan 70 medali emas. Perhitungan ini didasarkan pada peta kekuatan Malaysia dan Vietnam yang cabang andalannya di cabang bela diri. Tidak tertutup kemungkinan kedua negara itu ''bunuh-bunuhan'' dan Indonesia tentu akan memanfaatkan momentum tersebut. suharto olii

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)