Indonesia ke SEA Games XXII/2003--
Kali
Ini sekadar Rutinitas?
PERSIAPAN
kontingen Indonesia terkesan seadanya pada SEA Games XXII
yang akan berlangung 5-13 Desember di Vietnam.
Keikutsertaan tim Merah Putih tidak lebih dari hanya
sekadar rutinitas. Alasannya, ketika Indonesia untuk
ketiga kalinya kehilangan gelar juara umum pada SEA Games
XX/1999 di Brunei Darussalam, prestasi olah raga kita
secara umum menurun drastis dengan puncaknya hanya
menempati posisi ketiga di bawah Thailand dan tuan rumah
Malaysia di SEA Games berikutnya 2001 di Kuala Lumpur.
Bercermin dari
kegagalan itulah, para pembina olah raga Indonesia
terutama KONI Pusat yang kini tampil dengan pucuk pimpinan
dan pengurus baru, lebih suka mengambil sikap defensif
dalam arti tidak mau terjebak dalam masalah target
muluk-muluk. Dengan dalih konsolidasi, KONI Pusat kemudian
tidak keberatan terhadap cabang olah raga yang menurunkan
hampir 70 persen atlet mudanya di SEA Games XXII.
Sejak mengambil alih
tampuk pimpinan KONI Pusat dari Wismoyo Arismunandar lewat
musornas pada Februari lalu, tak ada langkah istimewa yang
dilakukan Agum Gumelar. Setelah melihat kondisi olah raga
kita yang mengalami keterpurukan yang sangat dalam, Agum
tidak menjadikan SEA Games XXII sebagai sesuatu yang
diistimewakan. KONI Pusat kemudian tidak mematok target
minimum sekali pun, beda dengan kepengurusan KONI di bawah
era Wismoyo yang dalam kondisi apa pun target juara umum
adalah wajib bagi Indonesia. Walaupun kenyataannya target
itu gagal dicapai, suasana persiapan selama di pelatnas
terlihat ada greget.
Sejak Indonesia ikut
SEA Games IX/1977 di Kuala Lumpur, gelar juara umum seakan
akrab dengan kontingen Merah Putih. Pada SEA Games XIII
1985 di Bangkok, gelar juara umum diambil alih oleh tuan
rumah, namun kegagalan itu belum terlalu mengagetkan kita
karena waktu itu ada dugaan tuan rumah menghalalkan segala
cara demi menggeser dominasi Indonesia.
Kenyataannya memang
demikian. Pasca-Bangkok (1985), kontingen Indonesia
kembali berjaya sampai pada sepuluh tahun kemudian (1995)
di Chiang Mai, gelar juara umum kembali lepas dari
genggaman kita dan diambil alih tuan rumah. Lepasnya gelar
kali ini juga ditengarai karena kecurangan pihak tuan
rumah.
Pada SEA Games XIX/1997
di Jakarta, Indonesia kembali menjadi juara umum, bahkan
perolehan medali emas dengan Thailand selisihnya sangat
jauh. Akan tetapi itu menjadi pesta kejayaan terakhir
kontingen Indonesia. Setelah tragedi memilukan di SEA
Games XX/1999 di Brunei, tak ada alasan lagi yang kita
jadikan sebagai kambing hitam.
Diakui atau tidak,
kegagalan di Brunei sudah semestinya terjadi karena kita
tahu pembinaan olah raga kita memang mengalami penurunan
akibat krisis moneter yang berkepanjangan. Hampir semua
cabang dihadapkan dengan kesulitan dana sehingga tak
mungkin mereka menggelar kompetisi atau turnamen secara
periodik.
Hasil pahit di
Brunei kemudian menjadi lebih buruk pada SEA Games dua
tahun berikutnya di Kuala Lumpur. Kita bukan hanya di
bawah Thailand tetapi sudah disalip Malaysia. Menempati
posisi ketiga merupakan isyarat bahwa olah raga Indonesia
sesungguhnya bagaikan kapal yang sudah karam dan untuk
mengangkatnya butuh dana besar dan waktu yang panjang.
Tidak mengherankan
kenapa KONI Pusat sekarang tidak mematok target
muluk-muluk di Vietnam. Tidak dilewati tuan rumah Vietnam
saja (posisi keempat-red) sudah merupakan prestasi bagus
bagi kontingen yang akan dipimpin Djoko Pramono. Kalau toh
kemudian dalam acara pelepasan kontingen Indonesia di
Istana Negara, 18 November lalu, Presiden Megawati
Soekarnoputri meminta kepada kontingen Merah Putih agar
merebut kembali gelar juara umum, bukan berarti KONI Pusat
harus mengamankan permintaan tersebut.
Seperti sudah
diuraikan di atas tadi, kondisi olah raga kita kini sudah
terpuruk sangat dalam sehingga membutuhkan waktu lama
untuk membenahi. Apa yang diminta Megawati tentu tidak
lebih dari sentilan atau pelecut motivasi khususnya bagi
atlet yang bertanding di Hanoi. Atau dalam bahasa MF
Siregar, sesepuh sekaligus teknokrat olah raga Indonesia,
pernyataan Presiden Megawati itu hanya merupakan stimulan
agar keberadaan kontingen kita jangan sampai memalukan.
Artinya, kita boleh gagal menjadi juara umum, tetapi
penampilan atlet harus optimal. Jangan sampai kalah
sebelum bertanding.
Paling tidak, kata
Siregar, kontingen Indonesia bisa menghindari kesan
seolah-olah keberadaannya di Hanoi hanya sekadar memenuhi
kewajiban sesama anggota peserta. Dengan sikap seperti itu,
Siregar yakin Thailand, Malaysia dan tuan rumah Vietnam
tak akan mudah mengalahkan atlet-atlet Indonesia. Semangat
ini perlu ditanamkan kepada atlet kita apalagi yang
berlaga sebagian besar berusia muda yang masih memiliki
prospek ke depan.
Indonesia hanya
mengikuti 28 dari 34 cabang olah raga yang dipertandingkan.
Semula memang ada 29 cabang yang kita ikuti namun karena
persoalan internal di tubuh PB PABBSI, binaraga akhirnya
urung dikirim. Dari kalkulasi Komandan Pelatnas Djoko
Pramono, peluang Indonesia untuk minimal bertahan di
posisi ketiga masih terbuka asalkan bisa mengamankan 70
medali emas. Perhitungan ini didasarkan pada peta kekuatan
Malaysia dan Vietnam yang cabang andalannya di cabang bela
diri. Tidak tertutup kemungkinan kedua negara itu ''bunuh-bunuhan''
dan Indonesia tentu akan memanfaatkan momentum tersebut.
suharto olii
|