kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Nusatenggara


Dari Warung Global.......................

Masyarakat harus Kecipratan Rezeki Pariwisata

Promosi merupakan hal yang sangat menentukan bagi maju tidaknya pariwisata di suatu daerah. Kendati demikian, komponen lainnya juga tak kalah pentingnya seperti infrastruktur, SDM termasuk kesiapan masyarakatnya. Khusus masyarakat, pemerintah dan para pelaku pariwisata seharusnya memberikan perhatian khusus agar masyarakat memahami dan mengerti pariwisata. Bagaimana pun penolakan masyarakat terhadap pariwisata akan memberikan promosi negatif. Bisa jadi, penolakan tersebut berwujud pemerasan terhadap wisatawan, termasuk kerusuhan. Hal itu mengemuka dalam acara Warung Global bertajuk ''Pariwisata Lombok Kurang Promosi'', yang disiarkan Radio Global FM Lombok 98,10, Rabu (3/12) kemarin.

===============

''AGAR masyarakat mendukung, rezeki yang diperoleh dari pariwisata juga harus dicipratkan ke masyarakat,'' kata Kasubmahardi dari Montong Kedaton.

Sementara Dewi menilai, tim yang bergerak di bidang promosi pariwisata Lombok tampaknya masih kurang. ''Sepertinya mereka pasif. Berbeda dengan Yogya, mereka (tim di Yogya-red) lebih kreatif,'' kata Dewi.

Dia juga mengatakan, promosi juga harus dilakukan oleh orang per orang. Ia mencontohkan seorang guide. Selain membantu perjalanan wisatawan, guide harus pintar mempromosikan daerahnya. ''Saya rasakan komunikasinya kurang, mungkin SDM-nya yang rendah. Saya yang kebetulan membawa tamu dari Jakarta menjadi kurang puas,'' katanya. Dia menambahkan, pelayanan yang bagus merupakan bagian dari promosi. ''Pelayanannya kurang bagus,'' katanya seraya menambahkan, teman-temannya di Jakarta banyak yang ingin mengetahui Lombok. Namun belum banyak yang tahu daerah lumbung ini. Karena itulah, ia menyarankan agar keamanan yang baik diciptakan terlebih dahulu, SDM ditambah, baru kemudian promosinya digencarkan.

Mamat menilai, pelayanan guide untuk wisatawan domestik tak terlalu bagus. ''Biasanya melayani tamu lokal tak terlalu bagus. Berbeda sekali kalau berinteraksi dengan wisatawan mancanegara,'' katanya.

Sementara Bongoh mengatakan, pariwisata sudah global. Kendati demikian, maju tidaknya pariwisata sangat tergantung dari manusianya. ''Tak terlepas dari usaha manusianya. Seperti keamanan merupakan penunjang yang luar biasa. Kalau sudah aman mereka akan datang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,'' katanya.

Perihal adanya anggapan pariwisata Lombok kurang promosi, menurut Abdullah, bukan kurang promosi, melainkan promosinya yang belum dikemas dengan rapi.

Kata Abdullah, mereka yang berkepentingan dengan pariwisata mestinya duduk satu meja untuk menyatukan visi dan misi dalam mempromosikan Lombok. ''Sapta pesona pariwisata perlu dihidupkan lagi. Mestinya hal-hal yang kecil harus diperhatikan seperti jalan di Taman Narmada dan lainnya,'' katanya.

Raka menambahkan, penerbangan sangat menentukan. ''Kebetulan saya sebagai pemandu wisata dan saya melihat komponen pariwisata jalan sendiri-sendiri. Mestinya, mereka duduk satu meja untuk membicarakan masalah promosi. Selain itu, infrastruktur juga masih kurang. Lebih baik kita benahi dulu di sini, baru dipromosikan,'' katanya.

Menurut Putra, di Selaparang, budaya juga harus dikemas menjadi produk pariwisata. ''Budaya kita merupakan daya tarik yang bisa dijual. Sayangnya selama ini wisata budayanya tak ada karena memang tak ada binaan,'' katanya seraya menambahkan promosi sudah gencar, tapi tak dilaksanakan oleh ahlinya. Kalau mau efektif dengan biaya murah, kata dia, promosi cukup di Bali. ''Tak usah ke Jerman, cukup di Bali saja kalau memang dananya tak cukup,'' ujarnya.

Kasubmahardi menambahkan, promosi, infrastruktur serta komponen lainnya memang sangat diperlukan dalam mengembangkan kepariwisataan. Namun yang tak kalah pentingnya adalah masyarakat. ''Masyarakat sangat menentukan. Masyarakat yang antagonis terhadap pariwisata akan menjadi promosi negatif,'' katanya.

Oleh karena itu, menurut Kasubmahardi, pembinaan terhadap masyarakat agar mendukung pariwisata sangat perlu. Masyarakat harus ikut ramah dan membantu perkembangan pariwisata. Agar mau mendukung, untungnya juga harus dibagi kepada masyarakat. ''Masyarakat jangan jadi penonton. Pembuat keputusan maupun para pelaku mesti memperhatikan masyarakat, karena masyarakat menjadi mitra kerja pariwisata,'' katanya. (yad)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)