Dari Warung Global.......................
Masyarakat harus
Kecipratan Rezeki Pariwisata
Promosi merupakan
hal yang sangat menentukan bagi maju tidaknya pariwisata
di suatu daerah. Kendati demikian, komponen lainnya juga
tak kalah pentingnya seperti infrastruktur, SDM termasuk
kesiapan masyarakatnya. Khusus masyarakat, pemerintah dan
para pelaku pariwisata seharusnya memberikan perhatian
khusus agar masyarakat memahami dan mengerti pariwisata.
Bagaimana pun penolakan masyarakat terhadap pariwisata
akan memberikan promosi negatif. Bisa jadi, penolakan
tersebut berwujud pemerasan terhadap wisatawan, termasuk
kerusuhan. Hal itu mengemuka dalam acara Warung Global
bertajuk ''Pariwisata Lombok Kurang Promosi'', yang
disiarkan Radio Global FM Lombok 98,10, Rabu (3/12)
kemarin.
===============
''AGAR
masyarakat mendukung, rezeki yang diperoleh dari
pariwisata juga harus dicipratkan ke masyarakat,'' kata
Kasubmahardi dari Montong Kedaton.
Sementara Dewi
menilai, tim yang bergerak di bidang promosi pariwisata
Lombok tampaknya masih kurang. ''Sepertinya mereka pasif.
Berbeda dengan Yogya, mereka (tim di Yogya-red) lebih
kreatif,'' kata Dewi.
Dia juga mengatakan,
promosi juga harus dilakukan oleh orang per orang. Ia
mencontohkan seorang guide. Selain membantu perjalanan
wisatawan, guide harus pintar mempromosikan daerahnya. ''Saya
rasakan komunikasinya kurang, mungkin SDM-nya yang rendah.
Saya yang kebetulan membawa tamu dari Jakarta menjadi
kurang puas,'' katanya. Dia menambahkan, pelayanan yang
bagus merupakan bagian dari promosi. ''Pelayanannya kurang
bagus,'' katanya seraya menambahkan, teman-temannya di
Jakarta banyak yang ingin mengetahui Lombok. Namun belum
banyak yang tahu daerah lumbung ini. Karena itulah, ia
menyarankan agar keamanan yang baik diciptakan terlebih
dahulu, SDM ditambah, baru kemudian promosinya digencarkan.
Mamat menilai,
pelayanan guide untuk wisatawan domestik tak terlalu bagus.
''Biasanya melayani tamu lokal tak terlalu bagus. Berbeda
sekali kalau berinteraksi dengan wisatawan mancanegara,''
katanya.
Sementara Bongoh
mengatakan, pariwisata sudah global. Kendati demikian,
maju tidaknya pariwisata sangat tergantung dari manusianya.
''Tak terlepas dari usaha manusianya. Seperti keamanan
merupakan penunjang yang luar biasa. Kalau sudah aman
mereka akan datang, baik wisatawan domestik maupun
mancanegara,'' katanya.
Perihal adanya
anggapan pariwisata Lombok kurang promosi, menurut
Abdullah, bukan kurang promosi, melainkan promosinya yang
belum dikemas dengan rapi.
Kata Abdullah,
mereka yang berkepentingan dengan pariwisata mestinya
duduk satu meja untuk menyatukan visi dan misi dalam
mempromosikan Lombok. ''Sapta pesona pariwisata perlu
dihidupkan lagi. Mestinya hal-hal yang kecil harus
diperhatikan seperti jalan di Taman Narmada dan lainnya,''
katanya.
Raka menambahkan,
penerbangan sangat menentukan. ''Kebetulan saya sebagai
pemandu wisata dan saya melihat komponen pariwisata jalan
sendiri-sendiri. Mestinya, mereka duduk satu meja untuk
membicarakan masalah promosi. Selain itu, infrastruktur
juga masih kurang. Lebih baik kita benahi dulu di sini,
baru dipromosikan,'' katanya.
Menurut Putra, di
Selaparang, budaya juga harus dikemas menjadi produk
pariwisata. ''Budaya kita merupakan daya tarik yang bisa
dijual. Sayangnya selama ini wisata budayanya tak ada
karena memang tak ada binaan,'' katanya seraya menambahkan
promosi sudah gencar, tapi tak dilaksanakan oleh ahlinya.
Kalau mau efektif dengan biaya murah, kata dia, promosi
cukup di Bali. ''Tak usah ke Jerman, cukup di Bali saja
kalau memang dananya tak cukup,'' ujarnya.
Kasubmahardi
menambahkan, promosi, infrastruktur serta komponen lainnya
memang sangat diperlukan dalam mengembangkan
kepariwisataan. Namun yang tak kalah pentingnya adalah
masyarakat. ''Masyarakat sangat menentukan. Masyarakat
yang antagonis terhadap pariwisata akan menjadi promosi
negatif,'' katanya.
Oleh karena itu,
menurut Kasubmahardi, pembinaan terhadap masyarakat agar
mendukung pariwisata sangat perlu. Masyarakat harus ikut
ramah dan membantu perkembangan pariwisata. Agar mau
mendukung, untungnya juga harus dibagi kepada masyarakat.
''Masyarakat jangan jadi penonton. Pembuat keputusan
maupun para pelaku mesti memperhatikan masyarakat, karena
masyarakat menjadi mitra kerja pariwisata,'' katanya.
(yad)
|