|
Terserang ND, 30.000 Ayam Mati--
Beberapa
Peternak Tutup Usaha
Akibat serangan
penyakit Newcastele Deases (ND), beberapa peternak ayam
petelur di Bugbug, Karangasem menutup usahanya. Kerugian
pun mencapai milyaran rupiah. Sejauh mana penanganannya?
DALAM
sebulan ini lebih dari 30.000 ekor ayam ras di Karangasem
mati karena terserang penyakit ND. Terbanyak menyerang di
Bugbug dan Desa Nyuh Tebel, yakni di wilayah Dusun
Pesedahan. Di Bugbug, beberapa peternak melaporkan ayamnya
mati semua. Ada juga yang langsung menjual semua ayamnya
ketika mulai ada serangan ND. Akibatnya, banyak kandang
dibiarkan kosong sementara.
Kepala Dinas
Perikanan, Peternakan dan Kelautan Karangasem Ir. I Nengah
Mantha Eka Yudha, Rabu (3/12) kemarin membenarkan hal itu.
Didampingi Dinas Peternakan Cabang Rendang drh. I Made
Sujana, Mantha mengatakan, berdasarkan data terakhir yang
diperoleh, sekitar 30.000 ekor ayam mati. Terbanyak
menyerang di Bugbug dan Desa Nyuh Tebel. ''Adanya peternak
yang mengosongkan kandang barangkali guna memutus siklus
bibit penyakit. Jangan sampai baru membeli ayam malah mati
lagi,'' ujar Mantha.
Ia menyatakan sangat
kesulitan memperoleh data akurat sejak mewabahnya ND ke
Karangasem. Soalnya, pengusaha peternakan sangat tertutup.
Meski begitu, pihaknya tetap berusaha mengambil sampel
darah bekerja sama dengan BPPH Denpasar.
''Tak ada peternak
yang melaporkan peternakannya diserang wabah penyakit.
Padahal, berdasarkan peraturan, begitu ada penyakit,
peternak wajib melaporkan ke pemerintah. Jika ada serangan
penyakit tetapi tak melapor, mereka bisa dikenai sanksi
berat,'' tegasnya.
Tertutupnya peternak,
kata Mantha, diduga mereka beralasan sudah merasa kuat dan
bisa mengatasi sendiri, tanpa campur tangan pemerintah.
Soalnya, pengusaha ternak ayam dalam skala besar, telah
memiliki tenaga ahli di bidang kesehatan.
Iia mengatakan,
belakangan ini wabah ND ganas itu tak lagi terdengar di
masyarakat. Itu berarti wabah sudah mereda. Hal itu diduga
akibat telah turun hujan, sehingga suhu udara lebih sejuk.
Saat musim panas, di mana ayam banyak minum dan sedikit
makan, menyebabkan kondisi tubuh mereka lemah dalam
melawan serangan penyakit. ''Guna menghindari serangan
wabah ND, daya tahan tubuh ayam mesti ditingkatkan dengan
memberikan makanan tambahan seperti vitamin,'' ujar Mantha.
Selain itu,
penyebaran bibit penyakit harus dihindari, dengan isolasi.
Tak boleh sembarangan orang masuk, pekerja mesti
berpakaian khusus dan steril. Tiap kendaraan, truk
pengangkut pakan ayam, eggtrai (tempat telur), atau orang
yang keluar-masuk mesti disterilkan dari bibit penyakit (di-disinfektan).
''Kalau isolasi ketat sudah dilakukan, saya yakin tak ada
lagi wabah menyerang di Karangasem. Belakangan ini, karena
sudah pernah memperoleh pengalaman yang buruk dengan
serangan ND, peternak sudah melakukan pengetatan,''
katanya.
Sementara itu, Klian
Desa Pakraman Pesedahan I Nyoman Wage mengatakan,
pengusaha ternak di wilayahnya kini telah menempuh upaya
sekala dan niskala dalam rangka menangkal serangan wabah
penyakit. Secara sekala dengan melakukan isolasi, menjaga
kebersihan kandang dan memperkuat daya tahan tubuh ayam
dengan makanan yang cukup. Sementara secara niskala lewat
doa atau persembahyangan.
Persembahyangan yang
disebut mapangayu-ayu dilakukan tiap tiga hari sebanyak
tiga kali. Juga dilakukan persembahyangan dan nunas tirta
di Pura Rambut Betung dan Pura Ayu Renini di Pesedahan. ''Syukur,
wabah yang sempat menyerang di empat peternakan belakangan
telah mereda atau tak meluas,'' ujar Wage.
Mantha mengatakan,
populasi ayam petelur di Karangasem mencapai 422.163 ekor.
Sementara ayam ras pedaging mencapai 320.655 ekor. Dari
peternakan ayam di Karangasem di tiga kecamatan, yakni
Rendang, Manggis dan Selat, dibina PT Nusantara Unggas
Jaya.
Pemasarannya sudah
disalurkan melalui bapak angkat. Di mana, begitu
menyalurkan bibit, sudah tekan kontrak produksinya
disalurkan bapak angkat. Mantha mengatakan, dengan
populasi ayam petelur dan pedaging sebanyak itu, Karangsem
mampu memenuhi produk di luar daerah Karangasem. Bahkan,
produk peternakan ayam Karangasem dikirim ke NTB dan NTT.
Sujana mengatakan,
sebenarnya peternak keberatan dengan dibukanya kembali
pemasukan produk ayam berupa telur dan daging dari Jawa.
Apalagi, dulu pernah diblokir guna menghindari penyebaran
penyakit ND itu. Namun, belakangan diberikan izin lagi
masuk ke Bali. ''Peternak ayam di Karangasem waswas kalau
dengan dibukanya blokir produk dari Jawa bakal menyebabkan
wabah kembali menyebar ke Bali,'' katanya.
* budana
|