kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Nusantara


Terserang ND, 30.000 Ayam Mati--
Beberapa Peternak Tutup Usaha

Akibat serangan penyakit Newcastele Deases (ND), beberapa peternak ayam petelur di Bugbug, Karangasem menutup usahanya. Kerugian pun mencapai milyaran rupiah. Sejauh mana penanganannya?

DALAM sebulan ini lebih dari 30.000 ekor ayam ras di Karangasem mati karena terserang penyakit ND. Terbanyak menyerang di Bugbug dan Desa Nyuh Tebel, yakni di wilayah Dusun Pesedahan. Di Bugbug, beberapa peternak melaporkan ayamnya mati semua. Ada juga yang langsung menjual semua ayamnya ketika mulai ada serangan ND. Akibatnya, banyak kandang dibiarkan kosong sementara.

Kepala Dinas Perikanan, Peternakan dan Kelautan Karangasem Ir. I Nengah Mantha Eka Yudha, Rabu (3/12) kemarin membenarkan hal itu. Didampingi Dinas Peternakan Cabang Rendang drh. I Made Sujana, Mantha mengatakan, berdasarkan data terakhir yang diperoleh, sekitar 30.000 ekor ayam mati. Terbanyak menyerang di Bugbug dan Desa Nyuh Tebel. ''Adanya peternak yang mengosongkan kandang barangkali guna memutus siklus bibit penyakit. Jangan sampai baru membeli ayam malah mati lagi,'' ujar Mantha.

Ia menyatakan sangat kesulitan memperoleh data akurat sejak mewabahnya ND ke Karangasem. Soalnya, pengusaha peternakan sangat tertutup. Meski begitu, pihaknya tetap berusaha mengambil sampel darah bekerja sama dengan BPPH Denpasar.

''Tak ada peternak yang melaporkan peternakannya diserang wabah penyakit. Padahal, berdasarkan peraturan, begitu ada penyakit, peternak wajib melaporkan ke pemerintah. Jika ada serangan penyakit tetapi tak melapor, mereka bisa dikenai sanksi berat,'' tegasnya.

Tertutupnya peternak, kata Mantha, diduga mereka beralasan sudah merasa kuat dan bisa mengatasi sendiri, tanpa campur tangan pemerintah. Soalnya, pengusaha ternak ayam dalam skala besar, telah memiliki tenaga ahli di bidang kesehatan.

Iia mengatakan, belakangan ini wabah ND ganas itu tak lagi terdengar di masyarakat. Itu berarti wabah sudah mereda. Hal itu diduga akibat telah turun hujan, sehingga suhu udara lebih sejuk. Saat musim panas, di mana ayam banyak minum dan sedikit makan, menyebabkan kondisi tubuh mereka lemah dalam melawan serangan penyakit. ''Guna menghindari serangan wabah ND, daya tahan tubuh ayam mesti ditingkatkan dengan memberikan makanan tambahan seperti vitamin,'' ujar Mantha.

Selain itu, penyebaran bibit penyakit harus dihindari, dengan isolasi. Tak boleh sembarangan orang masuk, pekerja mesti berpakaian khusus dan steril. Tiap kendaraan, truk pengangkut pakan ayam, eggtrai (tempat telur), atau orang yang keluar-masuk mesti disterilkan dari bibit penyakit (di-disinfektan). ''Kalau isolasi ketat sudah dilakukan, saya yakin tak ada lagi wabah menyerang di Karangasem. Belakangan ini, karena sudah pernah memperoleh pengalaman yang buruk dengan serangan ND, peternak sudah melakukan pengetatan,'' katanya.

Sementara itu, Klian Desa Pakraman Pesedahan I Nyoman Wage mengatakan, pengusaha ternak di wilayahnya kini telah menempuh upaya sekala dan niskala dalam rangka menangkal serangan wabah penyakit. Secara sekala dengan melakukan isolasi, menjaga kebersihan kandang dan memperkuat daya tahan tubuh ayam dengan makanan yang cukup. Sementara secara niskala lewat doa atau persembahyangan.

Persembahyangan yang disebut mapangayu-ayu dilakukan tiap tiga hari sebanyak tiga kali. Juga dilakukan persembahyangan dan nunas tirta di Pura Rambut Betung dan Pura Ayu Renini di Pesedahan. ''Syukur, wabah yang sempat menyerang di empat peternakan belakangan telah mereda atau tak meluas,'' ujar Wage.

Mantha mengatakan, populasi ayam petelur di Karangasem mencapai 422.163 ekor. Sementara ayam ras pedaging mencapai 320.655 ekor. Dari peternakan ayam di Karangasem di tiga kecamatan, yakni Rendang, Manggis dan Selat, dibina PT Nusantara Unggas Jaya.

Pemasarannya sudah disalurkan melalui bapak angkat. Di mana, begitu menyalurkan bibit, sudah tekan kontrak produksinya disalurkan bapak angkat. Mantha mengatakan, dengan populasi ayam petelur dan pedaging sebanyak itu, Karangsem mampu memenuhi produk di luar daerah Karangasem. Bahkan, produk peternakan ayam Karangasem dikirim ke NTB dan NTT.

Sujana mengatakan, sebenarnya peternak keberatan dengan dibukanya kembali pemasukan produk ayam berupa telur dan daging dari Jawa. Apalagi, dulu pernah diblokir guna menghindari penyebaran penyakit ND itu. Namun, belakangan diberikan izin lagi masuk ke Bali. ''Peternak ayam di Karangasem waswas kalau dengan dibukanya blokir produk dari Jawa bakal menyebabkan wabah kembali menyebar ke Bali,'' katanya.

* budana

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)