Kurangi Kemiskinan------
Bank Dunia Siap
Kucurkan 450-850 Juta Dolar AS
Jakarta
(Bali Post) -
Bank Dunia melihat tingkat kemiskinan di Indonesia sudah
begitu parah. Lembaga keuangan internasional ini bermaksud
memberikan pinjaman lunak senilai 450 hingga 850 juta
dolar AS per tahun. Pinjaman ini akan digunakan untuk
program strategi asistensi (CAS) dan membangun prasarana
yang berorientasi pada kemiskinan di tingkat daerah dan
masyarakat. Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank
Dunia untuk Indonesia Andrew Steer di Jakarta, Rabu (3/12)
kemarin. Proyek yang akan dijalankan tahun 2004-2007
tersebut antara lain bidang kesehatan, pendidikan,
penelitian pertanian, penyuluhan dan irigasi serta
pelayanan publik. ''Progam ini akan fokus pada peningkatan
kualitas, daya respons dan akuntabilitas institusi publik
yang menjalankan pembangunan tersebut,'' katanya.
Menurut Steer, jika
Indonesia bisa membuktikan dengan kinerja yang bagus pada
pelaksanaan program tersebut -- terindikasi dari
meningkatnya iklim investasi, kualitas pelayanan, serta
mutu tata pemerinta -- Bank Dunia akan menambah
pinjamannya hingga 1,4 milyar dolar AS per tahun.
Lebih lanjut ia
mengatakan, dari jumlah plafon pinjaman tersebut
sepertiganya atau sekitar 230 juta dolar AS akan berbentuk
kredit sangat longgar berjangka waktu 35 tahun tanpa bunga
dari International Development Association (IDA). Meski
begitu, Bank Dunia tetap mengenakan commitment fee
(administration fee) 0,75 persen dari saldo yang telah
cair.
Soal alokasi
pinjaman tersebut, Steer menjelaskan, akan disesuaikan
dengan program yang ada di Bank Dunia. Antara lain, 40
persen untuk pelayanan lokal dengan menciptakan
pertanggungjawaban tingkat kabupaten dan propinsi.
Kemudian, 25 persen untuk meningkatkan keberhasilan
program dari landasan pembangunan yang digerakkan
masyarakat dan 15 persen ditujukan pada utilitas publik
dengan fokus untuk tata laksana perusahaan dan efisiensi
penyediaan air bersih dan energi. Sementara sisanya, 20
persen dengan fokus penanganan masalah-masalah utama di
Indonesia.
Makro
Ekonomi
Soal kinerja makro
ekonomi dan politik Indonesia, Bank Dunia menilai sejauh
ini sudah sedikit mampu mengurangi tingkat kemiskinan.
Namun, stabilitas yang diciptakan tersebut belum cukup
mampu untuk menahan kemerosotan tingkat kemiskinan ke
jurang lebih dalam. Hal ini dikarenakan tingkat
pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya empat persen meski
stabilitas makro dan politik relatif terjaga. "Karena
itu, masalah kemiskinan tetap menjadi tantangan buat
pemerintah Indonesia," ujarnya.
Steer menuturkan,
meski saat ini rasio utang publik terhadap PDB telah
berkurang dari 100 persen menjadi 72 persen, dan inflasi
di bawah tujuh persen, serta kemiskinan dilihat dari
penghasilan telah turun dari 27 persen menjadi 16 persen,
tetapi lebih dari 110 juta penduduk masih hidup dengan
penghasilan 2 dolar AS per hari.
Bedasarkan data
tersebut, Bank Dunia berkesimpulan bahwa kinerja
pemerintah Indonesia masih kurang dibanding dengan
negara-negara tetangga dalam mengakses fasilitas kesehatan
berkualitas, pendidikan dan pelayanan dasar lainnya.
Kelemahan mendasar yang dimiliki Indonesia, menurut Steer,
rendahnya investasi dan lemahnya penyediaan pelayanan oleh
pemerintah. (kmb2)
|