kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 4 Desember 2003

 Ekonomi


Kualitas Rendah-------

Buah Indonesia Kalah Bersaing di Pasar Internasional

Denpasar (Bali Post) -
Produksi buah-buahan Indonesia lima tahun terakhir ini mengalami peningkatan sekitar 63 persen, yakni 7.236.515 ton tahun 1998 menjadi 11.789.675 ton tahun 2002. Meski mengalami peningkatan produksi, mutu maupun kualitasnya masih belum bisa bersaing di pasaran internasional. Produk yang layak ekspor hanya mencapai sekitar 10-20 persen dari total produksi atau 69.410 ton di tahun 2002, sedangkan impor buah pada tahun yang sama mencapai 250.000 ton atau sekitar 2 persen dari total produk buah Indonesia.

Demikian diungkapkan Menteri Pertanian Bungaran Saragih dalam sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Jenderal (Dirjen) Direktorat Bina Produksi Holtikultura Dr. Sumarno, M.Sc. dalam Pembukaan Festival Buah Tropis Indonesia (Indonesia Tropical Fruit Festival -- ITF2), Rabu (3/12) kemarin. Dalam sambutannya, Bungaran mengemukakan kendala ekspor buah Indonesia karena belum mampu memenuhi persyaratan standar mutu yang ditetapkan negara tujuan. Produk yang selama ini diekspor pun, masih mengambil dari tanaman pekarangan dan kebun campuran -- bukan berasal dari kebun buah yang dikelola secara profesional.

Ia menilai produksi buah-buahan masih perlu ditingkatkan minimal 36 persen dalam empat tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri.

Sumarno ditemui usai membuka acara ITF2 ini menambahkan, peningkatan kesejahteraan petani lebih efektif dengan membina pedagang buah atau pengumpul buah. Para suplier supermarket dan Deptan telah menentukan kualitas buah sesuai standar internasional. ''Adanya standar mutu ini, berarti hanya buah-buahan yang sesuai standar yang dibeli suplier dengan harga yang lebih baik. Cara yang efektif ini telah dilakukan di Jawa Timur, Jakarta, dan Jawa Barat. Memang harus ada insentif harga dan juga penampung,'' ujarnya.

Ia mengharapkan terjadi peningkatan mutu produk buah yang baik sekitar lima persen pada satu tahun ke depan. Artinya produksi buah Indonesia yang memenuhi standar internasional pada tahun 2004 menjadi sekitar 25 persen. Dikemukakannya, mutu 25 persen itu pun masih sangat kecil bila dibandingkan negara-negara pengekspor buah yang jaminan mutunya mencapai 85 persen dari total produksinya.

''Kelemahan kita masih pada mutu yang belum standar,'' tandasnya. Rendahnya mutu ini, nilai Sumarno, lebih dikarenakan adanya penebasan secara sembarangan sehingga kualitas tidak terjaga.

Potensi Bali

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Bali Dewa Suarta mengatakan, buah-buahan merupakan suatu kebutuhan yang mutlak diperlukan masyarakat Bali. Kedekatan masyarakat terhadap buah ini tak hanya untuk konsumsi langsung, juga digunakan sebagai persembahan kepada Tuhan. Hampir sebagian besar prosesi ritual umat Hindu memerlukan buah sebagai sarana pelengkapnya.

Diungkapkannya, beberapa buah yang dianggap sebagai potensi Bali, seperti mangga, salak, manggis, dan jeruk keprok, telah dikembangkan produksi dan kualitasnya melalui pendirian sentra-sentra produksi. Pengembangan sentra buah yang potensial, kata Suarta, masih harus secara kontinu dilaksanakan selain berusaha mengatasi berbagai penyakit yang menghambat produksi dan merusak kualitas buah. Selama ini yang menjadi perhatian pemerintah, menurut Suarta, masih terfokus pada usaha mengembangkan teknologi yang tepat untuk memperkuat daya tahan tanaman. Selama ini yang menjadi andalan atau potensi produk holtikultura Bali terdiri atas sayur-sayuran dan buah. Yang paling menonjol produksinya untuk tahun 2002 lalu adalah pisang dengan total produksi mencapai 1.242.536 kuintal. Sentra produksinya terletak di tiga kabupaten, yakni Buleleng, Jembrana, dan Gianyar.

Untuk buah jeruk keprok, diakui Suarta, masih belum ditemukan teknologi pengobatan ataupun pencegahan agar tanaman bisa tahan terhadap serangan CPVD. ''Masih mencari-cari teknologinya. Secara tegas belum ada teknologi pengobatan yang mampu mengamankan tanaman jeruk dari serangan CVPD. Kalau pisang kita sudah bisa mengatasi penyakit layu,'' katanya. Jeruk yang dulunya merupakan salah satu produk andalan Bali ini, sentra produksinya difokuskan pada daerah Kintamani, Bangli. Meski demikian, Tejakula yang dulunya merupakan sentra produksi terbesar dan penghasil terbanyak di Bali, juga diusahakan untuk dikembalikan kejayaannya. (iah)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)