Kualitas Rendah-------
Buah Indonesia
Kalah Bersaing di Pasar Internasional
Denpasar
(Bali Post) -
Produksi buah-buahan Indonesia lima tahun terakhir ini
mengalami peningkatan sekitar 63 persen, yakni 7.236.515
ton tahun 1998 menjadi 11.789.675 ton tahun 2002. Meski
mengalami peningkatan produksi, mutu maupun kualitasnya
masih belum bisa bersaing di pasaran internasional. Produk
yang layak ekspor hanya mencapai sekitar 10-20 persen dari
total produksi atau 69.410 ton di tahun 2002, sedangkan
impor buah pada tahun yang sama mencapai 250.000 ton atau
sekitar 2 persen dari total produk buah Indonesia.
Demikian diungkapkan
Menteri Pertanian Bungaran Saragih dalam sambutan tertulis
yang dibacakan Direktur Jenderal (Dirjen) Direktorat Bina
Produksi Holtikultura Dr. Sumarno, M.Sc. dalam Pembukaan
Festival Buah Tropis Indonesia (Indonesia Tropical Fruit
Festival -- ITF2), Rabu (3/12) kemarin. Dalam sambutannya,
Bungaran mengemukakan kendala ekspor buah Indonesia karena
belum mampu memenuhi persyaratan standar mutu yang
ditetapkan negara tujuan. Produk yang selama ini diekspor
pun, masih mengambil dari tanaman pekarangan dan kebun
campuran -- bukan berasal dari kebun buah yang dikelola
secara profesional.
Ia menilai produksi
buah-buahan masih perlu ditingkatkan minimal 36 persen
dalam empat tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan dalam
dan luar negeri.
Sumarno ditemui usai
membuka acara ITF2 ini menambahkan, peningkatan
kesejahteraan petani lebih efektif dengan membina pedagang
buah atau pengumpul buah. Para suplier supermarket dan
Deptan telah menentukan kualitas buah sesuai standar
internasional. ''Adanya standar mutu ini, berarti hanya
buah-buahan yang sesuai standar yang dibeli suplier dengan
harga yang lebih baik. Cara yang efektif ini telah
dilakukan di Jawa Timur, Jakarta, dan Jawa Barat. Memang
harus ada insentif harga dan juga penampung,'' ujarnya.
Ia mengharapkan
terjadi peningkatan mutu produk buah yang baik sekitar
lima persen pada satu tahun ke depan. Artinya produksi
buah Indonesia yang memenuhi standar internasional pada
tahun 2004 menjadi sekitar 25 persen. Dikemukakannya, mutu
25 persen itu pun masih sangat kecil bila dibandingkan
negara-negara pengekspor buah yang jaminan mutunya
mencapai 85 persen dari total produksinya.
''Kelemahan kita
masih pada mutu yang belum standar,'' tandasnya. Rendahnya
mutu ini, nilai Sumarno, lebih dikarenakan adanya
penebasan secara sembarangan sehingga kualitas tidak
terjaga.
Potensi Bali
Kepala Dinas
Pertanian dan Tanaman Pangan Bali Dewa Suarta mengatakan,
buah-buahan merupakan suatu kebutuhan yang mutlak
diperlukan masyarakat Bali. Kedekatan masyarakat terhadap
buah ini tak hanya untuk konsumsi langsung, juga digunakan
sebagai persembahan kepada Tuhan. Hampir sebagian besar
prosesi ritual umat Hindu memerlukan buah sebagai sarana
pelengkapnya.
Diungkapkannya,
beberapa buah yang dianggap sebagai potensi Bali, seperti
mangga, salak, manggis, dan jeruk keprok, telah
dikembangkan produksi dan kualitasnya melalui pendirian
sentra-sentra produksi. Pengembangan sentra buah yang
potensial, kata Suarta, masih harus secara kontinu
dilaksanakan selain berusaha mengatasi berbagai penyakit
yang menghambat produksi dan merusak kualitas buah. Selama
ini yang menjadi perhatian pemerintah, menurut Suarta,
masih terfokus pada usaha mengembangkan teknologi yang
tepat untuk memperkuat daya tahan tanaman. Selama ini yang
menjadi andalan atau potensi produk holtikultura Bali
terdiri atas sayur-sayuran dan buah. Yang paling menonjol
produksinya untuk tahun 2002 lalu adalah pisang dengan
total produksi mencapai 1.242.536 kuintal. Sentra
produksinya terletak di tiga kabupaten, yakni Buleleng,
Jembrana, dan Gianyar.
Untuk buah jeruk
keprok, diakui Suarta, masih belum ditemukan teknologi
pengobatan ataupun pencegahan agar tanaman bisa tahan
terhadap serangan CPVD. ''Masih mencari-cari teknologinya.
Secara tegas belum ada teknologi pengobatan yang mampu
mengamankan tanaman jeruk dari serangan CVPD. Kalau pisang
kita sudah bisa mengatasi penyakit layu,'' katanya. Jeruk
yang dulunya merupakan salah satu produk andalan Bali ini,
sentra produksinya difokuskan pada daerah Kintamani,
Bangli. Meski demikian, Tejakula yang dulunya merupakan
sentra produksi terbesar dan penghasil terbanyak di Bali,
juga diusahakan untuk dikembalikan kejayaannya. (iah)
|