Mencermati Arus Balik dan Mudik (1) ----
Urban Masuk
Denpasar Ada Kecenderungan Menurun
Kependudukan dengan
segala eksesnya telah lama diwacanakan, namun tetap saja
melahirkan reaksi. Di kota-kota besar, masalah penduduk
malah menyita perhatian serius petingginya. Kesibukan
seperti di Denpasar yakni mencari strategi memfilter
aliran urban. Bercermin pada kondisi real Kota Denpasar --
dari segi kependudukan -- data terbaru menunjukkan sinyal
melegakan sekaligus mengerikan jika dilihat dari
pertumbuhan komposisi penduduk.
DENPASAR
yang luasnya hanya 127,8 km2 kini berpenduduk sekitar 561
ribu jiwa. Jumlah ini membuat komposisi penduduk per
kilometernya berada di atas ambang batas yakni 4.500 per
km, padahal idealnya kepadatan penduduk hanya 2.500 per
kilometer. Bahkan di dua desa yakni Pemecutan Kaja dan
Padangsambian jumlah penduduknya mencapai angka 88.977
jiwa per kilometer dan 37.977 per kilometer.
Data ini tentu akan
bergerak seiring dengan tingginya tingkat pertumbuhan
penduduk yang mencapai 3,5 persen per tahun. Kontribusi
pertumbuhan ini ternyata dominan dipasok kaum migran (68
persen) dan pertumbuhan penduduk alami hanya 34 persen.
Saat ini jumlah migran di Bali mencapai 184.000, yang 42
persen atau 82.500 di antaranya bermukim di Denpasar. Jika
dilihat asal migran, ternyata 62 persen berasal dari luar
Bali dan sisanya lokal Bali. Tinggi kontribusi migran
terhadap tingkat pertumbuhan penduduk jelas akan membuat
komposisi penduduk Bali dalam limit waktu tertentu akan
bergeser. Ada asumsi, dalam tahun tertetu dominasi orang
lokal akan menjadi minoritas jika pengendalian urban untuk
menjaga perimbangan komposisi tak terkendalikan. Dalam hal
ini mestinya ada komitmen dan payung hukum yang bergulir
dan dijalankan.
Cenderung
Turun
Dalam pemetaan
pendatang jika dikonsentrasikan pada perbandingan arus
mudik dan arus balik, ternyata Denpasar tergolong mampu
memberdayakan sinergi desa dinas dan pakraman. Predikat
mampu ini tentunya muncul jika merujuk angka-angka
distribusi kependudukan dari satu pintu, yakni Terminal
Ubung.
Berdasarkan tabulasi
yang dipresentasikan Kadis Kependudukan dan Capil (DKC)
Kota Denpasar Drs. I Nyoman Aryana, Rabu (3/12) kemarin,
dalam tiga tahun terakhir ada trend penurunan arus balik
menurun. Bahkan, ada kecenderungan orang yang mudik juga
menurun. Namun, jika dilihat dari angka-angka yang kembali,
jumlahnya tetap berada di atas tiga puluh ribu. Jumlah ini
tetap fantastis untuk ukuran Kota Denpasar.
Didampingi Kasi
Perencanaan DKC Drs. Dewa Sudarsana, M.Si. mengatakan,
tahun 2002 jumlah pemudik mencapai angka 59.373 dan yang
kembali 38.130 orang. Angka-angka ini menunjukkan selisih
mencapai 21.243 ribu orang. Sedangkan angka arus mudik
yang dibukukan tahun 2003 di Terminal Ubung mencapai
48.580 orang dan yang kembali baru 33.475 orang. Selisih
angka pemudik yang kembali mencapai 15.105 jiwa.
Namun, apakah dengan
lebih kecilnya angka yang kembali dengan yang mudik,
membuktikan Bali sukses memfilter pendatang? Jawabannya
belum tentu. Ada banyak strategi kaum urban untuk
menghindari jebakan. Memang gebrakan penertiban terpadu
yang dilakukan di Gilimanuk, membuat pendatang yang tak
jelas identitasnya menunda kedatangannya ke Bali. Jika
hanya menunda kedatangan, namun mencari celah lolos
tentunya penertiban penduduk harus dipolakan secara
kontinyu.
Dalam kacamata
Nyoman Aryana, plus minus dari minimnya pemudik yang
kembali ke Bali dimungkinkan oleh banyak faktor. Pertama,
selain pemudik umumnya bekerja di sektor informal yang tak
terikat waktu kerja, mereka umumnya masih menghabiskan
masa liburan sampai tahun baru. Yang kedua, memang sebuah
strategi kaum urban untuk menghindari dari jebakan
penertiban. Jika penurunan arus balik akibat indikator
yang kedua ini, maka tanggung jawab memfilter urban ke
Bali harus digaungkan tiap waktu, tidak temporer. Untuk
melakukan filterisasi secara kontinyu, Pemkot akan
melakukan jurus baru. Apa itu.
* dira
arsana
Data Arus
Mudik-Balik
Tahun Mudik Kembali
Minus
2001 59.600 48.040 11.560
2002 59.373 38.130 21.243
2003 48.580 33.475 15.105
NB: Data
dari Terminal Ubung diolah DKC
|