Realisme pada
Seni Lukis Indonesia
Awal sebuah kata realisme
muncul di dalam teori filsafat. Realisme merupakan paham atau
ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan. Dalam karya seni
visual, istilah realisme mulai muncul pertama kali di Prancis
sekitar tahun 1850, yang dipelopori oleh pelukis Gustav Courbet
dan Francois Millet. Tema dalam karya-karya pelukis realisme
pada masa itu lebih banyak mengambil objek kehidupan petani,
buruh, maupun tukang. Di sisi lain, seni lukis realisme di
Prancis, mendapat kecamatan keras dari para pemilik modal,
kolektor, serta galeri. Dalam konteks ini timbul sebuah
pertanyaan, bagaimana kemunculan seni lukis realisme di
Indonesia?
DI Indonesia,
realisme mulai muncul pada masa kolonial, tepatnya pada masa
Raden Saleh Syarif Bustaman pertama kali mempopulerkan karya
seni lukis yang bergaya realisme. Tak menutup kemungkinan gaya
realisme yang dibawakan Raden Saleh itu merupakan hasil pengaruh
dari realisme Barat. Hal ini dikarenakan ia pernah mengenyam
pendidikan dasar-dasar seni lukis realisme di Barat, salah satu
diantaranya di Belanda.
Sejak kedatangan Raden
Saleh di Indonesia, realisme muncul sebagai salah satu gaya
dalam seni lukis, dan gaya tersebut membawa perubahan baru seni
lukis di Indonesia. Hasil karya seni lukis Raden Saleh lebih
banyak mengambil tema kehidupan kaum bangsawan dan kehidupan
binatang.
Kepiawaian teknik, bentuk,
karakter, terang gelap dan seterusnya, yang diterapkan dalam
karya seni lukis tersebut, menjadi perhatian bagi
pelukis-pelukis lain di Indonesia, diantaranya adalah pelukis R.
Abdullah Suryosubroto, Wakidi dan M. Pirngadi. Tiga pelukis yang
pernah bergabung dalam sanggar Hindia Molek atau Mooi Indie
(1925-1938) ini, mencoba meneruskan realisme di Indonesia. Tema
yang dilukis masa itu hanya menampilkan keindahan alam
Indonesia. Tema ini kurang mendapat perhatian dari
pelukis-pelukis lain, karena menyempitkan gerakan tema seni
lukis di Indonesia. Para pelukis lain yang masih meneruskan gaya
realisme adalah Basuki Abdullah, Soedarso, Sudjojono, Affandi,
hingga Rustamdji. Para pelukis ini juga merupakan bagian salah
satu dari gabungan dalam sanggar-sanggar seni lukis Indonesia,
seperti ada yang tergabung dalam sanggar, Persagi (Persatuan
Ahli Gambar Indonesia 1938-1942), Poetera (Poesat Tenaga Rakyat),
Sim (Seniman Masyarakat), dan sebagainya.
Dengan muncul dan
berkembangnya beberapa sanggar seni lukis di Indonesia, maka
tema-temanya pun mengalami perkembangan -- tidak lagi terbatas
pada keindahan alam, binatang, potret, tetapi pada pengembangan
dari kehidupan dan penderitaan rakyat sehari-hari seperti
kehidupan orang cacat, orang miskin, pengamen, kaum buruh,
hingga petani. Di sisi lain, pengembangan pada teknik melukis
sangat diperhatikan pada masa itu, sehingga seni lukis realisme
Indonesia memiliki identitas pribadi.
Mengenang Kembali
Kini, salah satu kurator Indonesia yakni Merwan Yusuf telah
kembali memamerkan karya beraliran realisme di Galeri Cipta II
Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat. Pameran itu telah digelar 24
September dan berakhir 8 Oktober 2003. Tujuan pameran ini, tentu
untuk mengenang kembali pertumbuhan dan perkembangan seni lukis
realisme Indonesia. Karya-karya seni lukis yang ditampilkan pada
pameran kali ini antara lain karya Hendra Gunawan, Henk Ngantung,
Yuswantoro Adi, Ida Hadjar YW, Kustiya, Soedarso, hingga Gatot
Prakosa. Setiap karya realisme yang dipamerkan memiliki ciri
khas dan karakter pribadi. Hal ini nampak pada kemahiran pada
teknik melukis, terang gelap suatu objek, ketepatan bentuk,
kekontrasan warna-warna, komposisi, pengambilan objek, dll.
Salah satu contoh karya
seni lukis disamping menekankan pada bentuk, perspektif dan
terang gelap terdapat pada karya Yuswantoro Adi dan Dede Eri
Supria. Sementara karya-karya Gatot Prakosa lebih mengandalkan
pada komposisi bentuk, warna dan ruang. Kemudian karya Hendra
Gunawan menekankan pada permainan warna-warna kontras yang
terdapat pada setiap objek, dan penampilan warna-warna juga
nampak terpisah-pisah. Pemisahan warna-warna ini, disamping
mengesankan terang-gelapnya cahaya, dekat-jatuhnya objek dan
memberi kesan ngeri, jijik dan takut. Kemudian bentuk wajah
khususnya pada bagian wajah dari masing-masing objek hampir
dibuat sama sehingga karakter objeknya juga berkesan sama.
Pijakan-pijakan dasar
kesenilukisan realisme yang diterapkan masing-masing pelukis ini
memberi dampak positif bagi kalangan pelukis muda lainnya,
sehingga seni lukis realisme tetap menjadi eksis di masyarakat.
Di samping itu, realisme merupakan dasar untuk melangkah menuju
pada gaya-gaya berikutnya seperti surealis, abstrak,
ekspresionis, kubisme, pop art, dan seterusnya. Bagi kalangan
masyarakat luas -- negara Timur dan Barat, seni lukis realisme
sangat mudah dipahami karena disamping bentuknya jelas,
tekniknya halus dan dari segi temanya lebih banyak menggambarkan
realitas sosial. Bahwa realitas sosial yang terjadi di kalangan
masyarakat umumnya menjadi perhatian bagi para pelukis dunia,
sehingga pahit dan bahagianya kehidupan masyarakat setempat
tetap memberi inspirasi bagi kalangan seniman.
* made bambang oka
s.
|