kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 20 Mei 2002

 FENOMENA


Mei 2002, RS Sanglah ''Diserbu'' Korban Arak

PERIODE Mei 2002, sejumlah kejutan diterima para tenaga medis di RS Sanglah. Selain grafik jumlah korban demam berdarah (DB) belum menunjukkan garis menurun, RS Sanglah juga ''diserbu'' pasien keracunan arak. Kondisi yang lebih parah, di Manado dikabarkan 32 warga meninggal dalam sehari gara-gara keracunan minuman keras jenis champion -- kandungan alkohol mencapai 60 persen.

Dirut Perjan RS Sanglah dr. IG Lanang M. Rudiartha, MHA membenarkan, memasuki periode Mei 2002 kasus keracunan arak yang masuk rumah sakit meningkat tajam. Berdasarkan laporan para staf, pada Januari 2002 RS Sanglah hanya menerima dua pasien yang keracunan alkohol. Periode Februari 2002, tercatat dua penderita yang menjalani rawat inap akibat minuman keras (alkohol), dan tiga orang kembali masuk RSUP gara-gara keracunan alkohol. ''Jadi, Mei memang paling banyak. Saya dapat laporan, sudah sembilan korban arak ditangani RS Sanglah,'' tandasnya.

Kepala Humas RS Sanglah Putu Putra Husada, S.H. menyodorkan data lengkap yang berkaitan dengan pasien rawat inap akibat keracunan (intoksinasi). Dia menjelaskan, pada Januari 2002, tiga pasien keracunan obat masuk rumah sakit, dampak alkohol (2), minyak tanah (4), obat nyamuk (7), dan cairan pemutih pakaian (3). Dua pasien keracunan obat yang dirawat RSUP Sanglah selama Februari 2002, alkohol (2), minyak tanah (4), obat nyamuk (6), dan pemutih pakaian (2). Data Maret 2002 mencantunmkan, korban keracunan obat yang dirawat pihak RSUP ada 4 orang, minyak tanah (4), alkohol (3), obat nyamuk (7), dan cairan pemutih pakaian (3).

Lanang menegaskan, pihak RS Sanglah tidak menyiapkan ruangan khusus bagi salah satu jenis pasien -- termasuk korban arak atau berbagai jenis obat dan makanan bermasalah. Dia membantah ada perlakuan diskriminatif, bahkan ''menantang'' masyarakat yang merasa tak puas atas pelayanan rumah sakit agar menunjukkan data akurat. ''Pasien yang kena racun atau keracunan dirawat di berbagai ruangan, tergantung permintaan dan kondisi,'' tambahnya.

Khusus mengomentari korban arak melon atau jenis minuman mengandung racun, dia menyatakan, para tenaga medis hanya bisa berusaha keras melakukan upaya penyembuhan. Lanang berharap, pihak Balai Besar POM Denpasar lebih proaktif mendeteksi atau melakukan pengawasan di lapangan sebagai langkah antisipasi dini. ''Minimal bisa mengatasi agar jumlah korban tak bertambah banyak,'' tambahnya. (jep)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)


Info VALAS