kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 7 April 2002 tarukan valas
 

 Gebyar


Tari Oleg Tamulilingan, Keabadian Mario

Tari Oleg Tamulilingan karya I Ketut Maria (dipanggil Mario), seniman asal Tabanan pada 1951 -- yang memperlihatkan kelincahan olah tubuh dan serasi dengan iringan gamelan -- itu hingga kini merupakan salah satu tari Bali yang abadi dan digemari para penari. Banyak remaja Bali yang berangan-angan untuk menguasai tari yang menggambarkan romantika lelaki dan perempuan dengan sempurna itu.

TARI Oleg Tamulilingan adalah tarian yang setiap geraknya mengandung karakter keindahan Bali. Penciptanya yang lebih dikenal dengan panggilan Mario, mendapat kehormatan dengan mengabadikan namanya sebagai nama gedung pertemuan Pemkab Tabanan, 21 km barat Denpasar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan telah menggelar Lomba Tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong yang terbuka untuk peminat di seluruh Bali, guna mengenang dan mendiang Mario. Bupati Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama menyambut baik penyelenggaraan lomba ini. Ratusan remaja dari delapan kabupaten/kota di Bali sempat mendaftarkan diri sebagai peserta, namun panitia hanya menyediakan tempat bagi 40 pasang penari Oleg dan 16 penari Kebyar Terompong. Jumlah peserta kali ini lebih banyak jika dibandingkan dengan lomba serupa tahun lalu hanya diikuti 20 peserta.

Kompetisi tari Bali yang berlangsung 25-27 Maret lalu di Gedung Mario Tabanan ini juga menjadi hiburan segar bagi masyarakat, selain tujuan utamanya sebagai ajang peningkatan kreativitas seni di daerah "lumbung beras" Bali itu. Generasi muda terlihat antusias mengikuti lomba tari Oleg yang menjadi wadah untuk membuktikan kemampuan dan penguasaan tari serta memperebutkan hadiah total senilai Rp 37 juta. "Tari Oleg itu lembut namun punya tingkat kesulitan tinggi, mendorong saya ingin menjadi penari Oleg terbaik di Bali," tutur Wiwik (18), peserta dari Karangasem. Niat luhur dari Disbudpar dalam mempertahankan gaya tari rancangan Mario patut dihargai, ungkap I Gusti Agung Ngurah Supartha, salah seorang tim juri dalam lomba tersebut. Mantan Kepala Taman Budaya Denpasar itu melihat dalam perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong belakangan ini muncul semacam rasa waswas bahwa "Oleg asli ciptaan Mario" bisa punah "ditelan gelombang" tari baru yang tak tentu arah dan akar budayanya.

Perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong dalam beberapa periode belakangan memang mengalami perubahan gerak, jika diamati dengan cermat, perubahan itu bisa berakibat buruk. Pengenalan gaya Mario menurut Agung Suparta lebih memicu kreativitas generasi muda terhadap bentuk-bentuk "pemberontakan" Mario pada masanya. "Dalam tari Oleg Tamulilingan, bisa dilihat simbol-simbol pemberontakan gerak yang dilakukan Mario dalam seni tari Bali," tutur seorang pengamat seni muda Tabanan, Putu Arista Dewi.

Gaya asli Mario memang seharusnya dikenali secara cermat. Banyak puncak-puncak pencapaian gerak dari Mario yang sulit ditandingi seniman masa kini. Misalnya dari segi properti, kipas, panggul terompong dan kancut dalam tarian ciptaan Mario bukan hanya berfungsi sebagai alat semata, namun menyatu dan saling mendukung dalam gerak tubuh penari. "Oleh sebab itu gaya Mario perlu dilestarikan, sebelum punah dan sulit melacak asal-usulnya," ujar Ayu Trisna Dewi Prihatini, pengelola sekaligus Pemilik Sanggar Tari Ayu di Tabanan.

Memang Unik
Dosen Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, I Made Arnawa, S.S.Kar menambahkan, lomba tari Oleg secara berkesinambungan akan mampu membuktikan sejauhmana ciptaan Mario ini telah direvisi dan diaplikasikan oleh koreografer penerus.

Kisah terciptanya tari Oleg Tamulilingan memang unik dan berbelit. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dr. I Made Bandem yang sempat menghadiri acara pembukaan lomba tersebut menceritakan, pada tahun 1950 seorang impresario Inggris, Jhon Coast bersama istrinya menetap di Kaliungu Denpasar selama dua tahun. Ia berhasrat membawa sebuah misi kesenian besar ke Eropa dan AS dan niatnya itu mendapat restu menghadap Presiden Soekarno. John Coast, mantan staf pada Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menyiapkan misi kesenian di Pulau Bali dan membuat Coast bertemu dengan penari terkenal I Mario dan muridnya I Sampih dari Peliatan Ubud. Coast bersahabat baik dengan pemain kendang dan Ketua Sekaa Gong Peliatan Anak Agung Gde Mandera yang mempertemukannya dengan I Mario. Pada awalnya I Mario menolak bergabung kembali ke Sekaa Gong Peliatan karena merasa tua dan sakit-sakitan. Saat itu umur Mario diperkirakan lebih dari 50 tahun. Namun, atas desakan dan pendekatan dari I Sampih, penggemar tajen atau sabung ayam itu akhirnya mau kembali ke Peliatan.

Pada April 1951, ketika John Coast memiliki kepastian untuk membawa misi kesenian ke Eropa dan AS, ia meminta I Mario bersama Anak Agung Gde Mandera menciptakan tari baru untuk melengkapi repertoar Gong Peliatan yang saat itu hanya memiliki Tari Janger dan Legong Keraton. Coast menawarkan I Mario menciptakan tari baru dengan menggunakan penari Legong Keraton, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin, dan penari Kebyar Duduk, I Sampih.

Maestro yang lahir di Belaluan Denpasar pada 1899 ini menyanggupinya, namun perlu waktu cukup lama untuk merenung dan belum juga menemukan gagasan untuk menciptakan tari baru. John Coast merangsang I Mario dengan memperlihatkan buku-buku tari balet klasik yang dilengkapi foto-foto tari pementasan balet "Sleeping Beauty". Imajinasi Mario pun bangkit. Foto-foto itu memberinya inspirasi untuk menciptakan tari Oleg Tamulilingan dan ia langsung mengajar I Sampih tabuh lagu-lagu sederhana agar bisa memulai latihan bersama Ni Gusti Ayu Raka Rasmin.

Sesudah batang-tubuh tari terwujud secara kasar, Sekaa Gong Peliatan mendapat giliran untuk mempelajari lagu kebyar untuk mengiringi tari peran laki-laki itu. "Semula I Mario menyebut ciptaannya itu dengan nama Tumulilingan Mangisep Sari," tutur Made Bandem. (ant)

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com