kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Maret 2002

BUDAYA


Menjadi Diri Sendiri ?

Oleh Pdt. Y. Pramana

MUSA , yang dikenal sebagai nabi pembawa hukum agama yang bernama Taurat, sedang melintasi padang gurun menggiring kambing domba (Keluaran 3). Di situ ia memperoleh pengalaman luar biasa. Ia berjumpa dengan Tuhan dalam penampakan-Nya berupa api. Serumpun semak duri menyala dalam kobaran api, namun semak itu tidak hangus terbakar. Heran bercampur dengan rasa hati-hati, Musa mendekati semak menyala itu dan ia mendengar suara: ''Janganlah datang dekat-dekat. Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus''. Musa menutup mukanya. Ia gentar menghadapi keajaiban Tuhan.

Pada waktu itu Tuhan menyatakan maksud-Nya hendak melepaskan umat dari penindasan bangsa Mesir. Tuhan bermaksud mengutus Musa pergi kepada Firaun dan melakukan negosiasi. Musa terhenyak dan berkata: ''Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun...?'' (ayat 11) Musa menyadari benar kemampuan dirinya. Sudah puluhan tahun terakhir ini pekerjaannya cuma menggembalakan kambing domba. Lingkungan alam yang mengitarinya hanyalah wilayah padang gurun yang gersang dan sepi. Pergaulannya amat terbatas. Memang dahulu ia pernah memperoleh pendidikan yang bagus di masa kecil dan mudanya, tapi sekarang pasti sudah ketinggalan zaman. Jadi, biarlah aku begini-begini saja, tak usahlah muluk-muluk untuk memperbaiki hidup ini.

Tampaknya Musa mau menjadi diri sendiri apa adanya. Namun masalah keinginan untuk menjadi diri sendiri demikian bisa disalah-mengertikan. Dalam sebuah pembicaraan ada seseorang yang minta, agar pihak lain menerima dirinya sambil berucap begini: ''Anda harus menerima saya, sebagaimana saya ini apa adanya. Saya tak bisa merubah diri saya''. Memang ada benarnya. Namun perlu kita masih berfikir ulang. Ucapan di atas bisa mencerminkan keyakinan dan kebahagiaan hidup yang dihidupinya, tapi bisa berarti pula, bahwa sebenarnya ia telah terpenjara oleh dirinya dan cukup hidup sebagai 'saya' yang begini ini. Terserah orang lain mau mengerti dirinya atau tidak, bukan masalah. Ia lupa, bahwa sesungguhnya patut ia hidup sebagai ''manusia'' yang penuh prospek ke depan.

Di pihak lain ada orang yang menginginkan hidupnya seperti orang lain. Ia tak puas dengan dirinya. Jika ia melihat orang yang sehat dan dinamis, maka ia ingin seperti orang yang dinamis dan sehat. Jika ia tahu ada orang yang sukses dan banyak dipuji, ia pun ingin menjadi seperti orang yang sukses dan terpuji. Gejala ini juga dapat menghinggapi kita. Kita mungkin berpikir, bahwa jalan hidup kita salah. Bagian yang kita peroleh tak sebanyak orang lain, yang cukup membuat hidup kita kaya. Kita merasa bernasib kurang baik, sehingga hidup tak bisa berkembang. Kita cenderung selalu merasa diri kurang dan orang lain tampak lebih: ''Alangkah bahagianya, jika kau bisa seperti orang itu''. Keadaan semacam ini mengandung bahaya yang dapat mengantar kita kepada krisis identitas. Kita lebih ingin menjadi orang lain daripada diri kita sendiri.

Pertanyaan Musa, yang sebenarnya lebih bersifat keluhan kepada Tuhan: ''Siapakah aku ini, mengandung kedua unsur di atas. Dan Tuhan memberi jawaban yang menarik. Tuhan menjawab: ''Bukankah Aku akan menyertai engkau?'' (ayat 12). Ini sejenis pertanyaan oratoris. Bentuknya pertanyaan, namun sebenarnya sebuah pernyataan. Tuhan mau menyertai Musa, sebab Tuhan hendak membentuk dan memakai Musa sebagai alat-Nya. Di sini terletak sebuah rahasia hidup. Jika kita membuka diri bagi janji Tuhan, perspektif ke depan juga terbuka. Kita ini tak harus senantiasa sama seperti diri 'saya atau kita' kita sekarang, tapi sebagai manusia yang boleh dan dapat berubah.

Dalam pernyataan Tuhan, yang menutup diri akan menjadi orang yang terbuka. Yang biasa berbasa-basi dan malu bicara akan mampu mengungkapkan diri dengan bebas dan jelas. Yang gampang meledak marah akan kuat meredam emosinya. Yang biasa menggantungkan diri pada pihak lain akan mandiri. Yang hebat dan selalu berhasil sehingga merasa tak perlu orang lain, akan membangun persahabatan. Yang cerdas dan kemampuannya makin tinggi akan rendah hati dan mendasarkan hidupnya dengan cinta kasih. Demikianlah contoh-contoh lain masih dapat diperpanjang lagi.

Janji Tuhan 'Aku akan menyertai engkau' menerbitkan pengharapan terjadinya perubahan. Tuhan justru mau membebaskan kita dari apa, yang ingin kita buat bagi diri kita sendiri. Tuhan mau membangun jati diri kita menurut maksud-Nya. Siapa diri kita sebenarnya amat ditentukan oleh penyertaan Tuhan. Akan selalu muncul perubahan dan surprais dari Tuhan, ketika 'saya' menjadi diri saya.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)


Info VALAS