Menjadi Diri Sendiri ?
Oleh Pdt. Y.
Pramana
MUSA
, yang dikenal sebagai nabi pembawa hukum agama yang
bernama Taurat, sedang melintasi padang gurun menggiring
kambing domba (Keluaran 3). Di situ ia memperoleh
pengalaman luar biasa. Ia berjumpa dengan Tuhan dalam
penampakan-Nya berupa api. Serumpun semak duri menyala
dalam kobaran api, namun semak itu tidak hangus terbakar.
Heran bercampur dengan rasa hati-hati, Musa mendekati
semak menyala itu dan ia mendengar suara: ''Janganlah
datang dekat-dekat. Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu,
sebab tempat, di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang
kudus''. Musa menutup mukanya. Ia gentar menghadapi
keajaiban Tuhan.
Pada waktu itu
Tuhan menyatakan maksud-Nya hendak melepaskan umat dari
penindasan bangsa Mesir. Tuhan bermaksud mengutus Musa
pergi kepada Firaun dan melakukan negosiasi. Musa
terhenyak dan berkata: ''Siapakah aku ini, maka aku yang
akan menghadap Firaun...?'' (ayat 11) Musa menyadari benar
kemampuan dirinya. Sudah puluhan tahun terakhir ini
pekerjaannya cuma menggembalakan kambing domba. Lingkungan
alam yang mengitarinya hanyalah wilayah padang gurun yang
gersang dan sepi. Pergaulannya amat terbatas. Memang
dahulu ia pernah memperoleh pendidikan yang bagus di masa
kecil dan mudanya, tapi sekarang pasti sudah ketinggalan
zaman. Jadi, biarlah aku begini-begini saja, tak usahlah
muluk-muluk untuk memperbaiki hidup ini.
Tampaknya Musa mau
menjadi diri sendiri apa adanya. Namun masalah keinginan
untuk menjadi diri sendiri demikian bisa
disalah-mengertikan. Dalam sebuah pembicaraan ada
seseorang yang minta, agar pihak lain menerima dirinya
sambil berucap begini: ''Anda harus menerima saya,
sebagaimana saya ini apa adanya. Saya tak bisa merubah
diri saya''. Memang ada benarnya. Namun perlu kita masih
berfikir ulang. Ucapan di atas bisa mencerminkan keyakinan
dan kebahagiaan hidup yang dihidupinya, tapi bisa berarti
pula, bahwa sebenarnya ia telah terpenjara oleh dirinya
dan cukup hidup sebagai 'saya' yang begini ini. Terserah
orang lain mau mengerti dirinya atau tidak, bukan masalah.
Ia lupa, bahwa sesungguhnya patut ia hidup sebagai ''manusia''
yang penuh prospek ke depan.
Di pihak lain ada
orang yang menginginkan hidupnya seperti orang lain. Ia
tak puas dengan dirinya. Jika ia melihat orang yang sehat
dan dinamis, maka ia ingin seperti orang yang dinamis dan
sehat. Jika ia tahu ada orang yang sukses dan banyak
dipuji, ia pun ingin menjadi seperti orang yang sukses dan
terpuji. Gejala ini juga dapat menghinggapi kita. Kita
mungkin berpikir, bahwa jalan hidup kita salah. Bagian
yang kita peroleh tak sebanyak orang lain, yang cukup
membuat hidup kita kaya. Kita merasa bernasib kurang baik,
sehingga hidup tak bisa berkembang. Kita cenderung selalu
merasa diri kurang dan orang lain tampak lebih: ''Alangkah
bahagianya, jika kau bisa seperti orang itu''. Keadaan
semacam ini mengandung bahaya yang dapat mengantar kita
kepada krisis identitas. Kita lebih ingin menjadi orang
lain daripada diri kita sendiri.
Pertanyaan Musa,
yang sebenarnya lebih bersifat keluhan kepada Tuhan: ''Siapakah
aku ini, mengandung kedua unsur di atas. Dan Tuhan memberi
jawaban yang menarik. Tuhan menjawab: ''Bukankah Aku akan
menyertai engkau?'' (ayat 12). Ini sejenis pertanyaan
oratoris. Bentuknya pertanyaan, namun sebenarnya sebuah
pernyataan. Tuhan mau menyertai Musa, sebab Tuhan hendak
membentuk dan memakai Musa sebagai alat-Nya. Di sini
terletak sebuah rahasia hidup. Jika kita membuka diri bagi
janji Tuhan, perspektif ke depan juga terbuka. Kita ini
tak harus senantiasa sama seperti diri 'saya atau kita'
kita sekarang, tapi sebagai manusia yang boleh dan dapat
berubah.
Dalam pernyataan
Tuhan, yang menutup diri akan menjadi orang yang terbuka.
Yang biasa berbasa-basi dan malu bicara akan mampu
mengungkapkan diri dengan bebas dan jelas. Yang gampang
meledak marah akan kuat meredam emosinya. Yang biasa
menggantungkan diri pada pihak lain akan mandiri. Yang
hebat dan selalu berhasil sehingga merasa tak perlu orang
lain, akan membangun persahabatan. Yang cerdas dan
kemampuannya makin tinggi akan rendah hati dan mendasarkan
hidupnya dengan cinta kasih. Demikianlah contoh-contoh
lain masih dapat diperpanjang lagi.
Janji Tuhan 'Aku
akan menyertai engkau' menerbitkan pengharapan terjadinya
perubahan. Tuhan justru mau membebaskan kita dari apa,
yang ingin kita buat bagi diri kita sendiri. Tuhan mau
membangun jati diri kita menurut maksud-Nya. Siapa diri
kita sebenarnya amat ditentukan oleh penyertaan Tuhan.
Akan selalu muncul perubahan dan surprais dari Tuhan,
ketika 'saya' menjadi diri saya.
|