kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Maret 2002

BUDAYA


Joged Angguk-angguk

SEKEHA genjek itu sudah menampilkan nyanyian yang bagus. Syairnya tentang perlunya umat Hindu untuk melaksanakan yadnya berupa dana punia. Yadnya ini, begitu bunyi lirik lagunya, tak kalah pentingnya dengan membuat banten. Cara membawakan lagu itu pun termasuk kompak, variatif dengan celetukan khas gending genjek. Kabarnya, lagu itu khusus diciptakan untuk upacara yang ditunggu-tunggu ini: pemelaspasan balai banjar yang memang sebagian besar dananya didapat dari para donatur.

Tetapi begitu genjek mengalunkan suara: to ra... to re rut... tora ri... ret. dan suara angklung bambu menggebu-gebu, keluarlah penari joged dari Jembrana. Penonton gemuruh karena joged ini dikenal sebagai "joget angguk-angguk". Yang diangguk-anggukkan bukan kepalanya, tetapi pinggulnya. Gerakan-gerakan erotis yang di masa lalu sangat tabu untuk dibawakan penari wanita.

Luar biasa seni pertunjukan Bali sekarang ini. Terbuka dari segala sekat-sekat tabu. Seorang pengibing mengambil uang di sakunya dan diberikan kepada penari joged. Sang penari mengambilnya seraya menyodorkan pipi kirinya. Cup. Penonton bersorak. Lalu, masuklah ke tengah arena seorang perempuan dan langsung memukul pengibing dengan bambu kecil. Pengibing lari ke luar arena, sang perempuan sempat memaki joged dengan teriakan: nener! Penonton terpingkal-pingkal.

Tetapi, adegan itu juga menjadi hal yang biasa-biasa saja. Perempuan itu adalah istri dari pengibing, tidak ada pertengkaran yang berlanjut di luar arena. Penonton tetap tertawa sambil berceloteh kangin-kauh, joged pun tetap "angguk-angguk" sambil mencari pengibing lainnya, tak terpengaruh dengan predikat nener -- di kampung itu kata ini berarti wanita kurang baik. Adapun para genjek, kini sudah menjadi "pemain figuran", tak lagi didengar lagunya. Mungkin pesan moral yang disampaikan lewat syair tadi tak ada yang masuk ke otak penontonnya.

Seni pertunjukan seperti ini adalah khas masyarakat Jawa pesisir di masa lalu dengan berbagai nama. Ada yang bernama tayub, ada yang bernama sinden (bukan pesinden yang dikenal dalam wayang kulit Jawa), ada yang menyebut ronggeng, dan entah apa lagi. Kalau kita melihat sinetron yang mengambil tema silat dengan setting masa lalu, tari-tari seperti ini selalu muncul sebagai penyedap. Di sekitar arena digambarkan para pendekar mabuk-mabukan, lalu ada perkelahian memperebutkan sang ronggeng.

Masyarakat Bali dikenal memiliki seni pertunjukan yang sopan, luhur dan mulia, anggun serta berwibawa. Pokoknya indah dan penuh dengan pesona. Tetapi itu dulu. Sekarang, semua ini disapu oleh banjir kebebasan yang kebablasan. Joged bukan lagi paduan tari sepasang remaja yang memamerkan keindahan gerak, tetapi asal berani jingkak-jingkrak dan punya modal yang kuat, yakni hilangnya rasa malu. Belakangan ini joged digabung dengan genjek, maka syair-syair genjek pun juga banyak yang serampangan, meski akibatnya syair bagus pun akan tenggelam jika joged sudah muncul. Sebagian besar lirik genjek mengarah pada percintaan, perselingkuhan, pertengkaran suami istri dengan bumbu-bumbu mesum: pengelocokan misi mako, baang cepok nagih pendo.

***

KENAPA "joged angguk-angguk" dijadikan kambing hitam? Bukankah hampir semua jenis seni pertunjukan Bali sudah kehilangan pamornya? Benar juga. Ada orang luar Bali yang bilang, seni pertunjukan Bali sudah kehilangan taksu. Yang dia maksudkan kehilangan wibawa dan greget, dialognya kering dengan muatan filsafat, geraknya miskin dengan simbol-simbol, sebagaimana yang ada di masa lalu. Pertanyaan dia adalah apakah senimannya yang salah atau masyarakatnya yang sakit?

Sulit untuk mengurai hal ini. Namun yang jelas, peranan globalisasi sekarang ini, terutama kemajuan teknologi komunikasi, jelas membawa dampak. Video sudah menyebar ke desa-desa, dijajakan di pinggir jalan. Mencari pedagang VCD sekarang ini lebih gampang dibandingkan mencari pedagang laklak, pisang rai, jaja injin. Dan VCD yang dijajakan bukanlah kesenian yang bermutu, karena semuanya itu barang bajakan. Kesenian atau film bermutu pastilah sulit dibajak karena ada proteksi atau ada sanksi yang berat.

Kemudian peranan televisi juga besar dampaknya. Televisi ikut mempropagandakan seni pertunjukan murahan, dan masyarakat memandang bahwa pertunjukan jenis itulah yang jadi barometer. Televisi menjadi alat yang ampuh untuk membentuk selera masyarakat.

Dan masyarakat Bali mengalami hal itu. Stasiun televisi yang mangkal di Jakarta tak begitu tertarik untuk mengemas seni pertunjukan Bali yang bermutu, karena pemirsanya tidak banyak. Sponsor kurang, karena pengiklan di televisi akan melihat seberapa besar pemirsanya. Satu-satunya tumpuan yang ada adalah TVRI Denpasar. Celakanya, atas nama tidak ada dana, TVRI Denpasar tidak memproduksi acara kesenian Bali yang dipersiapkan dengan matang, baik oleh para senimannya maupun secara teknis oleh awak televisi. Yang disiarkan adalah seni pertunjukan Bali yang begitu saja direkam dari pentas-pentas di banjar atau di panggung-panggung terbuka.

Karena bukan pentas khusus, seni pertunjukan itu bukan mempertimbangkan mutu sebagai acuan pergelarannya, namun hiburan semata-mata. Mereka hanya menghibur masyarakat setempat yang lagi capek melaksanakan piodalan atau kerja sehari-hari. Ketika itu direkam dan kemudian disiarkan oleh TVRI, pemirsa di rumah akan sadar betapa "tak ada apa-apanya" pementasan itu. Suasananya sudah berbeda.

Persoalan yang muncul adalah masyarakat telanjur memberi cap bahwa seni pertunjukan model beginilah yang sah sekarang ini. Humor-humor yang sah adalah yang selalu menyerempet ke pornografi. Dialog-dialog tidak lagi bernas dan tidak membuat pemirsa yang menonton di rumahnya masing-masing, merasa terusik. Semuanya jadi hambar.

Jika ingin mengembalikan pamor seni pertunjukan di Bali, salah satu caranya adalah membuat lebih banyak panggung budaya dan merangsang kreativitas para seniman dengan berbagai cara: bisa subsidi atau sponsor, bisa lewat pemberian penghargaan atau festival. Memang ini butuh biaya, tetapi kalau takut mengeluarkan biaya yang besar untuk bidang kebudayaan, akan jadi apa Bali di masa depan? Modalnya sudah hilang, masak kita harus ikut "angguk-angguk".

* Putu Setia

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)


Info VALAS