Joged Angguk-angguk
SEKEHA
genjek itu sudah menampilkan nyanyian yang bagus. Syairnya
tentang perlunya umat Hindu untuk melaksanakan yadnya
berupa dana punia. Yadnya ini, begitu bunyi lirik lagunya,
tak kalah pentingnya dengan membuat banten. Cara
membawakan lagu itu pun termasuk kompak, variatif dengan
celetukan khas gending genjek. Kabarnya, lagu itu khusus
diciptakan untuk upacara yang ditunggu-tunggu ini:
pemelaspasan balai banjar yang memang sebagian besar
dananya didapat dari para donatur.
Tetapi begitu
genjek mengalunkan suara: to ra... to re rut... tora ri...
ret. dan suara angklung bambu menggebu-gebu, keluarlah
penari joged dari Jembrana. Penonton gemuruh karena joged
ini dikenal sebagai "joget angguk-angguk". Yang
diangguk-anggukkan bukan kepalanya, tetapi pinggulnya.
Gerakan-gerakan erotis yang di masa lalu sangat tabu untuk
dibawakan penari wanita.
Luar biasa seni
pertunjukan Bali sekarang ini. Terbuka dari segala
sekat-sekat tabu. Seorang pengibing mengambil uang di
sakunya dan diberikan kepada penari joged. Sang penari
mengambilnya seraya menyodorkan pipi kirinya. Cup.
Penonton bersorak. Lalu, masuklah ke tengah arena seorang
perempuan dan langsung memukul pengibing dengan bambu
kecil. Pengibing lari ke luar arena, sang perempuan sempat
memaki joged dengan teriakan: nener! Penonton
terpingkal-pingkal.
Tetapi, adegan itu
juga menjadi hal yang biasa-biasa saja. Perempuan itu
adalah istri dari pengibing, tidak ada pertengkaran yang
berlanjut di luar arena. Penonton tetap tertawa sambil
berceloteh kangin-kauh, joged pun tetap "angguk-angguk"
sambil mencari pengibing lainnya, tak terpengaruh dengan
predikat nener -- di kampung itu kata ini berarti wanita
kurang baik. Adapun para genjek, kini sudah menjadi "pemain
figuran", tak lagi didengar lagunya. Mungkin pesan
moral yang disampaikan lewat syair tadi tak ada yang masuk
ke otak penontonnya.
Seni pertunjukan
seperti ini adalah khas masyarakat Jawa pesisir di masa
lalu dengan berbagai nama. Ada yang bernama tayub, ada
yang bernama sinden (bukan pesinden yang dikenal dalam
wayang kulit Jawa), ada yang menyebut ronggeng, dan entah
apa lagi. Kalau kita melihat sinetron yang mengambil tema
silat dengan setting masa lalu, tari-tari seperti ini
selalu muncul sebagai penyedap. Di sekitar arena
digambarkan para pendekar mabuk-mabukan, lalu ada
perkelahian memperebutkan sang ronggeng.
Masyarakat Bali
dikenal memiliki seni pertunjukan yang sopan, luhur dan
mulia, anggun serta berwibawa. Pokoknya indah dan penuh
dengan pesona. Tetapi itu dulu. Sekarang, semua ini disapu
oleh banjir kebebasan yang kebablasan. Joged bukan lagi
paduan tari sepasang remaja yang memamerkan keindahan
gerak, tetapi asal berani jingkak-jingkrak dan punya modal
yang kuat, yakni hilangnya rasa malu. Belakangan ini joged
digabung dengan genjek, maka syair-syair genjek pun juga
banyak yang serampangan, meski akibatnya syair bagus pun
akan tenggelam jika joged sudah muncul. Sebagian besar
lirik genjek mengarah pada percintaan, perselingkuhan,
pertengkaran suami istri dengan bumbu-bumbu mesum:
pengelocokan misi mako, baang cepok nagih pendo.
***
KENAPA
"joged angguk-angguk" dijadikan kambing hitam?
Bukankah hampir semua jenis seni pertunjukan Bali sudah
kehilangan pamornya? Benar juga. Ada orang luar Bali yang
bilang, seni pertunjukan Bali sudah kehilangan taksu. Yang
dia maksudkan kehilangan wibawa dan greget, dialognya
kering dengan muatan filsafat, geraknya miskin dengan
simbol-simbol, sebagaimana yang ada di masa lalu.
Pertanyaan dia adalah apakah senimannya yang salah atau
masyarakatnya yang sakit?
Sulit untuk
mengurai hal ini. Namun yang jelas, peranan globalisasi
sekarang ini, terutama kemajuan teknologi komunikasi,
jelas membawa dampak. Video sudah menyebar ke desa-desa,
dijajakan di pinggir jalan. Mencari pedagang VCD sekarang
ini lebih gampang dibandingkan mencari pedagang laklak,
pisang rai, jaja injin. Dan VCD yang dijajakan bukanlah
kesenian yang bermutu, karena semuanya itu barang bajakan.
Kesenian atau film bermutu pastilah sulit dibajak karena
ada proteksi atau ada sanksi yang berat.
Kemudian peranan
televisi juga besar dampaknya. Televisi ikut
mempropagandakan seni pertunjukan murahan, dan masyarakat
memandang bahwa pertunjukan jenis itulah yang jadi
barometer. Televisi menjadi alat yang ampuh untuk
membentuk selera masyarakat.
Dan masyarakat Bali
mengalami hal itu. Stasiun televisi yang mangkal di
Jakarta tak begitu tertarik untuk mengemas seni
pertunjukan Bali yang bermutu, karena pemirsanya tidak
banyak. Sponsor kurang, karena pengiklan di televisi akan
melihat seberapa besar pemirsanya. Satu-satunya tumpuan
yang ada adalah TVRI Denpasar. Celakanya, atas nama tidak
ada dana, TVRI Denpasar tidak memproduksi acara kesenian
Bali yang dipersiapkan dengan matang, baik oleh para
senimannya maupun secara teknis oleh awak televisi. Yang
disiarkan adalah seni pertunjukan Bali yang begitu saja
direkam dari pentas-pentas di banjar atau di
panggung-panggung terbuka.
Karena bukan pentas
khusus, seni pertunjukan itu bukan mempertimbangkan mutu
sebagai acuan pergelarannya, namun hiburan semata-mata.
Mereka hanya menghibur masyarakat setempat yang lagi capek
melaksanakan piodalan atau kerja sehari-hari. Ketika itu
direkam dan kemudian disiarkan oleh TVRI, pemirsa di rumah
akan sadar betapa "tak ada apa-apanya"
pementasan itu. Suasananya sudah berbeda.
Persoalan yang
muncul adalah masyarakat telanjur memberi cap bahwa seni
pertunjukan model beginilah yang sah sekarang ini.
Humor-humor yang sah adalah yang selalu menyerempet ke
pornografi. Dialog-dialog tidak lagi bernas dan tidak
membuat pemirsa yang menonton di rumahnya masing-masing,
merasa terusik. Semuanya jadi hambar.
Jika ingin
mengembalikan pamor seni pertunjukan di Bali, salah satu
caranya adalah membuat lebih banyak panggung budaya dan
merangsang kreativitas para seniman dengan berbagai cara:
bisa subsidi atau sponsor, bisa lewat pemberian
penghargaan atau festival. Memang ini butuh biaya, tetapi
kalau takut mengeluarkan biaya yang besar untuk bidang
kebudayaan, akan jadi apa Bali di masa depan? Modalnya
sudah hilang, masak kita harus ikut "angguk-angguk".
*
Putu Setia
|