Seni
Pelipur, Seni Menghibur
SEKUNI adalah
tokoh cilik yang tak memiliki selera humor. Bima adalah
tokoh tegas, jujur, yang tak suka melucu. Dua tokoh dalam
cerita Mahabharata itu justru bukanlah Sekuni dan Bima
bila tak mampu membuat penonton tertawa dalam pentas
sendratari. Tahun 1980-an, ketika seni pertunjukan ini
jadi primadona dalam arena Pesta Kesenian Bali (PKB),
penonton tak akan puas bila Sakuni dan Bima tak tampil
dengan adegan-adegan konyolnya.
Kendati konyol,
yang jelas penonton pulang dengan lega dan terhibur. Namun,
ini bukan berarti muatan artistik seni drama tari ini
diabaikan begitu saja oleh masyarakat penonton. Tentu saja
kreativitas tari dan gereget tata karawitannya tetap
diapresiasi dan dikagumi. Tetapi tuntutan porsi hiburan,
lawakan yang berlebihan, dengan ''memaksa'' Sekuni dan
Bima membadut, adalah sebuah fenomena bergesernya visi
masyarakat terhadap keseniannya.
Lunturnya pamor
seni pertunjukan -- seni pertunjukan serius -- tampak pada
sisa-sisa kejayaan drama tari arja, dalam hal ini Arja Bon
RRI Denpasar di pengujung tahun 1970-an. Penyajian
protokoler dalam struktur penampilan teater ini sering
diberikan lewat begitu saja oleh penonton. Namun begitu,
tiba pada pemunculan Sadru (Punta), Monjong (Wijil), dan
Ribu (Mantri Buduh), barulah penonton merapat ke panggung.
Penampilan tiga tokoh ini memang mengundang kegairahan
dengan banyolan-banyolan atau gerak-gerak kocaknya.
Hanya kekocakan
drama gong yang masih mampu menggairahkan masyarakat Bali.
Bingkai estetikanya yang tak begitu ketat membuat teater
rakyat yang muncul pada tahun 1967 ini, leluasa melakukan
pembaruan dan penyegaran. Namun belakangan, seni pentas
yang biasanya ingar-bingar ini mulai lesu juga. Kebebasan
yang kebablasan justru mengkandaskannya. Penonton mulai
risi dengan humor-humornya yang menjurus porno vulgar.
Masyarakat merasa dilecehkan oleh dagelan-dagelannya yang
''kampungan''.
Kesenian adalah
simbol masyarakat pemiliknya. Eksistensi kesenian adalah
ekspresi dari dinamika dan perkembangan masyarakat
pendukungnya. Tak ada kesenian yang mampu eksis tanpa
memiliki komunitas. Drama tari gambuh misalnya, yang
diakui keadiluhungannya, adalah karena kemaesenasan kaum
bangsawan dan didukung fanatik masyarakat zaman feodal
yang sempat amat mapan di Bali. Atau teater bayang-bayang
wayang kulit yang dulu begitu karismatik, karena didukung
penonton yang homogen secara sosiokultural, di samping
minimnya alternatif kesenian lain.
***
KINI,
di tengah masyarakat Bali yang lebih cair -- dengan
berbagai sumber mata pencaharian dan dengan berbagai
kesibukannya masing-masing -- penonton lebih menyukai dan
cenderung lebih memilih, di antara banyaknya pilihan,
kesenian yang enteng, ringan, dan menghibur. Tontonan yang
letih dengan pesan moral dan sarat dengan beban muatan
filsafat -- apalagi disampaikan dengan begitu formal dan
serius ditambah bertele-tele -- cenderung ditinggalkan.
Menguaknya seni
pentas babondresan adalah refleksi dari transformasi nilai
itu. Bondres adalah tokoh-tokoh rakyat kalangan bawah yang
pemunculannya selalu ditunggu-tunggu penonton dalam drama
tari topeng. Kehadiran bondres sering menjanjikan kelucuan.
Kaki pincang, tangan bongkok tak keruan, mulut sumbing
super lebar, mata juling, tuli, pikun dan serbaneka cacat
fisik serta mental sering dijadikan ''potensi'' mengundang
tawa.
Figur-figur kocak
ini kini cenderung tampil tersendiri dengan sebutan
babondresan, tak lagi menjadi bagian dari pertunjukan
drama tari topeng. Ia kini dapat dijumpai di mana dan
kapan saja, dalam berbagai suasana dan kesempatan. Bisa
melucu tanpa penonton saat rekaman di studio televisi.
Siap menghibur undangan dalam sebuah resepsi perkawinan.
Ia juga suka membikin tergelak penonton berkelas di
hotel-hotel berbintang.
Berkibarnya arja
cowok belakangan ini dengan kemasannya yang menghibur
adalah karena dukungan psikologi masyarakat penonton yang
tak suka dengan yang ruwet-ruwet. Begitu pula naik daunnya
Wayang Cenk Blonk dan Wayang Tantri yang melenakan
penonton dengan dominasi bumbu lawakannya, adalah sangat
mungkin merupakan sebuah kompensasi atau bahkan pelarian
dari derita panjang keseharian masyarakat kita yang kian
terhimpit dan terjepit.
Kesenian tentu tak
mesti larut, membiarkan masyarakatnya terlena. Para
seniman memiliki kewajiban moral, lewat dunia yang
dilakoninya, menjadi pelipur yang positif. Seniman yang
kreatif akan dengan berbagai cara, baik verbal maupun
dalam laku estetis, ''mengindoktrinasi'' masyarakat dengan
pesan-pesan yang sejuk dan konstruktif. Fenomena
kecenderungan masyarakat yang menyukai seni tontonan ramai
tawa ria semestinya dijadikan tantangan oleh para insan
seni kita untuk mengaktualisasikan dan
menginternalisasikan nilai etika, estetika dan filsafat
dengan cara humoristis, elegan, dalam suasana riang dan
hati girang.
* Kadek
Suartaya
|