kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Maret 2002

BUDAYA


Seni Pelipur, Seni Menghibur

SEKUNI adalah tokoh cilik yang tak memiliki selera humor. Bima adalah tokoh tegas, jujur, yang tak suka melucu. Dua tokoh dalam cerita Mahabharata itu justru bukanlah Sekuni dan Bima bila tak mampu membuat penonton tertawa dalam pentas sendratari. Tahun 1980-an, ketika seni pertunjukan ini jadi primadona dalam arena Pesta Kesenian Bali (PKB), penonton tak akan puas bila Sakuni dan Bima tak tampil dengan adegan-adegan konyolnya.

Kendati konyol, yang jelas penonton pulang dengan lega dan terhibur. Namun, ini bukan berarti muatan artistik seni drama tari ini diabaikan begitu saja oleh masyarakat penonton. Tentu saja kreativitas tari dan gereget tata karawitannya tetap diapresiasi dan dikagumi. Tetapi tuntutan porsi hiburan, lawakan yang berlebihan, dengan ''memaksa'' Sekuni dan Bima membadut, adalah sebuah fenomena bergesernya visi masyarakat terhadap keseniannya.

Lunturnya pamor seni pertunjukan -- seni pertunjukan serius -- tampak pada sisa-sisa kejayaan drama tari arja, dalam hal ini Arja Bon RRI Denpasar di pengujung tahun 1970-an. Penyajian protokoler dalam struktur penampilan teater ini sering diberikan lewat begitu saja oleh penonton. Namun begitu, tiba pada pemunculan Sadru (Punta), Monjong (Wijil), dan Ribu (Mantri Buduh), barulah penonton merapat ke panggung. Penampilan tiga tokoh ini memang mengundang kegairahan dengan banyolan-banyolan atau gerak-gerak kocaknya.

Hanya kekocakan drama gong yang masih mampu menggairahkan masyarakat Bali. Bingkai estetikanya yang tak begitu ketat membuat teater rakyat yang muncul pada tahun 1967 ini, leluasa melakukan pembaruan dan penyegaran. Namun belakangan, seni pentas yang biasanya ingar-bingar ini mulai lesu juga. Kebebasan yang kebablasan justru mengkandaskannya. Penonton mulai risi dengan humor-humornya yang menjurus porno vulgar. Masyarakat merasa dilecehkan oleh dagelan-dagelannya yang ''kampungan''.

Kesenian adalah simbol masyarakat pemiliknya. Eksistensi kesenian adalah ekspresi dari dinamika dan perkembangan masyarakat pendukungnya. Tak ada kesenian yang mampu eksis tanpa memiliki komunitas. Drama tari gambuh misalnya, yang diakui keadiluhungannya, adalah karena kemaesenasan kaum bangsawan dan didukung fanatik masyarakat zaman feodal yang sempat amat mapan di Bali. Atau teater bayang-bayang wayang kulit yang dulu begitu karismatik, karena didukung penonton yang homogen secara sosiokultural, di samping minimnya alternatif kesenian lain.

***

KINI, di tengah masyarakat Bali yang lebih cair -- dengan berbagai sumber mata pencaharian dan dengan berbagai kesibukannya masing-masing -- penonton lebih menyukai dan cenderung lebih memilih, di antara banyaknya pilihan, kesenian yang enteng, ringan, dan menghibur. Tontonan yang letih dengan pesan moral dan sarat dengan beban muatan filsafat -- apalagi disampaikan dengan begitu formal dan serius ditambah bertele-tele -- cenderung ditinggalkan.

Menguaknya seni pentas babondresan adalah refleksi dari transformasi nilai itu. Bondres adalah tokoh-tokoh rakyat kalangan bawah yang pemunculannya selalu ditunggu-tunggu penonton dalam drama tari topeng. Kehadiran bondres sering menjanjikan kelucuan. Kaki pincang, tangan bongkok tak keruan, mulut sumbing super lebar, mata juling, tuli, pikun dan serbaneka cacat fisik serta mental sering dijadikan ''potensi'' mengundang tawa.

Figur-figur kocak ini kini cenderung tampil tersendiri dengan sebutan babondresan, tak lagi menjadi bagian dari pertunjukan drama tari topeng. Ia kini dapat dijumpai di mana dan kapan saja, dalam berbagai suasana dan kesempatan. Bisa melucu tanpa penonton saat rekaman di studio televisi. Siap menghibur undangan dalam sebuah resepsi perkawinan. Ia juga suka membikin tergelak penonton berkelas di hotel-hotel berbintang.

Berkibarnya arja cowok belakangan ini dengan kemasannya yang menghibur adalah karena dukungan psikologi masyarakat penonton yang tak suka dengan yang ruwet-ruwet. Begitu pula naik daunnya Wayang Cenk Blonk dan Wayang Tantri yang melenakan penonton dengan dominasi bumbu lawakannya, adalah sangat mungkin merupakan sebuah kompensasi atau bahkan pelarian dari derita panjang keseharian masyarakat kita yang kian terhimpit dan terjepit.

Kesenian tentu tak mesti larut, membiarkan masyarakatnya terlena. Para seniman memiliki kewajiban moral, lewat dunia yang dilakoninya, menjadi pelipur yang positif. Seniman yang kreatif akan dengan berbagai cara, baik verbal maupun dalam laku estetis, ''mengindoktrinasi'' masyarakat dengan pesan-pesan yang sejuk dan konstruktif. Fenomena kecenderungan masyarakat yang menyukai seni tontonan ramai tawa ria semestinya dijadikan tantangan oleh para insan seni kita untuk mengaktualisasikan dan menginternalisasikan nilai etika, estetika dan filsafat dengan cara humoristis, elegan, dalam suasana riang dan hati girang.

* Kadek Suartaya

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)


Info VALAS