kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Maret 2002

BUDAYA


Ngepop, Ekspresi di Perbatasan Budaya

WIDI WIDIANA cuma seorang anggota sekaa teruna di banjarnya, Legian Kelod, Kuta. Namun, lelaki pendiam ini bisa tampil di panggung modern dengan tata lampu warna-warni dan tata suara yang menggelegar membawakan beberapa lagu pop Bali mulai dari ''Kupu Kupu Nakal'' sampai ''Celeng Guling''. Mengenakan busana casual dengan model celana kedodoran, Widi jingkrak-jingkrat ke sana ke mari, terlihat menghayati makna lagu yang sedang dibawakan. Di belakangnya beberapa penyanyi menari mengikuti irama musik. Dalam beberapa tarian mengusung kesan tradisional dan tarian lainnya modern.

Penonton serius menyaksikan idolanya ini dan sebagian kecil, biasanya penonton putri memberanikan mendekati Widi dan berharap mereka mau diajak naik ke atas panggung, ''Siapa tahu mendapat ciuman''. Tiap Widi selesai bernyanyi, penonton bertepuk tangan dan bila Widi mengajak joged, mereka dengan tersipu-sipu malah ikut bergoyang. Itulah budaya ngepop yang sedang melanda di blantika kesenian Bali saat ini.

Pop art (kesenian/kebudayaan ngepop) menurut ''Britannica Ensiclopedia'' berkembang awal tahun 60-an, tokohnya antara lain Andy Warhol, Roy Lichtenstein, Claes Oldenburg dan Robert Indiana. Pop art sendiri merupakan karakter penggambaran semua aspek dari kebudayaan populer yang memberikan dampak yang kuat dari kehidupan kontemporer. Ikonografi yang dipakai diambil dari televisi, buku komik, majalah film, dan semua bentuk advertising yang disampaikan secara empati dan objektif tanpa memuja atau penghukuman tetapi dengan menunjukkan kesegaran dalam arti tetap menunjukkan ketepatan teknik komersial yang dipakai media dari ikonografi yang dipinjam.

Selain itu, gerakan pop art merupakan upaya untuk kembali lebih objektif dan umum dalam menerima karya seni. Pada saat itu, ada dominasi seniman abstrak ekspresionis Amerika dan Eropa. Gerakan ini sekaligus merupakan penentangan dan penolakan pada supremasi seni tinggi dan seni avant-garde. Jadi pop art merupakan refleksi dari faktor sosial dan situasi yang dihadapi masyarakat -- yang secara mudah dan cepat dieksploitasi media massa.

Walaupun kritik terhadap pop art, sebagai seni yang vulgar, sensasional, tanpa estetika atau sekadar joke, tetap diakui dan mendapat dukungan dalam dunia seni sebagai bagian dari demokrasi dan gerakan tanpa diskriminasi. Sehingga, pop art menjadi seni kebersamaan pandangan, baik oleh pengamat seni maupun orang yang tidak mengerti apa itu seni. Pop art sendiri merupakan keturunan dari dada, yaitu gerakan nihilisme di tahun 1920, di mana semangatnya adalah perlawanan kontemporer terhadap seriusnya dominasi parisia art.

Dedengkot pop art Amerika Andy Warhol membuat repetisi foto artis Marilyn Monroe dengan teknik cetak silk screen, hasilnya wajah artis legendaris Hollywood itu mucul dalam berbagai warna yang tidak sesuai dengan aslinya. Itu saja Andy juga masuk ke dalam berbagai media ekspresi, termasuk ke video dan terbukti kemudian, walau dia mengambil ikonografi dari media iklan saat itu, karyanya menjadi inspirasi karya grafis untuk iklan puluhan tahun kemudian. Di Indonesia sendiri sekitar tahun 1980 lahir dengan cerpen ngepopnya novelis Remy Sylado. Bahasa yang dipakai adalah bahasa gaul saat itu dan mudah dimengerti dan jauh dari buku-buku sastra yang memiliki berbagai pakem (aturan tata bahasa) yang kuat kala itu. Walau sempat kehilangan pijakan, novel ngepop ini kembali masuk dalam khazanah kebudayaan di Indonesia setelah difilmkan, salah satunya ''Cau Bau Kan'' yang kini sedang diputar di bioskop-bioskop negeri ini.

***

NGEPOP tanpa media massa mustahil, karena media massa memiliki peran penting dalam menyebarkan karya seni tersebut. Akibatnya, hanya karya seni yang mudah diterima dan dicerna yang bisa diterima dalam konteks budaya ngepop. Seperti juga snack kemasan, rasanya enak namun kandungan gizinya sangat sedikit. Namun, budaya ngepop memiliki kelemahan, seperti juga kebanyakan snack, yakni mudah diproduksi secara masal sehingga daya tahan terhadap waktu diakui sebagai sebuah karya yang fenomenal sesaat. Bila boleh menyitir sebaris kalimat dalam puisi ''Aku'' dari Chairil Anwar: sekali berarti setelah itu mati.

Masyarakat penerima karya ngepop ini juga tidak terlalu besar dalam memberikan penghargaan terhadap karya tersebut. Mereka menerima, terperangah, mencintai, lalu lupa saat karya pop lainnya datang menawarkan diri kepada mereka. Dalam kesenian pop Bali misalnya, sekarang bolehlah Widi Widiana menjadi idola kaum remaja di Bali, namun sebulan atau setahun lagi Widi akan terlupakan, lagu-lagunya tidak diputar lagi di radio-radio, bahkan tidak ada lagi yang ingat bagaimana melantunkan lagu tersebut. Idola baru muncul, bisa siapa saja. Memang dari sekian karya pop, tetap muncul karya adiluhung, yang kemudian tetap diingat, namun itu biasanya satu dari seribu karya.

Kesenian tinggi atau avant-garde bisa saja terlupakan, namun perlu waktu yang cukup panjang dan sistem masyarakat penikmatnya berubah drastis. Sementara budaya pop, sering lebih cepat dari sebulan, seperti badai, lewat sebentar setelah itu tak terasa lagi. Lihat saja demam Herry Potter beberapa minggu lalu, semua bicara buku dan filmnya. Namun sekarang, hanya segelintir orang yang masih ingat.

Budaya pop yang hanya mampu menimbulkan trend dan bukan makna, sering berhadapan dengan sifatnya yang renyah tersebut, sehingga mudah mengalami penjiplakan dalam segi kreativitas atau pengkopian dalam segi produksi. Teknologi media massa yang hadir untuk membantu budaya pop ini masuk ke seluruh dunia, akhirnya menjadi senjata makan tuan juga. Kita baru saja menonton bersama keluhan Michael Greene, Presiden dan CEO National Academy of Recording Art & Sciences Grammy Award ke-44 di layar kaca Indosiar, Kamis (28/2). Ia menyatakan, industri musik kini menghadapi ancaman karena tiap bulannya 3,6 milyar lagu secara ilegal di download lewat internet dengan software MP3. Dan yang bisa menghentikan, kata Greene, cuma lewat pendidikan kepada tiap orang untuk menghargai sebuah karya cipta.

Jadi, sesungguhnya Greene juga sebenarnya mengakui bahwa keberpihakan masyarakat pada kesenian pop rendah, sehingga tanpa rasa bersalah -- setelah mereka mudah mendapatkan --mereka tanpa permisi mengambil jadi miliknya, untuk setelah itu akan lupa lagi bahwa mereka sudah punya sesuatu yang sebenarya mereka harus jaga. Budaya pop di Bali seperti ini juga, kaset dan VCD Widi dan kawan-kawannya sudah menjadi bahan bajakan, namun penggemarnya atau fans-nya tidak peduli apakah mereka telah membantu Widi lebih sejahtera atau akan berhenti bernyanyi karena tidak ada lagi produser yang mau merekam lagunya. Karena dalam budaya pop, hubungan antarpihak-pihak terjalin secara longgar tanpa perekat emosi. Kalau muncul histeria fans, sebenarnya itu cuma kamuflase belaka dari budaya pop. Maka siapa suruh ngepop?

* Iwan Darmawan

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)


Info VALAS