Ngepop, Ekspresi di Perbatasan Budaya
WIDI
WIDIANA cuma seorang anggota sekaa teruna di
banjarnya, Legian Kelod, Kuta. Namun, lelaki pendiam ini
bisa tampil di panggung modern dengan tata lampu
warna-warni dan tata suara yang menggelegar membawakan
beberapa lagu pop Bali mulai dari ''Kupu Kupu Nakal''
sampai ''Celeng Guling''. Mengenakan busana casual dengan
model celana kedodoran, Widi jingkrak-jingkrat ke sana ke
mari, terlihat menghayati makna lagu yang sedang dibawakan.
Di belakangnya beberapa penyanyi menari mengikuti irama
musik. Dalam beberapa tarian mengusung kesan tradisional
dan tarian lainnya modern.
Penonton serius
menyaksikan idolanya ini dan sebagian kecil, biasanya
penonton putri memberanikan mendekati Widi dan berharap
mereka mau diajak naik ke atas panggung, ''Siapa tahu
mendapat ciuman''. Tiap Widi selesai bernyanyi, penonton
bertepuk tangan dan bila Widi mengajak joged, mereka
dengan tersipu-sipu malah ikut bergoyang. Itulah budaya
ngepop yang sedang melanda di blantika kesenian Bali saat
ini.
Pop art (kesenian/kebudayaan
ngepop) menurut ''Britannica Ensiclopedia'' berkembang
awal tahun 60-an, tokohnya antara lain Andy Warhol, Roy
Lichtenstein, Claes Oldenburg dan Robert Indiana. Pop art
sendiri merupakan karakter penggambaran semua aspek dari
kebudayaan populer yang memberikan dampak yang kuat dari
kehidupan kontemporer. Ikonografi yang dipakai diambil
dari televisi, buku komik, majalah film, dan semua bentuk
advertising yang disampaikan secara empati dan objektif
tanpa memuja atau penghukuman tetapi dengan menunjukkan
kesegaran dalam arti tetap menunjukkan ketepatan teknik
komersial yang dipakai media dari ikonografi yang dipinjam.
Selain itu, gerakan
pop art merupakan upaya untuk kembali lebih objektif dan
umum dalam menerima karya seni. Pada saat itu, ada
dominasi seniman abstrak ekspresionis Amerika dan Eropa.
Gerakan ini sekaligus merupakan penentangan dan penolakan
pada supremasi seni tinggi dan seni avant-garde. Jadi pop
art merupakan refleksi dari faktor sosial dan situasi yang
dihadapi masyarakat -- yang secara mudah dan cepat
dieksploitasi media massa.
Walaupun kritik
terhadap pop art, sebagai seni yang vulgar, sensasional,
tanpa estetika atau sekadar joke, tetap diakui dan
mendapat dukungan dalam dunia seni sebagai bagian dari
demokrasi dan gerakan tanpa diskriminasi. Sehingga, pop
art menjadi seni kebersamaan pandangan, baik oleh pengamat
seni maupun orang yang tidak mengerti apa itu seni. Pop
art sendiri merupakan keturunan dari dada, yaitu gerakan
nihilisme di tahun 1920, di mana semangatnya adalah
perlawanan kontemporer terhadap seriusnya dominasi parisia
art.
Dedengkot pop art
Amerika Andy Warhol membuat repetisi foto artis Marilyn
Monroe dengan teknik cetak silk screen, hasilnya wajah
artis legendaris Hollywood itu mucul dalam berbagai warna
yang tidak sesuai dengan aslinya. Itu saja Andy juga masuk
ke dalam berbagai media ekspresi, termasuk ke video dan
terbukti kemudian, walau dia mengambil ikonografi dari
media iklan saat itu, karyanya menjadi inspirasi karya
grafis untuk iklan puluhan tahun kemudian. Di Indonesia
sendiri sekitar tahun 1980 lahir dengan cerpen ngepopnya
novelis Remy Sylado. Bahasa yang dipakai adalah bahasa
gaul saat itu dan mudah dimengerti dan jauh dari buku-buku
sastra yang memiliki berbagai pakem (aturan tata bahasa)
yang kuat kala itu. Walau sempat kehilangan pijakan, novel
ngepop ini kembali masuk dalam khazanah kebudayaan di
Indonesia setelah difilmkan, salah satunya ''Cau Bau Kan''
yang kini sedang diputar di bioskop-bioskop negeri ini.
***
NGEPOP
tanpa media massa mustahil, karena media massa memiliki
peran penting dalam menyebarkan karya seni tersebut.
Akibatnya, hanya karya seni yang mudah diterima dan
dicerna yang bisa diterima dalam konteks budaya ngepop.
Seperti juga snack kemasan, rasanya enak namun kandungan
gizinya sangat sedikit. Namun, budaya ngepop memiliki
kelemahan, seperti juga kebanyakan snack, yakni mudah
diproduksi secara masal sehingga daya tahan terhadap waktu
diakui sebagai sebuah karya yang fenomenal sesaat. Bila
boleh menyitir sebaris kalimat dalam puisi ''Aku'' dari
Chairil Anwar: sekali berarti setelah itu mati.
Masyarakat penerima
karya ngepop ini juga tidak terlalu besar dalam memberikan
penghargaan terhadap karya tersebut. Mereka menerima,
terperangah, mencintai, lalu lupa saat karya pop lainnya
datang menawarkan diri kepada mereka. Dalam kesenian pop
Bali misalnya, sekarang bolehlah Widi Widiana menjadi
idola kaum remaja di Bali, namun sebulan atau setahun lagi
Widi akan terlupakan, lagu-lagunya tidak diputar lagi di
radio-radio, bahkan tidak ada lagi yang ingat bagaimana
melantunkan lagu tersebut. Idola baru muncul, bisa siapa
saja. Memang dari sekian karya pop, tetap muncul karya
adiluhung, yang kemudian tetap diingat, namun itu biasanya
satu dari seribu karya.
Kesenian tinggi
atau avant-garde bisa saja terlupakan, namun perlu waktu
yang cukup panjang dan sistem masyarakat penikmatnya
berubah drastis. Sementara budaya pop, sering lebih cepat
dari sebulan, seperti badai, lewat sebentar setelah itu
tak terasa lagi. Lihat saja demam Herry Potter beberapa
minggu lalu, semua bicara buku dan filmnya. Namun sekarang,
hanya segelintir orang yang masih ingat.
Budaya pop yang
hanya mampu menimbulkan trend dan bukan makna, sering
berhadapan dengan sifatnya yang renyah tersebut, sehingga
mudah mengalami penjiplakan dalam segi kreativitas atau
pengkopian dalam segi produksi. Teknologi media massa yang
hadir untuk membantu budaya pop ini masuk ke seluruh dunia,
akhirnya menjadi senjata makan tuan juga. Kita baru saja
menonton bersama keluhan Michael Greene, Presiden dan CEO
National Academy of Recording Art & Sciences Grammy
Award ke-44 di layar kaca Indosiar, Kamis (28/2). Ia
menyatakan, industri musik kini menghadapi ancaman karena
tiap bulannya 3,6 milyar lagu secara ilegal di download
lewat internet dengan software MP3. Dan yang bisa
menghentikan, kata Greene, cuma lewat pendidikan kepada
tiap orang untuk menghargai sebuah karya cipta.
Jadi, sesungguhnya
Greene juga sebenarnya mengakui bahwa keberpihakan
masyarakat pada kesenian pop rendah, sehingga tanpa rasa
bersalah -- setelah mereka mudah mendapatkan --mereka
tanpa permisi mengambil jadi miliknya, untuk setelah itu
akan lupa lagi bahwa mereka sudah punya sesuatu yang
sebenarya mereka harus jaga. Budaya pop di Bali seperti
ini juga, kaset dan VCD Widi dan kawan-kawannya sudah
menjadi bahan bajakan, namun penggemarnya atau fans-nya
tidak peduli apakah mereka telah membantu Widi lebih
sejahtera atau akan berhenti bernyanyi karena tidak ada
lagi produser yang mau merekam lagunya. Karena dalam
budaya pop, hubungan antarpihak-pihak terjalin secara
longgar tanpa perekat emosi. Kalau muncul histeria fans,
sebenarnya itu cuma kamuflase belaka dari budaya pop. Maka
siapa suruh ngepop?
* Iwan
Darmawan
|