Putu Suasta
:
Ngepop, Gejala Umum Dalam Kebudayaan Urban
Perkembangan
kesenian Bali yang cenderung ngepop di samping membawa
angin segar juga mengandung sebuah ketakutan akan
terkikisnya kesenian tradisional Bali. Bagaimana tidak,
keberadaan kesenian tardisional Bali yang ngepop ini
dengan keberaniannya menanggalkan pakem-pakem yang berlaku
dan menambahkannya dengan hal-hal yang nyeleneh. Namun
dalam perspektif kebudayaan urban, kata pengamat budaya
Drs. Putu Suasta, M.A., gejala ini tidak perlu
dikhawatirkan. Menurutnya, perubahan kesenian Bali yang
cenderung ngepop ini sebagai sesuatu yang wajar, dan
merupakan bentuk derivatif (turunan) dari kesenian
tradisional yang sudah ada. Apalagi pandangan Putu soal
arah kesenian dan kebudayaan Bali?
Bagaimana pandangan
Anda terhadap perkembangan kesenian di Bali, terutama seni
pertunjukannya yang saat ini cenderung ngepop?
Dalam kebudayaan
urban, adanya kecenderungan kesenian yang ngepop merupakan
gejala umum yang wajar terjadi. Bahkan hal-hal seperti ini
sudah terjadi di seluruh belahan dunia. Munculnya
kecenderungan kesenian yang ngepop ini sebenarnya bukanlah
hal yang baru bagi masyarakat Bali. Wayang Wakul dari
Lukluk yang menggelar pementasan wayangnya di atas truk
bisa menunjukkan hal ini.
Kalau mau diamati
lebih jauh perubahan tidak saja dialami dalam hal
berkesenian, juga dalam berbagai segi kehidupan masyarakat
yang terkait dengan kebudayaan. Adanya perubahan dalam
kegiatan ritual, terutama pada saat piodalan di pura
menunjukkan hal ini. Dulu piodalan di pura mengambil waktu
yang sangat lama, dari malam sampai pagi. Tetapi kini,
dilaksanakan dengan waktu yang lebih singkat. Tetapi
secara substansial acara-acara yang ada di dalamnya tidak
mengalami perubahan.
Faktor penyebabnya
apa?
Mengamati perubahan dalam berkesenian masyarakat Bali
tidak bisa dilepaskan dari adanya perubahan pola hidup
masyarakat agraris ke industri. Seperti diketahui bahwa
berbagai kesenian di Bali lahir dari struktur masyarakat
pertanian atau agraris. Masyarakat agraris dalam persoalan
waktu memiliki lebih banyak kelonggaran, sehingga memiliki
banyak waktu untuk menikamti kesenian.
Namun seiring
masuknya industri pariwisata ke Bali yang membawa
perubahan pada mata pencaharian masyarakat, pola kehidupan
agraris mulai ditinggalkan. Sebagian masyarakat mulai
mengarah pada kehidupan industri modern yang memiliki
sedikit sekali waktu luang. Tidak heran kalau kemudian
dalam perkembangannya semua aspek kehidupan masyarakat
Bali mementingkan kepraktisan, termasuk dalam hal
berkesenian. Jadi itu semua merupakan jawaban atas
berbagai tuntutan masyarakat yang makin terdesak oleh
tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomisnya.
Ada semacam
ketakutan bahwa kesenian pop ini akan merusak kesenian
tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu. Bagaimana
pandangan Anda?
Yang perlu
ditekankan dalam hal ini bahwa kesenian Bali adalah
kesenian yang memiliki masyarakat pendukung yang sangat
erat hubungannya dengan nilai-nilai kepercayaan masyarakat
Bali. Kesenian Bali tidak bisa dilepaskan dari kegiatan
ritual keagamaan. Setiap kegiatan ritual keagamaan
dipastikan menampilkan kesenian-kesenian tradisional
seperti tarian dan gamelan. Inilah yang akan tetap
mempertahankan kesenian-kesenian taradional Bali.
Selain itu perlu
dipahami bahwa kesenian yang ngepop bukanlah kesenian baru.
Kesenian yang ngepop merupakan turunan atau bentuk
derivatif dari kesenian yang sudah ada dan lahir dari
proses kreatif berkesenian para pelakunya. Jadi satu
dengan lainnya sebenarnya adalah sama. Seandainya pun
kesenian tradisonal Bali yang ngepop lebih digemari
masyarakat, itu semata-mata karena adanya kesesuaian
antara tuntutan masyarakat dengan hasil kreativitas pelaku
kesenian itu sendiri.
Dalam berkesenian,
masyarakat Bali mengenal adanya taksu, bahkan taksu
diyakini memegang peranan yang sangat penting. Lantas
apakah kesenian yang ngepop ini juga memiliki taksu?
Taksu sebagai wujud
dari konsentrasi enegri dari sang pelaku kesenian akan
lahir dengan sendirinya. Artinya selama sang pelaku
kesenian mampu mengkonsentrasikan energi berkeseniannya
secara total, maka kesenian itu akan memiliki taksu. Jadi
taksu baru akan tetap lahir dalam setiap kegiatan
berkesenian yang dilakukan masyarakat Bali selama itu
dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Yang juga perlu
diingat bahwa taksu muncul karena adanya pengakuan atau
legitimasi dari masyarakat pendukung kesenian itu sendiri.
Unatuk itu kesenian yang ngepop akan tetap memiliki taksu
sebagi bentuk dari konsentrasi energi dalam berkesenian.
Dengan perkembangan
masyarakat Bali yang makin kuat mengarah pada kehidupan
modern yang lebih mementingkan kepraktisan, bagaimana
nasib kebudayaan Bali secara keseluruhan di masa mendatang?
Saya melihat,
kebudayaan Bali akan tetap bertahan meski ada berbagai
macam perubahan-perubahannya. Selama kesenian Bali tetap
memiliki pendukung, kesenian tersebut akan tetap bertahan.
Terlebih lagi dengan keberadaan kesenian dan budaya Bali
yang tidak bisa dilepaskan dari keyakinan masyarakat Bali
yang memeluk agama Hindu. Meski modernisasi menyelimuti
masyarakat Bali, mereka akan tetap memiliki kerinduan
kepada kesenian tradisionalnya.
Saya ingin
menggunakan contoh dalam masalah ini adalah keberadan ikan
Coelacanth yang ada di perairan dekat Pulau Manado. Ikan
ini diperkirakan sudah berumur lebih dari 400 juta tahun
yang lalu pada zaman devonian. Waktu ini jauh lebih tua
dari zaman Dinosaurus yang hidup 200 juta tahun yang lalu.
Anehnya ikan ini sampai saat ini masih tetap ada dan
bertahan dalam bentuknya. Padahal ikan ini pernah
ditemukan dibongkahan batu karang dan diperkirakan sudah
tidak ada lagi.
*
Pewawancara: Winata
|