kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Maret 2002

BUDAYA


Putu Suasta :
Ngepop, Gejala Umum Dalam Kebudayaan Urban

Perkembangan kesenian Bali yang cenderung ngepop di samping membawa angin segar juga mengandung sebuah ketakutan akan terkikisnya kesenian tradisional Bali. Bagaimana tidak, keberadaan kesenian tardisional Bali yang ngepop ini dengan keberaniannya menanggalkan pakem-pakem yang berlaku dan menambahkannya dengan hal-hal yang nyeleneh. Namun dalam perspektif kebudayaan urban, kata pengamat budaya Drs. Putu Suasta, M.A., gejala ini tidak perlu dikhawatirkan. Menurutnya, perubahan kesenian Bali yang cenderung ngepop ini sebagai sesuatu yang wajar, dan merupakan bentuk derivatif (turunan) dari kesenian tradisional yang sudah ada. Apalagi pandangan Putu soal arah kesenian dan kebudayaan Bali?

Bagaimana pandangan Anda terhadap perkembangan kesenian di Bali, terutama seni pertunjukannya yang saat ini cenderung ngepop?

Dalam kebudayaan urban, adanya kecenderungan kesenian yang ngepop merupakan gejala umum yang wajar terjadi. Bahkan hal-hal seperti ini sudah terjadi di seluruh belahan dunia. Munculnya kecenderungan kesenian yang ngepop ini sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Bali. Wayang Wakul dari Lukluk yang menggelar pementasan wayangnya di atas truk bisa menunjukkan hal ini.

Kalau mau diamati lebih jauh perubahan tidak saja dialami dalam hal berkesenian, juga dalam berbagai segi kehidupan masyarakat yang terkait dengan kebudayaan. Adanya perubahan dalam kegiatan ritual, terutama pada saat piodalan di pura menunjukkan hal ini. Dulu piodalan di pura mengambil waktu yang sangat lama, dari malam sampai pagi. Tetapi kini, dilaksanakan dengan waktu yang lebih singkat. Tetapi secara substansial acara-acara yang ada di dalamnya tidak mengalami perubahan.

Faktor penyebabnya apa?
Mengamati perubahan dalam berkesenian masyarakat Bali tidak bisa dilepaskan dari adanya perubahan pola hidup masyarakat agraris ke industri. Seperti diketahui bahwa berbagai kesenian di Bali lahir dari struktur masyarakat pertanian atau agraris. Masyarakat agraris dalam persoalan waktu memiliki lebih banyak kelonggaran, sehingga memiliki banyak waktu untuk menikamti kesenian.

Namun seiring masuknya industri pariwisata ke Bali yang membawa perubahan pada mata pencaharian masyarakat, pola kehidupan agraris mulai ditinggalkan. Sebagian masyarakat mulai mengarah pada kehidupan industri modern yang memiliki sedikit sekali waktu luang. Tidak heran kalau kemudian dalam perkembangannya semua aspek kehidupan masyarakat Bali mementingkan kepraktisan, termasuk dalam hal berkesenian. Jadi itu semua merupakan jawaban atas berbagai tuntutan masyarakat yang makin terdesak oleh tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomisnya.

Ada semacam ketakutan bahwa kesenian pop ini akan merusak kesenian tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu. Bagaimana pandangan Anda?

Yang perlu ditekankan dalam hal ini bahwa kesenian Bali adalah kesenian yang memiliki masyarakat pendukung yang sangat erat hubungannya dengan nilai-nilai kepercayaan masyarakat Bali. Kesenian Bali tidak bisa dilepaskan dari kegiatan ritual keagamaan. Setiap kegiatan ritual keagamaan dipastikan menampilkan kesenian-kesenian tradisional seperti tarian dan gamelan. Inilah yang akan tetap mempertahankan kesenian-kesenian taradional Bali.

Selain itu perlu dipahami bahwa kesenian yang ngepop bukanlah kesenian baru. Kesenian yang ngepop merupakan turunan atau bentuk derivatif dari kesenian yang sudah ada dan lahir dari proses kreatif berkesenian para pelakunya. Jadi satu dengan lainnya sebenarnya adalah sama. Seandainya pun kesenian tradisonal Bali yang ngepop lebih digemari masyarakat, itu semata-mata karena adanya kesesuaian antara tuntutan masyarakat dengan hasil kreativitas pelaku kesenian itu sendiri.

Dalam berkesenian, masyarakat Bali mengenal adanya taksu, bahkan taksu diyakini memegang peranan yang sangat penting. Lantas apakah kesenian yang ngepop ini juga memiliki taksu?

Taksu sebagai wujud dari konsentrasi enegri dari sang pelaku kesenian akan lahir dengan sendirinya. Artinya selama sang pelaku kesenian mampu mengkonsentrasikan energi berkeseniannya secara total, maka kesenian itu akan memiliki taksu. Jadi taksu baru akan tetap lahir dalam setiap kegiatan berkesenian yang dilakukan masyarakat Bali selama itu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Yang juga perlu diingat bahwa taksu muncul karena adanya pengakuan atau legitimasi dari masyarakat pendukung kesenian itu sendiri. Unatuk itu kesenian yang ngepop akan tetap memiliki taksu sebagi bentuk dari konsentrasi energi dalam berkesenian.

Dengan perkembangan masyarakat Bali yang makin kuat mengarah pada kehidupan modern yang lebih mementingkan kepraktisan, bagaimana nasib kebudayaan Bali secara keseluruhan di masa mendatang?

Saya melihat, kebudayaan Bali akan tetap bertahan meski ada berbagai macam perubahan-perubahannya. Selama kesenian Bali tetap memiliki pendukung, kesenian tersebut akan tetap bertahan. Terlebih lagi dengan keberadaan kesenian dan budaya Bali yang tidak bisa dilepaskan dari keyakinan masyarakat Bali yang memeluk agama Hindu. Meski modernisasi menyelimuti masyarakat Bali, mereka akan tetap memiliki kerinduan kepada kesenian tradisionalnya.

Saya ingin menggunakan contoh dalam masalah ini adalah keberadan ikan Coelacanth yang ada di perairan dekat Pulau Manado. Ikan ini diperkirakan sudah berumur lebih dari 400 juta tahun yang lalu pada zaman devonian. Waktu ini jauh lebih tua dari zaman Dinosaurus yang hidup 200 juta tahun yang lalu. Anehnya ikan ini sampai saat ini masih tetap ada dan bertahan dalam bentuknya. Padahal ikan ini pernah ditemukan dibongkahan batu karang dan diperkirakan sudah tidak ada lagi.

* Pewawancara: Winata

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)


Info VALAS