|
Andalkan
Pertanian, Strateginya Bagaimana?
Setelah
pariwisata tertidur, semua pihak mengarahkan pandangan
pada pertanian. Setelah begitu banyak tanah dipakai untuk
menunjang rakusnya pariwasata, hampir semua lahan di
pinggir jalan yang dilalui tamu berganti wajah menjadi
hotel, art gallery, artshop, dan lainnya. Apakah masih ada
cukup lahan untuk tanah sawah, kopi, coklat, buah-buahan,
dan sebagainya?
Bali
terkenal dengan pemandangan tanah sawahnya yang hijau
penuh pesona, tetapi sekarang terlalu banyak bangunan yang
menjulang tinggi di Bali. Jadi apakah Bali akan
mempromosikan, building view di masa akan datang? Bukan
rice field anymore.
Jalur
hijau pun dimangsa pariwisata. Contohnya Tegallalang rice
terrace view, terlalu banyak bangunan menutupi. Apa yang
menjadi andalan untuk membawa pengunjung? Kalau sudah
begini, mampukah pertanian Bali menjadi tuan rumah di
pulaunya sendiri, dan menopang perekonomian daerah?
Apakah
pemerintah sudah punya strategi yang ampuh untuk
betul-betul membangkitkan pertanian dan menjamin masa
depan petani? Ataukah hanya sebagai mimpi dan harapan,
seperti cerita lama?
Luh
Murtadi
Tofino, Canada
|