kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 9  Nopember 2002

 Surat Pembaca


Andalkan Pertanian, Strateginya Bagaimana?

Setelah pariwisata tertidur, semua pihak mengarahkan pandangan pada pertanian. Setelah begitu banyak tanah dipakai untuk menunjang rakusnya pariwasata, hampir semua lahan di pinggir jalan yang dilalui tamu berganti wajah menjadi hotel, art gallery, artshop, dan lainnya. Apakah masih ada cukup lahan untuk tanah sawah, kopi, coklat, buah-buahan, dan sebagainya?

Bali terkenal dengan pemandangan tanah sawahnya yang hijau penuh pesona, tetapi sekarang terlalu banyak bangunan yang menjulang tinggi di Bali. Jadi apakah Bali akan mempromosikan, building view di masa akan datang? Bukan rice field anymore.

Jalur hijau pun dimangsa pariwisata. Contohnya Tegallalang rice terrace view, terlalu banyak bangunan menutupi. Apa yang menjadi andalan untuk membawa pengunjung? Kalau sudah begini, mampukah pertanian Bali menjadi tuan rumah di pulaunya sendiri, dan menopang perekonomian daerah?

Apakah pemerintah sudah punya strategi yang ampuh untuk betul-betul membangkitkan pertanian dan menjamin masa depan petani? Ataukah hanya sebagai mimpi dan harapan, seperti cerita lama?

Luh Murtadi
Tofino, Canada

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)