Amrozy Sering
Bawa Uang Banyak
KEHIDUPAN
Amrozy, tersangka peledakan bom di Legian, Bali, sangat
tertutup. Amrozy, waktu masih kecil di kalangan
keluarganya dikenal sebagai anak pemalas dan bandel. Itu
terlihat dari pendidikan formal yang hanya sampai di
bangku SMP di Desa Paciran. Itu pun tidak sampai lulus.
Dibandingkan tujuh saudara kandungnya yang semuanya
minimal menyelesaikan pendidikan SMA.
Rumah Amrozy hanya
berjarak beberapa meter dari Pondok Pesantren (Ponpes)
Al-Islam pimpinan KH Zakaria cukup sederhana. Rumah yang
berdinding kayu itu berdiri di atas tanah 300 m2 dihuni
Toriyam (70) dan Nur Hasyim (80) (ibu dan bapak Amrozy-red).
Amrozy merupakan
anak keenam pasangan Toriyam dan Nur Hasyim. Lima kakaknya,
Alimah, Afiah, Moch. Chozin, Djafar Sidiq, Gufron. Dua
adiknya, bernama Amin (alm) dan Ali Imron. Moch. Chozin
dan Djafar Sidiq -- dua kakak Amrozy -- merupakan pendiri
Ponpes Al-Islam, yang disebut-sebut memiliki jaringan
dengan Ustad Abu Bakar Ba'asyir, pemimpin tertinggi
Majelis Mujahidin Indonesia yang juga pimpinan Ponpes Al-Mukmin
Ngruki, Solo. Ketika Bali Post mengunjungi rumahnya di
Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, hanya ada kedua
orangtuanya, Toriyam dan Nur Hasyim. Nur Hasyim -- sang
ayah Amrozy -- sakit-sakitan.
Orangtua Amrozy saat
itu didampingi Djafar Sidiq dan Moch. Chozin. ''Adik saya
Amrozy, sejak kecil sudah tidak memiliki gairah sekolah.
Makanya, sekolahnya hanya sampai SMP. Itu pun tidak
lulus,'' kata Moch. Chozin, saat mendampingi ibunya
Toriyam, Jumat (8/11) kemarin.
Keengganan Amrozy
kecil untuk sekolah sangat nampak. Padahal saat itu, Nur
Hasyim -- sang ayah -- sangat dikenal di Desa Tenggulun
Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan. Sebab, Nur Hasyim
pernah menjabat Sekdes Tenggulun selama 32 tahun.
Meski dikenal
sebagai anak pemalas dan bandel, kata Chozin, pergaulan di
masyarakat, Amrozy sangat gaul. Bahkan, dari beberapa desa
di Kecamatan Solokuro, Amrozy sangat dikenal. Pergaulan
yang memasyarakat di kampungnya itu sebelum Amrozy
memutuskan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di
Malaysia mulai 1990 hingga 1997. Di saat hidup di negeri
jiran itulah keluarganya di Desa Tenggulun tidak banyak
mengetahui apa saja yang dilakukan. Sebab, sepulang dari
Malaysia, perilaku Amrozy -- yang dulu sangat dikenal gaul
-- berubah 180 derajat.
''Amrozy jarang
pulang dan tidak lagi gaul. Kalau pulang paling ikut salat
jamaah di Masjid Nurul Iman di kompleks Ponpes Al-Islam
berbaur dengan santri. Jadi, Amrozy bukanlah santri. Juga
bukan pengurus yayasan maupun Ponpes Al-Islam. Juga bukan
guru di Al-Islam,'' kata Moch. Chozin, yang juga Ketua
Yayasan Al-Islam, sedikit meluruskan berita yang muncul
akhir-akhir ini.
Terhadap penangkapan
Amrozy? Mulanya, seluruh keluarga tidak menduga dan tidak
percaya Amrozy terlibat pengeboman Bali yang menewaskan
ratusan orang itu. Hal itu didasari dengan bentuk fisik
Amrozy, yang tidak memiliki potongan sebagai seorang
teroris. Namun, setelah berita penangkapan Amrozy menyebar
sampai penjuru desa, lama-lama percaya juga.
Ketidakpercayaan
juga dikemukakan istri Amrozy, Susi. Dari Susi, Amrozy
dikaruniai dua anak. Demikian juga dengan ibunya, Toriyam.
Apalagi Nur Hasyim, yang sakit-sakitan dan punya penyakit
lupa ingatan.
Tentang mobil L-300
DK 1324 BS yang menyebabkan Amrozy ditangkap tim gabungan
itu, diakui Moch. Chozin pernah dibawa pulang ke Lamongan
oleh Amrozy satu kali. ''Seingat saya, hanya satu kali
melihat mobil L-300 milik Amrozy itu. Karena memang Amrozy
bisnis jual-beli mobil,'' akunya.
Tiap kali pulang ke
rumah di Lamongan, Amrozy sering ganti-ganti mobil dan
membawa uang banyak. Ganti-ganti mobil ini mungkin bisa
dimaklumi. Karena memang, menurut pengakuan Chozin, adik
kandungnya itu saat ini bisnis jual-beli mobil. (baw)
Adik dan
Istri Amrozy juga Diburu
Surabaya
(Bali Post) -
Tertangkapnya Amrozy oleh tim gabungan yang terdiri atas
Mabes Polri, Polda Jatim dan Polda Bali memberi semangat
jajaran kepolisian. Oleh karena itu, tim buser Polda Jatim
terus memburu tersangka lain yang terkait dengan Amrozy.
Bahkan, kini salah satu pemilik toko penjual bahan kimia,
tempat Amrozy membeli, juga ditetapkan sebagai tersangka.
Penegasan itu dikemukakan Kapolda Jatim Irjen Pol. Heru
Susanto kepada wartawan usai salat Jumat di Masjid Mapolda
Jatim, Jumat (8/11) kemarin.
Sumber di Mapolda
Jatim menyebutkan, setelah menangkap Amrozy, kini sasaran
berikutnya mencari adik Amrozy, Ali Imron, dan istrinya
Susi.
Saat penangkapan
Amrozy, baik Ali Imron maupun Susi, tidak berada di rumah.
Tidak dijelaskan mengapa polisi mencari Ali Imron dan Susi.
Ali Imron sudah dicari di kawasan Glagah (Lamongan) dan
Kencong (Jember). Tetapi, hingga kini belum ditemukan.
Menurut Kapolda,
pemeriksaan Amrozy dan saksi pengusaha toko kimia di Jalan
Tidar Surabaya itu ditangani langsung oleh tim gabungan.
''Sekali lagi, Polda Jatim tugasnya hanya membantu.
Bantuan itu sudah diberikan seperti menangkap Amrozy,''
katanya.
Tentang pengakuan
pemilik toko kimia bahwa Amrozy telah membeli bahan kimia
jenis NHCL03 belerang, clorat dan nitrat yang dibeli satu
ton, kata Kapolda, saat ini juga sedang diselidiki tim
laboratorium forensik (labfor). (059)
|