kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 9  Nopember 2002

 Nusantara


Amrozy Sering Bawa Uang Banyak

KEHIDUPAN Amrozy, tersangka peledakan bom di Legian, Bali, sangat tertutup. Amrozy, waktu masih kecil di kalangan keluarganya dikenal sebagai anak pemalas dan bandel. Itu terlihat dari pendidikan formal yang hanya sampai di bangku SMP di Desa Paciran. Itu pun tidak sampai lulus. Dibandingkan tujuh saudara kandungnya yang semuanya minimal menyelesaikan pendidikan SMA.

Rumah Amrozy hanya berjarak beberapa meter dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Islam pimpinan KH Zakaria cukup sederhana. Rumah yang berdinding kayu itu berdiri di atas tanah 300 m2 dihuni Toriyam (70) dan Nur Hasyim (80) (ibu dan bapak Amrozy-red).

Amrozy merupakan anak keenam pasangan Toriyam dan Nur Hasyim. Lima kakaknya, Alimah, Afiah, Moch. Chozin, Djafar Sidiq, Gufron. Dua adiknya, bernama Amin (alm) dan Ali Imron. Moch. Chozin dan Djafar Sidiq -- dua kakak Amrozy -- merupakan pendiri Ponpes Al-Islam, yang disebut-sebut memiliki jaringan dengan Ustad Abu Bakar Ba'asyir, pemimpin tertinggi Majelis Mujahidin Indonesia yang juga pimpinan Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Solo. Ketika Bali Post mengunjungi rumahnya di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, hanya ada kedua orangtuanya, Toriyam dan Nur Hasyim. Nur Hasyim -- sang ayah Amrozy -- sakit-sakitan.

Orangtua Amrozy saat itu didampingi Djafar Sidiq dan Moch. Chozin. ''Adik saya Amrozy, sejak kecil sudah tidak memiliki gairah sekolah. Makanya, sekolahnya hanya sampai SMP. Itu pun tidak lulus,'' kata Moch. Chozin, saat mendampingi ibunya Toriyam, Jumat (8/11) kemarin.

Keengganan Amrozy kecil untuk sekolah sangat nampak. Padahal saat itu, Nur Hasyim -- sang ayah -- sangat dikenal di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan. Sebab, Nur Hasyim pernah menjabat Sekdes Tenggulun selama 32 tahun.

Meski dikenal sebagai anak pemalas dan bandel, kata Chozin, pergaulan di masyarakat, Amrozy sangat gaul. Bahkan, dari beberapa desa di Kecamatan Solokuro, Amrozy sangat dikenal. Pergaulan yang memasyarakat di kampungnya itu sebelum Amrozy memutuskan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia mulai 1990 hingga 1997. Di saat hidup di negeri jiran itulah keluarganya di Desa Tenggulun tidak banyak mengetahui apa saja yang dilakukan. Sebab, sepulang dari Malaysia, perilaku Amrozy -- yang dulu sangat dikenal gaul -- berubah 180 derajat.

''Amrozy jarang pulang dan tidak lagi gaul. Kalau pulang paling ikut salat jamaah di Masjid Nurul Iman di kompleks Ponpes Al-Islam berbaur dengan santri. Jadi, Amrozy bukanlah santri. Juga bukan pengurus yayasan maupun Ponpes Al-Islam. Juga bukan guru di Al-Islam,'' kata Moch. Chozin, yang juga Ketua Yayasan Al-Islam, sedikit meluruskan berita yang muncul akhir-akhir ini.

Terhadap penangkapan Amrozy? Mulanya, seluruh keluarga tidak menduga dan tidak percaya Amrozy terlibat pengeboman Bali yang menewaskan ratusan orang itu. Hal itu didasari dengan bentuk fisik Amrozy, yang tidak memiliki potongan sebagai seorang teroris. Namun, setelah berita penangkapan Amrozy menyebar sampai penjuru desa, lama-lama percaya juga.

Ketidakpercayaan juga dikemukakan istri Amrozy, Susi. Dari Susi, Amrozy dikaruniai dua anak. Demikian juga dengan ibunya, Toriyam. Apalagi Nur Hasyim, yang sakit-sakitan dan punya penyakit lupa ingatan.

Tentang mobil L-300 DK 1324 BS yang menyebabkan Amrozy ditangkap tim gabungan itu, diakui Moch. Chozin pernah dibawa pulang ke Lamongan oleh Amrozy satu kali. ''Seingat saya, hanya satu kali melihat mobil L-300 milik Amrozy itu. Karena memang Amrozy bisnis jual-beli mobil,'' akunya.

Tiap kali pulang ke rumah di Lamongan, Amrozy sering ganti-ganti mobil dan membawa uang banyak. Ganti-ganti mobil ini mungkin bisa dimaklumi. Karena memang, menurut pengakuan Chozin, adik kandungnya itu saat ini bisnis jual-beli mobil. (baw)

Adik dan Istri Amrozy juga Diburu

Surabaya (Bali Post) -
Tertangkapnya Amrozy oleh tim gabungan yang terdiri atas Mabes Polri, Polda Jatim dan Polda Bali memberi semangat jajaran kepolisian. Oleh karena itu, tim buser Polda Jatim terus memburu tersangka lain yang terkait dengan Amrozy. Bahkan, kini salah satu pemilik toko penjual bahan kimia, tempat Amrozy membeli, juga ditetapkan sebagai tersangka. Penegasan itu dikemukakan Kapolda Jatim Irjen Pol. Heru Susanto kepada wartawan usai salat Jumat di Masjid Mapolda Jatim, Jumat (8/11) kemarin.

Sumber di Mapolda Jatim menyebutkan, setelah menangkap Amrozy, kini sasaran berikutnya mencari adik Amrozy, Ali Imron, dan istrinya Susi.

Saat penangkapan Amrozy, baik Ali Imron maupun Susi, tidak berada di rumah. Tidak dijelaskan mengapa polisi mencari Ali Imron dan Susi. Ali Imron sudah dicari di kawasan Glagah (Lamongan) dan Kencong (Jember). Tetapi, hingga kini belum ditemukan.

Menurut Kapolda, pemeriksaan Amrozy dan saksi pengusaha toko kimia di Jalan Tidar Surabaya itu ditangani langsung oleh tim gabungan. ''Sekali lagi, Polda Jatim tugasnya hanya membantu. Bantuan itu sudah diberikan seperti menangkap Amrozy,'' katanya.

Tentang pengakuan pemilik toko kimia bahwa Amrozy telah membeli bahan kimia jenis NHCL03 belerang, clorat dan nitrat yang dibeli satu ton, kata Kapolda, saat ini juga sedang diselidiki tim laboratorium forensik (labfor). (059)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)