kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 9  Nopember 2002

 Budaya


Cundamani Buktikan Bali masih ''Mataksu

* Tampil dalam WFSM di Amerika

SETELAH mengisi acara festival seni di Italia Juli lalu, Sanggar Seni Cudamani Pengosekan, Ubud, kembali mendulang sukses dalam World Festival of Sacred Music (WFSM) di Los Angeles, 14-29 September lalu. Acara yang berlangsung selama 16 hari itu menampilkan seni kreasi yang digali dari gerak tari dan tabuh klasik yang mengiringi prosesi ritual Bali.

Para personel yang berjumlah 31 orang-- penabuh dan penari-- juga mengisi acara workshop di beberapa kampus di Amerika sampai 7 Oktober. ''Kami melaksanakan tujuh kali pementasan di Amerika,'' ungkap Ketua Sanggar Cudamani I Dewa Putu Berata, SS.Kar., bebera hari lalu. Kini Dewa Berata berada di Jepang dalam rangka workshop musik ASEAN bekerja sama dengan seniman Jepang.

Even internasional yang pertama kali diadakan tahun 1999-- kini merupakan festival yang kedua-- bertujuan memupuk persahabatan antarbangsa. Kegiatan itu membangun perdamaian dunia melalui seni budaya dan aktivitas tradisi bangsa-bangsa di dunia. Melalui festival seni ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa saling pengertian dan saling menghargai, sehingga berbagai konflik serta kekerasan bisa dihindari.

''Kami dari Bali mengusung kesenian Bali yang sarat nilai-nilai luhur membangun hidup yang damai lahir batin,'' katanya. Sekitar 400 seniman dari berbagai negara mengisi festival tersebut dan acaranya dilaksanakan di berbagai tempat, seperti di gereja, temple, masjid, gedung teater, panggung terbuka, dan di desa-desa yang selama ini jarang mengadakan pertunjukan kesenian.

Pembina sekaligus penata tari I Nyoman Cerita, SST, mengakui tari kreasi yang ditampilkan di even internasional itu telah dipersiapkan sejak delapan bulan yang lalu. Penonton Amerika disuguhi tarian yang melukiskan aktivitas berkesenian orang Bali yang tidak bisa lepas dari pelaksanaan agama Hindu. Sebelum tarian dimulai, dipersembahkan sesaji di kalangan, di gong, di tapel untuk mohon keselamatan kepada Tuhan. Selanjutnya ditampilkan Tari Pangastiti yang menggambarkan orang Bali melaksanakan ritual keagamaan di jeroan (halaman dalam) pura yang penuh persembahan sesaji dan tari wali seperti Rejang dan kekidungan. Kemudian di jaba tengah dan jaba sisi ada balihan-balihan. Tari bebalihan tersebut seperti Tari Legong Sudarsana, Tari Teruna Jaya, Gandrung serta musik Sunari. ''Tari dan tabuh ini memang khusus digarap untuk ditampilkan dalam festival itu dan belum pernah dipentaskan di mana pun,'' kata Dewa Berata. Di samping itu, Sanggar Cudamani menampilkan garapan musik berkolaborasi dengan seniman Kenny Endo dari Jepang dan Paul Humphreys dari Afrika.

Menarik

Dikatakan, di tengah gonjang-ganjingnya dunia pariwisata Bali akibat tragedi bom Kuta, ternyata taksu seni budaya Bali yang dijiwai Agama Hindu masih menarik perhatian orang Amerika. Ini terlihat dari betapa pementasan Sanggar Cudamani selalu dipadati penonton dan sambutan meriah yang diberikan. Dibanding pementasan kesenian yang lain, kesenian Bali selalu menyedot penonton paling banyak. Mungkin kalau situasi keamanan sudah baik, maka pariwisata Bali akan cepat pulih, karena para penonton banyak yang menyatakan ingin melihat seni budaya Bali secara lebih dekat. ''Bali masih sangat disenangi oleh wisatawan asing,'' ujarnya.

Sanggar Tari dan Tabuh Cudamani yang bernaung di bawah Yayasan Cudamani yang didirikan Oktober 1998. Berkesenian dengan konsep ngayah selalu ditanamkan dalam sanubari anggota sanggar, sehingga mereka selalu siap ngayah megambel dan ngigel dalam acara piodalan di pura. Mereka juga acapkali bekolaborasi dengan berbagai sanggar kesenian dari berbagai daerah di Tanah Air dan dari luar negeri telah berulangkali dilakukan.(lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)