Cundamani
Buktikan Bali masih ''Mataksu
* Tampil dalam WFSM di Amerika
SETELAH
mengisi acara festival seni di Italia Juli lalu, Sanggar
Seni Cudamani Pengosekan, Ubud, kembali mendulang sukses
dalam World Festival of Sacred Music (WFSM) di Los
Angeles, 14-29 September lalu. Acara yang berlangsung
selama 16 hari itu menampilkan seni kreasi yang digali
dari gerak tari dan tabuh klasik yang mengiringi prosesi
ritual Bali.
Para personel yang
berjumlah 31 orang-- penabuh dan penari-- juga mengisi
acara workshop di beberapa kampus di Amerika sampai 7
Oktober. ''Kami melaksanakan tujuh kali pementasan di
Amerika,'' ungkap Ketua Sanggar Cudamani I Dewa Putu
Berata, SS.Kar., bebera hari lalu. Kini Dewa Berata berada
di Jepang dalam rangka workshop musik ASEAN bekerja sama
dengan seniman Jepang.
Even internasional
yang pertama kali diadakan tahun 1999-- kini merupakan
festival yang kedua-- bertujuan memupuk persahabatan
antarbangsa. Kegiatan itu membangun perdamaian dunia
melalui seni budaya dan aktivitas tradisi bangsa-bangsa di
dunia. Melalui festival seni ini diharapkan dapat
menumbuhkan rasa saling pengertian dan saling menghargai,
sehingga berbagai konflik serta kekerasan bisa dihindari.
''Kami dari Bali
mengusung kesenian Bali yang sarat nilai-nilai luhur
membangun hidup yang damai lahir batin,'' katanya. Sekitar
400 seniman dari berbagai negara mengisi festival tersebut
dan acaranya dilaksanakan di berbagai tempat, seperti di
gereja, temple, masjid, gedung teater, panggung terbuka,
dan di desa-desa yang selama ini jarang mengadakan
pertunjukan kesenian.
Pembina sekaligus
penata tari I Nyoman Cerita, SST, mengakui tari kreasi
yang ditampilkan di even internasional itu telah
dipersiapkan sejak delapan bulan yang lalu. Penonton
Amerika disuguhi tarian yang melukiskan aktivitas
berkesenian orang Bali yang tidak bisa lepas dari
pelaksanaan agama Hindu. Sebelum tarian dimulai,
dipersembahkan sesaji di kalangan, di gong, di tapel untuk
mohon keselamatan kepada Tuhan. Selanjutnya ditampilkan
Tari Pangastiti yang menggambarkan orang Bali melaksanakan
ritual keagamaan di jeroan (halaman dalam) pura yang penuh
persembahan sesaji dan tari wali seperti Rejang dan
kekidungan. Kemudian di jaba tengah dan jaba sisi ada
balihan-balihan. Tari bebalihan tersebut seperti Tari
Legong Sudarsana, Tari Teruna Jaya, Gandrung serta musik
Sunari. ''Tari dan tabuh ini memang khusus digarap untuk
ditampilkan dalam festival itu dan belum pernah
dipentaskan di mana pun,'' kata Dewa Berata. Di samping
itu, Sanggar Cudamani menampilkan garapan musik
berkolaborasi dengan seniman Kenny Endo dari Jepang dan
Paul Humphreys dari Afrika.
Menarik
Dikatakan, di tengah
gonjang-ganjingnya dunia pariwisata Bali akibat tragedi
bom Kuta, ternyata taksu seni budaya Bali yang dijiwai
Agama Hindu masih menarik perhatian orang Amerika. Ini
terlihat dari betapa pementasan Sanggar Cudamani selalu
dipadati penonton dan sambutan meriah yang diberikan.
Dibanding pementasan kesenian yang lain, kesenian Bali
selalu menyedot penonton paling banyak. Mungkin kalau
situasi keamanan sudah baik, maka pariwisata Bali akan
cepat pulih, karena para penonton banyak yang menyatakan
ingin melihat seni budaya Bali secara lebih dekat. ''Bali
masih sangat disenangi oleh wisatawan asing,'' ujarnya.
Sanggar Tari dan
Tabuh Cudamani yang bernaung di bawah Yayasan Cudamani
yang didirikan Oktober 1998. Berkesenian dengan konsep
ngayah selalu ditanamkan dalam sanubari anggota sanggar,
sehingga mereka selalu siap ngayah megambel dan ngigel
dalam acara piodalan di pura. Mereka juga acapkali
bekolaborasi dengan berbagai sanggar kesenian dari
berbagai daerah di Tanah Air dan dari luar negeri telah
berulangkali dilakukan.(lun)
|