kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 9  Nopember 2002

 Bali


Menata Bali ke Depan

Penduduk dan Budaya harus Sejalan

Denpasar (Bali Post)-
Langkah mendesak yang harus dilakukan menata Bali ke depan adalah memadukan konsep kependudukan dan budaya. Dua sisi ini merupakan hal yang berkaitan, mengingat sangat mustahil budaya Bali ajeg jika penduduk sebagai pendukungnya tak jelas. Itu dikemukakan Kadis Kependudukan dan Catatan Sipil Pemkot Denpasar Drs. I Nyoman Aryana ketika dihubungi, Jumat (8/11) kemarin.

Menurutnya, jika masyarakat Bali tak ingin hidup dalam jebakan dunia kepentingan, konsep-konsep dasar keberadaan Bali sebagai pulau incaran wisatawan harus dievaluasi ke Bali. ''Saya pikir Bali selama ini telah dikorbankan sebagai ladang pembangunan proyek kepentingan. Sementara upaya-upaya pemertahanan tradisi sebagai identitas Bali tersisihkan,'' jelasnya.

Ke depan, kata dia, langkah awal menata Bali harus dirumuskan yakni pendataan kependudukan secara cermat akurat dan proporsional. Data ini, nantinya bisa dijadikan acuan, yang jelas dalam merancang realisasi proyek bagi Bali termasuk pemetaan kepentingan politik. ''Penduduk dan kebudayaan harus dipadukan. Dua komponen ini jika terpisah, pelestarian budaya tak akan terkondisikan,'' ujarnya. Logikanya, ketika penduduk tak terdata maka pendukung budaya itu pun semakin absurd dan tak jelas.

Selebihnya, Aryana mengatakan dalam waktu dekat jajaran Pemkot Denpasar akan melakukan koordinasi lintas kabupaten dengan Jembrana dalam melakukan tertib administrasi kependudukan. Rencana ini pun telah dilaporkan kepada Wali Kota Denpasar Puspayoga dan selanjutnya akan diterjemahkan lewat bentuk-bentuk kerja sama. ''Denpasar hanyalah kota tujuan, sedangkan salah satu pintu masuknya adalah Jembrana,'' jelas Aryana.

Berdasarkan pertimbangan ini, kata dia pihaknya juga memandang perlu jika program tertib administrasi kependudukan yang digulirkan di Jembrana mendapat respons dan suport. Tanpa satu visi dalam menyelamatan penduduk sebagai pendukung budaya, ia memprediksi budaya itu akan tertinggal dengan sendirinya.

Sementara itu, pengamat budaya dan Dosen Fakultas Hukum Unud I Wayan P. Windia, S.H., M.Si. mengatakan, ada tiga unsur mendasar yang layak diselamatkan dalam menata Bali yakni penduduk, budaya dan tanah Bali. Ketiga unsur ini memiliki keterkaitan sebagai satu komponen menuju Bali yang jagadhita. Jika salah satu dari unsur ini pincang dalam ''pengamanan'', kata dia akan sangat sulit menuju Bali yang harmonis.

Menurutnya, jika budaya tanpa dukungan penduduk yang memiliki kepentingan dengan budayanya, secara perlahan dan pasti budaya akan tertinggal. Sedangkan, keberadaan penduduk juga akan tersisih jika lahan-lahan yang ada terus dijual dengan dalih kepentingan ekonomi dan peluang kerja. Dampak lainnya, budaya juga akan tergerus jika tanah Bali sebagai salah satu media upacara ritual juga tak lagi menjadi milik komunitas yang bersentuhan dengan budaya itu sendiri. (044)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)