Menata Bali ke Depan
Penduduk
dan Budaya harus Sejalan
Denpasar
(Bali Post)-
Langkah mendesak yang harus dilakukan menata Bali ke depan
adalah memadukan konsep kependudukan dan budaya. Dua sisi
ini merupakan hal yang berkaitan, mengingat sangat
mustahil budaya Bali ajeg jika penduduk sebagai
pendukungnya tak jelas. Itu dikemukakan Kadis Kependudukan
dan Catatan Sipil Pemkot Denpasar Drs. I Nyoman Aryana
ketika dihubungi, Jumat (8/11) kemarin.
Menurutnya, jika
masyarakat Bali tak ingin hidup dalam jebakan dunia
kepentingan, konsep-konsep dasar keberadaan Bali sebagai
pulau incaran wisatawan harus dievaluasi ke Bali. ''Saya
pikir Bali selama ini telah dikorbankan sebagai ladang
pembangunan proyek kepentingan. Sementara upaya-upaya
pemertahanan tradisi sebagai identitas Bali tersisihkan,''
jelasnya.
Ke depan, kata dia,
langkah awal menata Bali harus dirumuskan yakni pendataan
kependudukan secara cermat akurat dan proporsional. Data
ini, nantinya bisa dijadikan acuan, yang jelas dalam
merancang realisasi proyek bagi Bali termasuk pemetaan
kepentingan politik. ''Penduduk dan kebudayaan harus
dipadukan. Dua komponen ini jika terpisah, pelestarian
budaya tak akan terkondisikan,'' ujarnya. Logikanya,
ketika penduduk tak terdata maka pendukung budaya itu pun
semakin absurd dan tak jelas.
Selebihnya, Aryana
mengatakan dalam waktu dekat jajaran Pemkot Denpasar akan
melakukan koordinasi lintas kabupaten dengan Jembrana
dalam melakukan tertib administrasi kependudukan. Rencana
ini pun telah dilaporkan kepada Wali Kota Denpasar
Puspayoga dan selanjutnya akan diterjemahkan lewat
bentuk-bentuk kerja sama. ''Denpasar hanyalah kota tujuan,
sedangkan salah satu pintu masuknya adalah Jembrana,''
jelas Aryana.
Berdasarkan
pertimbangan ini, kata dia pihaknya juga memandang perlu
jika program tertib administrasi kependudukan yang
digulirkan di Jembrana mendapat respons dan suport. Tanpa
satu visi dalam menyelamatan penduduk sebagai pendukung
budaya, ia memprediksi budaya itu akan tertinggal dengan
sendirinya.
Sementara itu,
pengamat budaya dan Dosen Fakultas Hukum Unud I Wayan P.
Windia, S.H., M.Si. mengatakan, ada tiga unsur mendasar
yang layak diselamatkan dalam menata Bali yakni penduduk,
budaya dan tanah Bali. Ketiga unsur ini memiliki
keterkaitan sebagai satu komponen menuju Bali yang
jagadhita. Jika salah satu dari unsur ini pincang dalam ''pengamanan'',
kata dia akan sangat sulit menuju Bali yang harmonis.
Menurutnya, jika
budaya tanpa dukungan penduduk yang memiliki kepentingan
dengan budayanya, secara perlahan dan pasti budaya akan
tertinggal. Sedangkan, keberadaan penduduk juga akan
tersisih jika lahan-lahan yang ada terus dijual dengan
dalih kepentingan ekonomi dan peluang kerja. Dampak
lainnya, budaya juga akan tergerus jika tanah Bali sebagai
salah satu media upacara ritual juga tak lagi menjadi
milik komunitas yang bersentuhan dengan budaya itu sendiri.
(044)
|