''Basange Layah Terus''
"PADA hari apa kuikut siapa ke mana? Naik
apa bagaimana kududuk di mana? Di samping siapa yang sedang asyik
mengapa? Mengendali apa supaya 'gimana apanya? Klung cing klak
cing klung cing klak cingklung, bunyi sepatu apa?" humoris Temon
dan Abdel melantunkan lagu "Naik Delman" yang dimodifikasi dalam
sebuah acara di televisi.
"Lagu itu bisa membuat anak-anak makin bingung! Sebingung
menghadapi Ujian Nasional yang juga bikin banyak pihak stres.
Sistem evaluasi mutakhir yang sejak diperkenalkan menerima
berbagai kritik itu, tidak menyurutkan arogansi otoritas
pendidikan yang tetap bersikukuh 'the show must go on!'. Yang
mencengangkan, tumben dalam sejarah pendidikan, kesatuan khusus
antiteror ikut mengawasi ujian. Tragisnya, guru dengan julukan
'pahlawan tanpa tanda jasa' yang ketahuan membantu para anak
didiknya memecahkan soal, bisa berstatus teroris. Apalagi tindakan
mereka, oleh Mendiknas, disetarakan dengan membocorkan rahasia
negara," komentar Rubag.
"Para teroris asli, yang kini meringkuk di belakang terali besi,
yang di antaranya menunggu eksekusi mati, mungkin terkekeh sambil
mengejek, 'rasain lu, gue yang banyak bunuh orang diperlakukan
lebih istimewa, bisa mengajukan PK berkali-kali, bahkan boleh
minta kawin lagi!'. Juga para koruptor yang membuat negeri dan
bangsa ini terperosok ke lembah kemiskinan, menganggap hukum adil
dan tidak diskriminatif. Pasalnya, meski mereka ditangkap menimbun
uang secara tidak halal, diperlakukan sama dengan para guru yang,
menurut puisi Prof.Winarno Surachmad, hidup sebulan dari gaji
sehari," kilah Gus Bawa.
"Tafsirku lain atas lagu 'Naik Delman' tadi! Rentetan kata bantu
tanya, bagiku, sebenarnya pertanyaan besar buat para pemimpin.
Negara dan bangsa ini akan mereka bawa ke mana? Analoginya adalah
delman atau dokar, yang dihapus dalam lagu, karena kenyataannya
populasi jenis kendaraan tradisional itu nyaris punah di seluruh
negeri, digusur kereta mesin yang tidak satu pun 'made in
Indonesia'. Temon dan Abdel mungkin pesimis, pertanyaan itu tidak
akan bisa dijawab siapa pun, sehingga kata-kata penting lain juga
diganti dengan kata bantu tanya," ujar Jernat.
"Pas! Karena malu disebut bangsa terbelakang, para pemimpin
membuka negara ini selebar-lebarnya buat pasar akbar produk impor
sebagai ciri masyarakat modern. Dari tusuk gigi hingga sepeda
motor dan mobil berbagai merek yang menggusur sepeda gayung dan
delman atau dokar, datang bagai air bah. Lalu, dealer, show room
dan toko-toko suku cadang didirikan hingga ke pelosok-pelosok
desa. Akibatnya, bengkel-bengkel kecil usaha rakyat untuk
memperbaiki kendaraan tua, bangkrut! Sebab, tidak ada lagi orang
berniat memelihara mobil atau sepeda motor tua, karena lembaga
keuangan yang memfasilitasi kredit juga tumbuh subur. Dengan uang
muka ala kadarnya mereka bisa memiliki barang baru dengan
mencicil bertahun-tahun," sokong Kaler.
"Benar! Gung Kondra, Boji, Kaput, Pan Lobeng dan Gusti Jati,
adalah beberapa nama montir yang pernah jaya di sekitar Denpasar
tahun 1970-an, kini tinggal kenangan bagi para sopir, khususnya
angkutan wisata, yang pernah menggunakan jasa mereka. Sebab, sejak
terjadi banjir bandang kendaraan impor, usaha perbengkelan mereka
bagai kerakap tumbuh di batu dan akhirnya gulung tikar. Jadi,
setelah dokar dan sepeda gayung digusur angkot dan taksi,
selanjutnya angkot dan taksi juga digeser mobil pribadi dan sepeda
motor kreditan. Para sopir bemo dan taksi menjerit. Ironisnya,
para pejabat terus berkoar tentang masalah ekonomi kerakyatan atau
usaha mikro kecil dan menengah. Bagiku, lagu hasil modifikasi
Temon dan Abdel itu cocok dinyanyikan mereka," sambung Gus Bawa.
"Ya, kok masih ada yang bangga melontarkan teori-teori lapuk, yang
dulu dihafalnya di bangku kuliah, ya? Padahal kini, suasana
ketidakpastian yang digandeng globalisasi merombak nyaris
semua aksioma, bukan hanya di bidang ekonomi, tapi juga hukum,
politik dan budaya. Ambil contoh, yang disebut praktisi hukum
beken bukan lagi mereka yang hafal pasal-pasal KUHP, tapi yang
paham kaidah Laswell, 'siapa-siapa mendapat berapa, kapan, di mana
dan bagaimana caranya?'. Pun di bidang ekonomi terjadi hal serupa,
hukum 'permintaan dan penawaran' dianggap usang sejak Peter Lebow
mendeklarasikan 'Manifesto Konsumerisme' tahun 1956, yang kian
mulus pasca-Uni Soviet. Doktrinnya, segala jenis barang dibuat
sebanyak-banyaknya dan harus habis. Salah satu caranya, pembayaran
dengan sistem kredit itu," tutur Jernat.
"Wah, mungkin itu sebabnya oknum-oknum pejabat yang korup
ditangkap basah aparat KPK di tempat-tempat yang jauh dari rumah
dan kantornya. Pantas, kredit motor, mobil dan barang-barang mewah
ditawarkan ke hampir semua instansi pemerintah dan swasta. Tak
heran kalau mobil dinas yang harganya ratusan juta jadi rebutan
para pejabat dan dianggap lebih penting dibanding kinerja mereka,
kendati di depan publik mereka selalu bicara soal penghematan dan
kesederhanaan. Di pasar-pasar swalayan dan mal, kita sering
melihat tulisan '75% Off' atau 'Discount 50% + 20%' yang dipajang
di depan jenis barang-barang tertentu, mungkin untuk cuci gudang.
Tapi, di tempat-tempat tertentu di desa, juga di beberapa dealer
di kota, akhir-akhir ini kulihat banyak sekali sepeda motor bekas,
yang konon, barang sitaan karena kredit macet," kata Kaler.
"Sebentar lagi, jumlah barang sitaan akibat kredit macet akan
berlipat. Bila Aceh dan sekitarnya diguncang bencana di pengujung
tahun 2004, tsunami ekonomi mungkin akan terjadi pertengahan tahun
ini. Mudah-mudahan tidak diikuti badai sosial dan gempa politik.
Media cetak maupun elektronik telah memberitakan bahwa mulai awal
Juni mendatang pemerintah akan menaikkan harga BBM sekitar 30
persen. Celakanya, sebelum dinaikkan, harga segala
kebutuhan pokok lebih dulu membubung. Rakyat sudah kehabisan suara
untuk menjerit karena derita mereka belum pulih akibat dua kali
kenaikan harga BBM dalam enam bulan di tahun 2005."
"Dengar! Lewat simulasi, Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan
Energi memperkirakan akan tercipta orang miskin baru sebanyak
15,68 juta jiwa, bila BBM jadi dinaikkan 30 persen. Luar biasa!
Gagal menciptakan produk ekspor, kecuali TKI, ironisnya sukses
menciptakan kemiskinan, horeee!" sorak Gus Bawa sumbang.
"Kenaikan terpaksa dilakukan, dalih petinggi berkompeten, karena
APBN 2008 yang sudah diperbarui terus mengalami tekanan atau
defisit akibat laju kenaikan harga BBM dunia. Subsidi besar
untuk BBM selama ini, argumennya, lebih dinikmati orang-orang
kaya. Karena itu, begitu harga BBM dinaikkan, janjinya, akan
dikompensasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) buat keluarga miskin,"
papar Kaler.
"Mendengar argumentasi itu, kurasa ada dua kambing hitam
didalihkan untuk menaikkan harga BBM, yakni harga minyak dunia dan
orang kaya. Kambing hitam pertama aman, tapi yang kedua gawat
karena dikotomi kaya-miskin. Celaka, bila kaum kaya dianggap
pemicu kenaikan harga BBM yang juga mengatrol harga sembako oleh
kaum miskin yang sebenarnya 'BLT' alias basangne layah terus.
Lapar... lapar... lapar... perut ini, pusing... pusing...
pusing... kepala ini," Rubag berjingkrak meniru gaya Armand
Maulana, vokalis grup musik GIGI itu.
* aridus