kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 11 Mei 2008 tarukan valas
 

OPINI


''Basange Layah Terus''

"PADA hari apa kuikut siapa ke mana? Naik apa bagaimana kududuk di mana? Di samping siapa yang sedang asyik mengapa? Mengendali apa supaya 'gimana apanya? Klung cing klak cing klung cing klak cingklung, bunyi sepatu apa?" humoris Temon dan Abdel melantunkan lagu "Naik Delman" yang dimodifikasi dalam sebuah acara di televisi.

"Lagu itu bisa membuat anak-anak makin bingung! Sebingung menghadapi Ujian Nasional yang juga bikin banyak pihak stres. Sistem evaluasi mutakhir yang sejak diperkenalkan menerima berbagai kritik itu, tidak menyurutkan arogansi otoritas pendidikan yang tetap bersikukuh 'the show must go on!'. Yang mencengangkan, tumben dalam sejarah pendidikan, kesatuan khusus antiteror ikut mengawasi ujian. Tragisnya, guru dengan julukan 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang ketahuan membantu para anak didiknya memecahkan soal, bisa berstatus teroris. Apalagi tindakan mereka, oleh Mendiknas, disetarakan dengan membocorkan rahasia negara," komentar Rubag.

"Para teroris asli, yang kini meringkuk di belakang terali besi, yang di antaranya menunggu eksekusi mati, mungkin terkekeh sambil mengejek, 'rasain lu, gue yang banyak bunuh orang diperlakukan lebih istimewa, bisa mengajukan PK berkali-kali, bahkan boleh minta kawin lagi!'. Juga para koruptor yang membuat negeri dan bangsa ini terperosok ke lembah kemiskinan, menganggap hukum adil dan tidak diskriminatif. Pasalnya, meski mereka ditangkap menimbun uang secara tidak halal, diperlakukan sama dengan para guru yang, menurut puisi Prof.Winarno Surachmad, hidup sebulan dari gaji sehari," kilah Gus Bawa.

"Tafsirku lain atas lagu 'Naik Delman' tadi! Rentetan kata bantu tanya, bagiku, sebenarnya pertanyaan besar buat para pemimpin. Negara dan bangsa ini akan mereka bawa ke mana? Analoginya adalah delman atau dokar, yang dihapus dalam lagu, karena kenyataannya populasi jenis kendaraan tradisional itu nyaris punah di seluruh negeri, digusur kereta mesin yang tidak satu pun 'made in Indonesia'. Temon dan Abdel mungkin pesimis, pertanyaan itu tidak akan bisa dijawab siapa pun, sehingga kata-kata penting lain juga  diganti dengan kata bantu tanya," ujar Jernat.

"Pas! Karena malu disebut bangsa terbelakang, para pemimpin membuka negara ini selebar-lebarnya buat pasar akbar produk impor sebagai ciri masyarakat modern. Dari tusuk gigi hingga sepeda motor dan mobil berbagai merek yang menggusur sepeda gayung dan delman atau dokar, datang bagai air bah. Lalu, dealer, show room dan toko-toko suku cadang didirikan hingga ke pelosok-pelosok desa. Akibatnya, bengkel-bengkel kecil usaha rakyat untuk memperbaiki kendaraan tua, bangkrut! Sebab, tidak ada lagi orang berniat memelihara mobil atau sepeda motor tua, karena lembaga keuangan yang memfasilitasi kredit juga tumbuh subur. Dengan uang muka ala kadarnya  mereka bisa memiliki barang baru dengan mencicil bertahun-tahun," sokong Kaler.

"Benar! Gung Kondra, Boji, Kaput, Pan Lobeng dan Gusti Jati, adalah beberapa nama montir yang pernah jaya di sekitar Denpasar tahun 1970-an, kini tinggal kenangan bagi para sopir, khususnya angkutan wisata, yang pernah menggunakan jasa mereka. Sebab, sejak terjadi banjir bandang kendaraan impor, usaha perbengkelan mereka bagai kerakap tumbuh di batu dan akhirnya gulung tikar. Jadi, setelah dokar dan sepeda gayung digusur angkot dan taksi, selanjutnya angkot dan taksi juga digeser mobil pribadi dan sepeda motor kreditan. Para sopir bemo dan taksi menjerit. Ironisnya, para pejabat terus berkoar tentang masalah ekonomi kerakyatan atau usaha mikro kecil dan menengah. Bagiku, lagu hasil modifikasi Temon dan Abdel itu cocok dinyanyikan mereka," sambung Gus Bawa.

"Ya, kok masih ada yang bangga melontarkan teori-teori lapuk, yang dulu dihafalnya di bangku kuliah, ya? Padahal kini, suasana ketidakpastian yang digandeng globalisasi  merombak nyaris semua aksioma, bukan hanya di bidang ekonomi, tapi juga hukum, politik dan budaya. Ambil contoh, yang disebut praktisi hukum beken bukan lagi mereka yang hafal pasal-pasal KUHP, tapi yang paham kaidah Laswell, 'siapa-siapa mendapat berapa, kapan, di mana dan bagaimana caranya?'. Pun di bidang ekonomi terjadi hal serupa, hukum 'permintaan dan penawaran' dianggap usang sejak Peter Lebow mendeklarasikan 'Manifesto Konsumerisme' tahun 1956, yang kian mulus pasca-Uni Soviet. Doktrinnya, segala jenis barang dibuat sebanyak-banyaknya dan harus habis. Salah satu caranya, pembayaran dengan sistem kredit itu," tutur Jernat.

"Wah, mungkin itu sebabnya oknum-oknum pejabat yang korup ditangkap basah aparat KPK di tempat-tempat yang jauh dari rumah dan kantornya. Pantas, kredit motor, mobil dan barang-barang mewah ditawarkan ke hampir semua instansi pemerintah dan swasta. Tak heran kalau mobil dinas yang harganya ratusan juta jadi rebutan para pejabat dan dianggap lebih penting dibanding kinerja mereka, kendati di depan publik mereka selalu bicara soal penghematan dan kesederhanaan. Di pasar-pasar swalayan dan mal, kita sering melihat tulisan '75% Off' atau 'Discount 50% + 20%' yang dipajang di depan jenis barang-barang tertentu, mungkin untuk cuci gudang. Tapi, di tempat-tempat tertentu di desa, juga di beberapa dealer di kota, akhir-akhir ini kulihat banyak sekali sepeda motor bekas, yang konon, barang sitaan karena kredit macet," kata Kaler.

"Sebentar lagi, jumlah barang sitaan akibat kredit macet akan berlipat. Bila Aceh dan sekitarnya diguncang bencana di pengujung tahun 2004, tsunami ekonomi mungkin akan terjadi pertengahan tahun ini. Mudah-mudahan tidak diikuti badai sosial dan gempa politik. Media cetak maupun elektronik telah memberitakan bahwa mulai awal Juni mendatang pemerintah akan menaikkan harga BBM sekitar 30 persen.   Celakanya, sebelum dinaikkan, harga segala kebutuhan pokok lebih dulu membubung. Rakyat sudah kehabisan suara untuk menjerit karena derita mereka belum pulih akibat dua kali kenaikan harga BBM dalam enam bulan di tahun 2005."

"Dengar! Lewat simulasi, Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi memperkirakan akan tercipta orang miskin baru sebanyak 15,68 juta jiwa, bila BBM jadi dinaikkan 30 persen. Luar biasa! Gagal menciptakan produk ekspor, kecuali TKI, ironisnya sukses menciptakan kemiskinan, horeee!" sorak Gus Bawa sumbang.

"Kenaikan terpaksa dilakukan, dalih petinggi berkompeten, karena APBN 2008 yang sudah diperbarui terus mengalami tekanan atau defisit akibat laju kenaikan harga BBM dunia.  Subsidi besar untuk BBM selama ini, argumennya, lebih dinikmati orang-orang kaya. Karena itu, begitu harga BBM dinaikkan, janjinya, akan dikompensasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) buat keluarga miskin," papar Kaler.

"Mendengar argumentasi itu, kurasa ada dua kambing hitam didalihkan untuk menaikkan harga BBM, yakni harga minyak dunia dan orang kaya. Kambing hitam pertama aman, tapi yang kedua gawat karena dikotomi kaya-miskin. Celaka, bila kaum kaya dianggap pemicu kenaikan harga BBM yang juga mengatrol harga sembako oleh kaum miskin yang sebenarnya 'BLT' alias basangne layah terus. Lapar... lapar... lapar... perut ini, pusing... pusing... pusing... kepala ini," Rubag berjingkrak meniru gaya Armand Maulana, vokalis grup musik GIGI itu.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com